
Suasana di cafe semakin ramai. Kepala Rian yang sedang panas semakin tidak nyaman dengan kondisi itu. Setelah kepalanya tidak bisa menemukan jawaban atas apa yang ia pertanyakan, akhirnya Rian memutuskan untuk pulang.
Rian akan menunggu ayahnya sampai datang dan ia akan melanjutkan aksinya menjadi detektif itu saat di rumah. Ia memacu mobilnya lebih cepat. Rasanya sudah tidak sabar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Felix.
Sayangnya belum sempat Rian mandi dan gantu baju, Tuan Felix sudah berdiri di ambang pintu. Ia menyambut Rian dengan tatapan yang kurang menyenangkan.
"Papa," ucap Rian terkejut.
"Kenapa kamu di cafe itu sendirian? Apa kamu sedang ada masalah dengan Mpus? Atau dengan nilaimu?" tanya Tuan Felix to the point.
Rian membulatkan bola matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka jika Tuan Felix justru sedang melakukan hal yang sama dengannya.
"Ti-tidak. Aku hanya lapar," ucap Rian gugup.
"Lapar? Papa tidak melihat ada piring makanan di mejamu. Jangan mencoba untuk membohongi Papa, Rian!" ucap Tuan Felix.
"Tidak jadi pesan makan soalnya aku lihat Papa dan langsung pulang saat Papa sudah pulang," ucap Rian.
"Jadi tadi kamu melihat Papa?" tanya Rian.
Rian mengangguk. Hatinya berdebar tidak karuan.
"Kenapa kamu tidak menghampiri Papa? Duduk bersama dan memesan makanan jika memang benar-benar lapar?" tanya Tuan Felix sambil menarik topi Rian hingga menutupi wajahnya.
Rian menunduk dan memerperbaiki posisi topinya. Ia sudah tidak bisa mengelak. Maju kena mundur kena. Ia hanya bisa diam dan tanpa berani menatap bola mata Tuan Felix.
"Rian, Papa tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya kamu bisa cerita sama Papa. Kamu kan tahu kalau Papa akan selalu mendukung kamu, apapaun keadaannya. Baik itu soal asa, maupun rasa. Kenapa kamu selalu menyembunyikan semuanya dari Papa?" tanya Tuan Felix dengan nada sedih.
"Pah, tidak begitu. Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari Papa," ucap Rian dengan penuh rasa bersalah.
Rian pun memeluk Tuan Felix dan meminta maaf. Sementara Tuan Felix tersenyum lebar saat melihat Rian kalah.
Kamu tidak mungkin bisa mengalahkan Papa.
Senyum kemenangan itu kembali Tuan Felix sembunyikan saat Rian melepas pelukannya.
"Pah, maafkan aku ya!" ucap Rian lagi.
"Tidak masalah. Aku hanya tidak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama," ucap Tuab Felix.
"Tidak akan. Aku janji," ucap Rian.
"Mandi dan istirahat. Ingat kalau ada apa-apa kamu harus tahu ada Papa di sini. Papa selalu ada untukmu," ucap Tuan Felix.
"Pasti. Aku pasti akan selalu mengingat semua itu Pah," ucap Rian.
__ADS_1
Setelah kembali ke kamarnya, Tuan Felix bersandar di balik daun pintu. Ia merasa lebih lega saat akhirnya ia bisa memutar keadaan. Ada hal yang hampir saja Rian ketahui namun akhirnya ia bisa membuat Rian tidak curiga lagi padanya.
"Maaf Rian. Bukan karena Papa tidak percaya padamu, tapi kamu tidak perlu tahu tentang semua masa lalu Papa. Tugasmu hanya belajar dan mewujudkan semua impianmu. Ini urusanku. Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri," ucap Tuan Felix.
Ponsel Tuan Felix berdering kembali. Dengan wajah yang gelisah, ia menjawab panggilan itu. Setelah panggilan itu selesai, ia mengepalkan tangannya.
"Dasar wanita jahat! Masih kurang puas kamu mengacaukan hidupku?" gerutu Tuan Felix.
Tuan Felix kembali mengatur emosinya saat Rian mengetuk pintu kamarnya. Ia sudah tersenyum saat melihat Rian datang membawakan nampan berisi makan siang untuknya.
"Papa belum makan kan karena tadi hanya memata-mataiku?" goda Rian.
Tuan Felix tertawa dan segera menerima makan siangnya. Ia memang hampir melupakan makan siangnya. Selain karena pikirannnya sedang kacau, ia juga tidak berselera makan. Namun melihat perhatian Rian, ia memaksa dirinya untuk makan.
"Enak Pah?" tanya Rian.
"Enak," jawab Tuan Felix.
"Untuk makan malam, Papa mau makan apa?" tanya Rian.
"Kita makan di luar mau?" tanya Tuan Felix.
"Ayo Pah!" jawab Rian.
"Ke cafe biasa ya!" ucap Tuan Felix sebelum mereka berangkat.
"Iya Pah," jawab Rian.
Makan malam berdua dengan Tuan Felix membuat mereka merasa semakin dekat. Ya, memang jarang anak laki-laki seusia Rian masih begitu dekat dengan ayahnya. Namun begitulah Rian dan Tuan Felix.
Mungkin semua terjadi karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Rian yang benar-benar membutuhkan sosok seorang ayah dan Tuan Felix membutuhkan sosok seorang anak. Mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
"Papa harap kamu tidak malu bisa seperti dengan Papa. Meskipun mungkin nanti Papa sudah duduk di kursi roda," ucap Tuan Felix tiba-tiba.
"Papa jangan berpikiran begitu. Semoga kita tetap begini dalam keadaan sehat ya Pah," ucap Rian.
"Ri, Papa akan semakin tua. Kalau seandainya Papa tidak punya harta, apa kamu masih mau mengurus Papa yang sudah tidak punya apa-apa?" tanya Tuan Felix.
"Pah, apaan sih. Lebih baik sekarang Papa pesan makanan saja," ucap Rian.
"Jawab dulu," ucap Tuan Felix.
"Jadi Papa menganggap aku ini hanya butuh uang Papa? Harta Papa?" tanya Rian.
"Ri, Papa tidak bermaksud menyinggung kamu. Papa hanya takut jika masa tua Papa sangat buruk," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
"Aku disekolahkan bukan hanya sekedar untuk mengisi otakku. Tapi Papa sendiri yang bilang kalau aku harus mengisi hatiku. Orang yang berpendidikan tidak melulu harus rangking satu. Bukankah yang utama itu adalah rasa? Dan aku mempelajari itu Pah," ucap Rian.
"Jadi kamu tetap akan menyayangi Papa kan?" tanya Tuan Felix.
"Papa apa sih? Ya jelas Pah. Aku akan menyayangi Papa setulus Papa menyayangi aku. Bukankah aku juga tidak punya apa-apa sampai saat ini?" Rian balik bertanya.
"Kamu punya hati dan kasih Rian," ucap Tuan Felix.
"Dan itu semua warisan dari Papa. Aku menjadi seperti ini karena ajaran Papa padaku," ucap Rian.
"Aku sangat bangga padamu," ucap Tuan Felix.
Doakan Papa, Rian. Doakan agar Papa bisa segera keluar dari masalah ini. Papa takut jika ternyata Papa kalah. Papa tidak punya apa-apa selain kamu dan Mia. Tapi kamu? Papa belum bisa menyiapkan perusahaan untukmu.
"Kalau seandainya," Belum selesai Tuan Felix bicara, Rian sudah memotongnya.
"Cukup Pah. Tidak perlu berandai-andai tentang apa yang buruk. Aku lebih suka berandai-andai sesuatu yang baik. Ya, anggap saja sebagai doa." Rian menatap lekat Tuan Felix.
"Ri, satu kali lagi. Papa janji ini yang terakhir," ucap Tuan Felix memohon.
"Apa lagi Pah?" tanya Rian.
"Kalau seandainya kamu lulus kuliah, tapi Papa tidak bisa membangun perusahaan untukmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tuan Felix.
"Aku akan mencari kerja. Aku tahu itu tidak mudah, tapi bukan berarti aku harus menyerah. Aku yakin aku pasti akan dapat pekerjaan Pah," ucap Rian meyakinkan Tuan Felix.
"Kalau begitu kamu akan menjadi pekerja. Hanya seorang karyawan yang bisa direndahkan begitu saja. Belum lagi soal upah. Belum tentu gajimu sesuai dengan perjuangan kuliahmu selama ini," ucap Tuan Felix.
"Pah, harga diri seorang laki-laki adalah bekerja. Masalah hasil, hanya Tuhan yang berhak menilai. Kita hanya berusaha Pah. Sisanya hanya sabar dan syukur. Menjadi pekerja pun tidak masalah. Karena hal besar akan dimulai dari yang kecil," ucap Rian.
Tuan Felix tersenyum. Ia bangga dengan jawaban Rian. Meskipun hatinya masih gelisah, tapi setidaknya jawaban Rian bisa mengobati sedikit kegelisahan itu.
"Kenapa? Aku dewasa sekali ya Pah?" tanya Rian begitu percaya diri.
"Lebih ke tua sih. Ibarat buah yang sudah matang, kamu lebih mendekati busuk." Tuan Felix tertawa.
"Enak saja," ucap Rian.
Rian memang merasa kesal dengan olok-olokan Tuan Felix. Tapi ia senang saat melihat ayahnya sudah terlihat tertawa lepas.
"Sudah ah, pesan makan dulu." Rian berusaha menyudahi Tuan Felix yang masih tertawa saat beberapa orang yang memperhatikan mereka.
"Ya sudah ayo pesan makanannya," ucap Tuan Felix.
Tawa bahagia Tuan Felix hanya sebentar, kini ia kembali gelisah saat melihat mantan istrinya ada di cafe yang sama dengannya.
__ADS_1