
Hari kedua dan seterusnya membuat Rian disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Apalagi saat perusahaan mulai menerima kerja sama dari beberapa mitra. Meskipun bukan perusahaan besar, namun ini langkah awal yang akan membuat perusahaan mereka semakin berkembang pesat.
"Masih semangat Pak?" tanya Manto dengan sneyum khasnya.
"Semangat Pak," jawab Rian.
Bibirnya memang tersenyum. Tapi nada suaranya sangat lemas. Manto tahu kalau Rian memang sudah kelelahan dengan jadwal yang setiap harinya semakin padat. Bahkan tidak jarang Rian harus lembur hingga malam hari.
Melihat keadaan Rian yang mulai kehilangan energi, Manto selalu memberi motivasi untuk atasannya itu. Ia selalu menggambarkan harapan semua orang yang ingi berada din posisi Rian saat ini. Hal itu juga mengingatkan Rian akan cita-citanya.
"Yang namanya berjuang pasti akan ada salah satu yang dikorbankan Pak. Sudah biasa itu," ucap Manto.
Ya. Rian mengalami hal itu. Ia berjuang untuk perusahaannya mati-matian. Namun sayangnya ia harus kehilangan banyak waktu untuk sekedar menelepon Riri.
"Pak Manto dulu juga sama seperti ini?" tanya Rian.
"Perjuangan dan pengorbanan setiap orang itu berbeda Pak. Saya bisa tetap menghabiskan waktu bersama wanita yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya. Namun saya kehilangan banyak waktu dengan wanita yang menjadi cinta pertama saya. Bahkan sampai bidadari tak bersayap itu pergi, saya tidak bisa memeluk jasadnya." Mata Manto berkaca saat membayangkan saat-saat itu.
Rian terharu dengan kisah Manto yang ternyata tidak seberuntung yang ia bayangkan. Harta memang bisa membantu perekonomian keluarganya. Namun tidak bisa membeli kebahagiaan seutuhnya, karena bentangan jarak yang terlalu jauh diantara Manto dan ibunya.
"Pak Manto hebat ya bisa melewati semua itu. Padahal aku saja merasa itu sangat berat," ucap Rian.
"Hebat itu hanya ucapan bagi seorang penilai yang hanya mendengar kisah. Sementara bagi si pelaku, kemampuan yang sesungguhnya hanya menyembunyikan sakit dan kecewa." Manto kembali bersikap tegar.
Seperti saat ini, Rian sudah kembali melihat Manto lebih tenang dan nampak tidak ada apa-apa. Ia kembali memikirkan nasib dirinya nanti. Apa yang akan terjadi padanya beberapa tahun lagi. Apakah ia akan terseny bahagia karena bersanding dengan wanita pujaan hatinya? Atau justru kecewa karena Riri pergi dengan alasan kesibukannya?
Ah sepertinya Riri mengerti keadaan Rian selalu memaklumi kesibukannya. Namun berbeda dengan Naura. Ia yang biasanya menyambut kedatangan Rian kini sudah sangat jarang bahkan tidak pernah.
Rian berangkat di saat Naura belum bangun dan pulang setelah anak itu tidur membuat hubungan mereka semakin jauh. Sudah sangat sulit untuk mendapat waktu yang tepat untuk sekedar bermain di mall.
"Maafkan Om ya Naura," ucap Rian pelan sambil menutup kembali pintu kamarnya.
Rian melonggarkan dasi maroon yang melingkar di lehernya. Ia duduk di salah satu kursi sambil meneguk segelas air.
"Ri, baru pulang?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
Rian mengangguk dan menyimpan gelas itu dj atas meja. Malam yang begitu larut membuat gelas dan meja kaca yang beradu itu terdengar sangat nyaring.
"Tadi Naura tidak menanyakanku?" tanya Rian.
Hari ini ia kehilangan sebuah telepon dari Naura. Anak kecil yang biasa mengganggunya dengan panggilan telepon yang berulang-ulang membuat ada yang sangat berbeda.
"Tidak. Apa dia marah padamu?" tanya Tuan Wira.
"Sepertinya begitu Pah," jawab Rian.
"Jangan mengeluh begitu. Nanti Naura juga pasti mengerti keadaanmu," ucap Tuan Wira.
Mungkin benar, tapi Rian tidak tahu kapan semua itu akan terjadi. Karena sampai saat ini pun Naura masih bersikap seperti anak kecil. Namun saat ini Rian justru merindukan sikap Naura yang begitu manja.
"Bagaimana dengan bisnismu?" tanya Tuan Wira.
"Semakin membaik Pah," jawab Rian bangga.
Bagaimana Rian tidak bangga, disaat perusahaannya baru berdiri sudah ada beberapa perusahaan lain yang mengajak kersa sama dengannya. Memang bukan karena kehebatannya, tapi ia juga ikut bekerja keras di sana.
Waktu berlalu begitu cepat. Rian bahkan hampir lupa kalau besok Riri akan berangkat dari Jerman. Besar harapannya bisa bertemu dengan Riri. Ya walaupun bisa saja kemungkinan itu hanya sebatas melihatnya dari kejauhan tanpa menyapanya.
"Aku menunggumu," ucap Rian melalui sambungan telepon.
"Mas, jangan terlalu berharap. Aku takut kamu kecewa," ucap Riri.
"Seperti yang aku katakan berulang kali padamu. Aku bisa melihatmu tersenyum dari kejauhan saja sudah cukup bahagia," ucap Rian.
"Mas serius?" tanya Riri ragu.
Ya, Rian saat ini tidak sesantai dulu. Ia sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan. Riri tidak mau jika kehadirannya ke Indonesia akan mengganggu pekerjaan Rian. Itu pun Riri tidak bisa menjanjikan untuk bisa menemui Rian. Namun Rian terus meyakinkan Riri kalau kehadirannya di Indonesia tidak akan mengganggunya sama sekali.
"Jangan pernah khawatirkan aku. Aku akan membagi waktuku. Pekerjaan memang penting, tapi kamu juga penting. Tapi aku tidak akan mengabaikan pekerjaanku. Tenang saja," ucap Rian.
Riri begitu tersanjung dengan cara Rian memperlakukannya. Belum menikah saja ia merasa sudah diperlakukan seperti ratu. Ah, tiba-tiba Riri tidak sabar untuk segera menjadi Nyonya Rian.
__ADS_1
Rian kembali meneruskan pekerjaannya. Manto mengamati setiap hari. Banyak sekali perkembangan yang terjadi. Kini Rian sudah mulai mengimbangi pekerjaannya. Hanya saja, Rian tampak pucat hari ini.
"Apa Pak Rian sedang sakit?" tanya Manto.
"Tidak Pak. Saya baik-baik saja," jawab Rian.
"Anda terlihat pucat, Pak. Lebih baik istirahat saja," ucap Manto.
Rian mendorong meja agar kursinya lebih leluasa. Ia duduk lebih santai dan mengusap dahinya yang berkeringat dingin.
"Mungkin Bapak benar. Saya kurang tidur," ucap Rian.
"Pasti karena Bapak mempelajari berkas-berkas itu kan?" tebak Manto.
Melihat perjuangan Rian yang begitu bersungguh-sungguh, Manto yakin ia akan berkembang dalam perusahaan itu. Namun ia juga mengingatkan Rian untuk tidak terlalu berlebihan.
"Kalau Bapak sudah lelah, biarkan saya yang kerjakan. Maaf, bukan saya tidak percaya dengan cara kerja Pak Rian tapi mungkin Anda belum berbiasa, Pak. Jangan sungkan. Kita ini satu tim. Kalau ada yang bisa saya bantu, pasti akan saya kerjakan." Manto meyakinkan Rian.
"Ya, tentu. Tentu saya akan butuh bantuan Pak Manto. Minggu depan calon istri saya akan ke sini. Mungkin saya tidak bisa masuk kantor. Saya titip kantor ya! Untuk bagian pekerjaan saya, dipisahkan saja. Nanti saya kerjakan kok," ucap Rian.
Kepada Manto, Rian memang selalu lebih terbuka. Ia tidak ragu untuk mengakui Riri sebagai calon istrinya. Ia yakin Manto yang menikah muda pasti sangat mendukung langkahnya dengan Riri.
"Siap Pak. Tenang saja," ucap Manto.
Manto memang pendengar yang baik. Tapi ia tidak akan kepo jika Rian tidak bercerita. Dan hal itu yang membuat Rian senang dengan kehadiran Manto.
"Tapi jangan bilang-bilang sama Papa ya!" ucap Rian.
"Loh, bukannya Tuan Felix sangat mendukung hubungan Anda dengan calon Anda?" tanya Manto.
"Iya. Tapi saya takut Papa kecewa kalau tahu saya meninggalkan kantor untuk bertemu dengan calon istri saya," ucap Rian.
"Saya rasa Tuan Felix akan sangat mengerti. Tapi kalau Bapak meminta saya merahasiakan semua ini, baiklah. Semua rahasia aman di tangan saya," ucap Manto meyakinkan.
"Anda memamg partner kerja sekaligus sahabat baru saya. Papa mengirim orang yang tepat untuk saya. Terima kasih sudah hadir di sini Pak," ucap Rian.
__ADS_1
Manto selalu berterima kasih dan mengingatkan Rian untuk tidak memujinya berlebihan seperti itu. Sebaliknya Manto juga senang bekerja sama dengan bos hebat seperti Rian. Mau belajar dan tidak menganggapnya bawahan. Kata sahabat membuat Manto tersanjung karena ia tidak memiliki sahabat seperti Rian sebelumnya.