
Winda dan Galuh masih duduk di taman belakang rumah Winda yang dinding-dinding nya banyak dipenuhi tanaman anggrek yang beraneka jenis warna bunganya. Di taman itu dekat dengan letak dapur dan ruang makan. Sesekali Galuh masih mencoba memikirkan cara supaya janda beranak satu itu bisa balikan dengan abangnya. Galuh tidak suka melihat abangnya itu menjadi murung dan suka berdiam di kamar nya setelah pulang dari kerjanya. Hal itu diketahui Galuh ketika Galuh berkunjung ke rumah pribadi abangnya itu. Memang saat ini, Galuh sudah tinggal di rumah Niga bersama dengan anak tirinya yang bernama Rosa. Sesekali Rosa ke rumah mama nya Margaret di akhir pekan.
" Kapan kamu berencana memiliki momongan, Galuh?" tanya Winda yang membuatmu Galuh seketika menjadi sedih.
" Eh, aku selalu menginginkan secepatnya memiliki bayi, Win. Namun kami juga sedang berusaha dan mengikuti program kehamilan. Tetapi semua kita pasrah kan kepada Tuhan saja, Win. Aku sangat berharap bisa cepat hamil, Win!" ucap Galuh dengan wajah yang sedih.
" Galuh! Sabar aja yah sayang! InsyaAllah Tuhan mengabulkan doa dan harapan kalian. Kamu segera hamil. Kamu dan Niga harus lebih kerja keras lagu yah, sayang?" ucap Winda.
" Iya, Winda! Tapi aku juga ingin punya keponakan, loh Win!" sahut Galuh sedikit menyindir.
" Jadi, menikah lah dengan abang aku, Winda! Ayolah!Apa lagi yang akan kamu tunggu?" kata Galuh sambil menarik hidung milik Winda.
" Galuh! Maaf, untuk sementara ini biarkan aku menikmati kesendirianku dulu. Aku sudah nyaman dengan statusku sekarang." ucap Winda sambil mengusap punggung tangan Galuh.
__ADS_1
" Apakah kamu masih marah dengan abang aku, Win?" tanya Galuh akhirnya.
" Tidak! Tidak! Aku hanya ingin sementara ini kita jalan masing-masing dulu."jawab Winda.
" Jadi, apakah ada kemungkinan kamu kembali dengan abang aku, Win?" tebak Galuh.
" Itu.. itu aku tidak tahu, Galuh?" sahut Winda dengan gugup.
" Apakah kamu tidak ada rasa rindu, terhadap abang aku? Apakah sudah tidak ada lagi rasa cinta itu terhadap bang Hendra, Win? Kalau ada, kenapa kalian masih saja menyiksa diri kalian sendiri sih? Aku sungguh tidak tega dengan abang ku. Ini untuk kedua kalinya dia patah hati dengan wanita. Pertama Yuslita dan yang kedua adalah kamu, Win. Aku takut, abang ku itu tidak mau menikah seumur hidup nya. Atau malah jatuh cinta dengan sesama jenis." kata Galuh akhirnya.
" Aduh! Aduh! Sakit Winda!" kata Galuh dengan teriakannya.
" Habis kamu, mikirnya kok jelek banget sih?" ucap Winda.
__ADS_1
" Makanya, ayolah Winda! Kamu kembali berbaikan dengan abang aku. Aku ingin lihat kalian bersama- sama lagi. Aku lihat kalian sangat serasi. Apalagi ketika lihat Abang ku itu sangat posesif sekali dengan kamu ketika itu. Sekarang menjadi sangat cuek dan tidak peduli. Kamu tahu, Win? Bang Hendra sekarang menjadi kurus." kata Galuh yang berusaha membuat hati Winda menjadi luluh.
"Bang Hendra suka diet, makanya kurus! Aku tahu itu, sayang!" sahut Winda sambil menjulurkan lidahnya kepada Galuh.
" Ah Winda! Kalian berdua memang sama- sama keras kepalanya." kata Galuh mulai menyerah.
" Maaf Galuh! Aku belum bisa!" ucap Winda.
" Baiklah! Aku tidak mau memaksa lagi. Lagi pula kalian sudah sama-sama dewasa dan memilih mana yang baiknya aja." kata Galuh.
" Eh! Aku balik dulu Winda! Suami dan Rosa anak aku pasti sudah menungguku." tambah Galuh.
" Oke! Salam buat Niga yah! Kamu hati- hati di jalan, jangan ngebut naik mobilnya." pesan Winda.
__ADS_1
" Iya, Winda!" sahut Galuh sambil memeluk Winda dan mencium pipinya.