Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kembung?


__ADS_3

Tuan Felix sedang mengerjakan beberapa laporan. Sesekali, ia melihat Rian tengah fokus dengan laptopnya.


"Ada tugas?" tanya Tuan Felix.


Rian segera mebgalihkan fokusnya. Ia menyudahi games yang sedang dimainkannya.


"Tidak Pah. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Rian.


"Ah tidak. Lanjutkan saja. Kalau bosan, kamu bisa keliling atau pulang." Tuan Felix memberi pilihan.


"Aku di sini menemani Papa," ucap Rian.


Tuan Felix tersenyum. Ia meminta Rian mendekat kepadanya. Memberikan sebuah map berisi berkas keuangan.


"Tolong pelajari ini," ucap Tuan Felix.


"Apa ini?" tanya Rian sambil membawa map yang dimaksud Tun Felix.


"Laporan keuangan perusahaan bulan ini," jawab Tuan Felix.


"Lalu?" tanya Rian.


"Periksa apakah ada kejanggalan atau aman? Papa mau keluar dulu sebentar," jawab Tuan Felix.


"Iya Pah," jawab Rian.


Setelah Tuan Felix pergi, Rian segera membuka dan membaca lembar demi lembar kertas yang berada pada map itu. Deretan angka dan penggunaannya dijabarkan di sana. Matanya mengintai setiap kejanggalan di sana. Dan hasilnya nihil. Baginya laporan itu bagus dan aman.


"Sudah?" tanya Tuan Felix setelah beberapa saat Rian menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah Pah," jawab Rian.


"Bagaimana? Aman?" tanya Tuan Felix.


"Aman. Semua baik-baik saja," jawab Rian.


"Kalau ada waktu luang, pelajarai tentang keuangan di perusahaan ini. Papa mau nanti ada orang yang mengelola di sini, sedangkan Papa menghabiskan hari tua di Indonesia." Tuan Felix tersenyum saat membayangkan waktu itu tiba.


Tuan Felix memang berencana untuk menjual semua saham di perusahan itu saat ia tinggal di Indonesia. Namun jika semua keuangan masih bisa terkontrol oleh Rian, ia akan meminta orang kepercayaannya untuk tetap mengelola perusahaannya meskipun ia tidak tinggal di Jerman lagi.


Sementara Tuan Felix sendiri akan fokus membangun perusahaan baru untuk Rian di Indonesia. Ia tahu Rian memang cerdas, namun untuk dunia bisnis Rian belum punya pengalaman. Hingga Tuan Felix sendiri yang akan turun langsung sementara waktu.


"Ri, sudah jam pulang. Ayo!" ucap Tuan Felix sambil merapikan mejanya.


"Iya Pah, sebentar." Rian masih asyik menatap kertas berisi deretan angka itu.


Melihat keseriusan Rian, Tuan Felix memang selalu senang. Ia yakin jika Rian memang akan selalu bisa diandalkan. Kemampuan dan ketekunan Rian memang tidak perlu diragukan lagi.


"Sudahlah. Itu kita lanjut kapan-kapan. Perlahan saja. Masih ada tugas kuliah yang harus menjadi prioritas utama," ucap Tuan Felix.


Mendengar tugas kuliah, Rian mengangkat kepalanya. Tuan Felix benar, ia tidak bisa mempelajari semua ini dengan cepat. Waktunya harus terbagi dengan tugas utamanya.


"Iya Pah," ucap Rian.


Rian bersiap untuk pulang dan menyerahkan kembali laporan perusahaan itu kepada Tuan Felix. Ia berjanji jika ada waktu libur, ia akan kembali mempelajari laporan keuangan itu lagi.


"Ri, terima kasih ya!" ucap Tuan Felix.


"Untuk apa?" tanya Rian.


"Kamu selalu berusaha untuk menuruti apa yang Papa inginkan," ucap Tuan Felix.


"Karena aku tahu apa yang Papa inginkan adalah yang terbaik untukku," ucap Rian.


"Papa bersyukur bertemu denganmu. Meskipun dalam tubuh kamu tidak mengalir darah yang sama dengan Papa, tapi kamu selalu menyayangi Papa." Tuan Felix tersenyum senang.

__ADS_1


"Karena aku juga merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari Papa. Kalau Papa sudah melakukan semua yang terbaik untukku, maka tugasku memberikan yang terbaik untuk Papa. Aku akan selalu mengusahakan apapun itu," ucap Rian.


Tuan Felix mengangguk dan menepuk bahu Rian dengan bangga. Ia memang tidak perlu khawatir dengan ketulusan Rian. Mungkin ini yang dinamakan apa yang ditanam maka itu yang dituai. Selama ini Tuan Felix menyayangi Rian tanpa melihat latar belakang Rian seperti apa.


Ketulusan itu ditransfer dan diterima baik oleh Rian. Hingga Rian pun membalas apa yang ia lakukan selama ini. Ya, ketulusan. Sebuah hal yang terlihat sederhana namun berarti sangat luar biasa.


"Aku ke kamar ya Pah," ucap Rian saat sudah sampai di rumah.


"Iya. Terima kasih sudah menemani Papa hari ini," ucap Tuan Felix.


"Tapi jangan mencoba untuk menemaniku malam ini," ucap Rian.


Tuan Felix tertawa sambil menepuk bahu Rian. Mereka istirahat di kamar masing-masing, hingga pagi menyapa kembali.


"Masuk pagi?" tanya Tuan Felix.


"Ya Pah," jawab Rian.


Tas laptop yang sudah siap, Rian letakkan di atas meja. Sedangkan ia ikut sarapan bersama Tuan Felix.


"Kalau bertemu dengan Mpus, sampaikan salam dari Papa ya!" ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," ucap Rian sambil mengangkat jempol tangannya.


Selesai sarapan, keduanya berangkat. Rian membunyikan klakson sebagai tanda perpisahan dengan Tuan Felix.


"Mas," panggil Riri dengan senyum lebar.


"Pus," jawab Rian.


Keduanya bertemu di bebangkuan. Duduk bersama menikmati udara pagi. Riri memberikan sekotak bekal pada Rian.


"Tidak. Aku sudah sarapan. Kamu saja," ucap Rian.


"Yaaaah, padahal aku bawa dua loh Mas. Ya sudah kalau Mas sudah sarapan ini untuk Mas Rey saja," ucap Riri.


"Kenapa?" tanya Riri.


"Buat aku saja," jawab Rian.


"Mas kan sudah sarapan," ucap Riri.


"Lapar lagi," ucap Rian


"Oh ya sudah. Ayo sarapan!" ajak Riri.


"Ayo!" ucap Rian.


Rian membuka kotak bekalnya. Ia mulai memakannya sedikit demi sedikit. Perutnya yang masih kenyang sebenarnya masih menolak makanan untuk masuk. Tapi Rian tidak rela jika Rey yang harus menghabiskan bekal dari Riri.


"Oh ya semalam Mr. Aric benar-benar tidak menghukum kamu kan?" tanya Rian.


Selain ingin tahu cerita yang lebih lengkap, Rian juga ingin mengulur waktu untuk memberi ruang pada perutnya.


"Mr. Aric sepertinya tahu aku pergi dengan Mas. Ya, meskipun Mr. Aric tidak membahas apapun tentang kepergianku." Riri kembali memakan sarapannya.


"Lalu kenapa Mr. Aric menunggumu? Dia sebenarnya mau membicarakan apa denganmu?" tanya Rian.


"Mr. Aric hanya memastikan jika semua tugas perkuliahanku baik-baik saja," jawab Riri.


"Hanya itu?" tanya Rian.


"He'em. Memangnya kenapa?" tanya Riri dengan mulut penuh dengan makanan.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu saja," ucap Rian.

__ADS_1


"Mas, sarapannya tidak enak ya?" tanya Riri.


"Enak," jawab Rian sambil kembali menyuapkan makanannya.


"Syukurlah kalau suka. Kapan-kapan aku buatkan lagi ya," ucap Riri.


"Tapi kapan-kapan kabari aku dulu ya! Biar aku tidak sarapan dulu di rumah," ucap Rian sambil tersenyum.


"Oke. Yang itu dihabiskan ya!" ucap Riri.


"Siap," jawab Rian.


Dengan susah payah Rian menghabiskan bekal yang sudah disiapkan Riri. Sementara Riri terlihat begitu santai melihat Rian yang sudah kekenyangan. Entah tidak peka atau mungkin memang karena sengaja.


"Kalau kamu mau masuk ke kelas masuk saja," ucap Rian.


"Aku menunggu kotak bekalnya Mas," jawab Riri.


Rian tidak berhasil melarikan diri dari kekenyangan ini. Mau tidak mau Rian terus memakan bekal itu hingga habis tak tersisa.


"Aku kembali ke kelas ya Mas," ucap Riri.


"Iya. Terima kasih ya Pus," ucap Rian.


Riri mengangguk dan meninggalkan Rian di bebangkuan itu. Rian nampak mengusap perutnya yang sudah sangat kekenyangan.


"Ri," sapa Rian menepuk perut Rian.


"Aw," ucap Rian meringis.


"Kenapa? Kembung?" tanya Rey.


"Iya. Awas jangan dekat-dekat. Nanti gas beracun keluar nih," jawab Rian.


"Eitsss, jangan macam-macam ya!" ucap Rey sambil menjauh.


"Ya sudah sana!" ucap Rian.


Rey meninggalkan Rian yang masih duduk bersandar dan mengusap perutnya. Ia baru masuk ke kelas sebelum beberapa menit dosen masuk. Ia harus menahan perutnya yang sangat kenyang selama pembelajaran pagi itu.


Setelah siang, perutnya memang sudah tidak terlalu kenyang seperti pagi tadi. Namun Rian merasa seharian ini ia tidak nyaman dengan perutnya. Sampai akhirnya Rian pulang, ia terus mengusap-usap perutnya.


"Mas, mau pulang?" tanya Riri.


"Iya," jawab Rian.


Rian yang terkejut dengan suara Riri langsung melepaskan tangannya dari perutnya hingga tangannya membentur mobil. Ia juga harus menahan sakit agar Riri tidak curiga.


"Aku pulang duluan ya!" ucap Riri sambil melambaikan tangannya.


"Iya. Hati-hati ya!" ucap Rian.


Setelah mobil yang ditumpangi Riri berlalu, Rian baru meringis. Tangannya yang membentur mobil membuatnya berkali-kali meringis.


"Kenapa?" tanya Rey.


"Tidak, tidak. Sudah sana pergi," ucap Rian.


"Kenapa? Gas beracun mau keluar lagi?" tanya Rey.


"Iya. Kenapa? Mau?" ucap Rian kesal.


Rey menggeleng.


"Duluan ya!" ucap Rey sambil pergi meninggalkan Rian.

__ADS_1


Kenapa sih hari ini aku merasa sial sekali? Sudah sakit perut karena kekenyangan. Sekarang tanganku sakit terbentur mobil. Nasib, nasib.


__ADS_2