Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ancaman Maudi


__ADS_3

"Saran Papa sih kamu jangan sampai lepaskan Mpus," ucap Tuan Felix sambil menepuk bahu Rian.


Rian yang sedang menatap kepergian Riri menoleh dan tersenyum saat melihat Tuan Felix ada di belakangnya.


"Papa ini apa sih," ucap Rian.


"Dia itu wanita hebat yang sudah menyelamatkanmu," ucap Tuan Felix mengingatkan.


"Iya, aku tahu Pah. Tapi aku juga tidak mau hubunganku dengan Riri terikat balas budi," ucap Rian.


"Yakin kamu takut terikat balas budi?" tanya Tuan Felix.


"Apa sih Pah. Aku istirahat dulu ah," ucap Rian.


"Papa yakin kamu hanya takut kalau perasaanmu bertepuk sebelah tangan," ucap Tuan Felix.


"Kami hanya berteman.Tidak lebih," ucap Rian.


"Ya, ya, ya. Terserah kamu saja. Papa hanya menjadi penonton. Cukup sabar menyaksikan endingnya akan seperti apa," ucap Tuan Felix.


"Papa pikir aku pemain film?" gumam Rian.


Rian hanya menggeleng dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya, ia merebahkan tubuhnya. Beristirahat dengan begitu bahagia. Ia lega sudah bisa bebas dari bebannya yang begitu berat.


"Aku tidak akan melupakan semua jasamu Put. Terima kasih banyak," gumam Rian saat menatap langit-langit kamarnya.


Keadaan bahagia Rian ternyata berbanding terbalik dengan keadaan Maudi.


"Ampuuun Pah, ampun." Maudi berteriak meminta ampun pada ayahnya.


Beberapa tamparan berhasil membuat pipi Maudi merah. Teriakan Maudi bukan hanya karena sakit atas tamparan itu. Tapi ia merasa sakit saat ayahnya berulang kali menyatakan rasa kecewanya.


"Sakit? Sakit? Rasa sakit kamu tidak sebanding dengan sakitnya hati Papa saat ini," ucap ayahnya Maudi.


"Pah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi aku mohon mafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi semua itu Pah," ucap Maudi.


"Maaf? Janji untuk tidak mengulangi? Terlambat Maudi, terlambat. Semuanya sudah terlambat. Papa kecewa padamu," ucap ayahnya Maudi.


Jika tadi ayahnya Maudi membentak dengan penuh emosi, saat ini ia justru mereda. Bahkan suaranya saja terdengar begitu parau. Rasa sakit Maudi kini berubah menjadi sebuah dendam yang membara.


Aku janji akan membalas semua perbuatan kamu, Riri. Aku akan pastikan kalau kamu akan merasakan sakit yang lebih dari ini.


Maudi yang tidak mau mengakui rasa bersalahnya justru semakin membenci Riri. Ia merasa kalau semua yang terjadi padanya karena ulah Riri. Padahal Maudi nyaris berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Pah, lalu aku harus bagaimana agar aku bisa kembali membahagiakan Papa?" tanya Maudi.

__ADS_1


"Bawa pria yang seharusnya bertanggung jawab padamu hari ini juga," ucap ayahnya Maudi.


"Pah, aku mohon sudahlah. Aku bisa mempertanggung jawabkan semuanya sendiri," ucap Maudi.


"Apanya yang bisa sendiri? Maudi, ini bukan masalah kecil. Ini masalah besar. Sangat besar," ucap ayahnya Maudi dengan penuh penekanan.


"Pah ini zaman modern. Jangan kolot begitu dong. Papa tenang saja. Yang penting kan aku tidak hamil," ucap Maudi.


PLAAAAK


Tamparan keras itu kembali mendarat di pipi Maudi. Tangan Maudi meraba pipinya yang kembali memerah akibat tamparan ayahnya sendiri.


"Maudi, ini bukan soal hamil atau tidak. Ini soal harga diri," ucap ayahnya Maudi.


Kali ini Maudi diam. Ia sudah tidak bisa menjawab apapun. Ia hanya bisa membiarkan ayahnya melampiaskan semua emosinya. Sampai akhirnya Maudi terkejut saat mendejgar keputusan ayahnya.


"Bereskan barang-barangmu! Besok kita akan kembali ke Indonesia," ucap ayahnya Maudi.


"Untuk apa?" tanya Maudi.


"Untuk apa? Rumahmu di sana. Di sana juga banyak kampus bagus. Kamu harus pindah kuliah ke Indokesia," jawab ayahnya Maudi.


"Pindah? Tidak, tidak. Aku tidak mau pindah Pah. Tolong beri aku kesempatan. Sekali ini aja Pah. Aku janji aku akan jauh lebih baik lagi," ucap Maudi.


"Tidak Maudi. Kamu sudah hilang kepercayaan dari Papa. Tidak ada pilihan lain dan negosiasi. Kamu harus kembali ke Indonesia dan kuliah di sana," ucap ayahnya Maudi.


Sekeras apapun Maudi berusaha, ia tidak mendapatkan hasil sesuai keinginannya. Ayahnya tetap mengharuskan Maudi kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di sana. Bahkan derai air mata dan janji-janji yang diucapkan Maudi tidak bisa merubah keputusan ayahnya.


"Istirahat! Jangan menangis! Semuanya sudah terlambat dan kamu yang membuat semua ini terjadi, Maudi. Besok kita ke kampus untuk menyelesaikan urusan di sini," ucap ayahnya.


Maudi menghancurkan beberapa barang yang ada di meja rias. Tangisnya semakin menjadi saat ayahnya sudah menutup pintu kamarnya.


Maaf Maudi. Tapi kamu sudah menghancurkan harapan Papa. Kamu juga sudah membuat malu Papa. Kekecewaan Papa padamu terlalu dalam hingga Papa tidak bisa bernegosiasi lagi denganmu.


Di balik pintu kamar Maudi yang sudah tertutup, seorang pria paruh baya meratapi kekecewaannya. Ia melihat telapak tangannya. Hatinya sakit saat mengingat beberapa kali tamparan sudah ia daratkan di pipi anak kesayangannya.


Maudi hanya tahu jika ayahnya marah, ia tidak tahu sama sekali kalau ayahnya tengah merasakan sakit yang teramat dalam. Bahkan melihat air mata Maudi saja, ayahnya sudah sakit.


Kemarahannya hanya ia gunakan untuk menutupi rasa sakitnya. Sakit karena anaknya sudah kehilangan kehormatannya. Sementara tidak ada pria yang bertanggung jawab untuk itu. Ia sakit memikirkan masa depan Maudi.


Maudi sendiri masih menangis. Apa yang dilakukan ayahnya membekas di hatinya. Namun kekecewaan itu tidak lebih besar dari amarahnya pada Rian dan Riri.


Menurut Maudi, Rian dan Riri adalah satu paket pelengkap kehancuran hidupnya. Bertemunya mereka adalah awal dari penderitaan baginya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Aku janji akan selalu membuat kalian menderita. Aku tidak akan memaafkan semuanya," ucap Maudi di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Rian hanya mengerutkan dahinya saat melihat beberapa pesan sampai di ponselnya. Permohonan maaf dan permintaan agar ia kembali pada Maudi hanya diabaikan. Ia sama sekali tidak berniat merespon pesan Maudi.


Sayangnya tidak saat Maudi mengirim sebuah ancaman untuk Rian. Takut. Rian takut Riri menjadi sasaran kejahatan Maudi. Dengan cepat Rian menjawab panggilang Maudi.


"Jangan pernah menyakiti Riri," ucap Rian.


"Aku tidak bisa menuruti permintaan kamu. Ya, sama halnya seperti kamu yang tidak bisa menuruti permintaanku. Aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk selalu berhati-hati," ucap Maudi.


"Apa maksudmu?" tanya Rian.


"Aku tidak akan membiarkan Riri bahagia. Aku akan membuatnya sengsara dan menderita," ancam Maudi.


"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku akan menjaga Riri dari wanita jahat sepertimu," ucap Rian.


"Kita lihat saja nanti. Kita lihat seberapa kuat kamu tetap tenang saat melihat Riri disakiti berulang-ulang," ucap Maudi.


Takut? Tentu. Rian sangat takut jika Riri disakiti oleh Maudi. Namun belajar dari Riri, bahwa musuh akan senang saat kita tegang. Maka yang ia lakukan saat ini adalah mencoba bersikap setenang ini pada Maudi.


"Oke. Kita lihat nanti. Aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu," ucap Rian.


"Kamu menantangku, Rian?" tanya Maudi penuh penekanan.


"Kenapa? Kenyataannya aku sama sekali tidak takut padamu. Aku akan mengadukan apa yang sudah kamu lakukan padaku. Kamu lupa jika rekaman cctv di rumahku bisa dijadikan barang bukti?" gertak Rian.


"Kurang ajar," ucap Maudi.


Setelah itu ia hanya bisa mematikan ponselnya. Ia tidak ingin menghubungi dan dihubungi siapapun. Ia hanya menangis kembali dengan ponsel yang ia genggam sekencang-kencangnya.


"Riaaaaan, kamu jahat sekali. Semua karena Riri. Pembantu kurang ajar itu. Lancang sekali dia sampai merekam apa yang terjadi saat itu. Seandainya dia tidak ada, sekarang aku akan menikah dengan Rian. Aku akan hidup bahagia," gerutu Maudi.


Sementara Maudi menangis, Rian segera mengirim pesan pada Riri. Ia menanyakan kabar Riri untuk memastikan keadaan sahabatnya itu baik-baik saja. Bagaimanapun, Rian tentu khawatir dengan ancaman Maudi.


Riri menelepon Rian. Ia memastikan jika ia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.


"Jangan termakan dengan ancaman Mba Maudi, Mas. Dia hanya menggertak saja. Kalau Mas kelihatan takut, Mba Maudi pasti senang. Dan memang itu yang ia inginkan," ucap Riri.


"Tapi jujur saja aku takut Pus. Aku tidak mau hanya karena kebaikanmu, kamu sampai dilukai oleh Maudi." Rian terdengar sangat khawatir.


"Mas tenang saja. Aku kan diantar jemput sama bodyguard Mr. Aric. Di kampus juga banyak orang. Kecil kemungkinan Mba Maudi akan melukaiku," ucap Riri menenangkan Rian.


"Kamu memang hebat Pus. Di saat tegang seperti ini kamu masih bisa terlihat begitu tenang," puji Rian.


"Prinsipnya adalah sehancur-hancurnya kita, jangan sampai orang lain tahu. Setidaknya akan ada orang yang tidak menyukai kita bahagia dengan kehancuran kita. Jadi yang harus kita lakukan adalah senyum dan tenang," ucap Riri.


Prinsip yang tentu akan sangat sulit untuk direalisasikan oleh Rian dalam kehidupannya. Rian cenderung terligat gugup dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


"Aku harus belajar banyak dari kamu, Pus." Lagi-lagi Rian memuji Riri dengan bibir yang tersenyum lebar.


__ADS_2