Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Cita-cita VS cinta


__ADS_3

Minggu ini Mia akan berangkat ke Jerman. Tidak bersama Dion seperti biasanya. Kali ini ia berangkat sendiri. Meninggalkan suami dan anaknya untuk beberapa hari ke depan.


Saat ini bisnisnya memang sedang bagus. Beberapa pekerjaan yang bekerja sama dengan perusahaan luar negeri membuat Mia harus pintar mengatur waktu.


Seperti saat ini, Dion tidak ikut dengan Mia bukan Dion tidak mau. Tapi ia harus menangani semua pekerjaan di kantornya. Belum lagi, seminggu setelah Mia pulang dari Jerman, Dion akan berangkat ke negara lain untuk urusan bisnis juga.


Mereka benar-benar mengatur waktu agar anak mereka tidak mau jika keduanya pergi sedangkan urusan kantor dan anaknya terbengkalai.


"Hati-hati sayang," ucap Dion sebelum Mia benar-benar berangkat.


"Iya A. Aa juga hati-hati ya!" ucap Mia.


Penerbangan Mia kali ini benar-benar membuat Mia tidak bisa tidur. Ia memikirkan apa yang akan ia sampaikan saat bertemu dengan Riri nanti. Untuk urusan pekerjaan, Mia sudah sangat tahu apa yang akan ia bahas. Namun untuk bicara dengan Riri, ia sendiri tidak yakin jika wanita itu mau bertemu dengannya.


Setelah sampai di Jerman, pelukan hangat penuh kerinduan ia dapatkan dari ayah yang selalu menyayanginya sepenuh hati. Mia begitu bahagia saat melihat Tuan Felix tersenyum senang melihat kedatangannya.


"Papa sudah lama menunggu?" tanya Mia.


"Tidak sayang. Tidak ada kata lama untuk menunggu anak kesayangan Papa yang cantik ini," ucap Tuan Felix sambil mengusap kepala Mia.


Di rumah, Mia selalu menjadi ibu dan istri yang begitu dewasa. Di kantor, Mia dituntut untuk menjadi seorang pemimpin. Namun saat bertemu dengan ayahnya, ia akan berubah menjadi anak kecil yang sangat manja.


Bersama Tuan Felix ia selalu menjadi anak yang paling bahagia. Tuan Felix selalu menganggap Mia anak kecil yang harus dimanjakannya. Hal itu tentu membuat Mia selalu merindukan momen itu.


"Jam berapa besok meetingnya?" tanya Tuan Felix saat mereka sampai ke rumah Tuan Felix.


"Jam delapan sudah ada di lokasi Pah," jawab Mia setelah meneguk segelas air yang diberikan Tuan Felix.


"Papa akan menemanimu besok," ucap Tuan felix.


"Tidak perlu. Papa ke kantor saja," ucap Mia.


"Kenapa? Kamu malu kalau Papa ikut ke kantor?" tanya Tuan Felix.


"Tidak, tidak. Bukan begitu Pah. Mia mau besok Papa temani Mia untuk bertemu dengan Riri," jawab Mia.


"Bertemu Riri? Mpus?" tanya Tuan Felix.


"Iya," jawab Mia.


"Untuk apa?" tanya Tuan Felix.


Tuan Felix merasa ada yang berbeda saat Mia memanggil Riri tidak dengan sebutan Mpus seperti biasanya. Apa mungkin pertemuan Riri ada hubungannya dengan perbedaan sebutan untuk Riri?

__ADS_1


"Mia hanya ingin memastikan bagaimana perasaan dia untuk Rian. Sepertinya Rian masih sangat berharap padanya," jawab Mia.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Tuan Felix.


"Apanya?" Mia balik bertanya.


"Apa harapanmu dengan jawaban yang akan Mpus berikan?" Tuan Felix memperjelas pertanyaannya.


Dari jawaban yang Mia berikan, Tuan Felix dapat mengambil kesimpulan. Ternyata Mia sudah tidak terlalu berharap dengan Riri. Mungkin karena sudah cukup lama Riri tidak merespon perasaan Rian setelah kejadian itu.


Hanya aku dan Rian yang masih sangat berharap pada Mpus.


Tanpa menunjukkan rasa sedihnya, Tuan Felix kembali berbincang dengan Mia. Tapi kali ini bahasannya tidak lagi tentang Riri. Tuan Felix menanyakan kabar perusahaan dan cucu kembarnya.


Sudah cukup lama Tuan Felix tidak berkunjung ke Indonesia. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Ah, sebenarnya bukan terlalu sibuk, ia berusaha menyibukkan diri saja. Rasanya ia belum siap jika ke Indonesia ternyata takdir mempertemukannya dengan Shelin.


"Apa kabar Shelin?" tanya Tuan Felix tiba-tiba.


Mia mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Tuan Felix.


"Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaan Papa?" tanya Tuan Felix lagi setelah Mia tidak menjawab pertanyaannya.


"Kenapa Papa tiba-tiba bertanya tentang Shelin?" tanya Mia.


Mia menghela napas panjang. Mereka baik-baik saja? Bahkan setelah kejadian itu Shelin menghilang dari Jakarta cukup lama. Mereka belum sempat bertemu lagi sampai saat ini. Lalu bagaimana mungkin mereka baik-baik saja?


"Ya, mereka baik-baik saja." Mia tersenyum pada ayahnya.


Mungkin memang karena jawaban itu yang bisa menyelamatkan Mia dari rentetan pertanyaan yang lain. Dan benar saja, dengan jawaban itu, Tuan Felix hanya mengangguk dan bernapas lega.


Malam ini Mia beristirahat. Rasa lelahnya membuat Mia tidur dengan nyenyak. Ia sampai tidak tahu jika malam ini Tuan Felix datang menemuinya. Pintu kamar Mia yang tidak dikunci membuat Tuan Felix bisa dengan mudah masuk ke kamar Mia.


"Kamu pasti lelah anak hebat. Maafkan Papa yang terlambat menemukanmu. Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga dan memberikan kasih sayang Papa sejak kamu bayi. Tapi Papa janji, sejak saat itu sampai kapanpun kasih sayang Papa tidak akan pernah habis untukmu." Tuan Felix mengusap lembut kepala Mia.


Mia hanya menggelisik tanpa membuka matanya. Wajah Mia yang cantik saat sedang tidur, mengingatkannya pada Bu Ningsih, ibu kandung Mia. Wanita yang Tuan Felix cintai sampai saat ini.


"Sudah lama aku tidak ke Bandung," ucap Tuan Felix.


Kota dimana Bu ningsih dimakamkan. Ia segera menghubungi orang yang ada di Bandung. Orang yang selama ini ia tugaskan untuk merawat rumah dan makam Bu Ningsih.


Tuan Felix bisa tersenyum senang saat menerima kabar jika semuanya terurus dengan baik. Beberapa tahun terakhir ia memang tidak pernah mengunjungi makam Bu Ningsih. Tapi untaian doa tidak pernah ia ucapkan untuk wanita yang sangat ia cintai itu.


Malam ini beberapa pekerjaan sengaja Tuan Felix kerjakan di rumah. Berharap besok bisa pulang lebih awal untuk menemani Mia bertemu dengan Riri. Saking sibuknya, ia sampai ketiduran di ruang kerjanya.

__ADS_1


Mia yang tidak tahu Tuan Felix tidur di ruang kerja berpikir jika ayahnya sudah berangkat ke kantor tanpa membangunkannya. Namun saat Mia akan berangkat, ia melihat mobil ayahnya masih terparkir di garasi. Mia kembali ke rumah dan mengecek ayahnya ke kamar. Tidak ada. Bahkan ranjangnya begitu rapih.


"Papa kemana ya?" gumam Mia.


Mia mencoba menghubungi Tuan Felix dengan sambungan telepon. Ia mengernyitkan dahinya saat mendengar dering ponsel yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Perlahan Mia membuka pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Ia terkejut saat melihat ayahnya baru menggeliat saat mendengar suara pintu uang terbuka.


"Ya ampun Papa," ucap Mia.


"Ah, jam berapa ini?" tanya Tuan Felix saat melihat Mia sudah rapi.


Melihat jam yang sudah siang, Tuan Felix bergegas untuk mandi dan bersiap. Sementara Mia sudah berangkat karena ia tidak mau terlambat dengan pertemuan itu.


Mia tersenyum senang saat semua meeting berjalan lancar hari ini. Tapi ia tidak bisa terlalu senang karena masih ada meeting kedua untuk hari besok. Memanfaatkan sisa waktunya, Mia menunggu Tuan Felix untuk mengantarnya bertemu dengan Riri.


Sesuai rencananya, ia ingin menemui Riri saat ke Jerman. Anggap saja sambil menyelam minum air. Bagaimanapun Rian butuh jawaban Riri. Seandainya Riri sudah tidak mau kembali dengan Rian, Mia memiliki tanggung jawab untuk membuat Rian menerima semua kenyataan itu.


Namun ternyata semua itu berbeda. Tidak seperti yang Mia pikirkan sebelumnya. Riri menerima dengan baik kedatangannya dan Tuan Felix. Obrolan hangat di awal pertemuan membuat Mia masih berusaha menebak. Sampai akhirnya Riri mengakui perasaannya.


Masih ada cinta yang begitu besar di hatinya. Namun ia berusaha menyembunyikan dari siapapun dengan harapan perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Namun pertanyaan Mia membuatnya terbuka untuk mengakui rasa yang tersisa.


"Lalu kenapa kamu mengabaikan Rian jika rasa itu masih ada?" tanya Mia.


"Aku merasa tidak pantas untuk bahagia saat tahu jika Shelin terluka hanya untuk melihat Mas Rian bahagia denganku. Rasanya aku terlalu jahat," ucap Riri.


"Tapi Shelin sudah mundur. Rian juga sedang berusaha untuk memperjuangkanmu," ucap Mia.


"Aku tidak yakin dengan hubungan kita ke depannya. Pasti akan sangat banyak hujatan jika publik tahu hubunganku dengan Mas Rian," ucap Riri.


Mia diam. Memang benar apa yang dipikirkan Riri. Bukan hanya Riri sebenarnya. Siapapun wanita yang dekat dengan Rian akan menjadi bahan hujatan. Publik pasti akan menilai jika wanita itulah yang menyebabkan hubungan Rian dengan Shelin berakhir.


"Lalu kamu menutup kesempatan untuk Rian?" tanya Mia.


"Mungkin saat ini iya," jawab Riri.


"Saat ini? Berarti nanti?" tanya Mia.


"Saat ini aku sedang kuliah lagi. Mungkin dua tahun lagi selesai. Jika selama dua tahun Mas Rian datang dan meyakinkanku atas perasaan itu, mungkin jawabannya akan berbeda." Riri nampak menghela napas begitu dalam.


"Kalau ternyata tidak?" tanya Mia.


Riri tahu dua tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi harapan Rian sejak dulu yang ingin menikah muda. Besar kemungkinan Rian tidak akan sanggup menunggu waktu selama itu. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan cita-citanya demi cinta yang mungkin telah patah.

__ADS_1


Saat ini Riri hanya ingin menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang pemimpin yang kompeten. Ia memilih melanjutkan kuliahnya sesuai dengan bidang yang ia geluti saat ini. Mengabaikan urusan cintanya sementara waktu. Sambil mengobati lukanya agar patah hatinya perlahan sembuh kembali.


__ADS_2