Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Oleh-oleh


__ADS_3

Perayaan ulang tahun Yaza memang sangat dinikmati oleh Riri. Ia termasuk salah satu orang yang sangat bahagia di sana. Namun waktu terasa begitu cepat berlalu. Kini acara itu sudah selesai. Rumah pun sudah kembali sepi.


"Mas, tidak bisa ditunda lagi?" tanya Riri saat merapikan pakaian Rian ke dalam koper.


"Ini juga sudah ditunda. Harusnya aku kan berangkat hari ini," jawab Rian sambil mengusap kepala Riri.


Riri menatap Rian dengan sedih. Entah kenapa Riri sangat takut jika harus berpisah dengan Rian meskipun hanya seminggu. Seminggu bukan waktu yang sebentar bagi Riri. Semenjak pernikahannya dengan Rian, ia tidak pernah ditinggalkan selama itu.


Saat masih ada Tuan Wira, Rian selalu meminta Danu atau Manto saat pergi selama itu ke luar kota. Tapi setelah Tuan Wira tidak ada, Rian tidak punya pilihan lain selain pergi dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri.


"Aku akan pulang setelah seminggu," ucap Rian.


"Lama," rengek Riri.


Belum selesai Riri merengek, ia harus bersikap sangat dewasa. Sebagai seorang ibu, Riri harus sigap saat mendengar anaknya menangis. Ia akan menjadi ibu yang sangat lembut untuk anaknya. Ia harus menenangkan anaknya meskipun hatinya sedang tidak tenang.


Malam ini Rian tidur dengan nyenyak. Hanya Riri yang tidak bisa tidur. Entah berapa lama Riri memandangi wajah Rian yang sudah terlelap itu. Riri tidak melepaskan tangannya dari tubuh Rian. Ia sangat takut kehilangan sosok suaminya. Tanpa Rian sadari, Riri menyimpan trauma sendiri atas sebuah kehilangan.


"Kamu belum tidur?" tanya Rian dengan suara serak.


Rasa haus membangunkan Rian dari tidurnya. Ia berniat meneguk segelas air untuk membuatnya bisa kembali tertidur. Namun ternyata ia mendapati Riri yang masih terbangun.


"Belum," jawab Riri.


Rian memeluk Riri dan menenangkannya. Bahkan tujuannya untuk minum pun ia lupakan karena akhirnya ia terlelap kembali dalam pelukannya bersama Riri.


Alarm yang sudah diatur terdengar sangat nyaring. Membangunkannya dari tidur nyenyak malam ini. Rian melihat Riri sudah tidak ada. Tanpa mencari keberadaan Riri, Rian memilih untuk bersiap. Ia harus berangkat pagi ini.


Setelah keluar dari kamar mandi, Rian sudah melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh Riri. Namun sosok Riri sendiri tidak Rian temui di kamar itu. Matanya sudah mengedar ke seluryh sudut kamar, bahkan ia beberapa kali memanggik istrinya. Namun masih hening. Tidak terdengar sahutan sama sekali dari Riri.


"Mpus kemana ya?" gumam Rian sambil meraih baju yang sudah disiapkan itu.


Sambil menggunakan pakaiannya, Rian menatap cermin. Ia melihat wajahnya yang terasa lebih tirus dari sebelumnya. Badannya juga terlihat lebih kurus. Mungkin karena lelah atas pekerjaan yang sangat banyak dan pikiran yang kacau setelah ditinggal orang tua angkatnya.


"Sudah siap?" tanya Tuan Felix saat Rian sudah keluar dari kamar.


"Papa," ucap Rian.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Tuan Felix, Rian justru memilih mencari keberadaan Riri. Sampai ia di ruang makan pun, matanya tidak menangkap sosok yang ia cari sejak bangun tidur.


"Cari Mpus?" tanya Tuan Felix.


Rian menghentikan pencariannya dan menatap Tuan Felix. Ia mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Tuan Felix. Berharap jika Tuan Felix tahu keberadaan Riri.


"Memangnya dia kemana?" tanya Tuan Felix lagi.


"Aku pikir Papa tahu," jawab Rian sambil menghela napas panjang.


"Papa juga tidak melihat Mpus pagi ini," ucap Tuan Felix.


"Benarkah?" tanya Rian.


Mendengar percakapan keduanya, Bu Sari segera ikut menyambar. Memberi tahu jika Riri ada di kamar Raazi. Rian hanya tersenyum. Ya, Rian berpikir, Riri pasti mengantuk karena semalam tidak tidur.


Ternyata setelah sarapan selesai, Riri datang menggendong Raazi sambil menarik koper yang cukup besar. Bu Sari yang melihat anak dan cucunya segera memburu koper itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Rian bingung.


"Ikut?" tanya Rian dan Tuan Felix bersamaan.


"Kenapa?" Riri balik bertanya.


Rian yang tidak menyangka jika Riri akan ikut, tidak mempersiapkan semuanya. Namun ternyata Riri sudah mempersiapkan semuanya sendiri. Akhirnya setelah cukup lama berdebat, mereka pergi bersama.


Dari awal Rian sudah mewanti-wanti jika kepergiannya ke sana untuk bekerja. Jadi Rian berharap Riri akan sangat mengerti jika nanti ia tidak punya banyak waktu untuk Riri dan Raazi. Namun dengan ikutnya Bu Sari, Riri tidak merasa keberatan sama sekali. Ia tidak membebani Rian dengan keberadaannya.


Sebaliknya, Rian justru bersyukur dengan adanya Riri dan Raazi di sana. Penatnya Rian hilang seketika saat melihat kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Rian tidak bisa membayangkan jika keduanya tidak ada di sana saat itu. Ia pasti akan pusing sendiri.


Padatnya kegiatan dan pekerjaan yang menguras tenaga, membuat Rian tidak terlalu ceria seperti saat di Jakarta. Kadang Riri merasa sedih dengan sikap Rian yang tiba-tiba dingin padanya. Namun ibunya selalu mengingatkan bahwa Rian tengah menghadapi pekerjaan yang berat.


"Aku tidak tahu kalau Mama tidak di sini. Mungkin aku akan selalu bertengkar dengan Mas Rian," ucap Riri.


Bu Risa segera memeluk Riri. Ia tak pernah lelah berhenti mengingatkan Riri agar selalu menjadi istri yang sabar. Istri yang sangat mengerti pekerjaan dan keadaan suaminya. Berat mungkin, tapi Riri yakin jika ia berusaha maka ia akan terbiasa.


Satu minggu sudah selesai. Berkat kerja sama semuanya, Rian bisa menyelesaikan pekerjaannya selama seminggu. Ia pun sudah bersiap untuk kembali ke rumahnya.

__ADS_1


"Tidak beli oleh-oleh dulu?" tanya Rian.


"Boleh?" Riri balik bertanya.


Ada tatapan tidak percaya namun penuh harap. Riri tidak menyangka saat Rian masih memberinya waktu untuk berbelanja. Memang bukan untuk dirinya. Oleh-oleh itu sengaja ia beli untuk keempat keponakannya dan keluarganya yang lain. Bahkan Riri tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri.


"Maaf ya Nak. Riri lama," ucap Bu Risa saat melihat Rian beberapa kali melihat pergelangan tangannya.


"Tidak masalah. Selama seminggu Riri menungguku bekerja. Sekarang, giliran dia menghabiskan waktunya. Biarkan dia melakukan apapun yng dia mau," ucap Rian.


Raazi berteriak girang saat melihat Riri datang membawa beberapa kantong belanjaan. Dengan cepat sopir itu memburu Riri dan mengambil alih kantong-kantong belanjaan yang dibawa Riri.


"Ayo!" ajak Rian.


"Sebentar Mas. Itu masih ada di sana!" ucap Riri sambil menunjuk ke salah satu toko.


"Apa lagi?" tanya Rian.


"Oleh-oleh," jawab Riri datar.


Rian menatap kantong-kantong belanjaan yang sudah berjejer di dalam mobil. Kepalanya menggelang dan tangannya mengusap wajahnya sambil menahan tawa.


"Bawakan belanjaan istriku yang masih di toko," pinta Rian pada sopir itu.


"Baik, Pak." Sopir itu segera menuju toko yang ditunjuk oleh Riri.


"Ri, jangan banyak-banyak. Kamu sebagai istri jangan boros," ucao Bu Risa mengingatkan.


"Tidak apa-apa. Riri itu tidak boros. Dia hanya jarang berbelanja. Jadi sekalinya belanja harus dibeli sama tokonya," ucap Rian sambil terkekeh.


"Tuh Ma! Mas Rian itu baik. Jadi Mama jangan khawatir. Uangnya juga banyak. Tidak habis kalau hanya belanja ini," ucap Riri.


Bu Risa hanya tersenyum. Antara senang dan malu sebenarnya melihat kelakuan Riri. Tapi ia juga melihat sikap Rian yang terlihat biasa saja. Tidak ada kekecewaan atau kemarahan Rian atas sikap Riri yang sudah belanja berlebihan.


"Ayo Mas!" ajak Riri setelah semua belanjaannya masuk ke dalam mobil.


Rian merasa bahagia saat melihat istrinya tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2