
Fajar sudah tiba. Sinar mentari sudah mulai mengintip pelan dibalik awan. Sinarnya masih malu- malu mulai memberikan percikan cahayanya. Rosiana mulai pelan-pelan membangunkan Wardhana yang tertidur lelap di ranjang milik Rosiana. Namun Wardhana masih begitu lelap dalam tidur nya. Kelihatan nya begitu lelah dan capek karena semalaman sangat bekerja keras dalam pertempuran yang penuh peluh keringat. Pertempuran yang saling tercampur keringat dari dua manusia. Saling memberi saling menerima. Saling memberi kepuasaan dan keluh dalam irama cinta yang penuh hasrat. Hingga berakhir terkulai dalam senyum puas Masing-masing dua insan itu.
" Mas Wardhana! Mas, bangunlah! Cepat pindah kamar!" kata Rosiana yang pelan- pelan mencoba membangunkan laki-laki yang ada di sebelahnya itu.
" Hoam! Jam berapa sayang?" tanya Wardhana kepada Rosiana sambil memeluk tubuh Rosiana yang ada di sebelah nya.
" Ayolah mas, cepat pindah kamar! Ini sudah jam lima pagi. Nanti dicari istri kamu." kata Rosiana lagi.
" Ahhh malas banget! Masih capek dan ngantuk." keluh Wardhana.
Akhirnya dengan masih malas Wardhana bangun dan berjalan keluar dari kamar Rosiana. Tanpa di sadari oleh Wardhana, ada mata lain yang melihat sosok Wardhana yang keluar dari kamar Rosiana. Dia adalah Mbak Santi. Dengan sangat geram dan amarahnya melihat tuannya itu ke luar dari kamar Rosiana. Hati Mbak Santi begitu miris jika mengingat bahwasanya Sarwenda yang masih berjuang untuk sembuh dari keluhan penyakitnya. Nyonya yang sudah baik menerima Rosiana untuk bekerja dan anaknya diangkat menjadi anak dengan penuh kasih sayang. Namun Rosiana telah ikut merusak hubungan rumah tangga nya. Walaupun semua adalah salah keduanya antara Wardhana dan Rosiana.
__ADS_1
Dengan pelan-pelan Wardhana masuk ke kamar utamanya yang ada Sarwenda tertidur di sana.
" Mas! tumben sudah bangun mas!" kata Sarwenda yang terbangun ketika Wardhana masuk ke dalam kamarnya.
Begitu terkejut nya tatkala Sarwenda sudah terjaga dari tidur nya.
" Eh sayang, sudah bangun yah! Dari luar sayang, merokok dan minum secangkir kopi sambil lihat tayangan bola di televisi." kata Wardhana berusaha menutupi kepanikan nya.
" Oh, jadi belum tidur yah? Kemari lah mas! Jangan lupa tidur dan istirahat." ajak Sarwenda dengan ramah.
*******
__ADS_1
Matahari mulai condong. Sinarnya mulai semakin terang. Mbak Santi dan Rosiana sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Rosiana masih terlihat pucat, mungkin saja semalaman dia sudah bekerja keras.
" Kamu kenapa Rosiana?" tanya Mbak Santi yang pura-pura tidak tahu bahwasanya Wardhana sudah semalaman tidur di kamarnya.
" Mbak Santi, aku mulai mual perut aku, mbak!" keluh Rosiana sambil menahan supaya tidak muntah.
" Memang kamu sudah terlambat berapa bulan?" tanya Mbak Santi seketika.
Rosiana mulai mengingat dan menghitung dari terakhir dirinya mendapatkan menstruasi nya.
" Mbak, sebentar mbak Santi. Aku rasanya mau muntah!" kata Rosiana akhirnya berlari kecil menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tidak jauh dari mereka ada Sarwenda yang sudah duduk di meja makan dengan Wardhana. Wardhana masih menikmati kopi hitamnya beserta rokoknya. Sarwenda mulai dengan teh lemon panas di gelasnya di minumnya pelan-pelan.
Suara Rosiana yang muntah- muntah mulai membuat Mbak Santi curiga. Bagaimana jika Rosiana hamil? Mungkin waktu nya sudah tiba. Sarwenda akan mengetahui segala. Segala yang telah diperbuat oleh suami nya. Suami yang baginya adalah pria yang benar-benar tulus dan utuh menyayangi nya.