Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
NEKAT


__ADS_3

Di sebuah resto yang mewah. Surya dan Sarwenda telah menikmati makan siangnya. Beberapa minuman dan makanan di atas meja sudah di santap dengan lahap oleh Surya dan Sarwenda. Kelihatannya, mereka berdua sudah sangat kelaparan, dengan cepat makanan yang tersaji di atas meja itu di eksekusi boleh mereka.


" Kamu kelaparan yah?" tanya Sarwenda sambil tersenyum menelanjangi wajah ganteng milik Surya.


" Kamu kenapa lihat aku terus?" tanya Surya yang merasa risih di lihat Sarwenda.


" Mubazir jika dibiarkan begitu saja pemandangan yang indah ini." ucap Sarwenda sambil terkekeh.


" Ih dasar stress!" sahut Surya.


" Biarin! Karena aku selalu mengagumi kamu Surya. Jadi aku tidak akan men sia - sia kan wajah ganteng kamu untuk aku nikmati." ujar Sarwenda tersenyum.


" Kamu ini! Kamu harus minum obat habis ini Sar!" kata Surya sambil bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke kasir untuk membayar semua tagihan makanan yang sudah di pesan.


" Surya! Biar lah aku yang bayar!" cegah Sarwenda yang cepat menuju ke kasir untuk membayar semuanya.


Surya kembali duduk di kursinya menunggu sampai Sarwenda kembali dari membayar di tempat kasir.


" Ayo Surya!" ajak Sarwenda yang berjalan keluar menuju resto mewah itu.

__ADS_1


" Kemana kita setelah ini?" tanya Surya.


" Aku ingin ke rumah kamu! Boleh tidak?" jawab Sarwenda dengan pertanyaan nya.


" Mau ngapain?" tanya Surya.


" Aku mau menjumpai istri kamu. Bolehkah aku menjadi istri kamu." jawab Sarwenda.


" Hahaha." Surya tertawa terbahak - bahak.


" Kenapa? Aku sangat serius kali ini loh Surya." kata Sarwenda.


" Surya! Tolonglah aku! Aku ingin menjadi istri kamu. Aku sudah terlanjur mencintai kamu." ucap Sarwenda dengan mengambil tangan Surya.


" Secepat itu kamu mencintai aku?" tanya Surya.


" Iya! Aku bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta Surya. Aku sangat selektif dalam memilih pasangan. Lalu aku menaruh hati pada kamu. Kamu jangan menolak harapan dan keinginan aku ini Surya." kata Sarwenda dengan memohon.


Tangan Sarwenda menggenggam erat tangan Surya. Surya terdiam. Sarwenda mulai mendekati tempat duduk Surya. Sarwenda ingin lebih agresif dan memulai duluan. Karena gejolak nya sudah tidak bisa di tahan. Sarwenda sangat mencintai Surya. Perasaan itu semakin bergejolak. Rasa rindu, rasa kangen, rasa ingin memiliki, rasa ingin menguasai, rasa ingin diperlakukan manja dan rasa - rasa yang lain.

__ADS_1


Sarwenda mendekatkan bibirnya ke bibir Surya. Dengan cepat Sarwenda mengecupnya tanpa rasa sungkan dan malu. Mata Surya membelalak karena terkejut dengan sikap dan perbuatan Sarwenda.


" Sarwenda!" teriak Surya dengan keras.


" Eh?? Apakah kamu tidak menyukai ini Surya? Aku rela melakukan apa saja dengan kamu Surya." ucap Sarwenda.


" Jangan lakukan itu! Aku sudah punya istri Sarwenda. Aku sudah berkeluarga. Masih banyak laki - laki single yang menyukai dan mau dengan kamu Sarwenda." ucap Surya.


" Aku tidak perduli! Aku hanya ingin kamu! Aku hanya menyukai kamu Surya! Ayolah Surya! Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan dengan aku. Aku sangat rela." ucap Sarwenda.


" Tidak! Aku tidak menginginkan itu dengan kamu. Aku hanya milik istri aku, Winda." sahut Surya.


" Kamu munafik! Kamu pasti menyukai aku. Kamu hanya gengsi saja bukan?" kata Sarwenda.


" Cukup Sarwenda! Kamu sudah tidak sehat. Kamu harus minum obat." kata Surya dengan nada keras.


" Cukup Surya! Kamu jangan menyakiti hati aku dengan kata - kata itu. Aku sehat wal Afiat. Aku sadar, dan sangat sadar. Aku sangat mencintai kamu Surya." kata Sarwenda dengan tegas.


Tidak ada komentar lainnya lagi. Surya pergi meninggalkan Sarwenda yang membuat dirinya semakin terpojok. Dia tidak ingin mengkhianati istrinya. Apalagi Winda, istrinya sedang hamil dan mengandung anaknya.

__ADS_1


__ADS_2