
Inilah jawaban dari kekhawatiran ku. Ketika sudah dekat dengan masa itu dan waktu sudah mulai akrab dan terbiasa, kamu mulai membuat aku tambah kacau. Bukan kecewa! Bukan kesedihan yang ber peluk dengan rasa. Bukan pula takut akan kehilangan hati yang sudah sekian terpatri. Bukan takut sepi ketika diri sudah terbiasa dengan aroma wangi dan perhatian tulus darimu. Bukan pula takut akan lenyapnya sosok bayangan yang menari- nari di pelupuk mata. Sedih? Kecewa? Tidak! Aku sudah sangat terbiasa akan hal ini. Rasa ku sudah mulai pergi bersamaan dengan perginya cinta tatkala dikhianati. Dalam terlalu dalam karena aku tidak cukup berani tuk memulai. Dan kamu datang sebagai penawar kekosongan hati itu. Namun, apakah ini akan terulang lagi? Tatkala semua sudah berubah warna dalam benak ini.
" Nona! Sudah sudah sampai! Rumah nomer 77 bukan?" tanya sopir taksi itu sambil menghentikan mobilnya.
" Oh iya, benar!" sahut Winda sambil menyerahkan lembaran uang kertas berwarna merah itu kepada sopir yang mengantarkan ia pulang ke rumahnya.
Memang sebelum nya Winda satu mobil dengan Hendra dan akhirnya memutuskan untuk pulang duluan tanpa ijin dan persetujuan dari Hendra. Ponsel Winda pun beberapa kali berbunyi dari notifikasi pesan dan telepon masuk. Winda sengaja membiarkan nya. Pikirnya, panggilan masuk itu tidak lain dan tidak bukan adalah Hendra.
" Biar saja! Aku akan bikin kamu khawatir. Aku yakin, kamu tidak akan mengkhianati aku, bukan? Tapi paling tidak, akan kuberi kamu kesempatan untuk berdua dan berbincang dengan mantan kamu. Wanita yang pernah ada dalam hati dan kehidupan kamu. Tapi setelah ini, tidak akan kubiarkan satu wanita pun mendekati kamu dan menggoda kamu. Hendra!" kata Winda sambil menarik nafasnya.
" Eh?? Tetapi apakah aku cemburu?" tambah Winda yang berpikir sendiri.
" Sosok se upil Hendra, bisa bikin aku cemburu?" gumam Winda sambil tersenyum getir.
" Sudahlah! Kalau jodoh, kamu akan berusaha mendekati dan menjelaskan semuanya kepadaku. Malam ini, biarkan akan ku bikin kamu panik dan penuh kebimbangan. Sadis nya aku." batin Winda dengan tersenyum geli.
" Wisnu! Aku mau lihat Wisnu di kamar dulu!" kata Winda akhirnya.
*******
" Yuslita! Bagus yah, kamu sudah membuat kekasihku marah dengan aku!" kata Hendra dengan nada tinggi sambil tangannya masih menggenggam ponsel kesayangan nya.
Hendra masih berusaha menghubungi Winda tetapi tidak juga diangkat dan mendapatkan respon dari Winda. Memang ponsel Winda tidak dimatikan tetapi panggilan keluar dari Hendra tidak dianggap dan dibalasnya. Apalagi chat yang sudah dikirimkan nya sengaja tidak dibacanya.
" Hehehe! Ternyata kamu sudah benar-benar mencintai wanita itu? Selera kamu sudah turun rupanya, Hen?" sindir Yuslita sambil menempelkan badannya supaya lebih rapat ke sisi Hendra.
" Apakah kamu tidak bisa duduk agak jauh dari aku? Tempat ini begitu luas dan lapang, kenapa kamu suka sekali nempel ke aku sih?" ujar Hendra sudah mulai terpancing emosi.
" Aku kangen kamu, Hendra! Baiklah, aku hargai jika kamu akan menikah dengan wanita itu. Tetapi bolehkah, malam ini aku minta untuk yang terakhir kali berdua dengan kamu. Aku ingin menghabiskan malam panjang bersama kamu, Hendra. Tolonglah! Aku kangen banget dan ingin mengulangi malam indah seperti dulu." kata Yuslita tanpa basa- basi.
" Tidak akan!" sahut Hendra dengan mata melotot.
" Kenapa? Kamu jangan munafik dong! Pasti kamu sudah sekian lama tidak gituan bukan? Aku yakin, dengan wanita mu itu kamu tidak mendapatkannya bukan?" goda Yuslita.
" Sebentar lagi! Setelah kami menikah." sahut Hendra sambil berdiri dan bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
" Aku pergi! Percuma bicara dan ngobrol dengan kamu. Urat malu mu, kurasa sudah putus. Kamu sudah berubah dan sudah sangat liar." kata Hendra menilai.
" Karena aku tidak ingin berbasa-basi, sayang! Aku ingin kembali bersama kamu. Atau jika perlu aku mau jadi istri kedua kamu, Hen." ujar Yuslita.
" Tidak akan! Winda adalah satu-satunya yang akan menjadi pendamping hidupku dan akan menjadi istriku. Dan kamu, menyingkir lah dari kehidupan kami. Jangan coba- coba merusak hubungan kami." ancam Hendra.
" Hahaha! Baiklah!" sahut Yuslita sambil mengikuti langkah kaki Hendra yang meninggalkan rumah makan itu.
" Kamu ngapain mengikuti aku, hah?" kata Hendra emosi.
" Apakah kamu tega, membiarkan aku sendiri an pulang?" tanya Yuslita.
" Kamu datang tidak diundang, dan seharusnya pulang tidak diantar dong! Kamu perlu berapa?" kata Hendra sambil mengambil dompet nya dan mengeluarkan lembaran uang kertas berwarna merah di dompet nya.
" Astaga! Rendahnya aku!" sahut Yuslita dengan senyuman getarnya.
" Semua nya karena sikap kamu sendiri. Memaksa aku untuk bersikap rendah padamu." ujar Hendra.
" Kalau begitu, sekalian saja kamu anggap aku wanita penghibur. Aku rela dan ikhlas kamu beli untuk memberikan pelayanan terbaik pada kamu malam ini. Apakah tawaran ku ini, akan kamu Terima, Hen?" kata Yuslita tanpa sedikit pun menyerah ingin menggoda Hendra.
Yuslita masih berdiri dan bengong dengan reaksi yang muncul dari Hendra. Yuslita tidak percaya dan tidak menyangka, Hendra menolaknya dengan mentah-mentah dan tanpa basa-basi. Bagi Yuslita, dia tidak menyangka Hendra akan lebih memilih wanita yang berpenampilan kampungan dan tidak mengikuti model masa kini. Hal itu tentu saja menurut penilaian Yuslita dengan penampilan glamor dan suka berpakaian terbuka.
" Dari dahulu, Hendra memang tipe laki-laki yang setia. Kalau sudah menyayangi satu, dia akan berusaha mempertahankan nya. Aku tahu itu dan aku sangat menyesal kenapa harus meninggalkan nya dulu. Baik lah! Semoga, jalan kehidupan kamu indah. Aku hanya sedikit menggoda saja. Aku tahu, kamu masih tetap sama dan tidak berubah. Kamu tetaplah Hendra yang setia dan penuh tanggung jawab." kata Yuslita pelan seolah mengakui kekalahannya dengan Winda.
" Winda? Kelihatannya dia wanita baik- baik. Walaupun sedikit kampungan dengan penampilan nya. Barang- barang yang dikenakan tidak bermerek. Apakah, Hendra tidak memberikan banyak uang padanya?" kata Yuslita sambil berpikir.
" Mungkin saja ada sesuatu hal yang membuat Hendra tertarik dari wanita itu. Tidak disangka, wanita itu bisa menaklukkan kerasnya hati Hendra? Hendra yang sejak dahulu masih mengharap dan menginginkan aku kembali padanya. Hendra akan selalu membuka pintu hatinya padaku jika aku mau dan meninggalkan laki-laki itu. Tetapi sekarang berubah setelah adanya wanita itu. Iya, Winda! Wanita itu sudah merubah pandangan Hendra. Cukup menarik!" pikir Yuslita.
Angin malam semakin kencang menerpa rambut pendek milik Yuslita. Yuslita bukanlah wanita gampangan dan bukan pula wanita alim. Tetapi Yuslita masih punya pendirian dan harga diri. Jika tidak, sosok Hendra tidak akan menyukai Yuslita di masa dulu. Yuslita hanya menginginkan, jikalau Hendra masih mengharapkan dia, dirinya akan senang hati kembali kepadanya. Caranya menggoda terkesan liar dan nakal, dan bagi Hendra itu suatu perubahan drastis dari Yuslita yang pernah dikenali nya.
Kini raut kesedihan terpancar dari wajah Yuslita. Dirinya yang sudah menyandang status janda harus mulai bangkit dan membuka lembaran baru tanpa bayang- bayang kekecewaan dan kesedihan sewaktu bersama dengan mantan suami nya yang super kasar.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Manusia memiliki kelemahan dan kelemahan itu akan menjadi kelebihan dari manusia itu sendiri. Pasangan yang selalu melengkapi dalam kekurangan itu menjadikan kita lebih sempurna bersama dengan nya. Cinta ibarat bara yang sewaktu- waktu bisa berkobar-kobar dan menyala-nyala. Bisa dipadamkan, bisa pula semakin besar. Setidaknya jika tidak bisa dimusnahkan atau dimatikan, cinta itu perlu ditahan dan dikendalikan jika bukan pada seseorang yang belum halal. Dan cinta yang tidak dan jangan dimusnahkan adalah Kecintaan kita pada Sang Khaliq. Tuhan Maha Baik, akan memberikan semua yang kita butuhkan, syukur dan bersyukur atas segala.
AUTHOR:
Terima kasih sudah mengikuti cerita novel ini yang tidak seberapa. Jika suka, jangan lupa tinggalkan jejak anda. Like dan komentar, jika memungkinkan vote, tips. Mohon maaf lahir batin, author masih proses belajar dalam ketrampilan menulis dan mengarang bebas. So, masih banyak yang perlu saya revisi jika memungkinkan dan banyak waktu yang bisa diajak kerjasama untuk berpikir.
__ADS_1
Terima kasih banyak. 😘🥰😍
T
A
M
A
T
T
A
P
I
B
O
H
O
N
G
😜😝
EH, KARENA MASIH NANGGUNG CERITANYA, GAK JADI TAMAT.
SEKALI LAGI, TERIMA BANYAK ATAS DUKUNGAN KALIAN YAH. MAAF MASIH BELUM BISA BALAS KOMENTAR SATU PERSATU. ADA DUNIA NYATA YANG JUGA HARUS SAYA PERANKAN.
__ADS_1