
Mencoba melupakan yang sudah menjadi kenangan. Semua masa lalu yang harus dikubur bersama mimpi indah dan harapan. Kesedihan itu harus dirubah menjadi kebahagiaan. Mewujudkan ketenangan bersama pasangan kita. Saling melengkapi dalam kekurangan hingga menjadi kesempurnaan. Mengalah bukan berarti kalah.
*******
Sudah hampir satu minggu Haidar beristirahat di rumah sakit. Haidar mengalami sakit usus buntu yang mengharuskan dirinya menjalani operasi usus buntu tersebut. Haidar berangsur-angsur sudah mulai pulih namun pola makannya masih harus yang lembut- lembut dahulu. Haidar tidak boleh makan yang pedas dan yang kasar. Aktivitas Haidar pun juga tidak boleh yang berat- berat. Haidar yang sudah terbiasa olah raga dan nge-gym juga harus off terlebih dahulu.
Satu minggu ini kabar Haidar sakit dan menjalani operasi sengaja tidak tersampaikan ke telinga Winda. Karena Haidar memang melarang ayah dan bundanya memberikan kabar itu kepada Winda. Walaupun orang tua nya sudah mulai dekat dengan Winda dan keluarga Hartono. Namun bundanya Haidar tidak bisa tidak untuk memberikan kabar itu kepada Ibu Hartini. Dengan harapan kabarnya sakitnya Haidar bisa disampaikan ke Winda dari Bu Hartini. Memang bundanya Haidar dan Bu Hartini masih juga berusaha mendekatkan Haidar dengan Winda. Walaupun Winda masih bersikeras menganggap Haidar sebagai teman, sahabat ataupun partner.
Tentu saja sebelum operasi berlangsung, Bu Hartini dan Pak Hartono sudah sekali menjenguk Haidar. Namun Bu Hartini masih belum menyampaikan kabar sakitnya Haidar itu kepada Winda. Pikir Bu Hartini, nanti saja kalau Haidar sudah selesai dalam menjalani operasi usus buntu nya.
Dan benar! Ketika Winda diberi kabar dari ibu mertuanya tersebut yaitu Bu Hartini, Winda sangat terkejut jika Haidar sedang dirawat di rumah sakit.
" Makanya kok tumben banget, Haidar yang biasanya sering ke rumah tapi kok sudah satu minggu tidak datang ke mari? Rupanya lagi sakit yah!" sahut Winda saat Bu Hartini menyampaikan kabar itu.
" Kamu ini juga aneh loh Winda! Kamu jangan terlalu cuek dong! Kawan dekat nya sudah beberapa hari tidak kasih kabar dan tidak datang ke rumah kamu kok kamu nya tidak mencoba menghubungi dianya."protes Bu Hartati kala itu.
" Saya pikir Haidar lagi sibuk dan lagi terjun ke lokasi proyek berlangsung. Jadi saya takut menghubungi dianya, mama! kata Winda beralasan.
" Ya sudahlah kamu segera jenguk Haidar! Mumpung Haidar masih berada di rumah sakit dan belum diijinkan pulang." suruh Bu Hartati sedikit memaksa.
" Baik, mama! Nanti saya akan mengajak Wisnu juga ke sana." ucap Winda akhirnya.
" Loh kenapa mengajak Wisnu, sih?" protes Bu Hartati.
" Kenapa mama! Apakah ada yang salah jika saya mengajak Wisnu menjenguk Haidar?" tanya Winda.
" Eh, tidak juga sih?" sahut Bu Hartati.
" Mama, Wisnu itu sudah dekat dengan Haidar! Jadi Wisnu juga harus menjenguk Haidar juga dong." kata Winda.
" Oke deh! Yang terpilih kamu segera lah ke rumah sakit." kata Bu Hartati saat itu.
*******
__ADS_1
Saat ini Winda dan Wisnu sudah berada di kamar Haidar. Haidar masih belum banyak bergerak juga karena jahitan di perut nya yang masih basah.
Winda mulai menyuapi Haidar dengan bubur ayam yang dia bawa. Betapa Haidar merasa sangat bahagia dengan sikap dan perhatian yang manis dari Winda terhadap nya saat ini. Walaupun hanya menyuapi dirinya makan bubur ayam.
Ayah dan bunda Haidar masih duduk di kursi tunggu di kamar itu. Bersama Wisnu mereka berbincang- bincang santai. Sedangkan Winda duduk di samping Haidar yang masih berbaring di atas kasur rumah sakit itu.
" Masih sakit kah?" tanya Winda kepada Haidar.
" Masih!" jawab Haidar singkat.
" Tapi tidak seperti sebelum dioperasi." tambah Haidar.
" Kamu boleh makan puding kan Haidar? Eh maksudku, mas Haidar?" ucap Winda. Haidar jadi tersenyum dengan panggilan mas Haidar itu kepadanya.
" Boleh! Yang lembut dan manis seperti kamu, Winda!" rayu Haidar. Winda tersenyum mendengarnya.
" Sakit saja bisa merayu loh!" sahut Winda. Haidar tersenyum.
" Aku tahu sendiri!" jawab Winda bohong.
" Kamu biasanya datang ke rumah hampir tiap hari, tapi sudah satu minggu tidak nongol di sana." kata Winda tersirat merasa kecarian akan sosok Haidar.
" Jadi kamu mulai kangen aku?" tuduh Haidar.
" Mana ada seperti itu?" Winda berusaha mengelak nya. Haidar malah tersenyum ketika melihat rona wajah Winda menjadi memerah karena malu.
" Aku baik- baik saja kok! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." ucap Haidar.
" Tapi kenapa kamu tidak menghubungi aku ketika baru masuk rumah sakit? Dan hendak menjalani operasi usus buntu kamu itu, mas?" protes Winda. Haidar kembali tersenyum mendengarnya. Dirinya merasa diperhatiin Winda.
" Aku tidak apa- apa! Lagi pula aku takut kamu nanti malah mengkhawatirkan aku jika kamu tahu kabar ini." kata Haidar dan Winda akhirnya menundukkan kepalanya.
" Sudah! Aku sekarang sudah masa pemulihan kok. Kalau usus buntu ini tidak segera dioperasi akan terjadi pembusukan." kata Haidar.
__ADS_1
" Pasti sakit yah, sebelum dioperasi saat itu?" tanya Winda.
" Tidak kok!" jawab Haidar bohong lalu nekat meraih pergelangan tangan Winda di dekat tangannya lalu menggenggam nya. Winda menatap Haidar.
" Aku menyukai kamu Winda! Kita menikah yuk!" ucap Haidar pelan. Sungguh mata Haidar tidak bisa dibohongi. Haidar menyimpan kerinduan yang teramat dalam. Betapa ini sangat menyesakkan hatinya, menunggu sampai Winda luluh.
Laki-laki yang masih perjaka dan lajang itu matanya berkaca- kaca menatap Winda. Winda tidak bisa berucap dan tidak sampai hati menatap nya.
" Aku sampai kapanpun tetap menyukai kamu, Winda! Sebenarnya aku sudah lelah, dan ingin melupakan kamu. Tetapi ini malah membuat aku terasa tersiksa jika harus menjauhi kamu." pengakuan jujur dari Haidar.
" Tetapi aku pun tidak bisa memaksa kamu. Kamu nyatanya memang tidak menyukai aku." ucap Haidar dengan bergetar. Winda mulai berani menatap mata Haidar.
" Tidak! Tidak! Kamu keliru mas! Maaf aku membuat kamu menunggu." sahut Winda. Tangannya masih dalam genggaman Haidar dan Winda tidak kuasa melepaskan nya.
" Jadi? Jadi menurutmu aku harus menjauh dari kamu atau bagaimana?" tanya Haidar lagi yang sebenarnya ingin kejelasan dari kata- kata ya g diucapkan Winda kepadanya. Winda kembali melihat mata laki-laki itu.
" Maaf! Aku .. aku mau menikah dengan kamu mas!" ucap Winda lirih.
" Tolong ucapkan sekali lagi, Winda! Aku tidak mendengarnya." kata Haidar pura-pura tuli namun rasa sesak hatinya mulai melonggar karena mendapatkan ruang bernafas karena kabar yang indah dan mengejutkan itu.
" Mas! Aku sudah mulai terbiasa dengan kamu! Lagi pula Wisnu pun juga menyukai kamu. Aku mau menikah dengan kamu." ucap Winda sambil menunduk malu.
" Ya Tuhan! Terimakasih! Kalau begitu jangan tunggu lama lagi yah Winda! Aku ingin secepatnya menikahi kamu." kata Haidar sampai lupa kalau bekas jahitan di perutnya masih basah.
" Ayah! Bunda! Wisnu! Saya dan Winda akan segera menikah!" kata Haidar dengan suara keras.
Ketiga orang yang dipanggil oleh Haidar menjadi merapatkan diri ke Haidar yang masih berbaring.
Mereka menatap Winda dan Haidar secara bergantian.
" Apakah benar Winda sayang?" tanya Bunda Haidar kepada Winda. Winda hanya menganggukkan kepalanya malu- malu.
" Syukur lah!" ucap ketiganya secara bersamaan.
__ADS_1