
Hari ini menjadi hari yang paling menyeramkan dalam hidup Rian. Ia merasa hidupnya ingin berakhir saat itu juga. Rian bahkan sudah benar-benar tidak mau ke kampus. Untuk pertama kalinya Rian harus melewatkan jadwal kuliahnya.
"Aku harus bilang apa nanti pada Papa?" gumam Rian.
Beberapa kali Rian berjalan mengitari kamarnya. Ia belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Aku harus bilang apa ya?" gumam Rian lagi.
Pertanyaan itu berulang-ulang berputar di kepalanya. Rian benar-benar frustasi dan menyerah. Ia pasrah jika seandainya semua harapannya berakhir saat itu juga.
Dering ponsel membuat Rian menbuka telapak tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya.
"Riri?" tanya Rian.
Dengan ragu Rian menjawab panggilan Riri.
"Mas Rian sakit?" tanya Riri saat panggilan sudah terhubung.
"Ti-tidak," jawab Rian gugup.
Rian masih tidak percayan jika Riri menghubunginya di saat yang tepat.
"Mas kenapa? Kok gugup begitu. Seperti anak bujang yang mau ijab kabul di depan penghulu saja," ucap Riri sambil tertawa.
Rian menegang. Mendengar lelucon Riri, ia sama sekali tidak merasa ingin tertawa. Bahkan Rian merasa jantungnya seakan berhenti. Ia membayangkan jika ia benar-benar harus menikahi Maudi.
"Mas, Mas, halo," ucap Riri saat Rian tidak merespon leluconnya.
"Eh iya, apa? Jaringannya putus-putus," ucap Rian bohong.
Rian segera mengkahiri panggilannya dengan Riri dan mematikan ponselnya. Ia tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun untuk saat ini.
"Hah? Jaringan putus-putus? Memangnya ini di kampung?" gumam Riri saat melihat sambungan itu sudah berakhir begitu saja.
Rian menikmati kegelisahannya seharian ini hingga ia merasa lelah sendiri dan tertidur. Ia bahkan tidak tahu jika Tuan Felix sudah pulang dan menemuinya di kamar.
"Dia tidak ke kampus?" gumam Tuan Felix.
Melihat Rian tertidur sangat pulas, Tuan Felix tidak membangunkan Rian. Ia memilih untuk mandi dan berganti pakaian.
Menyadari Rian masih belum bangun, Tuan Felix segera kembali ke kamar Rian. Ia mendekati Rian yang tengah tertidur pulas. Baru saja tangannya akan menyentuh punggung Rian, Tuan Felix melihat sebuah obat tidur di atas nakas.
"Rian, Rian, bangun!" ucap Tuan Felix sambil mengguncang tubuh Rian.
Tuan Felix beberapa kali memanggil dan mengguncang tubuh Rian. Saat Rian membuka matanya, Tuan Felix segera menyadarkan Rian.
"Rian, ini Papa. Apa yang terjadi?" tanya Tuan Felix sambil kembali mengguncang tubuh Rian.
"Hemmm," jawab Rian sambil memejamkan matanya kembali.
"Rian bangun! Rian," ucap Tuan Felix yang kembali mengguncang tubuh Rian.
Rian menggeliat dan perlahan membuka matanya. Matanya memang terasa berat namun ia berusaha keras.
"Rian, apa yang kamu lakukan?" tanya Tuan Felix.
Rian belum menjawab. Ia masih mengumpulkan kesadarannya. Sementara Tuan Felix terus mengguncang tubuh Rian berkali-kali. Hingga akhirnya Rian benar-benar sadar.
__ADS_1
"Rian, kamu kenapa? Kenapa kamu sampai minum obat tidur begini?" tanya Tuan Felix.
"Pah, aku tidak apa-apa. Aku hanya pusing saja," ucap Rian.
"Ini obat tidur. Bukan obat sakit kepala," ucap Tuan Felix.
"Banyak tugas yang belum selesai. Aku hanya pusing saja Pah," ucap Rian.
"Mandi! Papa tunggu kamu di ruang makan," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Rian segera bangun dan mandi. Ia benar-benar sudah sadar di bawah guyuran air.
"Pah," sapa Rian saat menemui Tuan Felix.
"Duduk!" ucap Tuan Felix ketus.
"Maaf Pah. Aku hanya butuh istirahat," ucap Rian.
"Tidak begini Rian. Papa minta kamu cerita. Ada apa?" tanya Tuan Felix lagi.
"Aku bingung harus mulai dari mana," ucap Rian.
"Apa kamu ke kampus hari ini?" tanya Tuan Felix.
"Tidak Pah," jawab Rian sambil menggeleng.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Aku sedang tidak fokus," jawab Rian.
"Baru hari ini," jawab Rian.
Rian masih tetap menunduk. Ia tidak berani menatap Tuan Felix. Dari nada bicaranya yang begitu dingin, ia tahu jika Tuan Felix sedang sangat marah padanya.
"Karena Riri?" tanya Tuan Felix.
"Bukan Pah," jawab Rian.
"Bukan?" tanya Tuan Felix.
Rian menggelengkan kepalanya.
"Apa karena wanita itu lagi?" tanya Tuan Felix.
Rian menahan sesak dadanya. Ia tahu wanita yang Tuan Felix maksud adalah Maudi. Ingin sekali ia menjelaskan semuanya. Namun ia bingung harus seperti apa cara penyampaiannya. Ia bahkan takut jika Tuan Felix juga tidak percaya padanya.
"Pah, apa Papa percaya padaku?" tanya Rian.
"Tentang apa?" tanya Tuan Felix.
"Papa percaya kan kalau aku tidak mungkin merendahkan wanita?" tanya Tuan Felix.
"Papa mengajarkanmu hal baik meskipun Papa bukan orang baik. Papa percaya kamu akan tumbuh menjadi anak yang baik," ucap Tuan Felix.
"Maudi menuntutku untuk menikahinya," ucap Rian sambil menunduk.
__ADS_1
"Kamu menghamilinya?" tanya Tuan Felix.
"Tidak. Tidak sama sekali. Aku hanya terjebak," jawab Rian.
"Apa maksudmu terjebak? Apa kamu tidak sadar saat melakukan hal busuk itu?" tanya Tuan Felix.
"Bukan Pah, bukan begitu." Rian segera menceritakan semua kejadian yang ia alami saat itu.
"Kamu bodoh! Kenapa kamu mau menandatangani surat itu?" tanya Tuan Felix.
Kali ini nada suara Tuan Felix sudah meninggi. Rian semakin takut dan tidak berani menatap wajah Tuan Felix.
"Aku tahu aku salah Pah. Tapi ini sudah terlanjur. Aku mohon bantu aku Pah. Aku tidak mau menikah dengan Maudi. Demi Tuhan aku tidak melakukan semua itu," ucap Rian.
Rian juga menceritakan tentang kedatangan Maudi dan ayahnya.
BRAAAAK.
Tuan Felix menggebrak meja. Hal itu membuat Rian semakin takut. Namun ia pasrah karena memang ini adalah resiko yang harus ia terima.
"Apa jaminannya kalau kamu memang tidak melakukan semua itu?" tanya Tuan Felix.
"Aku memang tidak punya bukti. Tapi aku rela mati detik ini juga kalau sampai aku membohongi Papa," jawab Rian.
"Aku tidak percaya kalau kamu bisa sebodoh itu Rian. Aku tidak mengerti apa isi di kepalamu saat itu," ucap Tuan Felix sambil membuang muka.
"Pah, aku tahu aku bodoh. Aku salah. Tapi aku hanya punya waktu sampai besok," ucap Rian.
"Bukankah kamu ingin menikah dengan wanita itu? Mungkin ini jawaban dari setiap harapanmu," ucap Tun Felix dengan sinis.
"Tidak Pah. Setelah kejadian itu aku sudah tidak pernah menginginkan Maudi lagi. Dia sudah mengkhianatiku," ucap Rian.
"Sudah Papa bilang, jauhi wanita itu! Kenapa kamu susah sekali melupakan dia?" ucap Tuan Felix.
"Pah, aku salah. Aku salah. Tapi aku mohon bantu aku! Aku tidak mau menikah dengan Maudi. Mimpiku masih sangat panjang," ucap Rian.
Rian berlutut dan memohon di kaki Tuan Felix. Ia berharap jika Tun Felix bisa membantunya. Hanya Tuan Felix harapan Rian saat ini. Ketakutan Rian benar-benar dirasakan oleh Tuan Felix. Melihat Rian seperti itu, Tuan Felix ikut runtuh.
"Bangunlah!" ucap Tuan Felix.
"Pah, aku tidak mungkin membohongi Papa," ucap Rian sambil menatap lekat wajah Tuan Felix.
"Tenanglah. Tuhan tidak tidur. Yang benar pasti akan selamanya benar," ucap Tuan Felix berusaha menenangkan Rian.
Tuan Felix sendiri merasa tidak yakin jika ia bisa membantu Rian. Pasalnya, Maudi memegang bukti kuat. Selain itu, Maudi keguguran. Tidak ada yang bisa dibuktikan karena tidak ada bayi yang ada dalam perut Maudi.
"Pah, aku takut." Rian terlihat penuh beban.
"Rian, tidurlah. Istirahat! Kamu sudah lelah. Besok kamu ada jadwal?" tanya Tuan Felix.
Rian mengangguk. "Aku ada jadwal pagi, Pah."
"Berangkatlah ke kampus. Semakin lama kamu tidak masuk, semakin banyak materi yang tertinggal." Tuan Felix mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi ayahnya Maudi meminta aku dan Papa ke sana," ucap Rian.
"Kamu tidak bersalah dalam kasus ini. Biarkan dia ke sini lagi. Papa yang akan menghadapi wanita itu," ucap Tuan Felix tegas.
__ADS_1
Hati Rian sakit melihat bagaimana Tuan Felix membelanya. Ia benar-benar merasakan kasih sayang yang begitu tulus untuknya.
Aku menyesal telah bersikap seperti ini. Aku janji akan selalu mengikuti apa kata Papa. Aku tahu semua yang Papa katakan memang untuk kebaikanku. Pah, maafkan aku. Aku menyesal.