Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kemana dia?


__ADS_3

Rian dan Tuan Felix menghabiskan malam ini dengan kegelisahan yang tak kunjung usai. Rian yang berkali-kali mengganti posisi tidurnya ternyata tak kunjung terlelap.


Sama dengan Rian, Tuan Felix juga masih belum bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjangnya. Segelas kopi hitam yang sudah tidak terlalu panas itu masih utuh. Ia masih menikmati aroma kopi yang menurutnya bisa menenangkannya.


Setelah pikiran Tuan Felix sedikit tenang, ia menyimpan kopi itu dan merebahkan tubuhnya. Kopinya sengaja tidak ia minum karena takut tidak bisa tidur. Masalah ini saja sudah cukup membuatnya sulit tidur.


"Rian, kamu terlalu baik pada wanita itu. Tidak seharusnya kamu membantu dia. Dia itu ular. Licik," gumam Tuan Felix.


Keesokan paginya baik Tuan Felix mengecek kondisi Rian. Seperti yang dikatakan Tuan Felix bahwa hari ini Rian harus pergi ke kampus dan Rian menurutinya. Pagi ini Rian sudah siap dengan laptopnya.


"Sarapan dulu!" ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


Keduanya berjalan menunu Ruang makan. Tuan Felix menepuk bahu Rian.


"Fokus dengan kuliahmu!" ucap Tuan Felix.


Rian hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tidak tahu harus bicara apa. Sedangkan Tuan Felix bersikap seolah tidak terjadi apapun dengan mereka.


"Pulang jam berapa?" tanya Tuan Felix.


"Jam dua Pah," jawab Rian.


"Makan yang banyak. Belajar yang fokus," ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," jawab Rian.


Rian menghabiskan sarapan tanpa selera. Ia hanya membuat perutnya kenyang meskipun lidahnya tidak menikmatinya sama sekali.


"Papa tidak ke kantor?" tanya Rian memastikan.


"Tidak. Hari ini aku mau istirahat," jawab Tuan Felix.


Istirahat macam apa yang Tuan Felix maksud? Sepertinya itu hanya anonim saja. Rian ingin sekali meminta maaf karena sudah membebaninya. Namun sayang Tuan Felix tidak memberinya celah untuk membahas masalah itu.


Sampai akhirnya Rian berangkat ke kampus, Tuan Felix tidak membahas tentang Maudi. Hatinya gelisah. Ia khawatir jika ayahnya Maudi akan melakukan hal yang sama pada Tuan Felix. Tapi Rian menepis pikiran buruk itu. Ia berusaha untuk tetap berpikiran positif.


"Mas Rian," panggil Riri.


"Hai Pus," ucap Rian.


"Mas Rian baik-baik saja, kan?" tanya Riri.


"Ya. Aku baik-baik saja," jawab Rian.


"Syukurlah. Aku ke kelas dulu ya!" ucap Riri.


Rian tidak menjawab, ia hanya melihat Riri semakin menjauh darinya.


"Pus," panggil Rian.


"Iya," jawab Riri sambil membalikkan badannya.


"Terima kasih ya!" ucap Rian.


"Untuk apa?" tanya Riri.


"Kata temanku kamu mengumpulkan tugasku hari kemarin. Kamu meminta bantuan siapa? Rey?" tanya Rian.

__ADS_1


"Boleh kan Mas? Mas Rey juga mau membantu kok," jawab Riri.


"Aku jadi malu sendiri. Kamu dan Rey baik sekali padaku," ucap Rian.


"Ah Mas ini. Kita kan teman," ucap Riri.


"Pus, aku---" Rian menjeda ucapannya.


"Kenapa Mas?" tanya Riri.


"Ah tidak," ucap Rian.


Rian mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Riri. Rasanya Riri sudah terlalu baik padanya. Rian tidak ingin kembali melibatkan Riri dalam masalahnya.


"Mas butuh teman cerita?" tanya Riri.


"Tidak. Aku mau ke kelas," jawab Rian.


Riri menatap Rian dengan perasaan bingung.


"Ya sudah aku juga mau ke kelas ya!" ucap Riri.


"Iya," jawab Rian pelan.


Rian melihat kepergian Riri sampai akhirnya wanita itu sudah tidak ada lagi dalam penglihatannya. Ia memutuskan untuk ke kelas dan mengikuti perkuliahan.


"Rey," ucap Rian saat ia berpapasan dengan Rey.


"Hai," sapa Rey.


Tanpa obrolan, Rey meninggalkan Rian dan duduk di bangkunya. Rian mengikuti Rey dan duduk di sampingnya.


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi," ucap Rey tanpa melihat Rian walau hanya sebentar.


"Rey, aku titip Riri ya! Aku tahu kamu akan menjaga Riri dengan baik," ucap Rian.


Rey mengalihkan pandangannya. Ia menatap Rian dengan sangat dalam.


"Apa maksudmu? Apa kamu merasa Riri milikmu? Hingga kamu harus menitipkannya padaku setelah kamu menjauhinya," ucap Rey.


"Kamu jangan begitu Rey. Aku tidak ingin kita bertengkar hanya karena perempuan. Sudah cukup kita tutup masa lalu kelam itu. Aku harap untuk saat ini kita tidak harus kembali saling dingin satu sama lain," ucap Rian.


"Jadi maumu apa?" tanya Rey.


"Aku hanya ingin kamu jaga Riri. Itu saja," ucap Rian.


"Pertanyaanku, kamu itu siapanya Riri?" tanya Rey.


"Aku temannya. Aku hanya ingin dia bersama orang yang baik dan tepat. Dia harus bahagia, itu saja. Tidak lebih," jawab Rian.


"Dan kamu akan bahagia bersama Maudi? Begitu?" tanya Rey.


Rian menelan salivanya dengan susah payah. Ia benar-benar merasa dadanya sakit. Apa yang akan terjadi pada Rey kalau seandainya dia tahu kalau Maudi harus dinikahi oleh Rian?


"Rey, aku tidak tahu apa yang harus katakan padamu. Terlepas apapun alasannya, aku sangat berharap Riri bahagia. Itu saja," ucap Rian.


Belum usai percakapan keduanya, dosen sudah masuk. Rian kembali ke bangkunya dan menunda bahasannya dengan Rey. Dosen di depan mata, materi sudah dimulai. Namun pikiran Rian melayang pada Tuan Felix.


Papa sedang apa ya? Apa Maudi dan ayahnya datang menemui Papa? Lalu bagaimana kalau ayahnya Maudi kasar pada Papa? Aku tahu Papa kecewa saat ini. Pah, maafin aku ya.

__ADS_1


Tuan Felix memang sangat kecewa. Namun ia tidak pasrah. Siang ini, ia mengunjungi rumah sakit dimana maudi sempat dirawat. Informasi ia kumpulkan, tapi hasilnya mengecewakan. Tanda tangan Rian sudah menjadi bukti kuat yang tidak bisa ditepis lagi.


"Pah," sapa Riri.


"Eh, Pus. Kamu tidak kuliah?" tanya Tuan Felix.


"Sudah selesai. Aku hanya ada satu mata kuliah pagi tadi. Papa kenapa? Sakit?" tanya Riri khawatir.


"Tidak, tidak." Tuan Felix menggeleng.


"Lalu Papa sedang apa?" tanya Riri.


"Papa sedang periksa. Ya hanya sekedar general chekup saja seperti biasa," ucap Tuan Felix menyembunyikan kebohongan.


"Gimana hasilnya Pah?" tanya Riri.


"Papa baik-baik saja. Hasilnya sangat baik," jawab Tuan Felix.


"Syukurlah Pah," ucap Riri.


"Oh ya kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Tuan Felix.


"Aku sedang mengambil obat untuk Mr. Aric," jawab Riri.


"Mr. Aric sudah kembali?" tanya Tuan Felix.


"Sudah beberapa hari yang lalu Pah," jawab Riri.


"Ya sudah cepat pulang. Papa tidak mau nanti kamu dihukum oleh Mr. Aric," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah. Aku duluan ya!" ucap Riri.


"Hati-hati," ucap Tuan Felix.


Pertemuan Tuan Felix dengan Riri berhasil mengguratkan senyum di bibir pria yang tengah gelisah itu. Ingin sekali ia membagi cerita dengan wanita baik itu. Namun sayangnya ini bukan waktu yang tepat. Tuan Felix segera pulang. Ia tidak tahu kalau Rian sudah menunggunya di rumah.


"Papa dari mana?" tanya Rian yang khawatir saat melihat Tuan Felix datang.


"Papa dari luar. Ada perlu sebentar. Ayo kita masuk!" ajak Tuan Felix.


Keduanya masuk ke dalam rumah. Rian tahu Tuan Felix sedang berbohong. Namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas semua itu.


"Pah, makan dulu ya!" ucap Rian.


"Ah Papa masih kenyang. Kamu saja ya!" ucap Tuan Felix.


"Kalau Papa tidak makan, aku juga tidak akan makan. Aku hanya ingin makan dengan Papa," ucap Rian.


"Ya sudah ayo!" ucap Tuan Felix.


Keduanya makan bersama. Seperti tadi pagi, mereka sama sekali tidak membahas tentang masalah Maudi. Sampai akhirnya malam larut, Rian ataupun Tuan Felix sama sekali tidak membahas masalah itu.


"Maudi dan Papanya datang ke sini tidak ya?" gumam Rian sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Dalam posisi yang sama, Tuan Felix juga sebenarnya memikirkan hal yang serupa.


"Kenapa wanita itu tidak berani datang lagi ke sini? Apa dia menyerah? Tidak mungkin. Dia pasti sedang menyiapkan strategi licik. Aku harus berhati-hati," gumam Tuan Felix.


Rasa lelahnya kali ini bukan fisik, tapi psikis. Tuan Felix selama ini memimbing Rian dengan penuh kasih sayang dan harapan yang besar. Namun kini, harapannya hampir sirna. Ia benar-benar takut jika Rian benar-benar jatuh dalam perangkap Maudi.

__ADS_1


"Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu. Rian anakku. Aku tidak boleh membiarkan Rian berjuang sendirian," gumam Tuan Felix lagi.


__ADS_2