Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Remahan kue kering


__ADS_3

"Pus, hallo." Rian beberapa kali memanggil Riri saat Riri lama tidak menanggapi ucapan Rian.


"Eh iya Mas, halo. Apa?" tanya Riri terkejut.


"Kamu tidur ya?" tanya Rian.


"Tidak Mas. Enak saja," jawab Riri.


"Terus kamu kemana dulu?" tanya Rian.


"Tidak Mas. Ayo tadi dilanjut lagi ngobrolnya," jawab Riri mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sedang merindukan orang tuamu ya?" tanya Rian.


"Iya Mas," jawab Riri pelan.


"Kenapa kamu tidak menghubungi mereka?" tanya Rian.


"Belum waktunya Mas. Aku hanya akan kembali setelah bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Aku ingin membuktikan jika untuk kuliah, aku tidak butuh bantuan dari kakak iparku," jawab Riri.


"Kakak ipar sama dengan mantan kekasih terindah," goda Rian.


"Mas, apaan sih. Tidak akan jadi mantan kalau terindah," ucap Riri.


"Iya juga sih. Terus mantan ter apa ya?" tanya Rian.


"Sudah ah jangan bahas mantan. Tidak ada gunanya. Hidup itu harus maju. Kalau kita bahas mantan artinya bahas masa lalu. Untuk apa masa lalu dibahas-bahas terus?" tanya Riri.


"Jadi maunya bahas apa nih? Masa depan?" tanya Rian.


"Ya harus begitu dong. Hidup itu harus terus maju menatap masa depan," jawab Riri.


Rian harus menghela napas panjang karena Riri tidak mengerti arah bicaranya kemana. Kode darinya sama sekali tidak diterima oleh Riri.


"Mas, sudah dulu ya! Mr. Aric memanggilku," ucap Riri.


Belum usai Rian berusaha memberi kode pada Riri, tapi panggilan itu harus sudah berakhir. Riab hanya pasrah. Ia mandi dan menenangkan dirinya. Setelah itu, ia segera pergi menemui Tuan Felix.


"Pah," ucap Rian.


Berkali-kali Rian memanggil Tuan Felix namun panggilannya diabaikan. Ia merasa sangat gelisah saat tidak menemukan keberadaan Tuan Felix. Setelah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya dan masih tanpa jawaban, Rian membuka pintu itu.


"Pah, maaf. Aku masuk ya!" ucap Rian.


Perlahan tangannya menyentuh pegangan pintu dan membukanya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Rian semakin gelisah saat melihat sebuah foto dan kertas yang sudah lusuh.


Rian meraih kertas itu. Ia mencoba membuka kertas dan foto yang ada di atas meja. Matanya terbelalak saat melihat foto itu. Dua foto yang berbeda. Satu foto pernikahan Tuan Felix. Dan satu lagi foto pemberitaan tentang perselingkuhan mantan istrinya.


"Jadi ini yang diinginkan oleh mantan istri Papa?" gumam Rian.

__ADS_1


Rian diam sebentar. Ia mencoba mengamati wajah wanita itu. Cantik, tidak terlihat seperti wanita yang jahat. Apalagi mengingat usianya yang tidak muda lagi. Mungkinkah mantan istri Tuan Felix masih berambisi dengan kehancuran ayahnya itu?


Saat Rian akan mencari tahu keberadaan Tuan Felix, teleponnya berdering. Ia melihat nama Riri terpampang di layar ponselnya.


"Pus, aku mau cari Papa dulu." Rian berusaha mengakhiri panggilan itu.


"Mas, Papa ada di sini. Nanti aku kirim fotonya," ucap Riri berbisik.


"Apa? Apa maksudmu Pus?" tanya Rian.


Tuut..Tuuut.. Tuuuut


Sambungan telepon terputus. Rian berusaha menghubungi Riri kembali. Ternyata Riri sudah mengirim foto lebih dulu. Rian terkejut saat melihat Tuan Felix berada di rumah Mr. Aric.


Rian segera menyusul ayahnya. Namun belum sampai ke rumah Mr. Aric, Riri sudah menghubungi Rian kembali dan memintanya untuk ke kantor Tuan Felix.


"Iya Pus," jawab Rian.


Tanpa pikir panjang, Rian segera memutar arah dan pergi ke kantor. Tidak ada Tuan Felix di sana. Namun ia melihat wanita itu di kantor Tuan Felix.


Rian menemui wanita itu. Merasa tidak mengenal Rian, wanita itu bersikap angkuh dan mengakui perusahaan itu akan menjadi miliknya. Ia sempat meyakinkan wanita itu bahwa ia akan mempertahankan perusahaan ayahnya. Namun tidak saat wanita itu menunjukkan bukti jika Tuan Felix akan segera menyerahkan perusahaan itu padanya.


"Rian," panggil Tuan Felix. "Ada apa kamu di sini?" lanjutnya.


Rian segera meminta penjelasan tentang semua yang terjadi.


"Ini sudah malam. Kenapa Papa masih di kantor?" tanya Rian.


"Papa, aku ini anak Papa. Aku berhak untuk ikut campur masalah ini. Karena ini tentang masa depanku. Aku tidak mau Papa mengambil keputusan dengan emosi yang tidak stabil," ucap Rian.


"Semua keputusan ini sudah penuh pertimbangan Ri. Papa sudah menyerah. Kita tidak mungkin bertahan dengan lima puluh persen ini. Belum lagi jika kita menolak keinginan dia, kita akan defisit lagi sepuluh persen. Mana bisa perusahaan bertahan? Lebih baik kita menyerah," ucap Tuan Felix.


"Tidak. Aku tidak akan menyerah. Biarkan kita bertahan di empat puluh persen. Kita akan mulai semuanya dari nol," ucap Rian.


"Tidak Rian. Kamu tidak akan bisa," ucap Tuan Felix.


"Aku bisa. Beri aku kesempatan Pah," ucap Rian.


"Tidak Ri," ucap Tuan Felix sambil menggeleng.


"Aku pasti bisa Pah. Tolong beri aku kesempatan. Sekali ini saja," ucap Rian.


"Tapi resikonya besar Ri," ucap Tuan Felix.


"Lebih baik kita kalah karena sudah ber'juang hingga akhir, dari pada kita menyerahkan diri." Rian masih tetap membujuk Tuan Felix.


"Paling tidak Papa masih bisa mengamankan masa depan kamu," ucap Tuan Felix.


"Pah, aku mohon." Rian berusaha memohon.

__ADS_1


Rian berhasil meyakinkan Tuan Felix. Ia kehilangan sepuluh persen lagi dari perusahannya. Wanita itu nampak berdecih. Mantan istri Tuan Felix itu meyakini jika perusahaan itu tidak akan bertahan dengan empat puluh persen yang tersisa.


"Papa tenang saja. Aku tidak akan membiarkan nama Papa masuk ke dalam berita atas kehancuran perusahaan ini," ucap Rian.


Wanita itu pergi dengan wajah yang begitu puas. Bahkan ia berkata jika sudah tidak sabar menanti kabar itu menyebar luas di media. Tuan Felix menunduk. Ia sudah pasrah. Ini hanya tentang waktu. Sekarang atau nanti, berita kebangkrutannya pasti akan tersebar. Bagaimana mungkin perusahaannya bisa bertahan?


"Kita pulang. Ini sudah malam," ajak Tuan Felix.


"Sebentar Pah. Aku bawa dulu berkas-berkas yang bisa dipelajari malam ini," ucap Rian.


"Tidak perlu. Kamu fokus kuliah saja Ri," ucap Tuan Felix menahan langkah Rian.


"Aku akan membagi waktuku. Papa tenang saja," ucap Rian.


Rian segera kembali setelah membawa dua berkas yang ia butuhkan.


"Ayo Pah," ajak Rian.


"Ayo!" ajak Tuan Felix.


Mereka pulang. Sebelum Tuan Felix meninggalkan kantor, matanya menatap lekat gedung yang menjulang tinggi itu. Sakit rasanya saat ia menyesali kecerobohannya. Namun semua sudah terjadi. Penyesalan tidak akan ada gunanya.


"Ri, maafkan Papa." Tuan Felix mencoba memecah keheningan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Pah. Yang harus kita lakukan hanya berjuang. Membuktikan jika kita bisa," ucap Rian.


Tuan Felix bisa saja menggunakan dana simpanannya untuk masa depan Rian. Namun ia tidak mungkin melakukan semua itu. Terlalu beresiko untuk masa depan Rian. Ia khawatir jika perusahaannya masih terus diintai oleh mantan istrinya.


"Pah, sudahlah. Ada Kak Mia dan Kak Dion kalau aku kembali ke Indonesia. Tapi ini bukan perkara keuangan lagi. Ini tentang harga diri. Dia akan merasa menang saat melihat nama Papa tersebar di media dengan berita kebangkrutan itu," ucap Rian.


"Tapi dia itu licik," ucap Tuan Felix.


"Aku akan turun langsung ke lapangan Pah," ucap Rian.


"Bukan itu yang Papa inginkan," ucap Tuan Felix.


"Papa bilang ingin membahagiakanku. Dan Papa harus tahu kalau kebahagiaanku kali ini adalah melihat perusahaan ini masih berdiri di bawah kendali Papa. Apapun hasilnya nanti, aku hanya ingin kita berjuang bersama. Papa bisa kan?" tanya Rian.


"Kamu tahu Papa di kantor dari Mpus kan?" tanya Tuan Felix.


"Iya," jawab Rian.


"Lagi-lagi Mpus menyelamatkan kita. Seharusnya jika kamu tidak ada, perusahaan sudah bukan milik Papa lagi. Mpus memang hebat," ucap Tuan Felix.


"Kan aku yang mencegah semua itu. Kenapa jadi Mpus yang hebat?" tanya Rian.


"Karena kalau Mpus tidak memberi tahu keberadaan Papa, kamu belum tentu bisa melakukan semua ini." Tuan Felix masih terus membanggakan Riri.


"Iya, iya. Aku tahu dia anak emas Papa. Apalah aku yang hanya remahan kue kering," ucap Rian.

__ADS_1


Sejenak Tuan Felix melupalan masalahnya. Ia tertawa begitu bahagia saat melihat Rian merasa tersaingi dengan perhatian dan kebaikan Riri.


__ADS_2