Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Nikah muda?


__ADS_3

Dalam kamarnya, Riri terus memandang jemarnya yang ia angkat tinggi-tinggi. Tubuhnya yang berbaring di atas ranjang benar-benar sedang menikmati waktu yang membahagiakan untuknya.


"Aku di lamar," gumam Riri.


Senyum lebar mengembang dari bibir wanita yang tengah berbahagia itu. Ia baru tersadar setelah dering ponsel yang tak berhenti.


"Ish, siapa sih?" ucap Riri kesal.


Riri harus bangun dan mengambil ponsel yang ia simpan di atas meja riasnya. Saat ia melihat nama Hiro, dengan bangganya ia menceritaka. apa yang ia alami saat ini.


Wanita polos yang tidak thu dendam Hiro itu justru membeberkan semua rasa bahagianya. Hiro hanya mengepalkan tangan saat mendengar suara Riri dan tawanya yang begitu renyah. Jelas terdengar sangat bahagia namun menyayat hatinya.


Cemburu? Tidak. Tentu ia tidak cemburu. Namun dendamnya semakin membara saat tahu kalau Riri dan Rian sudah lamaran. Dengan cepat Hiro mengucapkan selamat dan seolah turut berbahagia.


Begitulah Hiro. Ia sama sekali tidak mau jika Riri menyadari sisi busuknya. Mengikuti alur adalah cara mainnya, sampai akhirnya ia menemukan celah untuk membuat bom waktu meledak sesuai keinginannya.


"Sudah malam. Tidur ya! Aku yakin kamu akan mimpi indah," ucap Hiro.


Setelah panggilan itu berakhir, Riri mengusap ponselnya.


"Kamu memang baik Hiro. Kamu bahkan bisa jadi pendengar setia saat aku sedang butuh teman," gumam Riri sebelum akhirnya ia tertidur pulas.


Malam ini terasa sangat indah bagi Riri. Namun ada yang berbeda dengan Rian. Rupanya Rian tidak nyaman saat mendapati nomor Riri sedang sibuk. Sementara tidak ada satu pesan pun yang dikirim Riri untuk Rian.


"Pagiiiii," sapa Tuan Felix dengan penuh semangat saat melihat Rian menuju ruang makan.


"Pah," sapa Rian.


"Apa lamaran Papa kurang memberikan kebahagiaan untukmu? Atau Papa perlu sekalian menikahkan kalian berdua?" tanya Tuan Felix.


"Ah, Papa ini apa-apaan sih?" Rian jadi bingung sendiri.


"Mukamu kok ditekuk begitu sih? Ada apa?" tanya Tuan Felix.


Rian tidak menjawab. Rasanya Tuan Felix tidak perlu tahu untuk hal kecil yang mengganjal hatinya itu. Namun karena Tuan Felix terus mendesaknya, akhirnya Rian pun jujur pada ayahnya. Bukan mendapat dukungan, ia malah ditertawakan.


"Memangnya lucu ya Pah?" tanya Rian kesal.


"Kamu ini sudah akan anak SMA yang pacarannya harus on time di ponsel," jawab Tuan Felix sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi dia bisa menghubungi orang lain sedangkan dia tidak mengabariku Pah. Apa itu adil?" tanya Rian.


"Aduhh, yang cemburu begitu banget ya. Sudah sarapan dulu," ucap Tuan Felix.


Rian kesal saat tidak mendapat pembelaan dari Tuan Felix. Tidak ingin terus disudutkan, ia memilih untuk duduk dan sarapan bersama ayahnya tanpa melanjutkan perdebatannya.


"Ri, Mpus itu bukan anak SMA yang setiap waktunya ia habiskan untuk memainkan ponsel. Kamu tahu sendiri Mpus kerja. Dia juga harus kuliah. Membagi waktu untuk dua hal itu cukup sulit. Kalau saja dia menghubungi temannya untuk sekedar bercerita, Papa rasa wajar. Dia juga butuh teman," ucap Tuan Felix saat melihat Rian sudah mereda.


Rian menatap wajah Tuan Felix. Ia mencoba tersenyum, meskipun ia menahan diri untuk tidak menceritakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.


Papa tidak tahu saja kalau teman Mpus hanya Rey dan Hiro. Semalam aku menghubungi Rey, tapi nomornya tidak sibuk. Siapa lagi kalau bukan si Hiro yang dihubungi Mpus.


"Aku berangkat ya Pah," ucap Rian.


"Sebentar!" ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Apa pah?" tanya Rian.


Rian yang sudah berdiri akhirnya duduk kembali saat melihat wajah Tuan Felix begitu serius.


"Apa tanggapan kamu tentang menikah muda?" tanya Tuan Felix.


Rian tersentak. Ia melihat Tuan Felix dengan penuh tanya. Apa maksud Tuan Felix dengan pertanyaannya? Apakah ia berniat untuk menikahkan dirinya dengan Riri dalam waktu dekat? Ah, Rian tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa kamu tidak siap?" tanya Tuan Felix kembali saat Rian tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku masih bingung Pah. Rasanya siap tidak siap," jawab Rian.


"Berangkatlah. Nanti kamu tanyakan juga pada Mpus tentang hal ini," ucap Tuan Felix.


"Iya. Aku berangkat ya!" ucap Rian.


Rian segera pergi setelah mencium tangan Tuan Felix. Pertanyaan itu terus terngiang di telinganya. Bahkan ia bingung dengan jawabannya sendiri.


Apa aku tanya Mpus saja ya? Ah, nanti kalau dia menolakku bagaimana?


Pertanyaan demi pertanyaan membuat waktu terasa begitu cepat. Ia sudah sampai di parkiran. Tidak lama, Riri juga sampai di parkiran.


"Pus," panggil Rian.


"Mas," sapa Riri.


Rian segera menghampiri Riri dan berjalan menuju bebangkuan tempat mereka biasa bersama.


"Semalam kamu sibuk ya?" tanya Rian.


Rian mengangguk.


"Tidak," jawab Riri sambil menggeleng.


"Ri," panggil Hiro yang tiba-tiba muncul.


"Hay Hiro," panggil Riri dengan wajah sumringah.


Tentu hal itu membuat Rian kesal. Ia sampai memalingkan wajahnya sejedar untuk mendecih kesal. Hiro yang menyadari kekesalan Rian semakin berulah.


"Selamat ya. Aku ikut senang saat malam-malam kamu mengabariku atas lamaran Mas Rian. Mas Rian memang best. Berani mengambil langkah seyakin itu. Aku salut loh Mas," ucap Hiro.


Hiro terlihat begitu tenang. Ia senang melihat Rian semakin kesal saat tahu kalau Riri sudah memberi tahu perihal lamaran itu. Artinya Rian harus sakit hati karena semalam Riri sibuk menghubunginya tanpa menelepon Rian.


"Terima kasih sudah menjadi temanku ya Hiro. Aku jadi bisa cerita padamu," ucap Riri.


Rian mengernyitkan dahinya dan menggeleng.


"Aku harus ke kelas dulu," ucap Rian tanpa menoleh lagi kepada Riri.


"Hati-hati Mas," ucap Riri.


Mas Rian, kamu kenapa sih masih saja cemburu sama Hiro. Dia kan hanya temanku. Sama seperti Mas Rey.


Dibalik sikap santai Riri, ternyata ia juga memiliki kepekaan terhadap Rian. Meskipun pada awalnya ia tidak menduga jika Rian akan sekesal itu.

__ADS_1


Setelah pulang kuliah, Riri menunggu Rian. Ia sengaja menjauhi Hiro karena tidak ingin menyakiti hati Rian. Dengan tegas Riri menolak ajakan Hiro untuk mengantarnya pulang.


"Baru keluar ya Mas?" tanya Riri.


"Eh, kamu Pus. Iya," jawab Rian.


Riri tersenyum saat tahu Rian sudah berbohong. Jelas sekali ia melihat Rian sudah pulang lebih dulu dibanding Rian.


"Aku boleh pulang dengan Mas?" tanya Riri.


"Tidak ada yang menjemput?" Rian balik bertanya.


Riri menggeleng.


"Masuklah!" ucap Rian.


"Mas, aku minta maaf ya!" ucap Riri dibalik lagu yang diputar dengan volume pelan.


"Untuk apa?" tanya Rian.


"Aku sudah membuat Mas cemburu, kan?" tuduh Riri.


"Tidak. Apa itu cemburu?" tanya Rian dengan pura-pura santai.


"Jadi Mas tidak cemburu?" tanya Riri dengan wajah senang.


"Tidak," jawab Rian.


"Jadi aku boleh menelepon Hiro lagi?" tanya Riri.


Rian tidak menjawab. Namun ia menatap Riri dengan tatapan tidak suka. Riri hanya tertawa.


"Iya. Aku tidak akan membuatmu cemburu lagi," ucap Riri.


"Pus, apa kamu mau menikah muda?" tanya Rian.


Riri terdiam. Ia mencoba mencerna pertanyaan Rian. Ia mencari tahu alasan dibalik pertanyaan itu. Apakah karena Rian yang memang sudah siap ingin menikahinya atau hanya karena rasa cemburunya pada Hiro?


"Memangnya Mas sudah siap?" tanya Riri.


"Menurutmu?" Rian balik bertanya.


Riri pun akhirnya meminta waktu sampai ia menyelesaikan kuliahnya. Ia tidak ingin mengecewakan Mr. Aric. Meskipun Rian berjanji tidak akan membuat kuliahnya terganggu meskipun mereka sudah menikah.


"Tapi aku masih harus bekerja di tempat Mr. Aric. Bagaimanapun Mr. Aric yang membuatku ada di kampus. Aku tidak ingin terkesan tidak tahu terima kasih," ucap Riri.


"Jadi kamu tidak mau?" tanya Rian.


"Nanti setelah lulus, aku akan kembali dan membawa Mas kepada kedua orang tuaku. Mas akan menjadi saksi setelah bertahun-tahun aku kehilangan keluargaku," jawab Riri.


"Oke," jawab Rian singkat.


Riri tahu Rian kecewa dengan jawabannya. Namun Riri juga tidak ingin gegabah dengan keputusannya tentang nikah muda. Ia tidak mau Rian menikahinya karena rasa cemburu saja.


Aku ingin pernikahanku sekali seumur hidupku, Mas. Maafkan aku kalau aku masih ingin tahu sejauh mana perjuangan dan kesabaranmu Mas. Aku belum begitu melihat sisi kedewasaanmu. Aku masih butuh banyak waktu untuk sangat mengenalimu.

__ADS_1


__ADS_2