
Pagi sudah pergi dan mentari bersinar lebih terik. Angin meniup perlahan di terangnya siang. Pepohonan mendendangkan suara alam dengan kidung agung kehidupan. Ritme dan melodi seraya mengalun indah dalam perjalanan panjang hidup insan manusia.
Semalaman,Surya tidak pulang ke rumah. Di pagi buta, Galuh pun sudah permisi pulang dari rumah Winda. Tidak banyak percakapan yang terjadi lagi di larut nya malam tadi. Winda dalam kelelahan dan penat dan pikir. Berusaha menata dan menenangkan jiwanya dengan segala kemungkinan yang harus ia hadapi.
Hari ini, Winda harus menghadapi segalanya setelah mengetahui kebenaran nya. Roda harus tetap berputar, menggelinding seiring peralihan yang atas menjadi di bawah demikian juga sebaliknya. Winda tetap semangat, demi Wisnu si buah hatinya yang masih merah. Fokus pada bayi mungil itu, dan berusaha mengesampingkan segala problematika yang berkecamuk di otak dan emosi nya.
Memang semua ini tidak semudah berbicara dan menuliskan sesuatu kalimat. Ini perlu melawan diri dari emosi dan keegoisan diri. Diri kita lah yang bisa menenangkan jiwanya, dengan mendengar suara hati dan jangan mendengar kan akal. ( Nah loh! Di mana ada pelajaran seperti ini? Author nya juga bingung).
" Wisnu sayang! Ini sungguh tidak mudah bagi mama untuk berdiri tegar. Setelah semua yang mama lihat dan dengar tentang papa kamu, nak. Tapi kamu lah sekarang yang menjadi semangat bagi mama untuk berdiri tegak. Hidup mama sekarang harus lebih baik lagi. Demi kamu, sayang! Mama harus tetap menjalani hari-hari berikutnya penuh dengan emosi jiwa. Tapi, mama harus bisa tenang. Kebahagiaan mama dan kamu hanya kita yang menentukan semua nya." ucap Winda bermonolog pelan sambil mengusap lembut kepala dan pipi Wisnu.
Suara ponsel Winda mengagetkan lamunan Winda. Suara ponsel itu disertai getaran yang membuat jantung Winda berdetak kencang. Ada emosi yang masih tertahan Ada sesak yang belum terlampiaskan. Ada kerinduan karena sehari tidak jumpa.
" Kamu dengan wanita itu ya Mas?" gumam Winda lirih sambil meraih ponsel yang di letakkan tidak jauh dari tempat duduknya.
" Winda, sayang! Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Surya penuh perhatian diseberang sana setelah penggilan masuk itu di angkat oleh Winda.
" Ini sedang bersama Wisnu, di kamar." jawab Winda berusaha menahan gejolak emosinya.
" Wisnu sudah minum susu, sayang?" tanya Surya dengan perhatian selayaknya seorang ayah.
" Sudah! Wisnu sudah mandi, sudah berjemur, sudah makan, dan juga sudah menangis." kata Winda datar.
" Hehehe. Sudah menangis yah?" tanya Surya.
" Iya, menangis untuk kesehatan juga supaya tidak sesak seperti ini." kata Winda mengandung sindiran.
" Kamu lagi sesak, sayang? Ada apa sayang?" tanya Surya begitu bodohnya.
" Tidak, Tidak! Aku baik-baik saja. Aku akan makan dulu, supaya air susu ku bagus untuk Wisnu." Kata Winda berusaha menyudahi sambungan telepon itu.
" Winda! Semalaman aku tidak bisa pulang. Pembicaraan dengan klien selesai sampai larut malam. Akhirnya aku tidur di hotel. Kamu tidak sedang marah dengan aku kan, sayang?" ujar Wisnu dengan pelan.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, kamu kerja dari pagi sampai malam juga demi aku, Wisnu dan keluarga juga." sahut Winda datar menahan emosi yang belum tertumpah.
" Aku janji, aku akan pulang lebih cepat hari ini. Aku ada sesuatu untuk kamu, sayang." ucap Surya penuh rayuan.
" Tidak perlu repot-repot,Mas! Kamu pulang dengan selamat dan sehat wal Afiat saja, aku dan Wisnu sudah bahagia, Mas." ucap Winda.
" Winda! Maafkan aku, sayang! Kamu tidak sedang marah dengan aku kan, sayang?" tanya Wisnu lembut di seberang sana.
" Enggak lah!" sahut Winda.
" Ya sudah! Aku mau makan. Bukankah, Mas masih kerja. Jaga dirimu baik-baik, Mas! Selalu ingat Tuhan dan kebenaran Nya." ucap Winda mengandung sindiran.
" Iya, sayang! I Miss you, sayang!" ucap Surya.
" I Miss you to!" sahut Winda sambil menutup panggilan masuk di ponselnya.
Cerita ini sudah terjadi dan mengalir. Aku terjatuh dan terjerembab dengan muslihat mu. Kemanakah harus aku hapus jejak dan noda langkah kamu. Aku mengikuti alur mu yang membuat aku sedih dan pilu.Kekecewaan ini sudah terjadi dan kamu lah yang sudah menorehkan luka itu sendiri. Menaburkan garam didalam luka yang masih basah.
Bumi menggeliat dalam letih nya. Pondasi nya mulai tersedak menelan beban - beban berat noda ulah makhlukNya. Kebebasan tiada norma. Aturan dunia mulai dikesampingkan Tindak tanduk karna hasrat bebas terlampiaskan. Abu mempedihkan mata beterbangan terhirup Sukma. Mematahkan rasa sesak dada.
Manusia bak lalat- lalat beterbangan hinggap sana- sini mencari mangsa. Mencari keselamatan dan kepuasan dunia. Dan kamu akan merasa lebih mudah memberikan manfaat bagi banyak orang dibanding harus berusaha keras menyakiti satu hati anak Adam karna kekecewaan nya.
Alam dan bencana adalah tanda. Pondasi yang dulu kokoh mulai goyah. Demikian halnya iman. Iman akan memudar seiring keyakinan yang mulai retak. Cahaya terang mulai meredup tatkala hati jatuh dan menuruti nafsu. Kiasan - kuasa akan muncul. Kata - kata tak bermakna tak terkendali.
Kini hanya DIA yang menyaksikan dalam setiap jerit suara hati wanita. Karena pada dasarnya kecemburuan dan ego wanita lebih tinggi dibanding gunung Himalaya.
*******
" Winda!" panggil Bu Hartini yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Winda.
__ADS_1
Winda yang melamun itupun jadi sangat terkejut melihat kedatangan Bu Hartini.
" Eh mama!" sahut Winda sambil mencium tangan Bu Hartini dengan lembut.
" Ayolah kita makan! Wisnu biar mama yang gendong." kata Bu Hartini.
" Baik ma! Terimakasih banyak Ma!" ucap Winda sambil bangkit dari kasurnya.
" Surya, semalam tidak pulang?" tanya Bu Hartini sambil mengangkat Wisnu di kasur bayi.
" Iya ma! Katanya ketemu kliennya sampai larut malam, jadi tidak bisa pulang ke rumah." cerita Winda menutupi kesedihannya.
" Kamu yang sabar, Winda. Jadi istri pengusaha muda dan sukses itu selalu seperti ini, sayang." ucap Bu Hartini berusaha menasihati menantunya itu.
" Iya ma!" sahut Winda sambil keluar kamarnya di iringi Bu Hartini yang menggendong Wisnu.
" Mbk Ita masak Sup buntut, Winda. Dengan perkedel kesukaan kamu yang dikasih cacahan daging." kata Bu Hartini berusaha membangkitkan selera makan menantunya itu.
" Mama sudah membelikan susu menyusui, buat kamu sayang." imbuh Bu Hartini sambil menatap wajah ayu dan polos milik Winda.
Saat ini Winda bahagia memiliki ibu mertua yang penuh perhatian. Berbeda jauh ketika awal-awal hubungannya dengan Surya yang belum direstui oleh mama dan papa Surya. Akhirnya mereka kini benar-benar tulus menerima Winda di rumah itu.
" Terimakasih banyak, ma!" sahut Winda.
" Winda! Kawan kamu semalam yang tidur di sini itu, lagi sedang ada masalah?" tanya Bu Hartini penuh selidik.
" Iya ma! Tapi urusannya sudah selesai." cerita Winda yang nampak malas mengungkapkan permasalahan sahabatnya tersebut.
" Oh begitu!" sahut Bu Hartini sambil manggut-manggut dan tidak meneruskan pertanyaan besar yang ada di otaknya.
( Oke sobat! Terimakasih banyak atas kunjungan dan mau mengikuti cerita novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak yah! Like dan komentar nya, bila perlu vote atau hadiahnya hehe) Oke, doa dan semangat dari sobat sekalian menjadi motivasi dan energi positif bagi, Author. See you bai...Bai.
__ADS_1