Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
CINTA DALAM DIAM


__ADS_3

Rasanya sangat kacau hati itu ketika mengagumi keindahan sosok wanita yang dicintai. Hanya menyebut atau mendengar nama nya saja sudah tidak beraturan jantungnya. Apalagi jika rasa itu masih disimpan di peti hati yang digembok tiada mampu dibuka. Karena baginya, perasaan itu tidak akan terbalas. Dan rasa itu tidak akan diungkap karena akan menjadi jurang rusaknya hubungan yang sudah baik. Cukup memandang, cukup melihat, cukup senang ketika seseorang yang di sayangi itu bahagia dan sejahtera tidak dalam kesusahan.


" Yuk kita masuk bang! Winda pasti lagi di kamar dengan Wisnu, anaknya." kata Galuh sambil melangkah ke ruang tamu. Hendra mengikuti langkah Galuh dan duduk di sofa ruang tamu tanpa ada yang mempersilahkan duduk.


" Bang aku ke kamar Winda dulu!" tambah Galuh.


Hendra hanya berusaha membuat teratur detak jantung nya. Dia mulai panik sampai tidak bisa berkata-kata dan bersikap. Akhirnya, Hendra hanya menyalakan rokok nya dan menghirupnya perlahan-lahan. Sampai akhirnya, Mbak Ita menghampiri Hendra dan menanyakan sesuatu.


" Maaf Pak, mau minum apa?" tanya Mbak Ita dengan sopan.


" Eh? Apa saja, terserah bibi." jawab Hendra ikut bersikap sopan.


" Kopi capuccino mau, Pak?" tanya Mbak Ita yang melihat Hendra sedang merokok. Biasanya orang merokok kawannya dengan minum kopi.


" Boleh! Terimakasih banyak ya, Bi." sahut Hendra.


Mbak Ita segera berlalu meninggalkan tamu itu dan membuatkan kopi untuk Hendra.


" Tidak majikan juga pembantu nya, semua memanggil ku dengan Pak. Apa aku ini terlihat tua sih." gumam Hendra.


" Hai! Kenapa bang?" kata Galuh yang tiba-tiba datang bersama Winda dan duduk di ruang tengah itu.


"Mau minum apa pak? Biar saya buatkan." tanya Winda sebelum duduk di kursi ruang tamu itu.


" Pak? Pak? Aku ini bukan bapak kamu!" kata Hendra sewot.


" Tidak usah! Tadi Bibi itu sudah membuatkan minuman untuk aku kok. Lagi pula kopi buatan kamu pasti cemplang tidak seenak buatan bibi itu." tambah Hendra sinis.


" Ada yah kopi cemplang?" tanya Winda yang tidak terpancing emosinya.


" Adalah! Itu buatan kamu!" sahut Hendra.


" Eh? Kapan aku buatin kopi untuk bapak?" tanya Winda lagi.


" Cukup! Kalian ini loh tiap ketemu selalu ribut. Hati- hati yah!" ujar Galuh.


" Hati- hati kenapa, Luh?" tanya Winda.


" Eh? Tidak! Tidak!" jawab Galuh cepat.


" Oh iya Win! Aku bawakan sesuatu, tadi aku mampir ke butik ada beberapa baju muslim yang keren dan beberapa jilbab pashmina. Kalau kamu yang mengenakan, pasti tambah kece dan anggun deh." kata Galuh sambil memberikan paper bag besar ke Winda.

__ADS_1


Galuh melirik ke arah abangnya. Bang Hendra berpesan untuk tidak memberitahu ke Winda kalau ada beberapa stel baju pilihan nya adalah dirinya yang membelikannya. Mungkin saja, Hendra masih terlalu gengsi jika harus menunjukkan perhatian nya pada Winda. Tentu saja, Winda juga berstatus istri orang. Mana mungkin, Hendra mau dan nekat merusak hubungan suami istri itu yang sudah mulai membaik.


" Ini boleh aku lihat kan?" tanya Winda sambil mengambil salah satu barang yang ada di dalam paper bag besar itu.


" Tentu saja! Ukuran nya pasti cocok dan pas di badan kamu, bukan? Aku tidak mungkin salah." sahut Galuh.


" Wah ini keren banget! Cocok jika aku pakai ke kantor." ucap Winda sambil melebarkan satu stel baju yang berwarna tidak menyolok.


" Iyalah itu pilihan Bang Hendra...eh UPS!" sahut Galuh keceplosan.


Spontan saja, Hendra melotot matanya ke arah Galuh.


" Eh maksud aku, Bang Hendra juga ingin membelikan itu untuk pacarnya. Benarkan bang?" ralat Galuh yang tidak ingin kena marah dengan abangnya nanti.


" I..iya betul. Pacar ku, sama tinggi dan postur tubuh nya sama seperti kamu, Win." ujar Hendra mulai bersemu merah wajahnya.


" Oh begitu yah, Pak!" sahut Winda yang fokus dengan baju yang ia pegang.


" Btw. Aku sangat berterima kasih untuk kamu, Luh. Kamu membelikan ini semua untuk aku. Aku tidak sedang ulangtahun tapi kamu repot- repot perhatian dan membelikan ku ini semua." ucap Winda.


" Iyalah! Aku sangat suka dan mendukung jika kamu mengenakan hijab. Doakan saja, aku juga menyusul seperti kamu memakai jilbab." kata Galuh sambil tersenyum.


Tidak lama mbak Ita datang membawa beberapa cangkir minuman dan meletakkan nya diatas meja itu.


" Eh?? Kalian bisa barengan bilang terimakasih nya. hehehe." sahut Galuh.


" Hehe.. iya non! Pak! Saya permisi dulu." kata Mbak Ita sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


" Galuh! Kita pulang yuk!" ajak Hendra.


" Loh! Ini kopinya belum juga diminum loh bang!" kata Galuh dengan protesnya.


" Mungkin Pak Hendra mau ketempat calon istrinya kali." sahut Winda.


" Iyalah! Ayolah Luh, mumpung masih sore. Abang kan mau ke rumah Yuslita." kata Hendra asal.


" Eh? Yuslita? Bukannya dia sudah menikah bang?" kata Galuh yang tidak fokus tidak bisa diajak berbohong oleh Hendra, abangnya.


" Eh?" Galuh mulai sadar kalau Hendra mengajak nya untuk berbohong terhadap Winda.


" Oh maksud, Abang Yuslita calon kakak ipar aku?" Aku kirain Yuslita tetangga sebelah rumah kita. Banyak sekali nama Yuslita, jadi sampai tidak ingat kalau calon kakak ipar aku, juga bernama Yuslita. Hehehe." kata Galuh sambil terkekeh.

__ADS_1


" Kenapa buru- buru pulang?" Ayo dihabiskan dulu minum nya!" suruh Winda.


" Malas lah! Kopi itupun yang bikin bukan kamu." sahut Hendra.


" Eh? Katanya kopi buatan dari aku, cemplang, Pak? ujar Winda sambil melihat ke arah bos nya itu.


"Iya cemplang tidak dikasih garam." sahut Galuh sambil menghabiskan minuman di cangkirnya itu.


" Baiklah aku habiskan kopinya. Aku pulang dulu, Win! Besok ke kantor, jangan lupa dipakai baju baru itu!" ucap Hendra sambil berdiri.


" Baik Pak!" sahut Winda.


" Winda! Aku pulang dulu yah! Lain kali aku main dan nginap di sini. Kalau mengajak Bang Hendra jadi tidak jinak duduknya." kata Galuh sambil mencium pipi kiri dan kanan milik Winda.


" Bukannya gak mau main disini lama, Win. Papa dan mama kami hari ini ke Jakarta. Kami harus cepat sampai rumah. Kasihan kalau sampai rumah, kami tidak ada dan sedang pergi. Mereka pasti juga kangen dengan anak laki-laki nya yang super ganteng ini kan?" ungkap Hendra jujur.


" Bukan hendak ke tempat pacar, Bapak?" sahut Winda.


" I..i..itu juga! Sekalian mampir ke Yuslita, dan mengajak nya ke rumah ketemu papa dan mamaku." kata Hendra sambil melirik ke arah Galuh.


" Oke Winda! Kami pulang dulu ya, sayang!" kata Galuh akhirnya.


" Baiklah! Hati-hati dijalan ya!" ucap Galuh sambil mengiringi mereka pergi dan berlalu dari rumahnya.


Di dalam mobil. Galuh tidak henti-hentinya menatap wajah dan sikap abangnya itu. Galuh melihat perubahan yang terjadi ketika abangnya itu bertemu dan ada Winda. Lain dengan saat ini. Sekarang ini, Hendra terlihat senyum- senyum sendiri tidak jelas.


" Bang Hendra ini kenapa sih? Aneh deh!" kata Galuh sambil menoel lengan Abang nya itu.


" Tidak ada apa-apa!" sahut Hendra cepat.


" Seperti nya ada yang tidak beres dengan otak Abang deh! Tapi apa yah?" kata Galuh berusaha menduga-duga nya.


" Tidak perlu kau pusing! Oh iya kita belikan sop buntut untuk papa dan mama dulu yah." ucap Hendra berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Kita mampir dulu ke rumah Yuslita gak bang?" tanya Galuh menyindir.


" Enggak!! Kamu harus mendukung Abang, Luh. Jangan sampai Abang terlihat, seperti laki-laki jomblo yang tidak laku dimata, Winda." ujar Hendra.


" Hahaha." Galuh tertawa terbahak-bahak.


" Kenapa? Apakah hubungan pimpinan dan karyawan harus serumit itu?" tambah Galuh sambil terkekeh.

__ADS_1


" Sudahlah! Kamu tidak akan mengerti." sahut Hendra akhirnya.


Cinta dalam diam. Cinta dalam sepi. Cinta dalam misteri. Cinta tersembunyi. Ini lebih menyakitkan hati. Tidak sempat di ungkapkan. Berusaha memendamnya sendiri.


__ADS_2