Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SEPERTI ANAK KECIL


__ADS_3

Terimakasih sudah menjauh dariku. Karena mendekat akan membuat kita merasakan nikmat dalam bermaksiat. Maafkan, bukan maksud hati membuat sengaja sakit rasa hati. Tidak sengaja menusuk duri dalam jantung hatimu. Bersama pun, tidak akan pernah bisa terwujudkan. Karena rasa ini yang datang telat disaat kau dan aku sudah bersamanya.



Jatuh cinta kepada seseorang tidak bisa dielakkan ketika tiba-tiba rasa itu hadir di benak kita. Rasa itu semakin tumbuh karena terbiasa. Seperti halnya sebuah tanaman yang sering di pupuk dan disiram akan menjadi subur, berbunga lalu berbuah. Saat tanaman itu dibiarkan tanpa siraman air dan pupuk, akan mengering, dan lambat laun akan mati. Jadi, dalam menjalin dan mempertahankan hubungan, rawatlah hubungan itu dengan memperhatikan pasangan kita itu seperti tanaman kita. Tanaman kita yang selalu kita siram dan pupuk untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan kita.


*******


Di kediaman rumah Pak Hartono dan Bu Hartini, Winda dan Intan sudah berada di rumah itu. Bu Hartini pun ikut duduk dan bergabung di meja itu sambil memangku Wisnu cucu kesayangan nya itu. Mereka saat ini sedang duduk satu meja di ruang makan. Sambil menyantap hidangan yang tersaji di atas meja, mereka sesekali mengobrol dan bercanda dengan topik ringan.


Pak Hartono saat itu tidak sedang berada di rumah. Urusan bisnis mengharuskan Pak Hartono sibuk dengan urusan bisnisnya. Setelah tidak adanya Surya, Pak Hartono kembali terjun penuh di perusahaan nya. Memang Intan dan Winda sudah mulai ikut mengurusi perusahaan milik keluarga Hartono tersebut tetapi dalam kepemimpinan dan keputusan semua sudah berada di tangan Pak Hartono.


" Wisnu yang ganteng, terlihat seperti papa nya, Surya." ucap Bu Hartini sambil mengusap lembut kepala Wisnu. Wisnu yang sudah mulai tumbuh besar itu hanya senyum melihat mama nya, Winda yang mencandainya.


" Seperti nya sebentar lagi, Wisnu akan mempunyai papa sambung lagi deh, Ma." sahut Intan menyindir sambil melirik ke arah Winda.


Bu Hartini spontan melihat ke arah Winda yang duduk tidak jauh darinya. Winda hanya diam lalu menatap ke mama mertua nya tersebut.


" Intan! Tidak secepat itu kami akan menikahnya. Tunggu sampai Wisnu masuk sekolah dulu." sahut Winda dengan wajah bersemu merah merona.


" Sekolah anak usia dini, maksudnya bukan?" ujar Intan ketus.


Bu Hartini hanya memandang Intan dan Winda bergantian. Intan terlihat kurang menyukai jika Winda kembali menemukan kebahagiaan nya. Berbeda dengan dirinya yang belum menemukan pasangan nya setelah rumahtangga nya kandas bersama Wardha dan cintanya seolah hancur berkeping-keping. Ditambah cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Niga yang tidak menyukai dirinya dan lebih memilih Galuh, adik dari Bang Hendra.


" Winda! Kamu kapan memperkenalkan seseorang yang beruntung itu?" tanya Bu Hartini kepada Winda sambil tersenyum.


" Beruntung?" sahut Intan.

__ADS_1


" Iya beruntung, Intan. Winda adalah tipe wanita yang susah jatuh hati pada seseorang. Dulu ketika bersama dengan kakak kamu, Surya. Winda susah sekali ditaklukkan oleh kakak kamu itu. Curhatan Surya saat itu kepada Mama, masih Sany jelas ditelinga mama. Surya benar-benar mengagumi Winda, di kampus nya itu." cerita Bu Hartini.


"Hah?" sahut Intan sambil menatap lekat- lekat ke wajah Winda.


" Mama, terlalu berlebih-lebihan." ucap Winda sambil menunduk.


" Jadi, kapan laki-laki itu kamu kenalkan ke mama?" tanya Bu Hartini.


" Sebenarnya, Bang Hendra sudah tidak sabar ingin berjumpa dan menjumpai mama dan papa ke rumah ini. Tapi saya sendiri, masih enggan, Ma." jawab Winda.


" Oh jadi, laki-laki itu bernama Hendra? Yang pernah kemari bersama Galuh itu bukan?" kata Bu Hartini.


" Betul mama. Bang Hendra itu kakaknya Galuh. Dan Galuh itu yang sudah merebut kekasihku." sahut Intan jutek.


Bu Hartini terdiam sambil kembali melihat Intan dan Winda secara bergantian.


" Intan! Setelah makan, mama ingin bicara panjang lebar dengan kamu." kata Mama akhirnya.


" Mama!" panggil Wisnu sambil berjalan mendekat ke arah Winda. Winda lalu mengambil Wisnu dan mendudukkan ke kursi di sebelah nya.


" Wisnu mau makan pisang?" tanya Winda sambil mengambilkan satu pisang yang ada di depannya.


Winda berusaha bersikap tenang dan ramah terhadap Intan yang masih jutek terhadap nya. Mungkin karena kekecewaan nya terhadap Niga yang lebih memilih Galuh dibandingkan dengan dirinya yang berimbas terhadap hubungan nya dengan Bang Hendra yang notabene adalah abangnya Galuh itu sendiri. Ini memang sangat lucu dan terkesan ke kanak- kanakan tetapi tidak bisa dipungkiri perasaan dan rasa cemburunya itulah yang mengakibatkan sedih,kecewa, dan ingin marah lalu ingin dilampiaskan ke siapa lagi kecuali kepada Winda yang selalu didekat nya. Ingin marah dengan Niga atau Galuh, mungkin saja tidak akan mungkin karena Intan pun memiliki gengsi yang cukup tinggi. Akhirnya ketidaksukaan nya dilampiaskan kepada Winda yang masih terkait dengan Galuh dan Bang Hendra. Galuh sebagai sahabat nya dan Bang Hendra adalah kekasih Winda.


*******


" Intan!" panggil pelan Bu Hartini kepada Intan yang saat ini mereka sudah berada di kamar milik Intan yang sudah sekian lama tidak ditempati nya karena Intan memutuskan tinggal di rumah Winda setelah kepergian Surya. Intan saat itu ingin menemani Winda dalam masa-masa kehilangan Surya yang meninggal dunia secara tidak diduga-duga.

__ADS_1


" Iya mama!" sahut Intan sambil merebahkan kepalanya di paha mama nya.


" Hadeuh! Tidur di bantal saja. Ini kaki mama nanti kesemutan." kata Bu Hartini sambil mengambil bantal dan meletakkan nya di bawah kepala Intan sebagai ganti dari pahanya.


Kini Bu Hartini membelai lembut kepala anak perempuan satu-satunya tersebut dengan kasih sayang.


" Sekarang ceritakan, kenapa kamu terlihat jutek terhadap kakak ipar kamu?" tanya Bu Hartini akhirnya.


" Ah mama! Bukankah mama sudah tahu dan mendengarkan yang saya bilang tadi bukan?" tanya Intan.


" Yang mana yah?" tanya Bu Hartini.


" Niga, mama! Niga lebih memilih Galuh dibanding saya. Dan itu sangat menyakiti hati saya, mama. Saya menganggap Niga sudah terlalu memberikan harapan palsu terhadap saya. Sedangkan saya sudah sangat berharap dan terlanjur menyayangi nya." cerita Intan.


" Niga? Sahabat Surya?" tanya Bu Hartini.


" Huum!" jawab Intan.


" Oh, mama pikir Niga itu menyukai Winda loh setelah meninggal nya Surya. Ternyata menyukai Galuh, sahabatnya Winda?" kata Bu Hartini.


" Lalu, kamu jadi ikut membenci kakak ipar kamu itu, Winda? Kamu aneh sekali, Intan." tambah Bu Hartini.


" Habis, Galuh juga sahabat nya Mbak Winda dan Kekasihnya Mbak Winda adalah abangnya Galuh." sahut Intan.


" Hedeuh!" sahut Bu Hartini sambil menghela nafas panjang.


" Saya memang seharusnya tidak boleh bersikap seperti itu terhadap Mbak Winda. Tapi saya harus marah dengan siapa dong, mama?" kata Intan sambil merengek.

__ADS_1


" Intan! Siap ini kamu harus minta maaf dengan Mbak Winda. Kamu jangan seperti anak kecil ya sayang. Sudah lupakan saja. Masih banyak laki-laki diluar sana yang pasti menyukai dan mencintai anak mama yang paling cantik ini." ucap Bu Hartini.


" Mama!" sahut Intan sambil memeluk mamanya.


__ADS_2