Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Rian milikku


__ADS_3

"Ri, Mpus itu siapa? Dia orang mana?" tanya Mpus.


"Mpus itu mahasiswa baru di kampusku. Dia orang Indonesia juga," ucap Rian.


"Kok namanya aneh sih?" tanya Mia.


"Sebenarnya namanya Riri puspita apa ya, panjang deh kak. Kalau aku panggil Riri, aku berasa memanggil namaku sendiri. Jadi aku panggil Mpus aja," jawab Rian.


"Ya ampun Rian, kamu kan bisa memanggilnya pita, kenapa harus Mpus?" tanya Mia.


"Tidak tahu kak, aku cuma langsung panggil Mpus aja. Spontan aja gitu," jawab Rian.


"Apa jangan-jangan kamu naksir lagi makanya panggil Mpus," goda Dion yang ikut nimbrung.


"Aa," ucap Mia.


"Tidak, tidak. Aku dan Mpus hanya berteman," ucap Rian.


"Sekarang sih berteman, sebulan, setahun ke depan kan siapa yang tahu. Perasaan itu bisa muncul kapan saja. Apalagi sering bertemu. Mpus cantik kan?" tanya Dion.


"Ah, Kakak. Aku dan Mpus hanya berteman. Aku tidak ada niat lebih kok sama dia," jawab Rian.


"Kalau seandainya dia suka sama kamu?" tanya Mia.


"Tidak mungkin Kak. Aku yakin Mpus juga hanya akan menganggapku sebagai teman," jawab Rian.


"Tidak ada laki-laki dan wanita yang sepenuhnya merasa benar-benar bersahabat. Pasti salah satu akan ada yang merasa lebih. Percaya sama Kakak," ucap Dion lagi.


"Aku tidam tahu ke depannya gimana Kak. Hanya saja sampai saat ini, aku hanya bersahabat. Lagi pula aku sama Mpus juga baru bertemu hari ini," ucap Rian.


"Ya sudah, jalani saja hari-harimu. Nanti kamu juga bisa memilih mana yang lebih baik. Waktu akan menjawab semuanya. Jangan terburu-buru," ucap Mia.


Setelah obrolan dengan Mia berakhir, Rian duduk di tepi ranjang. Ia menyimpan ponselnya dan kenbali mengingat apa yang sudah mereka bahas.


Kenapa Kak Mia dan Kak Dion jadi bahas antara Maudi dan Mpus ya? Aku kan hanya curhat tentang bagaimana seharusnya rencanaku pada Maudi? Karena Mpus menyentilku dengan perasaan Rey.


Rian menggelengkan kepalanya. Ia melihat jam dinding. Sudah waktunya makan malam. Rian segera keluar untuk makan bersama dengan Tuan Felix.


Mereka duduk bersama, saling berhadapan dengan piring yang sudah ada di depannya. Menu makan malam sudah tersaji. Mereka siap menyantap makanan itu tanpa bahasan apapun. Kali ini Rian memilih bungkam soal Riri. Cukup Mia dan Dion saja. Ia tidak mau Tuan Felix ikut memikirkan urusan perasaannya.


"Ri, besok kamu masuk siang atau pagi?" tanya Tuan Felix saat selesai makan.


"Aku masuk pagi Pah. Kenapa?" tanya Rian.


"Pulang lebih siang dong?" tanya Tuan Felix.


"Iya Pah. Besok aku pulang jam dua," ucap Rian.


"Kalau ada tugas langsung dikerjakan ya! Besok malam ada undangan makan di rumah Mr. Aric," ucap Tuan Felix.


"Boleh Pah. Tapi Mr. Aric tidak mengungku. Padahal Mr. Aric punya nomorku," ucap Rian.


"Ya sebenarnya ini undangan personal sahabatnya saja. Hanya saha mereka akan membawa pasangan masing-masing. Jadi aku tidak mungkin datang sendiri," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Kenapa Papa tidak cari pasangan saja?" tanya Rian.


Tuan Felix menghela napas panjang. Berat rasanya harus menjawab pertanyaan Rian. Karena sebenarnya jawaban Tuan Felix bisa dijadikan jawaban Rian saat ia mengingatkannya tentang Maudi.


"Papa istirahat dulu," ucap Tuan Felix menghindar.


"Pah, maaf." Rian merasa sangat bersalah.


"Tidak masalah," ucap Tuan Felix.


Hanya menoleh sebentar lalu ia kembali meninggalkan Rian.


Maaf Rian, aku terlanjur mencintai Ningsih. Hatiku sudah mati untuk wanita manapun selain Ningsih.


Tuan Felix memejamkan matanya sebentar dan merasakan kerinduan yang mendalam pada Ningsih. Yang ia lakukan untuk melepas rindu adalah membuka video makam Bu Ningsih yang ada di Bandung.


Kamu istirahat yang tenang ya! Tunggu aku. Aku janji akan menemuimu nanti.


Kesedihan Tuan Felix adalah rasa bersalah terbesar yang Rian rasakan. Ia tidak berani menemui Tuan Felix yang sedang mengurung diri di kamar. Rian kembali ke kamar dan merenungi kesalahannya.


Pah, maafin Rian ya. Rian tidak tahu Papa sesakit ini jika membahas tentang Bu Ningsih.


Rasa bersalah itu masih menyelimuti Rian semalaman. Bahkan saat pagi, setelah ia membuka matanya rasa bersalah itu masih utuh.


"Rian, Papa berangkat ya!" ucap Tuan Felix setelah mengetuk pintu kamarnya.


Rian segera berlari membuka pintu. Memastikan apa alasan Tuan Felix berangkat sepagi ini.


"Papa tidak sarapan dulu?" tanya Rian.


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Rian.


"Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan," jawab Tuan Felix.


"Bukan karena kesalahanku semalam?" tanya Rian.


"Tidak. Aku berangkat ya. Jangan lupa sarapan dan kuliah yang semangat," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," jawab Rian.


Rian berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin menyinggung Tuan Felix lagi. Rian juga berniat untuk tidak menyinggung kesalahannya lagi, karena itu hanya akan mengingatkan kesedihan Tuan Felix lagi.


Seperti pemintaan Tuan Felix, Rian segera sarapan dan bersiap pergi ke kampus. Berusaha melupakan kesalahannya pada Tuan Felix, Rian meniti langkahnya dengan pasti. Kesuksesan yang harus ia raih adalah cara untuk menebus rasa bersalahnya.


"Rian," panggil Maudi.


"Rey sudah masuk?" tanya Rian.


"Kok kamu tanya Rey?" ucap Maudi.


"Terus aku harus tanya siapa? Tidak mungkin aku tanya Riri, kan?" tanya Rian.


Maudi langsung pergi dengan kesal setelah mendengar nama Riri disebut oleh Rian didepannya.

__ADS_1


"Dia tidak berubah," gumam Rian.


Rian kembali berjalan menuju kelasnya. Matanya tidak sengaja menangkap Riri sedang berada di bebangkuan. Diam sebentar dan berpikir. Apakah ia harus menemui Riri atau justru menghindar?


"Mas Rian," sapa Riri saat melihat Rian yang sedang mematung.


"Haii Pus," ucap Rian setelah lamunannya buyar karena panggilan Riri.


"Mas masuk pagi?" tanya Riri.


"Iya. Kamu masuk pagi juga?" tanya Rian.


"Aku harusnya masuk siang, tapi karena aku tidak bisa pulang malam, jadi aku ikut kelas lain masuk pagi. Biar bisa pulang lebih siang," jawab Riri.


"Oh iya, kamu jurusan apa?" tanya Rian.


"Aku jurusan tata busana. Sama seperti Mba Maudi," jawab Riri.


Rian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa tidak enak jika Riri harus membahas tentang Maudi.


"Aku masuk duluan ya!" ucap Rian menghindar.


"Oh iya Mas," ucap Riri.


Setelah kepergian Rian, Riri merasa ada yang aneh pada Rian. Ia tidak seperti hari kemarin. Mungkin masalah dengan Maudi, begitu pikir Riri.


Riri pun meninggalkan bebangkuan itu. Namun langkahnya dihentikan oleh Maudi.


"Kamu mencintai Rian?" tanya Maudi tiba-tiba.


Riri menggeleng dengan cepat.


"Jangan bohong!" ancam Maudi.


"Tidak. Aku tidak mencintai Mas Rian," ucap Riri sambil terus menggelengkan kepalanya.


Riri nampak sangat panik dengan sikap Maudi padanya. Ia tidak menyangka jika Maudi bisa seperti ini. Ia pikir Maudi wanita baik, hingga Rian mengejar Maudi walaupun sudah menjadi kekasih Rey.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanya Maudi.


"Entahlah. Hanya saja, aku tidak bisa mencintai orang semudah itu. Aku dan Mas Rian baru saja bertemu. Mana mungkin aku mencintai Mas Rian," jawab Riri.


"Aku ingatkan padamu. Jangan mengganggu Rian. Dia milikku," ucap Maudi.


"Terus bagaimana dengan Mas Rey?" tanya Riri.


"Jangan ikut campur. Itu bukan urusanmu," ucap Maudi sambil mendorong tubuh Riri.


Riri tidak ingin berdebat terlalu jauh. Ia membiarkan Maudi pergi meskipun hatinya masih kesal dengan sikap Maudi yang seenaknya.


Terserah. Aku tidak ingin ikut campur masalah kalian. Aku di sini untuk kuliah. Bukan untuk mengurusi cinta kalian yang merepotkan.


Kekesalannya pada Maudi tidak membuat Riri jadi malas untuk belajar. Ia justru semakin bersemangat. Ia ingin membuktikan pada siapapun yang merendahkannya jika suatu saat ia pasti sukses. Ia berjanji akan membungkam mulut mereka dengan kesuksesan yang ia raih.

__ADS_1


Sudah waktunya pulang. Riri segera pulang. Ia menghindar saat melihat Rian ada di parkiran. Tidak mau kembali bermasalah dengan Maudi, Riri memilih untuk tidak berteman dekat dengan Rian. Baginya, lebih baik sendiri dari pada berteman tapi hanya menambah pusing kepalanya.


__ADS_2