Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 (EPISODE 21)


__ADS_3

Betapa ini adalah sebuah takdir yang harus dijalani. Betapa ini adalah sebuah penebusan dosa karena hasil dari perbuatan kita. Betapa Tuhan masih menyayangi kita dengan menyadarkan kita dengan lemahnya tubuh kita karena sudah sakit- sakitan, lemah karena tua.


Semoga segala penyakit ini bisa menggugurkan segala pekat- pekat hitam dari kesalahan dan kekecewaan dari orang yang sudah kita kecewakan, kita sakiti, kita aniaya. Dan kamu harus tahu itu, Tuhan Maha Baik.


Intan mendengar berita tentang mantan suaminya, Wardhana yang saat ini sedang sakit. Betapa kabar itu pun membuat dirinya ikut merasakan kesedihan itu. Masa lalu bersama mantan suaminya dulu pun pernah dilalui nya ada bahagia dan juga kegembiraan di sana. Karena Intan memang dulu mencintai Wardhana benar-benar tulus. Walaupun sampai akhirnya suaminya berkhianat dengan Sarwenda. Baginya ini adalah suatu perjalanan hidup. Tidak ada penyesalan akan cerita kehidupan nya yang bisa dituangkan dalam lembaran-lembaran bentuk novel.


Intan hari ini berencana menjenguk Wardhana ke rumahnya. Tentu saja dia datang tidak sendiri. Intan akan mengajak keponakannya, yaitu Wisnu. Wisnu, putra Winda bersama almarhum Surya.


Intan kini sudah bersama Wisnu di dalam mobilnya. Intan masih diam memikirkan keadaan Wardhana yang sebenarnya. Berita yang didengar nya membuat Intan menjadi sedih. Penyakit stroke itu membuat Intan membayangkan kalau Wardhana saat ini tidak bisa beraktivitas secara normal. Wardhana saat ini mengandalkan orang-orang di dekatnya dari makan, buang air besar, berlatih berjalan dan lain sebagainya. Wardhana seperti anak bayi yang masih perlu perhatian bundanya untuk makan, minum, dan berjalan. Segala aktivitas menjadi sangat tergantung dengan orang-orang di dekatnya.


" Tante!" kata Wisnu membuyarkan lamunan Intan.


" Oh iya, ada apa?" tanya Intan.


" Tante melamun yah? Jangan melamun dong!" kata Wisnu yang kini menyetir mobil tantenya Intan.

__ADS_1


" Sedikit!" jawab Intan singkat.


" Ada kabar gembira dari mamaku, Winda." kata Wisnu sambil tersenyum melirik tantenya.


" Apa itu?" tanya Intan akhirnya.


" Mama saat ini hamil, adik Wisnu." jawab Wisnu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


" Benarkah? Wah akhirnya ada berita gembira juga selain ada kabar sedih ini." sahut Intan.


" Aku akan punya adik, tante! Nanti mau ku cubit pipinya kalau chubby." kata Wisnu sambil terkekeh membayangkan kalau adiknya nanti gembul pasti akan lucu.


" Di rumah kakek nenek, orang tua Papa Haidar." jawab Wisnu.


" Oh, kirain pulang ke rumah! Nanti saja lah kalau mama kamu sedang menginap di rumah kayu itu, tante akan bermain di sana, biar tante juga bisa ketularan hamil." kata Intan bersemangat.

__ADS_1


" Mungkin lusa, tante! Rencana mama, mau kirim doa bersama dan syukuran atas kehamilan mama." kata Wisnu.


" Benarkah? Ya sudahlah nanti biar tante hubungi mama kamu, memastikan acara itu. Papa mama kira- kira sudah tahu belum yah?" ucap Intan.


" Kakek nenek Hartono? Tentu saja sudah dong! Aku yang kasih tahu duluan, sebelum mama telpon." kata Wisnu sambil tersenyum senang.


" Aku kapan bisa hamil yah?" ucap Intan sambil mengelus perutnya sendiri.


" Sabar tante! Nanti kaki mama, bisa tante injak supaya tante bisa ketularan hamil." usul Wisnu sambil terkekeh.


" Benar! Semoga setelah ini tante bisa secepatnya hamil." kata Intan penuh harapan.


" Aamiin tante! Semoga Tuhan secepatnya kasih kepercayaan itu, pada tante." sahut Wisnu.


" Oh iya tante, ini benar rumahnya kan?" tanya Wisnu lalu mulai menghentikan mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan depan pagar rumah yang dimaksudkan.

__ADS_1


" Benar! Ini rumah istri kedua Wardhana." sahut Intan akhirnya.


" Ayo turun, Wisnu! Jangan lupa parcel nya." kata Intan lalu turun dari mobil itu.


__ADS_2