Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tukar tambah


__ADS_3

"Tunggu di sini ya! Aku mau mandi dulu," ucap Rian.


"Iya," jawab Riri.


Riri menunggu di sofa empuk berwarna maroon. Ia melihat ke sekeliling. Rumah yang sangat mewah. Bahkan ia rasa, lebih mewah rumah Tuan Felix dibanding dengan rumah Mr. Aric.


Beberapa kali ia melihat ke arah kamar Tuan Felix. Berharap pria itu keluar. Namun tidak ada tanda-tanda jika pintu itu akan dibuka. Untuk membuka kejenuhannya, Riri mengeluarkan ponselnya dan memainkannya sebentar.


"Lama ya?" tanya Rian.


"Eh, gak kok Mas." Riri memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Kamu sudah mengirim pesan ke pacarmu ya Pus?" tanya Rian.


"Pacar dari mana?" ucap Riri menggeleng sambil tertawa geli.


"Aku tidak yakin kalau kamu tidak punya pacar," jawab Rian.


"Kalau aku punya pacar, aku tidak mungkin minta Mas menemaniku malam ini. Iya kan?" tanya Riri.


"Mungkin pacar kamu sibuk? Atau mungkin juga karena jauh?" selidik Rian.


"Maksud Mas aku mencoba untuk berselingkuh?" tanya Riri.


"Memangmya kamu tega menjadikanku selingkuhanmu?" tanya Rian.


"Memangnya wajahku seperti orang yang suka selingkuh ya?" tanya Riri.


"Kamu memang selalu saja bisa menjawab setiap pertanyaanku dengan pertanyaan yang menyudutkanku," ucap Rian.


"Lagi pula pertanyaan Mas aneh-aneh. Aku tidak berpengalaman dalam berselingkuh. Kalau Mas punya pengalaman, boleh lah dibagi denganku." Riri menatap Rian dengan mata menuduh.


"Aku? Selingkuh? Tidak ada dalam kamus hidupku," ucap Rian.


"Aku percaya. Mas orang baik," ucap Riri.


"Tahu dari mana?" tanya Rian.


"Feeling. Belum tentu benar sih. Tapi aku yakin tebakanku kali ini tidak akan meleset," jawab Riri.


"Kalau itu sih bukan tebakan, tapi kenyataan." Rian meyakinkan Riri.


"Iya. Aku tahu. Mas harus pintar-pintar pilih lingkungan," ucap Riri.


"Kenapa?" tanya Rian.

__ADS_1


"Orang baik sering dimanfaatkan oleh orang lain. Contohnya aku yang mau memanfaatkan Mas untuk malam mingguan gratis," jawab Riri sambil tertawa.


Mendengar kata malam mingguan, Tuan Felix segera keluar dari kamarnya. Sepertinya ia tidak mau ditinggalkan sendirian di rumah.


"Kalian mau pacaran ya?" tanya Tuan Felix tiba-tiba.


Senyum Riri merekah saat melihat Tuan Felix sudah keluar kamar. Akhirnya ia kembali melihat wajah Tuan Felix. Itu artinya kemarahan itu sudah selesai.


"Bukan pacaran Pah. Aku hanya mengajak Mas Rian untuk jalan-jalan saja," jawab Riri.


Tuan Felix menatap Rian saat mendengar jawaban polos Riri. Sementara Rian hanya menggeleng saat merasa dirinya tertuduh. Ya, Tuan Felix menuduh jika Rian yang menuntut Riri untuk seolah-olah mengejar Rian.


"Apa bedanya pacaran dan jalan-jalan berdua? Kenapa kamu yang mengajak Rian? Seharusnya Rian yang mengajakmu," ucap Tuan Felix.


"Beda dong Pah. Memangnya jalan-jalan hanya milik orang yang pacaran? Masa jomblo seperti aku tidak bisa jalan-jalan? Terus kenapa aku yang ngajak, karena aku yang ingin main. Berhubung temanku hanya Mas Rian, jadi dia yang aku ajak." Riri menjawab seadanya.


"Kamu itu perempuan. Berikan kode saja. Biarkan nanti Rian yang mengajakmu jalan. Kalau kamu seperti ini nanti bisa besar kepala dia," ucap Tuan Felix.


"Mas Rian orang baik. Dia pasti selalu rendah hati dan tidak mungkin merendahkan orang lain," puji Riri.


"Papa yakin semakin besar kepala dia," ucap Tuan Felix sambil menunjuk Rian.


"Aku tidak meminta Mpus bicara seperti itu," ucap Rian membela diri.


"Jadi kalian mau kemana?" tanya Tuan Felix.


"Kok mau jalan tapi tidak punya tujuan begitu sih?" tanya Tuan Felix.


"Ya nanti berhenti dimana saja yang nyaman dan asyik. Tergantung situasi juga," jawab Riri.


"Kalian hanya berdua?" tanya Tuan Felix.


"Iya," jawab Rian.


"Kamu tidak takut kalau Rian berniat jahat padamu?" tanya Tuan Felix pada Riri.


"Astaga Pah. Papa yang jahat. Sama anak sendiri kok negatif thinking," ucap Rian.


"Tidak Pah. Aku sudah cukup mengenal Mas Rian. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku yakin Mas Rian tidak akan berniat jahat padaku," jawab Riri sambil tertawa.


"Kamu yakin?" tanya Tuan Felix.


"Yakin. Papa jangan khawatir pada Mas Rian. Apa sudah berhasil mendidik anak yang sangat baik dan bertanggung jawab," jawab Riri.


Keduanya merasa melambung tinggi saat Riri memuji semua sikap santun dan baik serta tanggung jawab Rian. Bagi Riri, semua kebaikan Rian adalah hasil lerja keras Tuan Felix selama mendidik Rian.

__ADS_1


"Ya sudah kita berangkat dulu ya Pah," pamit Rian.


"Katanya mau malam mingguan. Ini kan masih sore," ucap Tuan Felix.


"Aku harus mengantar Mpus pulang dulu. Mandi dan ganti baju sebelum malam mingguan," jawab Rian.


"Awas hati-hati. Jangan sampai kamu mempermalukan Papa. Jaga kehormatan Mpus," ucap Tuan Felix.


Rian tersentak saat mendengar ucapan itu. Seketika kepalanya kembali memikirkan apa yang terjadi pada Maudi. Kegelisahan itu menjadi ia rasakan saat ia merasa Tuan Felix sudah mengetahui semuanya.


"Papa tenang saja. Kalau Mas Rian macam-macam, aku akan laporkan pada Papa. Papa bisa tukar tambah aku dan Mas Rian pada Mr. Aric. Hehe," jawab Riri dengan tawa recehnya.


"Enak saja tukar tambah. Kamu pikir aku ponsel bekas apa," ucap Rian.


Sikap polos Riri berhasil membuat Rian lebih tenang. Ia melihat Tuan Felix juga sudah kembali tertawa mendengar ocehan Riri. Lagi-lagi Riri menyelamatkan Rian dari kegelisahan tentang Maudi yang selalu menghantuinya.


"Rian, kamu ini laki-laki. Harusnya kamu lebih berani untuk mengajak Mpus jalan-jalan. Lain kali Papa tidak mau mendengar Mpus yang meminta izin. Kamu yang seharusnya meminta izin pada Mr. Aric," ucap Tuan Felix mengingatkan.


"Iya Pah iya. Kita berangkat dulu ya!" ucap Rian.


"Yakin nih hanya berdua?" tanya Tuan Felix.


"Yakin Pah. Papa jangan khawatir. Riri kan sudah bilang kalau aku ini baik. Tidak mungkin aku mempermalukan Papa," ucap Rian.


"Pah, Mas Rian itu orang baik. Kalaupun ada yang bicara tentang Mas Rian yang kurang baik, Papa jangan percaya. Aku pastikan kalau Mas Rian ini sangat baik," ucap Riri.


Rian menatap Riri saat sahabatnya itu begitu meyakini kebaikannya. Padahal Rian merasa ia tidak sebaik itu. Ia bepikir mungkin karena ia pernah menjadi donor darah untuk majikannya.


"Iya, Papa percaya. Tapi yakin nih mau jalan berdua saja?" tanya Tuan Felix untuk yang ketiga kalinya.


"Iya Pah, iya. Harus berapa kali aku jawab iya. Kita berdua tapi aku jamin Mpus aman terkendali. Kalau Papa tidak percaya Papa pasang cctv sekalian di mobil dan sepanjang jalan yang aku lewati" jawab Rian.


"Ya sudah iya. Kalau mau berangkat hati-hati ya!" ucap Tuan Felix.


Keduanya mencium tangan Tuan Felix bergantian. Mereka pamit dan benar-benar pergi. Setelah mobil Rian melaju meninggalkan rumah itu Tuan Felix nampak kesal.


"Dasar anak-anak yang sedang dimabuk cinta. Tidak peka sama sekali. Dunia terasa milik berdua. Mereka tidak tahu kalau aku juga mau ikut?" gerutu Tuan Felix.


Tuan Felix kembali ke kamar setelah puas menggerutu. Istirahat di kamar mungkin lebih baik dari pada harus terus menerus menggerutu mengungkapkan kekesalannya.


Mereka pasti sedang sangat bahagia. Berbahagialah Rian. Papa lebih senang kamu meninggalkan Papa sendiri, asal dengan Mpus.


Ya, Rian memang sedang berbahagia. Meskipun ia tidak terlalu memikirkan nasib hubungannya dengan Riri akan seperti apa. Hanya saja sampai saat ini, Riri adalah orang yang berhasil membuatnya sedikit tenang. Pikirannya dengan Maudi bisa teralihkan saat Riri bersamanya.


"Mas, aku tidak mungkin membiarkan Mas menungguku di rumah saat tidak ada Mr. Aric. Mas tidak keberatankan kalau menungguku di ujung jalan saja?" pinta Riri.

__ADS_1


Rian mungkin kesal. Tapi ia yakin kalau Riri melakukan semua itu untuk kebaikan mereka berdua. Ia tidak ingin kamera cctv menangkap kehadiran Rian di rumah itu.


Riri yang tahu jika Rian mengenal Mr. Aric dengan cukup dekat, justru ingin menjaga nama baik dan kesan yang baik tentang Rian. Ia tidak mau Mr. Aric salah paham dengan kehadiran Rian di rumah itu, saat Mr. Aric justru sedang tidak berada di rumahnya.


__ADS_2