Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KEBERSAMAAN PAK HARTONO DAN ISTRI


__ADS_3

Di kediaman rumah Pak Hartono. Bu Hartini dan Pak Hartono sedang duduk santai di taman rumah belakang. Suara gemericik air kolam membuat situasi seperti berada di alam bebas. Dengan ditemani segelas air jahe dengan gula aren, Pak Hartono menikmati sore itu bersama istri tercintanya. Sudah lebih dari 35 tahun mereka melalui kebersamaan dalam mengarungi rumah tangga. Bukan waktu yang singkat selama itu. Waktu selama itupun bukan tidak ada permasalahan dan kerikil- kerikil tajam yang menguji keutuhan cinta kasih mereka.


Pak Hartono menatap penuh keteduhan wajah istrinya yang penuh kesabaran dalam mendampingi nya. Bu Hartini terbilang sangat sabar dan patuh terhadap titah dan keputusan yang selalu dibuat oleh suaminya itu. Apalagi tatkala harus berpisah dengan Surya yang pergi meninggalkan rumah besar itu dikarenakan tidak setuju terhadap perjodohan yang pernah mereka buat. Hal itu pukulan bagi Bu Hartini, yang harus jauh dari anak laki-laki kesayangan nya itu . Pak Hartono terbilang cukup keras dikala itu, Surya harus memilih diantara dua, menyetujui perjodohan itu atau pergi meninggalkan rumah kediaman Pak Hartono tanpa adanya fasilitas dan aset yang di berikan untuk nya.


Kala itu, Surya berani membuat keputusan pergi meninggalkan rumah besarnya tanpa menikmati segala fasilitas dan materi yang mencukupi kehidupan nya. Surya rela bekerja keras siang atau malam untuk hidup bersama dengan Winda. Itulah yang membuat Winda semakin merasa bersalah karena Surya yang terbiasa hidup mewah tanpa kekurangan harus bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan diri dan istrinya, Winda. Ketika Surya melakukan pengkhianatan itu, Winda masih bersikap bijak dan membuka hatinya untuk memaafkan segala kesalahan atas pilihan Surya yang salah. Bukankah manusia hidup tidak melulu melakukan kebaikan di mata orang. Manusia baik pun tidak selamanya tidak melakukan tindakan yang salah. Demikian juga seorang musuh, tidak selamanya menjadi musuh kita terus menerus dan seorang kawan sejati tidak selamanya setia menemani kita dalam kesulitan dan kesusahan hidup. Masing-masing manusia suatu ketika akan disibukan dengan urusan pribadi dan egoisme nya.


" Enak tidak wedang jahenya?" tanya Bu Hartini yang melihat Pak Hartono menikmati minuman wedang jahe itu sedikit demi sedikit.


" Mantab, mama sayang! Mama yang bikin yah?" ucap Pak Hartono sambil tersenyum.


" Tentu saja! Hehe. Hayo, jangan merokok lagi papa, sayang! Sudah tua ini pun." kata Bu Hartini sambil merebut bungku rokok dan korek yang akan diambil oleh Pak Hartono.


" Mama! Satu batang lagi, sayang!" rengek Pak Hartono manja.


" Bener satu yah?" tanya Bu Hartini sambil menarik satu batang rokok itu dari bungkusan rokok yang diambilnya.


" Terimakasih, mama sayang!" ucap Pak Hartono yang menerima satu batang rokok dari tangan Bu Hartini.


Bu Hartini tersenyum puas. Suaminya ini terkadang jadi penurut ketika Bu Hartini sibuk dengan masalah kesehatan nya. Bagi seorang suami, tentu saja ini membuat hatinya senang karena merasa diperhatikan oleh istrinya.


" Papa! Menurut papa, benar tidak sih, kalau kita mencarikan calon suami untuk Winda?" tanya Bu Hartini.


"Ngawur! Gak boleh begitu dong mama, sayang! Kita sebagai orang tua tidak boleh memaksakan kehendak lagi. Biarlah alam yang mendekatkan Winda pada jodohnya kembali. Kita hanya mendoakan segala kebaikan dan kebahagiaan anak- anak, menantu dan cucu kita." jawab Pak Hartono dengan senyuman nya.


" Jangan cemberut dong! Kita berdoa saja cepat atau lambat anak dan menantu kita akan menemukan kebahagiaan nya bersama orang yang tepat sesuai pilihannya." tambah Pak Hartono.


" Iya papa sayang!" sahut Bu Hartini.


" Kita ke rumah Winda yuk Pa?" ajak Bu Hartini.


" Besok lusa saja lah, Ma! Lagi mager, ingin bermesraan dengan mama saja di rumah." ucap Pak Hartono.

__ADS_1


" Hehe. Baiklah kalau begitu." kata Bu Hartini sambil tersenyum.


" Oh iya pa! Ada undangan pernikahan dari Sarwenda hari Sabtu depan." kata Bu Hartini memberi tahu suaminya.


" Oh ya? Dengan siapa Sarwenda menikah?" tanya Pak Hartono dengan wajah yang datar tidak ada keterkejutan.


" Dengan Wardhana!" jawab Bu Hartini singkat.


" Wardhana? Wardhana mantan suaminya anak kita, maksud mama?" tanya Pak Hartono mulai membesar bola matanya.


" Iya, papa!" jawab Bu Hartini dengan pelan.


" Oh begitu!" sahut Pak Hartono kembali datar.


" Papa ini tidak ada tanggapan lain? Mendengar berita mereka menikah, papa tidak ada komentar apa gitu kek." protes Bu Hartini dengan manyun mulutnya.


" Apa yang bisa kita komentari. Hidup hidup mereka, pilihan pilihan mereka juga. Apa mereka minta pendapat dan komentar dari kita, Ma?" kata Pak Hartono.


" Hehehe, mama ada kalanya kita pantas berkomentar ada kalanya kita pantas diam saja. Memang kita tidak selayaknya memberikan komentar kepada mereka kok. Mungkin ini sudah takdir mereka bukan?" ucap Pak Hartono.


" Iya papa sayang!" sahut Bu Hartini.


" Kabarnya Sarwenda sudah melahirkan, anaknya perempuan." kata Bu Hartini.


" Alhamdulillah. Lalu?" ucap Pak Hartono.


" Maksud papa apa, dengan Lalu?" tanya Bu Hartini.


" Anak yang dilahirkan Sarwenda, anak darah daging siapa?" tanya Pak Hartono.


" Mana mama tahu! Papa jadi kepo yah?" ucap Bu Hartini mulai menggoda.

__ADS_1


" Hahaha! Kena deh papa." ujar Pak Hartono sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Anak itu adalah anak Wardha, papa!" kata Bu Hartini akhirnya menjelaskan sambil tersenyum.


" Baguslah kalau begitu!" sahut Pak Hartono kalem.


" Astagfirullah. Tidak adakah ekspresi wajah yang terkejut, gitu loh pa!" protes Bu Hartini dengan cemberut.


" Hahaha! Sudahlah. Yuk kita ke kamar saja. Ada film action romantis yang keren, loh ma!" ajak Pak Hartono sambil merangkul istri yang paling disayangi nya.


" Papa! Mama ingin ngobrol dulu." protes Bu Hartini.


" Ngobrol atau mengajak bergibah?" tanya Pak Hartono.


" Hehehe. Kedua nya, papa!" jawab Bu Hartini sambil bergelayut dengan manja.


" Nanti didalam kamar juga bisa toh. Tapi ngobrol masalah keintiman kita saja, ma. Hehe." kata Pak Hartono sambil tersenyum nakal.


" Haduh, maunya papa deh!" sahut Bu Hartini.


Cerita manusia tidak akan pernah habisnya. Cerita permasalahan hidup selalu datang silih berganti. Penyelesaian nya pun berbeda-beda tiap diri seseorang. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut penilaian orang. Terkadang apa yang sudah kita buat belum tentu berkenan sesuai keinginan orang. Jadi? Apa yang bisa dan mampu kamu kerjakan, Lakukan saja. Jangan merasa tidak mampu tetapi jalani dan lalui saja dengan kepercayaan diri. Sisanya biarkan Tuhan yang menilai dari segala perbuatan dan tindakan yang sudah kita perbuat.


" Mama! Papa selalu sayang, mama!" ucap Pak Hartono sambil mencium kening istrinya tersebut.


" Iya, mama tahu! Kalau tidak sayang mama, dari dulu papa sudah pergi dengan janda kembang itu, kan?" goda Bu Hartini sambil nyengir.


" Mama! Jangan diungkit lagi dong, mama sayang! Jatuh harga diri papa. Ketahuan nitizen, kalau papa juga banyak penggemar nya." sahut Pak Hartono sambil menoel hidung istrinya itu.


" Hahaha! Papa genit!" ucap Bu Hartini.


( Maaf yah, cerita nya sedikit ngelantur. Tulisan ketika hendak merayakan hari ultah Abangda dan pernikahan saya. Alhamdulillah ada tumpeng, ada lalapan. Pamer boleh kan? Terimakasih sudah mengikuti novel ini, cerita Abal- Abal dari author yang tidak jelas. So terimakasih banyak ya sayang!)

__ADS_1


Hayo tebak, merayakan hari pernikahan saya yang ke berapa, hayo? Sebenarnya sudah dari tanggal 7/06 kemarin, tapi baru makan- makan nya sekarang sekaligus ulang tahun Abangda. Doakan saya selalu berjodoh dunia akhirat dengan teman, sahabat hidup saya. Amin.


__ADS_2