Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Pus, maaf.


__ADS_3

Rian dan Mia semakin asyik bercerita. Apalagi saat Naura dan Narendra ikut meramaikan panggilan itu. Seperti biasa, panggilan akan berakhir jika kedua anak kembar itu menangis meminta Rian untuk segera ke Indonesia.


"Kalian selalu membuatku rindu," gumam Rian saat panggilan itu sudah berakhir.


Rian melihat jam. Ia segera bergegas. Bersiap untuk berangkat lebih pagi dan bertemu dengan Riri. Rian memutuskan untuk lebih sering bertemu dengan Riri. Ia merasa jika saat mumet seperti ini, Riri adalah orang yang bisa membuatnya lupa dengan semua masalah dalam hidupnya. Ya, meskipun itu hanya sementara, tapi paling tidak ia bisa tertawa saat bersama Riri.


"Pus," panggil Rian saat melihat Riri di kantin.


"Mas Rian katanya masuk siang. Kok jam segini sudah di kampus?" tanya Riri.


"Sengaja. Mau bertemu denganmu," jawab Rian.


"Buat apa?" tanya Riri.


"Nagih bunga hutang yang belum lunas," jawab Rian.


"Memang dasar rentenir," ucap Riri.


Mereka berdua tertawa. Rian menatap Riri dengan dalam. Ia meyakinkan dirinya sendiri jika cicilan itu tidak mungkin sampai lunas. Karena ia akan selalu mencari tahu tentang kehidupan Riri.


"Jadi kapan mau bayar cicilan?" tanya Rian.


"Yang mana lagi sih Mas? Aku rasa aku sudah membahas semuanya deh," ucap Riri.


"Emm, dari mana ya?" ucap Rian sambil berpikir.


"Mas, kalau sudah tidak ada yang mau dibahas ya sudah. Jangan dipaksa mencari informasi," ucap Riri.


"Eh ada, ada. Kamu berapa bersaudara?" tanya Rian.


"Aku hanya memiliki seorang Kakak. Ya, meskipun dia tidak menganggapku sebagai adik. Tapi di kartu keluarga aku masih adiknya," ucap Riri.


"Kamu belum move on ya?" tanya Rian serius.


"Mungkin begitu Mas. Atau mungkin aku juga tidak akan move on dari kasus itu. Aku bahkan merasa kisah cintaku hanya usai sampai detik itu," ucap Riri.


"Kamu hebat ya!" ucap Rian.


"Apanya yang hebat?" tanya Riri.


"Meskipun ceritamu miris, tapi kamu masih bisa makan dengan lahap. Juara," ucap Rian sambil mengacungkan jempol tangannya.


"Eh, justru yang sedang sedih itu butuh banyak makan. Menangis dan bersedih itu membutuhkan banyak energi. Kalau tidak makan banyak, ya siap-siap di infus. Tinggal pilih aja mau yang mana," jawab Riri.


Rian hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Riri. Ia selalu kagum pada Riri yang bisa mengatasi perasaannya. Ia yakin setiap kali Riri membahas tentang masa lalunya, pasti ada luka yang kembali terbuka. Namun Riri bisa menceritakannya dan terlihat tenang.


Kapan aku bisa seperti kamu, Pus? Aku juga ingin bercerita dan membuat hatiku lebih tenang. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.

__ADS_1


"Rian," panggil suara lembut yang selalu menggetarkan hatinya.


"Ma-Maudi," ucap Rian gugup.


"Kamu sedang makan?" tanya Maudi.


"Tidak. Aku hanya menemani Riri," jawab Rian.


"Menemani? Kamu pikir pembantu itu anak kecil sampai-sampai ke kantin saja harus kamu temani. Pembantu kok manja," ucap Maudi.


Riri menatap wajah Maudi dengan penuh kekesalan. Rian menggenggam tangan Riri. Berusaha menenangkan Riri agar tidak terjadi masalah di kantin.


"Kalau Mas Rian mau, kenapa tidak. Mau aku seperti anak kecil, mau aku pembantu, Mas Rian tidak mempermasalahkan semua itu kok. Lagi pula Mba Maudi juga hanya mantan Mas Rian kan? Jadi sudah tidak berhak mengatur Mas Rian lagi," ucap Riri dengan santai.


Jantung Rian seoalah berhenti berdegup. Ia tidak menyangka jika Riri bisa sesantai itu menghadapi Maudi yang ocehannya sangat menyakitkan.


"Kamu ini anak baru. Jangan macam-macam! Dasar pembantu tidak tahu diri," ucap Maudi.


Tangan Maudi melayang nyaris mengenai pipi Riri. Namun Rian menangkapnya dan menghempaskannya.


"Jaga ucapan dan perbuatan kamu Maudi. Ini kampus, tempat belajar. Bukan tempat untuk rusuh," ucap Rian.


"Kamu membela dia?" tanya Maudi kesal.


Napas Maudi sudah tidak beraturan. Ia nampak sedang tersulut emosi dengan pembelaan Rian untuk Riri. Ia tidak menyangka jika Rian bisa berpaling darinya.


"Jadi kalian sudah pacaran?" tanya Maudi.


"Kami tidak pacaran. Tapi Mba jangan kaget ya kalau tiba-tiba nanti aku dan Mas Rian sebar undangan," ucap Riri.


Disaat Maudi nampak semakin emosi, Riri nampak semakin santai. Riri bahkan masih duduk dan terus menghabiskan makanannya.


"Aku tidak yakin kamu akan bertaha. Kamh pasti akan menangis kalau tahu apa hubungan antara aku dengan Rian yang sebenarnya," ucap Maudi dengan sinis.


"Memangnya apa hubungan kalian sebenarnya? Kalian pacaran lagi? Atau selingkuh?" tanya Riri.


"Lebih dari itu," ucap Maudi.


"Cukup Maudi! Jangan mengarang cerita! Aku dan kamu tidak lebih dari seorang teman saja," ucap Rian kesal.


Merasa Rian dan Maudi semakin saling menyudutkan, Riri memilih untuk meninggalkan kantin. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh tentang masalah keduanya.


"Aku ke kelas dulu. Kalian selesaikan saja permasalahan kalian berdua. Kalau mau bertengkar, jangan ajak-ajak aku. Bebanku sudah terlalu banyak," ucap Riri sambil meninggalkan kantin.


Maudi memaki Riri dengan berbagai ucapan kotor. Namun Riri hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh. Ia terus berjalan meninggalkan Maudi dengan begitu santai.


"Maudi, cukup!" bentak Rian.

__ADS_1


Maudi diam dan menatap Rian dengan mata yang berlinang. Hatinya sakit. Ini pertama kali Rian membentak Maudi. Selama ini, Rian hanya akan menghindar saat Maudi bersikap separah apapun.


"Kamu sudah berubah Rian. Kamu jahat," ucap Maudi dengan menutup wajahnya.


Air mata Maudi tidak bisa dibendung lagi. Namun sayangnya Rian yang sekarang sudah bukan Rian yang ia kenal dulu. Pria yang paling tidak tega saat melihat air matanya, kini justru pergi begitu saja saat ia tengah menangis karena ulah Rian.


"Aku harus menjelaskan semuanya pada Riri. Permisi," ucap Rian.


Maudi mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Ia merasa Rian benar-benar sedang menantangnya. Ia berjanji akan membuat perhitungan dengan Rian.


Pergilah Rian, pergilah. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan Riri. Kamu hanya milikku. Riri tidak bisa memilikimu selama ada aku di dunia ini.


Meninggalkan Maudi yang masih menangis dengan segudang kekesalannya, Rian mencoba untuk tidak peduli pada Maudi. Ia benar-benar mencari Riri. Rian yakin jika saat ini Riri sedang menangis karena ucapan Maudi yang sangat keterlaluan.


"Pus," ucap Rian.


"Mas, kenapa ke sini? Pergi! Aku tidak mau nanti Mba Maudi marah-marah lagi di sini," ucap Riri.


"Kamu tidak menangis?" tanya Rian yang mengabaikan usiran Riri.


"Untuk apa?" tanya Riri dengan santai.


"Aku tahu ini semua salahku. Aku minta maaf karena melibatkanku dalam masalah ini. Aku janji tidak akan membiarkan Maudi bersikap seperti ini lagi," ucap Rian penuh rasa bersalah.


"Mas tenang saja. Aku tidak mempermasalahkan semua itu. Aku sudah kebal dengan rasa sakit. Mas tahu kan luka terparahku seperti apa? Aku bahkan kehilangan cinta dan sayang dari semua orang saat itu. Padahal mereka keluargaku sendiri. Lalu Mba Maudi? Mau menyakitiku? Masih kalah jauh," ucap Riri sambil tertawa.


Rian hanya menatap Riri. Wajah itu, tersenyum indah meskipun menyimpan seribu luka. Ia benar-benar merasa semakin bersalah.


"Tidak seharusnya aku ada dalam hidupmu," ucap Rian.


"Mas mau pergi dari hidupku? Silahkan! Aku tidak pernah meminta untuk bertahan atau pergi. Kecuali Mr. Aric. Aku butuh Mr. Aric untuk membuktikan pada dunia jika aku bisa. Kalau Mas mau pergi, silahkan. Mas lakukan apa yang Mas inginkan," ucap Riri.


Rian diam. Ia tidak tahu apa yang sudah ia katakan. Tapi pada kenyataanya ia memang harus pergi. Semakin ia dekat dengan Riri, Maudi akan semakin menyakiti Riri. Dan Rian tidak bisa melihat semua itu.


"Pus, mungkin ini bukan pilihan tepat. Tapi untuk saat ini, aku harus menjauh darimu. Aku tidak mau Maudi menyakitimu," ucap Rian.


Riri diam. Ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku yakin keputusan Mas yang terbaik. Tidak masalah Mas," ucap Riri.


Senyum Riri membuat langkah Rian semakin berat untuk pergi menjauh. Bagaimanapun Rian selalu merasa nyaman saat berada dekat Riri. Namun apa yang sudah terjadi di kantin, membuat Rian membuat keputusan gila.


Ya, tentu gila. Karena dengan seperti itu, ia akan kehilangan orang yang selalu membuatnya bahagia dan tenang. Tapi paling tidak, ia tidak akan membuat Maudi menyakiti Riri lagi.


Pus, maaf. Aku bukan tidak ingin menjadi temanmu lagi. Tapi aku tidak bisa mengendalikan sikap Maudi. Kedekatan kita hanya akan menyakitimu Pus. Aku takut kuliahmu terganggu hanya karena ulah Maudi.


"Aku begini karena aku peduli padamu. Aku tidak mau kamu tersakiti," ucap Rian.

__ADS_1


"Aku mengerti Mas," ucap Riri.


__ADS_2