
Sesampainya di kantor, Tuan Felix berjalan lebih cepat. Mia segera menyusul dan berusaha menenangkannya.
"Tidak usah dipikirkan. Semuanya baik-baik saja," ucap Dion sembari merangkul bahu Rian.
"Terima kasih ya Kak," ucap Rian.
Dion mengajak Rian untuk bercerita banyak hal tentang pengalaman kuliah dan rencana ke depannya. Ia berusaha mengalihkan pikiran Rian tentang Tuan Felix yang masih kesal karena kedatangan Maudi.
"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi orang yang sangat sukses," ucap Dion memberi semangat.
"Aku ingin seperti Kakak," ucap Rian.
"Kamu akan jauh lebih sukses dibanding aku," ucap Dion.
"Ah Kakak berlebihan," ucap Rian.
Dion selalu meyakini kemampuan Rian. Kehidupannya yang pahit membawa Rian untuk menjadikannya sebuah pecutan. Kini ia sudah berhasil menunjukkan usaha maksimalnya. Hanya menunggu waktu, Rian pasti akan tumbuh menjadi pengusaha muda yang sukses.
"Rian, sini! Papa mau bicara," ucap Mia sembari melambaikan tangan.
"Jangan takut. Temui Papa," ucap Dion saat melihat Rian begitu tegang.
"Iya Kak," ucap Rian.
Tidak lama, Mia keluar dari ruangan itu dan menemui Dion. Membiarkan Rian dan Tuan Felix bicara berdua di ruangannya.
"Papa marah pada Rian?" tanya Dion.
"Mungkin kecewa. Papa pikir Rian yang memberi alamat rumah dan mengundang Maudi. Padahal Mia yakin kalau Rian tidak mungkin melakukan hal itu," ucap Mia.
"Aku jadi khawatir dengan hubungan Papa dan Rian," ucap Dion.
"Apa yang dikhawatirkan?" tanya Mia dengan wajah penasaran.
"Papa terlalu terang-terangan membeci Maudi. Padahal kita semua tahu bagaimana cinta Rian untuk Maudi," jawab Dion.
"Jadi maksud Aa, Papa salah?" tanya Mia tersinggung.
"Bukan begitu Mia," tepis Dion saat menyadari ketersinggungan istrinya.
Dion kembali menjelaskan maksud kalimat yang diucapkannya. Ia hanya tidak ingin hubungan keduanya menjadi buruk hanya karena Maudi. Dion juga tidak mendukung hubungannya dengan Maudi. Tapi ia khawatir kalau Rian menjadi tertekan jika terus-terusan ditekan seperti itu.
"Jadi siapa yang salah?" tanya Mia.
__ADS_1
Dion menghela napas saat istrinya masih belum memaafkannya.
"Tidak ada yang salah. Masalah perasaan tidak bisa dipaksa. Aku yakin Rian juga akan mengerti maksud baik Papa," jawab Dion.
Apa yang Dion ucapkan memang benar. Rian memang sempat tertekan saat harus mengikuti logika ataupun perasaanya. Namun akhirnya ia menyadari ketulusan Tuan Felix untuknya.
Termasuk saat ini, Rian justru merasa malu sendiri. Akhir-akhir ini Tuan Felix sering marah padanya karena kehadiran Maudi. Selama ini Rian tidak pernah melihat Tuan Felix begitu marah, kecuali jika itu tentang Maudi.
"Maafkan Papa ya Rian," ucap Tuan Felix.
Kalimat itu sering kali Rian dengar akhir-akhir ini. Semakin sering mendengarnya, Rian justru merasa semakin merasa bersalah. Ia sedih ssat melihat Tuan Felix selalu terlihat bersalah atas apa yang tidak menjadi kesalahannya.
Semakin dewasa, Rian paham maksud Tuan Felix. Sebagai seorang ayah, tentu Tuan Felix pasti menginginkan Rian menjadi seseorang yang sesuai dengan harapannya.
"Papa, aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Aku hanya bisa meyakinkan diriku sendiri untuk memberikan yang terbaik dalam hidupku. Aku sama sekali tidak bisa meyakinkan Papa. Biar Papa yang menilai sendiri nanti," ucap Rian.
Pelukan Tuan Felix terasa hangat dalam tubuh Rian. Ada ketenangan saat pria yang semakin tua itu mendekapnya. Ia takut jika tidak bisa membahagiakan Tuan Felix. Sementara Rian bisa mendapat semua kebahagiaan dari Tuan Felix.
Rian mendapat kasih sayang seorang ayah dan keluarga dari Tuan Felix. Ia juga mendapat pendidikan yang sangat bagus berkat Tuan Felix. Rasanya tidak ada alasan untuk mengecewakan manusia baik yang ada di hadapannya itu.
"Kapan mau pulang ke Jerman?" tanya Tuan Felix saat sudah melepaskan pelukannya dari Rian.
Rian tahu waktu liburnya masih panjang. Namun ia juga menyadari jika pekerjaan Tuan Felix tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sedangkan membiarkan Tuan Felix kembali ke Jerman sendirian, rasanya tidak mungkin.
"Kamu tidak mau menghabiskan waktu liburanmu di sini?" tanya Tuan Felix.
"Sepertinya aku harus kembali belajar untuk mempersiapkan semester selanjutnya," jawab Rian.
"Bukan karena Papa mau pulang?" tanya Tuan Felix meyakinkan.
"Memangnya Papa butuh aku?" tanya Rian kembali.
"Aku tidak membutuhkan siapapun," jawab Tuan Felix sembari tertawa.
Rian ikut tertawa. Jawaban Tuan Felix adalah kalimat yang sering dikeluarkan saat keduanya ingin ditemani namun saling gengsi.
"Mereka sepertinya sudah akur," ucap Mia saat mendengar tawa keduanya dari dalam ruangan.
"Memangnya mereka sempat tidak akur?" tanya Dion dengan wajah pura-pura polos.
"Aa menyindir Mia?" tanya Mia.
"Aku bertanya. Jangan marah," jawab Dion.
__ADS_1
Tidak lama Rian dan Tuan Felix keluar. Mereka izin untuk pulang. Ah, tidak pulang. Mereka ingin menuju salah satu pusat perbelanjaan. Membeli oleh-oleh untuk rekan Tuan Felix. Sedangkan Rian membeli kain batik khusus untuk Mr. Aric.
"Sweet sekali kamu padanya," goda Tuan Felix.
"Aku rencananya mau bertemu Mr. Aric lagi. Agar tidak malu, aku bawa ini. Memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan ilmu yang diajarkannya. Tapi setidaknya ini bisa jadi kenang-kenangan untuk Mr. Aric," ucap Rian.
"Beli yang banyak. Apapun, beli saja. Biar Papa yang bayar. Papa suka cara berpikir kamu," ucap Tuan Felix.
Lagi-lagi Rian menolak. Ia merasa uang yang ia pegang masih cukup untuk membeli oleh-oleh untuk Mr. Aric. Bagi Rian, hadiah tidak perlu mahal. Apalagi untuk orang kaya seperti Mr. Aric.
Kain batik adalah simbol agar Mr. Aric selalu mengingat Rian saat melihat hadiah darinya. Khas Indonesia yang ia perkenalkan pada orang-orang sukses di negara Jerman. Harganya tidak ada apa-apanya untuk Mr. Aric, namun ketulusan Rian yang akan menjadi mahal di mata Mr. Aric.
"Kalian belanja apa?" tanya Nyonya Helen saat melihat barang-barang yang dibawa oleh Rian dan Tuan Felix.
Bukannya menjawab, Rian hanya bisa menatap tidak percaya saat Maudi masih ada di rumah itu. Sedangkan Tuan Felix hanya tersenyum ada Nyonya Helen dan pamit ke kamarnya.
Rian juga mengikuti langkah Tuan Felix. Namun tangannya ditahan oleh Nyonya Helen. Rupanya Maudi berhasil menghasut wanita yang sudah Rian anggap sebagai ibunya itu.
"Rian, kamu itu laki-laki. Bersikap lembutlah pada Maudi. Dia gadis yang baik. Temani dia," bisik Nyonya Helen pada Rian.
Rian dan Maudi hanya salimg diam setelah Nyonya Helen pamit. Sengaja, Nyonya Helen ingin Rian menemani dan bicara berdua dengan Maudi. Namun harapan Nyonya Helen berakhir sia-sia. Rian dan Maudi malah bertengkar hingga akhirnya Maudi pergi meninggalkan rumah itu.
"Rian, sini!" ucap Nyonya Helen menarik tangan Rian.
Membawa Rian ke taman belakang. Menjauh dari kamar Tuan Felix.
"Apa begini cara Tuan Felix mendidikmu untuk menyikapi seorang wanita?" tanya Nyonya Helen.
"Mama kenapa?" tanya Dion bingung.
"Mama tidak suka cara kamu memperlakukan Maudi. Kamu itu laki-laki. Bersikaplah seperti laki-laki. Jangan begitu pada Maudi," ucap Nyonya Helen.
"Ma, aku dan Maudi tidak ada hubungan apa-apa," jawab Rian.
"Kalau tidak ada apa-apa, tidak mungkin Maudi ke rumah ini berkali-kali. Belajarlah jadi laki-laki yang jantan. Jangan menyakiti hati perempuan," ucap Nyonya Helen sembari pergi meninggalkan Rian.
"Mama kenapa ya?" tanya Rian bingung.
Rian pergi ke kamarnya membawa kebingungan yang belum terjawab. Ia tidak tahu apa yang Maudi katakan pada Nyonya Helen, hingga di mata Nyonya Helen hanya Rian yang salah.
Jangan-jangan kamu pakai guna-guna Maudi. Bagaimana mungkin Mama tidak membelaku sama sekali? Di mata Mama aku yang sepenuhnya salah. Apa yang kamu ceritakan pada Mama, Maudi?
Rian mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Memejamkan matanya sebentar lalu kembali menatap langit-langit kamarnya. Merenungi kehidupannya yang semakin rumit.
__ADS_1
Ternyata, dewasa itu tidak seindah yang aku bayangkan.