
Rian hanya diam dan menunduk saat mendengar ucapan Tuan Felix. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rian mengerti arah bicara Tuan Felix.
"Pah, besok kita ajak Narendra dan Naura jalan-jalan yu! Besok kan Kak Mia dan Kak Dion kerja, Mama Helen dan Papa Wira juga belum pulang." Rian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Lihat besok ya!" ucap Tuan Felix.
Mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Sama-sama merebahkan tubuhnya dan beristirahat. Mencoba menikmati liburan ini tanpa beban apapun.
"Mia, hari ini jangan bawa cucu kembarku ke kantor ya!" pinta Tuan Felix.
"Kenapa?" tanya Mia.
"Biar Papa yang bawa mereka jalan-jalan," ucap Tuan Felix.
Rian yang mendengar kalimat itu langsung tersenyum lebar. Ia senang saat tahu kalau hari ini akan keluar rumah. Meskipun ia belum tahu apakah Mia akan mengizinkannya atau tidak.
"Mau kemana Pah?" tanya Mia.
"Ya kemana aja. Terserah nanti mereka maunya kemana," jawab Tuan Felix.
Mia menatap suaminya untuk meminta persetujuan. Setelah melihat Dion menganggukkan kepalanya, Mia mengiyakan.
"Tapi hati-hati ya Pah. Mia meminta orang untuk menjaga kalian tidak apa-apa kan?" tanya Mia.
Tuan Felix mengangguk. Mengiyakan tanpa keberatan sama sekali. Mia memang benar, keamanan anak kembarnya memang harus menjadi prioritas utama. Apalagi ia juga menyadari kalau ia sudah tidak muda lagi. Jangankan menjamin keselamatan cucunya, menjamin keselamatannya saja ia tidak yakin bisa.
Terlihat wajah bahagia Narendra dan Naura saat mereka tahu kalau hari ini mereka akan main bersama Rian.
"Om, kita mau kemana?" tanya Narendra.
"Kemana saja asal kamu senang," jawab Rian.
"Om, mampir dulu ke rumah Dandi dan Yaza ya! Aku mau main lagi dengan mereka," pinta Naura.
"Izin sama Opa dulu ya!" ucap Rian.
Rian sengaja melemparkan permintaan itu pada Tuan Felix. Sebenarnya ia senang jika anak Sindi dan Maya juga ikut main. Hanya saja, ia takut kalau Tuan Felix akan melarangnya karena alasan keamanan.
"Boleh," jawab Tuan Felix.
Bukan hanya Narendra dan Naura, tapi Rian juga tampak senang. Perbedaan usia belasan tahun itu justr menjadikan Rian senang jika bersama mereka. Rian bukan hanya menganggap mereka keponakan, namun Rian juga merasa kalau mereka adalah obat dari segala kegundahan dirinya.
__ADS_1
Bersama keempat keponakannya, Rian mengunjungi salah satu tempat bermain terbesar di kawasan itu. Pengawasan dari orang suruhan Mia nampak begitu ketat meski tidak terlalu dekat.
"Kamu memang om yang hebat Rian. Pria yang sangat menyayangi anak-anak. Aku yakin kelak saat mereka tumbuh dewasa, kamu adalah orang yang mereka cari untuk menjadi teman curhat. Karena kamu menyenangkan," gumam Tuan Felix dengan botol air mineral di tangannya.
Puas bermain, mereka meminta Rian untuk belanja mainan sebelum pulang. Semuanya memilih satu mainan untuk dibawa sebagai oleh-oleh dan kenangan.
"Dari mana kamu punya uang?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah membayar semua mainan itu.
"Aku masih ada uang jajan dari Papa," jawab Tuan Felix.
Rupanya Rian tidak suka menghamburkan uang yang diberikan oleh Tuan Felix. Sempat akan diganti, namun Rian menolak. Ia ingin memberi kenamgan untuk keempat keponakannya dengan uangnya sendiri. Meskipun bukan hasil keringatnya.
"Mau kemana lagi?" tanya Tuan Felix.
"Kita pulang dulu ya! Besok-besok main lagi," jawab Rian yang seolah mewakili suara keempat keponakannya.
"Yakin?" tanya Tuan Felix.
"Yakin dong. Iya kan?" tanya Rian pada keempat keponakannya.
Mereka seperti yang mengerti maksud Rian. Meskipun masih ingin bermain dan mengunjungi beberapa tempat lain, namun mereka mengiyakan pernyataan Rian.
"Rian, papa mau nonton sebentar ya sama anak-anak. Mereka pasti mau," ucap Tuan Felix.
"Ke bioskop sebentar saja ya! Setelah itu kita pulang," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Sebenarnya Rian senang karena ia memang masih ingin bermain dengan keponakannya. Jarang-jarang ia punya moment seperti ini. Biasanya yang menjadi temannya adalah tumpukan buku. Kini ia merasa sedang menjadi manusia normal seperti kebanyakan orang.
"Rian," ucap Maudi dengan terkejut.
Rian tidak mengucapkan kata apapun. Ia hanya menatap Maudi tidak percaya saat kepergok berduaan bersama pria yang jelas-jelas bukan Rey. Ia merasa dunia begitu sempit. Berniat melupakan Maudi dengan kedatangannya ke Indonesia, rupanya salah. Ia justru bertemu dengan Maudi di Indonesia.
Perlahan tangan Maudi yang bergandengan dengan pria di sampingnya itu dilepaskan. Namun, Rian terlanjur tahu apa yang terjadi diantara mereka.
"Rian, ke sini sebentar! Aku ingin bicara," ucap Maudi sembari menarik tangan Rian.
Rian melepaskan tangan Maudi meskipun ia tetap mengikuti wanita itu.
"Dia hanya teman SMAku. tidak lebih," ucap Maudi menjelaskan.
__ADS_1
"Aku tidak bertanya tentang dia. Jadi tidak perlu menjelaskan siapa dia di hadapanku. Apalagi di belakangnya seperti ini," sindir Rian.
Rian tidak terlalu polos seperti yang dipikirkan Maudi. Mana mungkin mereka hanya berteman jika nonton berdua dan bergandengan. Menyebutnya sebagai teman tapi tidak berani di hadapan pria itu langsung.
"Aku hanya tidak mau jika kamu berpikiran macam-macam tentang aku," ucap Maudi.
"Kamu yang bilang jika aku bukan siapa-siapa kamu. Bahkan kita tidak berteman sama sekali. Lalu kenapa aku harus memikirkan kamu?" ucap Rian.
"Ya paling tidak kamu tidak perlu mencari muka di depan Rey dengan memberikan gosip murahan yang tidak jelas kebenarannya," ucap Maudi.
"Gosip murahan? Maaf aku tidak tertarik. Masalah Rey, tanpa aku beri tahu dia akan tahu dengan sendirinya. Waktu akan menjawab siapa kamu di depan Rey. Aku tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Permisi," ucap Rian.
Maudi terkejut saat melihat Rian dengan sikap dinginnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Rian bisa melakukan hal ini padanya. Padahal yang ia tahu kalau Rian masih sangat mencintainya. Sebenarnya Rian juga tidak tahu apa yang mendorongnya untuk sangat berani di hadapan Maudi.
"Apa katanya?" tanya Tuan Felix saat Rian sudah kembali.
"Tidak penting Pah," jawab Rian.
Meskipun penasaran, namun Tuan Felix tidak ingin terlihat kepo. Ia melanjutkan langkahnya untuk menonton bioskop dengan keempat cucunya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Tuan Felix meyakinkan.
"Aku tidak apa-apa Pah," jawab Rian.
"Kenapa dari tadi diam saja?" tanya Tuan Felix.
"Opaaa, jangan berisik." Protes Narendra.
"Tuh kan," ucap Rian sembari menyimpan telunjuknya di depan bibirnya.
Tuan Felix harus kembali menyimpan rasa ingi. tahunya yang begitu besar. Ia memilih melanjutkan nonton film anak bersama keempat cucunya.
"Kita kemana lagi Opa?" tanya Dandi.
"Sekarang kita pulang ya!" jawab Tuan Felix.
Dandi dan Yaza mengucapkan terima kasih dan memberikan pelukan pada Rian dan Tuan Felix bergantian, saat mereka sudah diantar kembali ke rumahnya. Mereka menceritakan perjalanan hari ini yang sangat menyenangkan dengan Rian kepada ibu mereka.
Dengan bangga Dandi dan Yaza juga menceritakan pada orang tuanya tentang hadiah yang diberikan oleh Rian. Bahkan mereka tidur dengan memeluk mainan barunya.
Sebuah pesan ucapan terima kasih juga diterima Rian dari Sindi dan Maya. Pesan yang ia terima setidaknya berhasil menyingkirkan kejadian buruk yang dialaminya hari ini. Ya, walaupun untuk sementara waktu. Karena pada akhirnya Rian kembali sakit hati saat ia sudah di kamarnya.
__ADS_1
Kenapa harus ketemu sama Maudi sih? Cukup Rian! Jangan gila. Kamu sudah melihat Maudi menyakitimu berkali-kali. Jangan katakan jika kamu masih mencintai Maudi. Lalu Rey? Apa aku harus memberi tahu Rey tentang ini? Ah tidak! Rey tidak akan percaya. Tapi Rey adalah sahabatku juga, walaupun itu dulu. Kasihan dia. Kasihan? Dia saja tidak kasihan padaku. Dia tega bersama Maudi saat tahu aku sudah ditinggalkan. Masih pantaskah dia menjadi seorang sahabat?