
"Terima kasih Kak. Semua juga berkat Kakak," ucap Riri.
Malam ini menjadi sangat ramai. Rumah Nyonya Helen kini begitu ramai dengan kehebohan anak kecil. Belum lagi mereka yang sedang tertawa senang saat menggoda pasangan pengantin baru.
Setelah makan malam, laki-laki berkumpul di ruangan kerja. Kejadiran Reza di perusahaan tentu diperkenalkan secara khusus oleh Dion. Reza adalah teman baik Dion. Bahkan bisa dibilang kalau Reza adalah satu-satunya sahabat Dion.
"Permisi," ucap seseorang saat berdiri di ambang pintu.
Semua mata tentu menatap sumber suara yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan Manto. Pintu ruangan kerja yang terbuka lebar membuat Manto tidak perlu mengetuk pintu saat berusaha untuk bergabung dengan mereka.
"Hey, Pak Manto dari mana saja? Kenapa baru ke sini? Kami sudah makan. Bapak mau makan dulu? Mari saya antar," ucap Rian.
Sambutan Rian memang berbeda dengan yang lain. Mungkin Rian juga orang yang paling merindukan kedatangan Manto di rumah itu.
"Terima kasih Pak. Tapi saya sudah makan," ucap Manto.
"Oh ya kalau begitu ayo silahkan duduk," ucap Rian.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak. Saya juga meminta maaf karena datang memenuhi undangan keluarga besar ini. Kebetulan saya ada kepentingan keluarga dulu," ucap Manto.
"Ah tidak apa. Terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk datang ke sini," ucap Dion.
"Saya yang seharusnya berterima kasih. Ini acara keluarga, tapi saya ikut dilibatkan. Sekali lagi terima kasih banyak," ucap Manto.
Reza yang biasa bersikap santai bersama Dion, kini harus lebih menjaga sikap. Apalagi saat melihat Manto yang bersikap begitu santun dan penuh hormat. Rasanya ada beban tersendiri saat berada di sana.
Tiba saatnya Dion mengenalkan Reza. Sahabatnya yang sampai saat ini masih sering berkomunikasi meski berada jauh berbeda pulau. Namun sekarang mereka akan sering bertemu karena Reza akan bekerja di perusahaan Rian.
"Senang bisa bergabung dengan Pak Rian," ucap Reza.
"Tidak usah formal begitu Kak Reza. Aku jadi tidak nyaman kalau begini," ucap Rian.
Obrolan hangat pun terjadi di rumah itu. Semua berkumpul dengan bahasan masing-masing. Tidak hanya membahas tentang pekerjaan, namun mereka saling mengenal satu sama lain. Bicara tentang keseharian mereka hingga waktu kian larut.
Manto yang sudah beberapa kali melihat pergelangan tangannya akhirnya memberanikan diri untuk pamit. Sudah jam sepuluh malam. Ia tidak bisa membuat istrinya menunggu semakin malam.
"Oh ya hati-hati di jalan," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Sudah waktunya istirahat. Namun saat kumpulan pria itu membubarkan diri, mereka melihat Mia dan Riri masih asyik bercerita. Entah apa yang mereka bahas. Namun sesekali Riri menyeka sudut matanya.
"Jangan ganggu mereka. Biarkan Mpus bercerita pada Mia. Dia btutuh teman untuk meluapkan bebannya. Biarkan saja," ucap Tuan Felix sambil menahan Rian.
Rian yang akan mendekati mereka akhirnya mengurungkan niatnya. Ia segera ke kamar dan menunggu istrinya di kamar. Dalam kamar Rian menatap dirinya pada pantulan cermin. Lama ia memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah.
Sampai akhirnya ia tersenyum saat menyadari waktu begitu cepat berlalu. Masih terasa kemarin sore saat ia pertama kali di bawa ke rumah itu. Kamarnya pun tidak pernah pindah sejak pertama ia masuk ke sana. Hanya perubahan beberapa dekorasi saja.
Dari mulai masih berseragam putih biru hingga akhirnya ikut ke Jerman. Bertahun-tahun di sana sampai bertemu dengan wanita yang kini menjadi istrinya. Dan sekarang ia kembali ke rumah itu dengan status sebagai seorang suami.
"Mas," ucap Riri saat masuk ke dalam kamar.
"Sudah selesai ngobrol sama Kak Mia nya?" tanya Rian.
"Sudah Mas. Lama ya?" tanya Riri.
"Tidak. Hanya saja aku melihat kamu menangis. Kenapa? Apa kamu bercerita tentang keluargamu lagi?" tanya Rian.
"Sedikit Mas. Tapi aku menangis bukan karena ingat keluargaku. Aku justru sedih saat mendengar jalan hidup Kak Mia. Ternyata bukan hanya aku yang menderita di dunia ini," jawab Riri.
Ya, selama ini Riri selalu merasa jadi manusia yang paling menderita. Ia selalu menangis saat ingat perjalanan hidupnya yang terlalu berliku dan terjal. Namun setelah bicara dengan Mia, jalan pikirannya jadi terbuka. Apalagi setelah Mia mengingatkan seharusnya Riri bersyukur karena memiliki Rian.
"Jadi sekarang sudah tidak malu lagi kan?" tanya Rian.
"Tidak Mas," jawab Riri sambil menggeleng.
"Apa yang harus membuatmu malu dariku? Bahkan aku saja tahu semua tentangmu. Bekas bisul di punggungmu saja aku tahu," ucap Rian sambil tertawa.
"Mas, jangan dibahas." Riri cemberut dan memukul Rian dengan bantal.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Rian sambil tertawa.
"Aku malu. Lagian kenapa sih Mas sampai tahu kalau itu bekas bisul? Padahal aku berharap aibku yang satu itu jangan sampai ada yang tahu," ucap Riri.
"Aku ini istrimu. Sudah tidak perlu kamu malu padaku. Tentang bekas bisul, jelas aku tahu. Karena aku juga punya di sini. Mau lihat?" tanya Rian sambil menunjuk bokongnya.
"Ih Mas. Tidak usah. Punya bekas bisul kok bangga sih," ucap Riri.
__ADS_1
Rian hanya tertawa sambil memeluk Riri. Benar kata orang jika menikah itu menyenangkan. Bahkan membahas tentang bekas bisul saja membuatnya tertawa karena gemas saat melihat wajah Riri.
"Malam ini libur dulu ya bayar cicilannya," ucap Rian.
"Serius Mas?" tanya Riri dengan mata yang berbinar.
Rian bisa menangkap raut bahagia itu.
"Kenapa kamu senang saat aku tidak bayar cicilan? Apa kamu tidak menikmati cicilannya?" tanya Rian.
"Eh, bukannya begitu. Tapi lapaknya sudah penuh. Nunggu memudar ya. Baru nanti dikasih tanda yang baru," ucap Riri sambil menunjuk dadanya.
"Itu lapak yang itu belum," ucap Rian sambil menunjuk lehernya.
"Enak saja," ucap Riri.
Malam ini Rian yang merasa lelah membiarkan Riri terbebas dari cicilannya. Bukan karena ia tidak menginginkan Riri, namun malam ini Rian sedang ingin membiarkan Riri tidur nyenyak.
Da benar saja. Rasa lelah secara batiniahnya membuat Riri tidur lebih cepat. Wajahnya yang polos tanpa sentuhan make up masih terlihat sangat cantik di mata Rian.
Di atas ranjang, Rian memperhatikan Riri yang sudah terlelap. Kadang masih terlintas di pikirannya rasa tidak percaya jika Riri sudah menjadi istrinya. Wanita yang selama ini selaku disebut dalam doanya, kini terbaring dalam satu ranjang dengannya.
Hampir seluruh tubuhnya sudah disentuh bahkan dinikmati dengan penuh cinta dan hasrat. Ah, jika mengingat malam itu, tentu membuat Rian selalu menginginkan Riri. Seandainya ia tidak kasihan, tentu saat ini juga ia akan membangunkan Riri untuk memuaskan hasratnya. Namun Rian tahu, hari ini terlalu berat untuk dilewati istrinya.
"Biarlah kamu istirahat malam ini. Tapi ingat, hanya malam ini ya. Malam besok dan seterusnya aku tidak akan memberikan ampun padamu," gumam Rian sambil tersenyum geli dengan ucapannya sendiri.
Tangannya memainkan rambut Riri yang terlihat berantakan. Keisengannya muncul saat Riri tidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Tangannya memainkan bibir Riri yang tipis dan merah muda. Riri menggelisik saat merasakan bibirnya sedang menjadi bahan keisengan suaminya.
"Mas," ucap Riri dengan suara serak.
"Sudah. Tidur lagi," ucap Rian sambil mengusap wajah Riri.
Mata Riri yang merah dan terbuka hanya satu perempatnya, membuat sentuhan tangan Rian berhasil membuat mata itu tertutup sempurna. Hanya dalam hitungan detik, Riri sudah kembali tertidur.
Rian tidak bisa tidur. Ia tidak bosan menatap wajah istrinya. Namun tiba-tiba pandangannya turun ke bawah. Ada daging yang menyembul saat Riri tidur dengan posisi miring mengahadap ke arah Rian.
Menelan saliva dengan susah payah, Rian berusaha menenangkan dirinya sendiri. Perlahan tangannya menyentuh lembut bagian itu dan sedikit menekannya. Riri menggeliat dan merubah posisi tidurnya.
__ADS_1
Perubahan posisi tidur itu membuat pakaian tidur Riri yang cukup mini itu terangkat. Memang tidak menampakkan apa yang ingin Rian lihat. Namun kulit putih dan mulus itu berhasil membuat Rian bergejolak.
"Maaf ya Pus, sedikit saja." Rian mengusap kaki Riri yang mengangkang.