Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kalau tidak berjodoh?


__ADS_3

Untuk memastikan keadaan Rian, Nyonya Helen mengecek sendiri keadaan Rian di kamarnya. Dan memang benar. Rian sudah tidur nyenyak dengan menggunakan kemeja yang belum diganti.


"Kamu pasti sangat lelah," gumam Nyonya Helen setelah menutup kembali pintu kamar Rian.


Kecemasan Nyonya Helen sampi terbawa ke kamarnya. Tuan Wira yang melihat wajah kusut istrinya ikut pusing. Ia menggelengkan kepalanya.


"Ma, istirahat. Ini sudah malam. Nanti sakit kepalanya kumat kalau tidurnya terlalu malam," ucap Tuan Wira mengingatkan.


"Iya Pah," jawab Nyonya Helen.


Tidak ingin diceramahi istrinya, Nyonya Helen segera berbaring. Ia memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. Mungkin itu jauh lebih baik dibanding ia harus mendengar omelan suaminya.


Pagi hari Tuan Wira menatap Nyonya Helen dengan kernyitan di dahinya. Istrinya tidak pernah bangun siang kalau bukan karena tidur terlalu larut.


"Ma," ucap Tuan Wira mengguncang pelan tubuh Nyonya Helen.


Sampai dua kali guncangan Tuan Wira tidak direspon sama sekali. Ia menggelengkan kepalanya dan membiarkan istrinya tidur. Ia juga paham kalau ternyata semalam ia dibohongi. Ia yang merasa sangat lelah, langsung terlelap tanpa tahu istrinya benar-benar sudah tidur atau belum.


"Ma, Papa berangkat dulu ya!" ucap Tuan Wira sambil mengecup dahi istrinya.


Nyonya Helen tidak menjawab. Ia hanya sedikit bergerak mengganti posisi tidurnya. Karena Tuan Wira tidak ingin mengganggu tidur istrinya yang begitu nyenyak, akhirnya ia berangkat tanpa membangunkan Nyonya Helen.


Tidak sarapan, kali ini Tuan Wira berangkat lebih pagi. Bahkan lebih pagi dari Rian. Ada hal yang harus ia urus pagi ini. Hal itu tentu menjadi pertanyaan Rian saat di ruang makan.


"Papa mau kemana berangkat sepagi ini?" tanya Rian ada asisten rumah tangganya.


"Tuan hanya bilang ada urusan di kantor," jawab asisten itu.


"Di kantor?" tanya Rian.


"Iya," jawab asisten itu.


"Apa Papa tidak bilang akan ke luar kota?" tanya Rian.


"Tidak," jawab asisten itu sambil menggeleng.


"Mama mana?" tanya Rian.


"Nyonya Helen masih tidur," jawab asisten itu.


Tidur? Mendengar kata itu Rian mengernyitkan dahinya. Ia tidak percaya kalau Nyonya Helen masih tidur saat Tuan Wira sudah berangkat ke kantor.


Sampai akhirnya Rian selesai sarapan, Nyonya Helen masih tidur. Berkali-kali ia memastikan keadaan Nyonya Helen melalui asisten itu. Jawaban yang ia terima sama. Nyonya Helen masih tidur. Hal yang ingin ia selidiki tapi waktunya tidak tepat. Ia harus pergi ke kantor sekarang.


Selama di perjalanan, Rian masih memikirkan apa yang terjadi pada Nyonya Helen. Sakit? Ah tidak mungkin. Kalau Nyonya Helen sakit, Tuan Wira tidak mungkin pergi meninggalkan istrinya sepagi itu.


"Pagi Pak," sapa Manto saat melihat Rian sudah masuk ke ruangannya.

__ADS_1


"Pagi," ucap Rian dengan wajah kusut.


Manto memang mengkhawatirkan Rian, tapi ia juga tidak mau disebut kepo oleh Rian. Ia hanya akan tahu saat Rian menjelaskan semua dengan sendirinya. Ia memang seorang pendengar yang baik, tapi bukan pencari tahu masalah siapapun.


Manto melupakan pertanyaannya tentang Rian. Kini ia sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.Begitupun dengan Rian. Laptop sudah siap di depannya. Rian juga terlihat berusaha untuk fokus. Walaupun Manto berkali-kali menangkap kegelisahan Rian.


"Permisi," ucap Danu.


Seperti biasa, Danu akan mengantarkan menu makan siang untuk Rian dan Manto. Mereka tidak akan bosan, karena menu yang dikirim berbeda setiap harinya.


"Kak, sudah aku bilang jangan seperti ini. Ini sangat merepotkan," ucap Rian.


"Saya hanya menyampaikan amanat saja, Pak. Lagi pula ini tidak merepotkan sama sekali," jawab Rian.


Rian memang tidak suka saat Danu harus bersikap sangat formal padanya. Tapi apa boleh buat, ia sudah berkali-kali menolak namun hasilnya tetap sama. Dengan alasan profesionalitas, Rian harus siap dipanggil Bapak oleh Danu selama ini.


"Selamat makan, Pak." Manto melihat Rian sebentar saat ia akan memakan kiriman Sindi.


"Iya. Selamat makan," ucap Rian.


Rian melanjutkan makan siangnya tanpa banyak merespon ucapan Manto. Padahal biasanya Rian yang selalu mengucapkan selamat makan pada Manto. Hal itu membuat Manto semakin yakin kalau atasannya itu sedang tidak baik-baik saja.


Sampai mereka pulang, Manto masih belum tahu apa yang terjadi pada Rian. Namun ternyata informasi itu datang dari Tuan Felix. Awalnya Tuan Felix hanya mencari tahu kabar Rian padanya. Manto menjawab dengan jujur apa yang ia lihat. Tidak lama, Tuan Felix meminta menasehati Rian agar bisa tenang. Masalah Riri akan menjadi urusan Tuan Felix.


"Saya tidak bisa berbuat apa-apa Tuan. Itu terlalu sensitif dan bukan ranah saya," ucap Manto.


"Siap Tuan. Tapi saya tidak janji," jawab Manto.


"Aku juga tidak butuh janji. Aku hanya butuh bukti. Lakukan yang terbaik," ucap Tuan Felix.


Selesai menerima panggilan Tuan Felix, Manto diam memikirkan tugas beratnya. Bagaimana ia bisa mengingatkan dan menenangkan Rian, kalau Rian sendiri tidak bercerita apapun padanya.


Semalaman Manto masih memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan untuk membantu menenangkan Rian. Kegelisahannya masih terus berlanjut sampai larut malam. Akhirnya ia bangun lebih siang dari biasanya.


"Selamat pagi Pak," sapa Manto.


Rian tercengang melihat Manto yang baru datang. Ini pertama kali Rian bertemu dengan Manto di parkiran. Biasanya ia selalu bertemu dengan Manto di ruangannya. Sudah siap di depan laptopnya.


"Pagi," jawab Rian.


Memang tidak kesiangan, tapi bagi Manto ini lebih siang dari biasanya.


"Pak Manto baik-baik saja?" tanya Rian.


"Baik, Pak. Maafkan saya terlambat," ucap Manto.


"Tidak, tidak. Bapak tidak terlambat," jawab Rian.

__ADS_1


"Kalau begitu saya masuk sekarang ya Pak," ucap Manto.


Rian membiarkan Manto yang terburu-buru. Ia sendiri mengikuti Manto dengan lebih santai. Bahkan Rian tidak langsung ke ruangannya. Ia mampir dulu ke ruangan Danu.


Basa basi tentang bahasan Sindi membuatnya kembali teringat masa-masa dulu. Saat ia tidak banyak beban seperti sekarang. Ah, rasanya Rian ingin mengulang waktu. Tapi itu hal yang sangat tidak mungkin bagi Rian. Yang perlu Rian lakukan adalah siap dalam menyikapi setiap masalah yang dihadapinya.


"Kak, aku titip Kak Sindi ya! Bahagiakan dia," ucap Rian.


"Aku beruntung memiliki Sindi. Meskipun aku sempat terjatuh, tapi Sindi selalu bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Di depanku, Sindi selalu menjadikan dirinya bahagia dan beruntung memilikiku," ucap Danu.


"Ya, Kak Sindi memang orang yang sangat baik." Rian tersenyum.


"Aku yakin kamu juga akan menemukan wanita yang tepat dan bisa membuatmu selalu bahagia," ucap Danu.


"Entahlah Kak," ucap Danu.


Merasa bersama orang yang tepat, Rian langsung menceritakan apa yang sedang ia alami saat ini. Ia tengah gelisah saat Riri mengulur waktu kepulangannya. Bahkan Rian tidak tahu kapan waktu Riri kembali. Apa yang sudah direncanakannya terasa semakin jauh dan membuatnya putus asa.


"Sejauh apapun kalian berpisah kalau memang berjodoh, kalian akan tetap bertemu lagi. Jangan khawatir. Kamu juga tahu kan bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Sindi?" ucap Danu.


Asyik bercerita membuat Danu bicara lebih luwes dengan Rian. Bahkan sudah tidak ada lagi bahasa formal yang mengganggu telinga Rian. Hal itu memang sengaja Danu lakukan karena permintaan Tuan Felix.


Pagi tadi Tuan Felix menghubungi Sindi dan meminta agar Danu bisa menenangkan Rian. Setelah Tuan Felix merasa tidak yakin dengan Manto, maka Danu adalah orang yang tepat yang bisa membantu Rian saat ini.


"Kalau kami tidak berjodoh?" tanya Rian.


"Tuhan tahu apa yang terbaik. Kalau memang dia bukan jodohmu, berarti Tuhan tengah menyiapkan orang yang lebih tepat untukmu. Percayalah jalan Tuhan kadang memang berliku. Tapi semua itu adalah yang terbaik. Jalani, nikmati, syukuri," ucap Danu.


Rian menghela napas panjang. Ia berusaha meyakini apa yang Danu ucapkan. Memang benar, yang ia lakukan saat ini hanya berusaha dan berdoa. Sisanya hanya sabar dan syukur. Sampai saat ini, Rian masih berjuang. Berusaha agar Riri bisa kembali secepatnya ke Indonesia.


Kalau seandainya tidak berjodoh? Ah tidak. Hanya sekedar membayangkannya saja membuat Rian bergidik. Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu. Yang ia inginkan saat ini adalah menikah dengan Riri.


Dering ponsel membuat Rian menjeda obrolannya dengan Danu. Setelah melihat nama Manto, Rian segera menyudahi obrolannya dengan Danu lalu pamit. Ia tahu ada hal penting yang ia lupakan hingga Manto meneleponnya.


"Iya Pak, saya ke ruangan sekarang." Rian kembali mengakhiri panggilannya.


"Maaf kalau mengganggu Bapak," ucap Manto saat Rian baru masuk ke ruangannya.


Rian tidak langsung merespon ucapan Manto. Ia memilih untuk duduk dan menegur air mineral yang ada di atas mejanya.


"Ada apa?" tanya Rian saat ia mulai tenang.


Tangannya menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Rian terlihat jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan hari kemarin. Manto ikut senang saat melihat Rian tidak begitu tertekan.


Manto tersenyum senang saat Rian sudah kembali ceria lagi. PRnya sudah selesai. Meskipun bukan ia sendiri yang membuat Rian ceria, tapi paling tidak, sudah ada perubahan luar biasa dari anak yang sudah siap menikah itu.


Rian segera menandatangi berkas yang harus Manto bawa siang ini. Jika dilihar dari skill, Manto memang jauh lebih berpengalaman. Rian senang bisa bekerja sama dengan orang-orang profesional seperti Danu dan Manto.

__ADS_1


__ADS_2