Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
PERHATIAN SEMU


__ADS_3

Senja sudah berlalu meninggalkan warna jingga. Mentari dengan pelan bersembunyi dibalik awan hitam. Kini gelap kembali tiba dengan bergantinya malam. Roda - roda hidup terus bergilir tanpa letih dan ke sudahan. Masalah - masalah dunia harus terlewati dengan irama waktu. Jam masa di lalui dengan segala kerikil- kerikil yang tajam berserakan. Mencari orang-orang yang terkuat dan kokoh dalam terpaan angin dan hujan. Keyakinan dan kepercayaan seseorang harus diuji dalam segala masalahnya. Sesuai tingkatan dan tangga - tangga yang harus di Titi nya pelan. Semua demi mencapai derajat dan kecintaan Nya. Demi KASIHNYA karena perhatian Nya. Semua harus di uji walaupun penuh kesakitan dan penyiksaan hati dan penuh beban. Aku dan kamu harus tahu itu. Apakah kamu mampu menetapkan hatimu dalam satu tujuan itu. Kecintaan yang sejati hanya untuk DIA yang selalu berhak menguji kita dalam keyakinan ini.


" Winda! Kamu mau dibelikan apa, sekalian jalan pulang ke rumah nanti?" tanya Surya melalui sambungan ponselnya.


" Hem! Terserah mas saja deh!" jawab Winda di seberang sana.


" Kamu kan lagi menyusui anak kita loh. Harus makan- makanan yang bergizi." ujar Surya.


" Iya! Apa saja boleh. Apa saja menurut Mas Surya enak dan bergizi, pasti aku makan mas." kata Winda.


" Baiklah! Nanti akan ku belikan banyak buah-buahan, susu untuk ibu menyusui, makanan ringan agar kamu ngemil. Oh iya, rawon daging kesukaan kamu entar akan aku belikan yah, sayang." kata Surya bersemangat.


" Terimakasih banyak atas perhatian nya, Mas. Tapi jangan repot- repot begitu,dong. Di rumah pun juga sudah masak dan sudah ada stok buah-buahan mas." kata Winda.


" Tidak apa-apa. Namanya juga suami sayang istri loh." sahut Surya penuh perhatian.


Sarwenda yang mendengar Surya menelepon istrinya, Winda itu pun kembali cemberut. Betapa malang nasibnya ketika perhatian Surya itu pun terbagi oleh wanita lain. Dan Surya dengan seenaknya tidak menjaga perasaan Sarwenda yang masih duduk di dekatnya. Sarwenda mulai nakal. Tangannya yang lentik mulai menggoda Surya supaya Surya tidak lagi fokus menelepon Winda.


Dengan sigap Surya berdiri dan menjauh dari Sarwenda. Surya duduk di kursi kerjanya dan kembali fokus menghubungi istrinya tersebut.


" Sebentar lagi, aku kembali Winda. Aku sangat kangen dengan Wisnu. Rasanya ingin cepat pulang jika ingat lucunya Wisnu, anak kita." cerita Surya.


" Iya mas! Buruan pulang! Aku pun juga kangen kamu." sahut Winda.


" Benarkah? Kamu kangen aku?" tanya Surya.


" Ya ampun! Tidak bolehkah aku merayu suamiku? Mas, sudah berapa lama kita bersama mas? Apakah mas lupa, jika aku selalu merayu kamu agar kamu selalu pulang ke rumah tepat waktu dengan kata - kata kangen ini." cerita Winda sambil tersenyum di seberang sana.


" Oh ho! Maaf Winda! Mungkin aku sudah di sibukkan dengan kerjaan kantor. Aku jadi kurang memperhatikan kamu, akhir- akhir ini." alasan Surya.


" Tidak apa-apa mas! Kamu kerja juga demi aku juga mas. Demi Wisnu,anak kita juga. Dan demi kemajuan perusahaan papa." kata Winda.

__ADS_1


" Winda!" panggil Surya.


" Iya mas!" sahut Winda.


" Terimakasih banyak atas cintamu kepadaku. Aku sungguh laki - laki beruntung yang memiliki istri seperti kamu." kata Surya.


" Amin! Aku juga mas! Aku adalah wanita beruntung di dunia ini yang mendapatkan suami seperti kamu. Yang perhatian, bertanggung jawab dan sayang terhadap istri dan keluarga." ucap Winda di seberang sana.


" Baiklah Winda! Sampai ketemu di rumah ya sayang!" kata Surya sebelum mengakhiri panggilan keluar nya.


Pandangan Surya kini tertuju pada Sarwenda. Sarwenda. masih cemberut dan melotot tajam matanya. Setelah pandangan Surya menatapnya dengan senyuman, Sarwenda mulai melebarkan senyumnya dengan terpaksa.


" Aku pulang Sarwenda!" kata Surya sambil mengambil tasnya.


" Ayolah! Kita ke rumah dulu sebentar mas!" rengek Sarwenda.


" Besok saja yah, aku ke sana nya!" kata Surya.


******


Sarwenda duduk melamun di kursi Sofanya. Matanya menatap kosong lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu. Sesekali menatap layar ponselnya yang berusaha dan mencoba menghubungi Surya, suami sirinya. Saat ini, Sarwenda perlu Surya. Malam ini rasanya begitu panjang tanpa adanya Surya.


" Ah! Aku sangat serakah! Bukankan dari pagi sampai sore aku selalu bersama dengan Surya? Malam hari Mas Surya hanya bisa dengan Winda, istrinya yang lemah dan bodoh itu." gumam Sarwenda.


" Aku harus bisa hamil secepatnya. Kenapa? Kalau aku hamil, aku akan segera menikah dengan Surya secara hukum. Tentu saja Surya akan lebih perhatian dengan aku bukan?" kata Sarwenda pelan.


Tidak berapa lama kemudian laki- laki berseragam satpam berjalan cepat dan masuk ke ruangan dan mendekati Sarwenda.


" Bu! Ada seseorang mencari ibu. Apakah diijinkan masuk Bu?" tanya Satpam rumah di kediaman Sarwenda.


" Siapa namanya?" tanya Sarwenda sombong dan penuh angkuh.

__ADS_1


" Namanya Pak Wardha,Bu!" jawab Satpam itu.


" Hadeuh! Ngapain Wardha malam- malam begini datang kemari?" gumam Sarwenda.


" Ya sudahlah! Ijinkan masuk!" kata Sarwenda tegas.


" Baik Bu!" sahut Satpam itu lalu pergi keluar meninggalkan ruangan itu.


Malam semakin larut. Cuaca dingin mulai merayap masuk kedalam ruangan. Aroma segar bunga mawar dan Kamboja beradu masuk tertiup angin sepoi-sepoi. Udara malam ini sangat membuat suasana hari semakin rindu dan kesepian. Pikiran akan terpana dalam sosok kekasih hati ketika kerinduan mulai hinggap dalam jiwa yang penuh kesepian.


" Halo Sarwenda! Aku datang memenuhi janjiku!" sapa Wardha sambil melangkah masuk dan mendekati Sarwenda yang duduk di sofa.


" Halo! Kamu seperti tidak punya tempat tinggal saja. Malam- malam datang ke mari." ujar Sarwenda.


" Lagi pula, bukankah kamu sudah punya istri. Kalian masih pengantin baru lagi." tambah Sarwenda.


" Tapi aku kangen kamu, Sarwenda. Apalagi sentuhan lembut tangan kamu waktu itu." sahut Wardha sambil mengedipkan matanya nakal ke Sarwenda.


" Huh! Kamu jangan bermimpi dan berangan-angan kosong lagi untuk mendapatkan hati aku." sahut Sarwenda.


" Untuk saat ini, aku tidak perlu hati kamu. Aku perlu kamu melayani aku." ujar Wardha nakal.


" Cih! Jangan menghina aku seperti ini, Wardha! Aku bisa menuntut kamu atas pelecehan ini." ucap Sarwenda menantang.


" Oh ya! Lakukan saja kalau kamu berani. Bukankah semua kita lakukan sesuai kesepakatan kita dan suka sama suka?" kata Wardha.


Sarwenda terdiam. Gaya hidupnya yang mengikuti pola pikir orang barat pun mulai bisa menerima apa yang di ucapkan Wardha.


" Baiklah! Kamu mau minum apa?" tawar Sarwenda.


" Terimakasih. Jangan repot-repot. Nanti aku bisa bikin sendiri. Bukankah rumahmu, rumah aku juga? Hehe." goda Wardha tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


" Hadeuh! Terserah kamu! Aku tidak peduli!" sahut Sarwenda. sambil menghembuskan nafas dalam-dalam.


__ADS_2