
Manto berjalan di belakang Rian menuju ruangannya. Baru saja sampai ke mejanya, Manto melihat Rian sudah gelisah. Manto segera memberi segelas air untuk Rian.
"Minum dulu Pak," ucap Manto.
"Terima kasih Pak," ucap Rian.
Rian segera meneguk air itu. Ia berusaha menenangkan pikirannya. Matanya beberapa kali melihat ponsel. Masih sepi. Tidak ada satupun pesan dari Riri.
Kamu apa kabar Pus? Apa kamu tahu kalau kamu begitu mengkhawatirkanmu?
PRANG..
"Bapak sebaiknya pulang saja," ucap Manto.
Rian terkejut saat gelas di mejanya sudah pecah berkeping karena tersenggol tangannya. Di bawah sudah nampak Manto yang sigap membersihkan pecahan gelas itu.
"Biarkan nanti saya suruh orang saja Pak," ucap Rian.
"Tidak apa-apa. Saya bisa mengerjakan semua ini," jawab Manto.
Rian memperhatikan Manto. Ia benar-benar serba bisa dan tidak perhitungan urusan pekerjaan. Apapun yang bisa ia kerjakan pasti akan ia kerjakan.
Kekaguman Rian pada Manto semakin besar seiring berjalannya waktu. Semakin lama, Rian justru menemukan banyak sekali kelebihan dan ketulusan dari Manto. Sampai akhirnya ia berpikir untuk menceritakan bebannya saat ini pada Manto.
"Pak Manto, apa ada waktu sebentar?" tanya Rian.
"Ada Pak. Bapak perlu apa?" Manto balik bertanya.
"Saya ingin bercerita tentang sesuatu," ucap Rian.
"Boleh Pak. Dengan senang hati saya akan mendengarkan semua cerita Bapak," ucap Manto.
Meskipun awalnya Rian ragu, namun setelah memulai bercerita ia justru merasa lepas. Ia menceritakan semua yang membuatnya gelisah dan tidak fokus hari ini. Ia juga menceritakan alasannya untuk lebih memilih Manto dari pada keluarganya di rumah.
__ADS_1
"Saya mengerti Pak. Kadang kita memang ingin terlihat kuat dan baik-baik saja di depan orang yang kita sayang. Alasannya agar mereka tidak ikut memikirkan masalah kita, kan?" tebak Manto.
"Ya. Tepat sekali, apalagi saya hanya seorang anak angkat di sana." Rian tampak semakin sedih.
"Jangan begitu Pak. Apapun status bapak di keluarga Tuan Wira, saya melihat semuanya baik-baik saja. Mereka sangat menerima Bapak," ucao Manto.
Sebelumnya Rian memang sempat bercerita tentang posisinya di rumah Tuan Wira. Namun Manto selalu meminta Rian untuk selalu bersyukur. Tapi di sisi lain, ia juga mengerti keadaan Rian.
"Pak, terima kasih ya sudah mau menjadi teman bicaraku. Saya hanya lelah saat memendam semuanya sendirian. Sementara saat pulang ke rumah, saya harus terlihat baik-baik saja." Rian mengusap wajahnya.
"Saya sangat mengerti. Jika butuh orang, saya akan usahakan agar selalu ada untuk Bapak." Manto mengangguk yakin.
Rian tersenyum senang. Manto memang benar-benar tipe pendengar yang Rian butuhkan. Tidak banyak bertanya namun selalu mencerna setiap ceritanya. Tanggapannya selalu sesuai porsinya. Tidak sekalipun mengorek informasi apapun padanya.
"Kalau soal calon istri Bapak, saya yakin dia wanita kuat. Mendengar cerita Bapak tentang dia, saya jamin dia bisa menyelesaikan masalahnya. Sudah banyak masalah besar yang ia hadapi. Jadi saya rasa Bapak jangan khawatir," ucap Manto.
Rian diam. Benar apa yang diucapkan oleh Manto. Tapi pada kenyataannya, ia tidak bisa sstenang itu. Ia masih khawatir karena sampai saat ini tidak ada kabar apapun dari Riri.
Bahkan sampai jam pulang sekalipun, ponselnya tidak menerima pesan apapun. Ia pamit untuk pulang lebih awal. Alasannya karena Rian butuh istirahat. Padahal pada kenyataannya ia hanya ingin mencari keberadaan Riri.
Mencari Riri? Bahkan ia juga tidak tahu dimana keberadaan Riri saat ini. Namun paling tidak ia berusaha untuk mengitari jalanan ibu kota sekedar mencari sebuah keberuntungan. Walaupun kemungkinannya sangat kecil. Tidak apa, yang penting ia tidak hanya diam dan menunggu.
Rian melajukan mobil dengan pelan. Matanya dengan tajam melihat kiri dan kanan. Mencari apa? Siapa? Riri? Bahkan mobilnya saja ia tidak tahu.
"Aku harus kemana?" tanya Rian sambil mengusap wajahnya kasar.
Rasa kesal dan sesal membuat Rian berkali-kali memukul setir. Ia berusaha meluapkan emosinya. Sampai akhirnya ia menepi saat menerima panggilan dari Riri.
"Pus, kamu dimana? Apa yang terjadi?" tanya Rian panik.
"Aku baik-baik saja Mas. Sekarang di hotel. Mas dimana?" tanya Mia.
"Aku di jalan. Aku ingin bertemu denganmu. Bisa?" tanya Rian penuh harap.
__ADS_1
Sayangnya Rian harus kecewa. Riri tidak bisa keluar dari hotel itu karena Mr. Aric melarangnya. Mr. Aric tidak mau kejadian tadi terulang lagi.
"Jadi kamu dihukum?" tanya Rian.
Bukan hukuman. Lebih tepatnya ini adalah cara Mr. Aric melindungi Riri dari orang-orang jahat seperti Maudi. Rian menjadi lebih tenang saat mendengar penjelasan dari Riri. Meskipun rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Riri pun belum sirna.
"Kamu sayang kepadaku?" tanya Rian.
"Mas kok bertanya hal yang sudah tahu jawabannya?" Riri balik bertanya.
"Jawab saja. Aku ingin mendengar jawabannya," ucap Rian.
"Aku sangat mencintaimu Mas," ucap Riri.
"Nah kalau begitu kan enak didengarnya," ucap Rian sambil tersenyum lebar.
"Jadi cuma aku yang sayang sama Mas?" tanya Riri.
"Iya aku juga mencintaimu Mas," jawab Rian.
Riri tersenyum lebar saat mendengar ucapan Rian. Kalimat yang selalu sukses membuatnya bahagia luar biasa.
Rian yang masih penasaran, bertanya kembali tentang reaksi Mr. Aric atas kejadian tadi. Riri pun menjelaskan semuanya tanpa kecuali. Ternyata Mr. Aric sudah tahu Maudi sebelumnya. Sifat Maudi membuat Mr. Aric dengan mudah percaya pada Mia.
"Lalu tentang perusahaan itu?" tanya Rian.
Ada kekhawatiran saat Maudi mencampur adukkan masalah pribadinya dan Riri dengan urusan kerja. Beruntungnya Riri, saat Mr. Aric tidak terlalu menggarapkan kerja sama itu. Meskipun memang ke depannya sangat menguntungkan, namun Mr. Aric tidak mau bekerja sama dengan orang-orang yang tidak bisa menghargai orang lain.
Jadi sampai saat ini semua berjalan baik. Kalaupun suatu saat perusahaan ayahnya Maudi membatalkan kerja sama itu, Mr. Aric merasa itu bukan masalah yang besar.
"Ah, aku ikut senang. Kamu beruntung sekali bisa bertemu dengan Mr. Aric. Karena Mr. Aric lebih memilih kamu dibanding kerja sama dengan perusahaan ayahnya Maudi," ucap Rian.
"Bukan begitu Mas. Mr. Aric itu sangat baik dan tidak membedakan orang dari strata sosial," ucap Rian.
__ADS_1
Telepon itu terhenti saat Riri sudah dipanggil oleh Mr. Aric. Meskipun Rian tidak tahu alasannya, namun ia cukup senang dengan kabar Mr. Aric yang tidak memecat Riri atas ulah Maudi.
"Mr. Aric memang orang yang sangat baik," gumam Rian.