
"Nih ponselmu!" ucap Tuan Felix sambil menyerahkana ponselnya.
Rian menerima ponselnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Tuan Felix pun begitu. Berkat Riri, sejenak mereka melupakan semua masalah yang tengah dihadapi.
"Ayo lanjut lagi Pah," ucap Rian.
"Ayo!" ucap Tuan Felix.
Keduanya kembali berkutat dengan pekerjaan mereka. Berkas demi berkas dipelajari hingga waktu pulang sudah tiba.
"Kita lanjutkan di rumah," ucap Tuan Felix.
Rian sempat menolak saat Tuan Felix mengajaknya pulang. Namun Tuan Felix mengingatkan Rian tentang tugas kuliahnya. Rian pun bersiap untuk pulang.
Hari demi hari harus mereka lalui dengan begitu melelahkan. Tuan Felix menguras waktu dan pikirannya untuk memperjuangkan perusahaannya. Keuangan yang mulai tidak tertutup membuat Tuan Felix harus memberhentikan beberapa karyawannya.
Hal itu tentu berdampak bagi pekerjaan Tuan Felix yang semakin banyak dan melelahkan. Tidak jarang Rian pun ikut membantu pekerjaan Tuan Felix hingga larut malam. Rian mulai keteteran membagi waktu untuk pekerjaan dan tugas kuliahnya.
"Pah, aku cuti kuliah saja ya!" ucap Rian.
"Jangan!" ucap Tuan Felix tegas.
"Tapi aku bisa melanjutkannya nanti," ucap Rian.
"Kapan? Setelah semuanya terlambat?" tanya Tuan Felix.
Rian hanya diam. Ia menunduk.
"Kamu harus ingat Rian! Ini adalah kesempatan terbaikmu. Kesempatan itu tidak datang dua kali," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku sangat mengerti. Tapi ini juga kesempatan aku untuk mempertahankan perusahaan," ucap Rian.
"Papa lebih baik kehilangan perusahaan daripada harus melihat kuliahmu terbengkalai begitu," ucap Tuan Felix.
Rian diam. Sulit rasanya untuk meyakinkan Tuan Felix jika ia benar-benar ingin menyelesaikan masalah di kantornya. Namun prinsip Tuan Felix membuat Rian tidak bisa maksimal di kantor.
"Pah, tidak lama. Hanya satu tahu saja. Nanti aku lanjut tahun depan," ucap Rian yang kembali membujuk Tuan Felix.
"Rian, satu tahun itu waktu yang lama. Papa juga tidak bisa menjamin jika perusahaan akan kembali stabil dalam waktu satu tahun," ucap Tuan Felix.
"Aku akan berusaha Pah," ucap Rian.
"Rian ingat, di dunia kerja legalitas itu penting. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan kemampuanmu tanpa adanya legalistas dari pendidikanmu," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku mengerti," ucap Rian.
Kembali Rian mendapat kelas pagi. Hal yang melelahkan rasanya saat matanya masih mengantuk, namun jadwal sudah memaksanya untuk semangat. Belum lagi tugas yang belum ia selesaikan membuatnya harus bangun lebih pagi.
"Mas, kamu sakit ya?" tanya Riri.
Hal yang membuat semangat bertambah saat pagi ia sudah bertemu dengan Riri. Sapaan dan motivasi Riri memang selalu menaikkan kadar semangat dalam diri Rian.
__ADS_1
"Hanya kurang tidur saja Pus," jawab Rian.
"Bagaimana perusahaan?" tanya Riri.
"Masih belum stabil. Tapi paling tidak, sudah naik sepuluh persen. Tapi tetap saja, produksi tidak tertutupi hanya dengan lima puluh persen saja," keluh Rian.
"Aku sebenarnya ingin membantu sebisaku. Tapi Mas tahu di sini aku sebagai apa. Aku hanya pembantu yang mengurusi Mr. Aric disaat selesai jam kuliah. Mas kuat ya," ucap Riri.
Rian melihat ketulusan di wajah Riri. Ia sempat bercerita tentang kelelahannya dan keinginannya untuk mengambil cuti. Namun sama seperti Tuan Felix, Riri juga tidak mendukungnya.
"Tapi aku tidak akan maksimal saat mengerjakan dua pekerjaan sekaligus," ucap Rian.
"Mas fokus saja di perusahaan. Asal luangkan waktu Mas untuk jadwal kuliah, nanti tugas Mas di kampus aku bantu ya!" ucap Riri.
"Kamu bisa?" tanya Rian ragu.
Bukan meragukan kecerdasan Riri, tapi ia sendiri tahu kalau Riri tidak satu jurusan dengannya. Ia tidak yakin jika Riri bisa menghandle tugasnya.
"Ada Mas Rey. Aku akan minta bantuan Mas Rey," ucap Riri.
Rey? Kenapa harus dia? Apa kamu sedang mencari kesempatan untuk lebih dekat dengannya? Tuhaaaaan, jangan sampai Rey dan Riri pacaran. Bisa gila aku.
"Tidak perlu," jawab Rian.
"Loh, kenapa?" tanya Riri.
"Aku bisa sendiri," jawab Rian.
"Mas, jangan egois. Aku tahu Papa bisa membiayai kuliah Mas. Tapi Mas tahu kalau perusahaan Papa sekarang sedang tidak stabil. Kalau sampai beasiswa Mas dicabut, itu tentu akan menambah beban Papa. Mas pasti tidak mau membuat Papa terbebani lebih dari ini kan?" tanya Riri.
"Jadi aku harus bagaimana, Pus?" tanya Rian.
"Mas fokus bantu Papa. Luangkan waktu Mas untuk kuliah dan aku yang akan mengurus tugas-tugas kampus," jawab Riri.
"Tapi kan Rey belum tentu mau membantuku seperti kamu," jawab Rian.
"Kata siapa?" ucap Rey yang tiba-tiba datang dan menepuk bahu Rian.
"Hey, kamu menguping ya?" tanya Rian.
"Tidak. Aku hanya mengintip saja," jawab Rey sambil duduk diantara Rian dan Riri.
"Tuh, Mas Rian dengar kan kalau Mas Rey juga mau membantu Mas. Kita pasti bisa Mas," ucap Riri.
Bisa sih bisa Pus. Tapi belum apa-apa dia sudah jadi penghalang kita. Apalagi dengan membantuku, itu akan menjadi kesempatan emas buat Rey. Ah, dia akan semakin dekat denganmu.
"Iya. Aku percaya. Terima kasih ya sudah mau membantuku," ucap Rian.
Akhirnya Rian mengesampingkan egonya. Ia tidak bisa terus mengutamakan rasa yang belum pasti itu, hanya untuk menghancurkan asanya. Soal Riri, ia yakin jika jodoh pasti akan bertemu.
"Mas jangan sungkan. Kita itu teman Mas. Kita pasti akan saling bantu satu sama lain," ucap Riri.
__ADS_1
Rian tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk kebaikan mereka berdua.
"Ya ampun, kamu ini kaku sekali. Kita sudah berteman hampir dua tahun. Kamu santai saja. Kita doakan agar perusahaan cepat stabil lagi. Nanti kalau sudah stabil, bisa dong ngajak kita jalan-jalan," ucap Rey.
"Kalian tenang saja. Nanti kalau semuanya sudah membaik, aku pasti akan mengajak kalian berlibur. Tenang saja," ucap Rian.
"Makanya Mas yang semangat ya. Aku sudah semangat nih buat liburan," ucap Riri.
"Siap," ucap Rian.
"Ayo ke kelas!" ajak Rey setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Riri pun segera ke kelas setelah Rian dan Rey meninggalkan bebangkuan itu. Ia senang saat melihat Rian lebih bersemangat dibanding hari sebelumnya.
Hari ini terlewati cukup baik oleh Rian. Ia kembali ke kantor setelah kuliahnya usai. Namun baru saja sampai, Maudi kembali membuat Rian kacau.
Wanita yang sudah lama tidak menghubunginya itu, kini hadir membawa masalah baru. Entah tahu dari siapa, Maudi bahkan tahu keadaan perusahaan Tuan Felix.
Sebuah pesan Maudi kirim sebagai ucapan bela sungkawa. Ia bahkan akan merencanakan untuk mengunjungi Rian sebagai bentuk dukungan pada mantan kekasihnya itu.
Dukungan? Ya mungkin Maudi menganggap itu sebagai suatu dukungan. Namun ia merasa kedatangan Maudi hanya akan menjadi beban baru dalam hidupnya.
'Terima kasih. Tapi maaf. Aku tidak perlu dukungan dari siapapun untuk saat ini.'
Sebuah pesan yang membuat Maudi meradang.
"Angkuh sekali dia. Rian, kamu sudah nyaris bangkrut. Masih saja menyebalkan," teriak Maudi.
"Kak, ada apa?" tanya Hiro.
"Tidak. Jangan ikut campur urusanku. Kekuar kamu!" teriak Maudi.
"Kak, aku hanya ingin kakak baik-baik saja." Hiro masih tetap bertahan di tempatnya.
"Aku akan tidak baik-baik saja kalau kamu ada di sini. Keluar!" teriak Maudi.
Ayahnya datang dan menarik Hiro dari kamar Maudi. Membiarkan Maudi meluapkan emosi di kamarnya.
"Biarkan dia sendiri," ucap ayahnya.
Hiro hanya mengangguk, tapi ia tidak menjauh. Ia tidak mau meninggalkan kakaknya yang sedang emosi. Ia masih setia berdiri di depan pintu kamar Maudi yang tertutup rapat. Mendengarkan umpatan atas kemarahannya.
Rian. Hiro mengerutkan dahinya saat mendengar nama Rian. Hiro yang tidak tahu masalah yang menimpa Maudi, kini mencoba menerka.
"Jadi Rian yang sudah membuat Kakak begini? Aku benar-benar akan mengahajarmu kalau kita bertemu," ucap Hiro.
Adik Maudi itu hanya mencoba menata dendamnya yang tidak jelas alasannya. Hanya saja, ia meyakini pria itu yang membuat kakaknya hancur.
"Hiro! Sini," ucap ayahnya saat Hiro sedang menguping amukan Maudi.
"Apa Pah?" tanya Hiro.
__ADS_1
"Jangan ikut campur masalah kakakmu. Biarkan dia sendiri. Nanti juga semuanya membaik," jawab ayahnya.
Kenapa Papa tidak bisa terbuka kepadaku? Aku sudah bukan anak kecil lagi. Sebentar lagi aku juga akan kuliah. Aku akan menjadi mahasiswa. Dan aku memilih Jerman untuk melanjutkan pendidikanku. Aku akan mencari tahu dan menuntut balas atas kesalahan Rian padamu, Kak.