Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Perhitungan


__ADS_3

Selesai makan, Naura langsung menagih oleh-oleh yang dijanjikan Riri. padahal semua masih di ruang makan dan itu membuat Mia harus memberi kode. Menginsyaratkan agar Naura bisa menjaga sikap.


"Tidak apa-apa, Kak. Lagi pula aku sudah selesai makan," ucap Riri yang membela Naura.


Jelas terlihat wajah senang Naura saat mendapat pembelaan dari Riri. Dengan cepat Naura pun menggandeng tangan Riri agar segera meninggalkan ruang makan.


"Maaf ya," ucap Mia.


"Santai saja, Kak. Mereka memang sudah biasa seperti itu," ucap Rian.


Naura yang lebih sering mampir ke rumah itu, jelas terlihat paling berani. Bahkan saat Mia atau Dion memarahinya, Naura selalu lari ke Riri. Mengadu dan meminta perlindungan. Selalu seperti itu.


"Naura manja," ucap Narendra.


"Manja sama aunty sendiri sih boleh," ucap Rian.


"Om bela Naura juga?" tanya Narendra dengan wajah tidak suka.


Mereka memang saling menyayangi. Tapi ada waktu saat dia merasa perhatian untuknya kurang karena diambil oleh Naura. Narendra kadang merasa jika mereka tidak adil padanya.


Kekecewaan Narendra terobati saat Naura berlari berteriak memanggil dirinya. Sebuah jinjingan yang Narendra tidak tahu apa isinya kini merubah moodnya. Apalagi saat Narendra membuka isinya. Perlangkapan melukis yang bisa ia gunakan untuk melatih kemampuannya yang sudah lama tidak disalurkan.


"Waaaah, amazing." Narendra berteriak senang.


Tanpa aba-aba, Yaza dan Dandi segera berlari. Mereka mencari Riri dan meminta oleh-oleh bagiannya. Seperti Narendra, mereka berdua nampak kegirangan saat melihat oleh-oleh itu sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Ini sih bukan oleh-oleh," ucap Yaza.


"Terus apa dong Za?" tanya Dandi yang masih sibuk membolak-balikkan hadiah yang ia punya.


"Kado ulang tahun," jawab Yaza datar.


Dandi hanya melihat Yaza dengan wajah yang tak kalah datar. Bagaimana mungkin Yaza bisa mengatakan jika pemberian Riri terkesan seperti kado ulang tahun. Walaupun Dandi sendiri akhirnya mengiyakan ucapan Yaza.

__ADS_1


Biasanya, yang disebut oleh-oleh adalah makanan atau pakaian khas daerah tempat mereka berkunjung. Tapi yang mereka dapat lebih ke apa yang mereka suka.


"Aunty kapan ke luar kota lagi?" tanya Dandi dengan wajah polosnya.


Riri hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Ia tahu betul kalau Dandi berharap mendapat oleh-oleh lagi. Tapi tidak masalah. Jika itu membuat mereka senang, Riri akan menjadwalkan pemberian oleh-oleh rutin meskipun ia tidak pulang dari luar kota.


Rumah kembali sepi saat mereka satu persatu pamit. Yang tersisa hanya Maya dan Rara karena mereka harus menyelesaikan laporan bulanan.


"Aku lihat progresnya bagus ya!" ucap Riri saat mengamati laporan dari bulan ke bulan.


"Sangat bagus. Ini semua berkat Rara," ucap Maya.


"Ya gak begitu May. Justru karena ada kamu di sana makanya butik berkembang pesat," ucap Rara.


Riri senang mereka bekerja dengan sangat kompak. Melihat perkembangan butik yang sangat bagus, Riri menjadi lebih semangat. Ia berjanji akan mengeluarkan model-model pakaian yang lebih bagus lagi.


"Bagaimana kalau kita buka cabang? Customer kita ada yang dari luar kota loh," ucap Maya.


Buka cabang? Ide bagus. Tapi entah kenapa Riri tidak begitu menginginkan hal itu saat ini. Mungkin salah satu alasannya adalah harus ada orang yang dikirim ke cabang yang baru. Sementara, saat ini yang ia percayai hanya Maya dan Rara. Kalau salah satu dari mereka dipindah, maka Riri harus turun langsung ke lapangan. Lalu Raazi bagaimana?


"Kalau ada modal, aku rasa sebaiknya kita tambahkan untuk butik yang ini saja. Soal customer yang di kuar kota, kita bisa share model-model baru di butik kita lewat media sosial. Kita juga bisa memberikan gratis ongkir sebagai ucapan terima kasih," ucap Riri.


Mereka mulai mengerti dan setuju dengan keputusan Riri. Setelah menyelesaikan semua urusan laporan dan membahas tentang perkembangan butik, Maya dan Reza pulang. Sedangkan Rara memilih untuk menginap.


"Besok jangan lupa masuk pagi. Tamu spesial akan datang besok pagi," ucap Maya mengingatkan.


"Siap," jawab Rara.


Tamu spesial adalah customer yang menggunakan barang di butik mereka dengan nominal fantastis. Bukan karena harganya yang mahal, tapi karena banyaknya item yang dibeli sekali belanja.


Selesai bicara tentang butik, Riri mengontrol Raazi. Ternyata anak kesayangannya itu sudah tidur.


"Makin ganteng aja anak Mama," ucap Riri sambil membelai pipi Raazi yang semakin gembil.

__ADS_1


"Dia sudah naik satu kilo," ucap Bu Risa.


"Benarkah?" tanya Riri senang.


Semenjak Bu Risa tinggal bersama di rumah itu, Raazi memang terlihat cepat menggembil. Bu Risa memang sangat telaten mengurus cucunya. Bahkan sudah sebulan ini, Raazi tidur satu kamar dengan Bu Risa. Bukan karena tidak percaya pada Riri. Tapi Bu Risa merasa Riri butuh istirahat setelah mengurus Raazi dan butiknya.


"Istirahat ya! Ini sudah malam," ucap Bu Risa.


"Iya Ma," ucap Riri.


"Butuh modal berapa?" tanya Rian saat Riri baru membuka pintu kamar.


"Mas," ucap Riri terperanjat sambil memegang dadanya.


Riri sangat terkejut dengan suara Rian yang tiba-tiba menawarinya modal. Padahal ia baru saja membuka pintu kamarnya. Ternyata Rian mendengarkan obrolan Riri dengan Maya dan Rara.


"Memangnya Mas mau nambah berapa?" tanya Riri menantang.


"Berapapun yang kamu butuhkan," jawab Rian.


Riri tersenyum senang. Ia tahu suaminya sudah tidak kekurangan lagi. Berapapun modal yang ia butuhkan tentu akan dengan mudah didapatkan. Tapi meskipun begitu, Riri tidak mau manja. Ia akan tetap mandiri. Butik itu miliknya. Semua modal yang ada di sana adalah miliknya.


Awalnya Riri memang menggunakan sebagian uang Rian. Tapi setelah butiknya berjalan, Riri mengembalikan uang pinjaman itu. Rian sebenarnya tidak meminjamkan uang itu. Tapi Riri tetap mengembalikannya.


"Kamu ini sama suami sendiri kok perhitungan," ucap Rian kesal saat tawarannya ditolak.


"Bukannya perhitungan sayang. Aku hanya mau benar-benar mengurus butik itu dengan apa yang aku punya dan aku bisa. Kamu mengerti kan?" tanya Riri.


Ya, Rian sebenarnya paham. Riri selalu ingin mandiri. Dari pengakuan Riri, Rian mengerti jika suatu saat nanti Raazi sudah besar ada yang bisa dibanggakan untuk Raazi. Tapi walaupun begitu, Rian kadang merasa kesal. Ia merasa dirinya tidak dilibatkan sama sekali dalam bisnis yang tengah dikelolanya.


"Ya sudah mau pinjam berapa?" tanya Rian cemberut.


"Nah begitu dong. Nanti aku ganti ya!" ucap Riri sambil memeluk Rian dengan manja.

__ADS_1


Rian membalas pelukan Riri. Kecupan singkat ia berikan di pucuk kepala Riri sebagai pengantar tidur malam ini.


__ADS_2