
"Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Tuan Felix yang berhasil membuyarkan lamunan Rian.
"Ah, iya." Rian spontan menjawab tanpa ia tahu pertanyaan apa yang dilontarkan ayahnya.
"Kamu memikirkan apa? Jangan bilang kalau kamu tidak percaya pada Mpus," ucap Tuan Felix.
"Percaya Pah. Aku percaya," ucap Rian.
"Baguslah," ucap Tuan Felix.
Tidak terlalu lama, Riri segera pamit. Ia tidak ingin membuat Mr. Aric kecewa. Tuan Felix juga mengingatkan agar Riri ikut menghadiri acara wisuda Rian seminggu lagi.
"Iya Pah," ucap Riri.
"Jangan lupa siap-siap kena omel juga kalian," ucap Tuan Felix.
"Kena omel?" tanya Riri.
"Mia akan ke sini saat wisuda nanti," jawab Tuan Felix.
"Ah, aku pikir kena omel kenapa," ucap Riri.
Sesampainya di rumah Mr. Aric, Riri segera berbaring. Ia menatap langit-langit kamarnya. Sebentar matanya terpejam. Tiba-tiba air matanya menetes tidak tertahan.
"Kalian sedang apa?" gumam Riri.
Bayangan keluarganya tergambar jelas dalam ingatannya. Riri yang sempat merasa waktu berputar sangat lama, kini ia sedang dalam fase yang berbeda. Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini ia harus berjauhan dengan Rian.
Kita bisa melewati semuanya, Mas. Bertahanlah. Hanya satu tahun lagi.
Riri bergerak berkali-kali. Ia berusaha menemukan posisi tidur ternyaman. Sampai akhirnya ia pun tertidur.
"Riri, Riri," panggil Mr. Aric.
Perlahan Riri membuka matanya. Sayup mendengar seseorang yang memanggilnya, Riri justru tertidur kembali. Ia merasa ini hanya sebuah mimpi saja.
Namun kembali ia mendengar kembali seseorang yang memanggil namanya. Riri menggeliat dan mengumpulkan kesadarannya. Ia mulai menyadari kalau ini memang kenyataan. Suara itu semkin terdengar jelas dan dekat.
"Astaga, aku kesiangan," ucap Riri yang melihat jam dinding.
Ia segera keluar. Riri semakin terkejut saat mendapati Mr. Aric sudah berdiri di depan kamarnya. Riri segera meminta maaf. Ia sangat merasa malu dengan sikapnya yang begitu gegabah. Ia juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
__ADS_1
Untung saja Riri masuk kelas siang. Ia masih punya banyak waktu untuk membereskan tugas-tugas yang belum sempat ia kerjakan. Bahkan ia sudah menyiapkan semua baju dan tas untuk Mr. Aric.
Setelah memastikan semua pekerjaan rumah dan tugas kuliahnya selesai, Riri duduk santai untuk merasakan lelahnya hari ini. Masih ada waktu tiga jam sebelum akhirnya ia masuk kuliah.
Mandi dan bersiap agar tidak kesiangan. Di depan sudah ada orang yang biasa mengantar jemput Riri sedang mengelap mobilnya. Dengan sangat ramah ia menyapa sopir itu. Tidak lama mereka pergi ke kampus menyusuri jalanan yang cukup ramai.
Saat turun dari mobil, Hiro sudah menghampirinya. Hiro mengajak Riri untuk pergi ke cafe nanti malam. Mata Riri menatap Hiro. Ia tidak habis pikir dengan sikap Hiro.
"Aku tidak bisa," jawab Hiro tegas.
"Oke, oke. Tapi jangan marah begitu dong. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa," ucap Hiro dengan santai.
Sikap santai Hiro membuat Riri sulit menebak tujuan Hiro mendekatinya. Di satu sisi, ia sempat percaya jika Hiro mencoba mengganggu hubungannya dengan Rian. Namun melihat Hiro yang tidak pernah marah dan tidak pernah memaksanya, membuat Riri merasa malu sendiri dengan kecurigaannya.
Aku merasa jahat sekali. Aku berpikir jika tingka percaya diriku terlalu tinggi. Memangnya aku ini secantik apa sampai berpikir Hiro mencintaiku. Mungkin aku berlebihan. Hiro hanya butuh teman saja.
"Hiro, maaf ya!" ucap Riri.
"Tidak masalah. Kamu tenang saja," ucap Hiro.
"Kita berteman, tapi maaf aku harus menjaga perasaan Mas Rian," ucap Riri.
"Aku paham. Aku akan bicara dengan Mas Rian. Semoga kita bisa tetap berteman dengan baik ya!" ucap Riri.
"Iya. Terima kasih," ucap Hiro.
Berteman dengan baik? Aku hanya membutuhkanmu untuk membuat pria jahat itu kesal dan menderita. Aku senang saat membuatnya tidak nyaman. Rasanya puas saat pria itu menatapku dengan tatapan tajam dan tangan yang mengepal.
"Mas Rian," panggil Riri.
Riri sudah tidak enak hati saat melihat kedatangan Rian. Kebersamaannya dengan Hiro pasti akan menjadi masalah baru lagi dalam hubungannya.
"Mas, aku hanya mengajaknya ke cafe. Tapi dia menolak karena ingin menjaga perasaan Mas. Harusnya Mas senang. Dia wanita baik. Jaga dia! Jangan sampai ada yang membuatnya berpaling. Jangan sampai menyesal Mas," ucap Hiro sambil melambaikan tangannya.
"Apa sih dia," ucap Rian kesal.
"Mas, sudahlah. Hiro hanya mencoba becanda denganmu. Jangan terlalu serius dengannya," ucap Riri.
"Aku paling tidak suka saat kamu membelanya begitu," ucap Rian.
"Iya," ucap Riri.
__ADS_1
Riri menyerah. Ia lebih memilih untuk mengiyakan tanpa harus menjelaskan hal yang tidak bisa diterima oleh Rian. Mengalah, mungkin akan menjadi pilihan yang paling tepat. Ia lelah jika harus berdebat dengan Rian.
Begitu dan begitu. Riri selalu mengalah dan mengiyakan setiap ucapan Rian. Lelah memang, namun ia sudah mulai menikmatinya. Apalagi sebentar lagi Rian akan jauh dengannya. Mungkin nanti ia justru akan merindukan momen ini.
Sampai waktu wisuda tiba, Riri datang membawa bunga dan kartu ucapan. Rasa bahagia bercampur dengan sedih. Tidak lama lagi, Rian akan kembali ke Indonesia. Riri merasa hidupnya akan sangat berbeda tanpa Rian.
"Jangan menangis," ucap Rian sambil mengusap air mata yang mengalur di pipi Riri.
"Mas," ucap Riri dengan suara bergetar.
Menyingkirkan rasa malunya, Riri memeluk Rian dengan erat. Ia tidak siap jika harus berjauhan dengan pria yang selama hampir tiga tahun itu menemaninya.
"Pah, kita ke sana dulu yu!" ajak Mia.
Sepertinya Mia ingin memberi waktu untuk Rian dan Riri. Meskipun ia kesal karena tidak diberi tahu saat lamaran, namun ia ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
"Pah, memangnya Papa sudah mengenal keluarga Riri?" tanya Mia.
"Belum," jawab Tuan Felix singkat.
"Kenapa Papa bisa dengan mudah melamar Riri?" tanya Mia.
"Karena Rian mencintainya. Mereka saling mencintai. Papa rasa itu cukup," jawab Tuan Felix.
"Lalu bagaimana kalau ternyata orang tua Riri nanti tidak setuju?" tanya Mia.
"Mpus bukan anak kecil lagi. Dia sudah bisa mengambil sikap nantinya," jawab Tuan Felix.
Cara hidup Tuan Felix memang terkesan santai. Ia tidak ingin ribet dengan apa yang belum tentu terjadinya. Masalah orang tua dan keluarga Riri, itu harus mereka hadapi bersama nanti. Ia hanya tidak ingin kehilangan Riri. Seperti halnya ia kehilangan Bu Ningsih saat itu.
Ah sudahlah. Jika mengingat semua kebodohannya saat itu, ia ingin sekali segera pergi menyusul wanita yang paling ia cintai itu. Namun kehadiran Mia dan Rian adalah semangat baru disela rasa sakit hatinya.
"Pah," panggil Mia sambil mengguncang pelan bahu ayahnya.
Tuan Felix menghela napas panjang. Ia tahu kalau Mia menyadari lamunannya.
"Ada aku dan Rian untuk Papa. Kami sayang Papa," ucap Mia sambil memeluk Tuan Felix.
Ya, kali ini Mia ke Jerman tanpa Dion. Suaminya sedang ada perjalanan dinas ke negara lain yang tidak bisa ditinggalkan. Sementara Narendra dan Naura harus sekolah.
Sebenarnya Mia menyadari kalau kehadirannya justru membuat Tuan Felix semakin merindukan ibunya yang sudah lama tiada. Seharusnya hal seperti ini tidak akan terjadi jika Mia membawa anak kembarnya.
__ADS_1