
Tempat yang asing untuk Hiro. Ia pergi agar benar-benar sendiri. Meninggalkan ayah dan kakak kandungnya. Melupakan kuliahnya yang menurutnya sudah sangat tidak berarti lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Hiro sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Rekaman yang ia dengar terngiang di telinganya. Ia kembali menutup wajahnya karena merasa malu sendiri dengan semua yang sudah ia lakukan selama ini.
Shelin, Riri. Dua nama yang membuat Hiro merasa bersalah. Ia akan memperbaiki semuanya. Ia harus menyelesaikan masalah demi masalah yang dibuatnya. Seharusnya Hiro meminta maaf pada Shelin terlebih dulu karena jarak yang dekat. Namun kenyataannya, Hiro memilih untuk menemui Riri.
Sengaja karena Hiro menghindar dari Maudi sementara ini. Rasa kecewanya pada Maudi membuatnya enggan bertemu dulu dengan kakak yang sangat ia sayangi itu.
Hanya butuh waktu satu malam untuk memantapkan niatnya ke Jerman. Ia menemui Riri di sana. Nama Riri yang sudah besar di sana membuat Hiro dengan mudah menemukan keberadaan Riri. Namun sayangnya untuk menemui Riri ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Hiro harus mengatur jadwal dan melewati beberapa pemeriksaan dulu sebelum bertemu dengan Riri. Setelah ia menempuh semua proses, baru lah ia bisa bertemu dengan Riri.
"Hiro, apa kabar?" tanya Riri saat ia bertemu dengan Hiro.
Riri memang tidak pernah berubah. Ah, tidak. Sekarang Riri berubah. Ia jauh lebih ramah saat menyapa Hiro. Mungkin karena sudah tidak ada rasa yang harus ia jaga lagi.
"Ri, maafkan aku atas semua kebodohanku," ucap Hiro.
"Apa maksudnya?" tanya Riri.
Butuh beberapa waktu untuk Hiro memberanikan dirinya mengakui semua hal yang pernah ia lakukan. Ia sudah siap jika Riri akan memakinya atau bahkan menamparnya. Semua memang pantas ia dapatkan.
Tapi kenyataannya Riri tidak marah sama sekali. Ia hanya terkejut dengan hubungan antara Hiro dengan Maudi. Selebihnya Riri sama sekali tidak marah padanya.
"Kamu tidak marah?" tanya Hiro.
"Kamu datang di saat yang tepat Hiro. Di saat Mas Rian sudah bukan siapa-siapaku lagi. Jadi tidak ada alasan lagi untuk marah padamu. Aku hanya tidak menyangka saja jika kamu adalah adik Mba Maudi," jawab Hiro.
Hiro tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menatap Riri dengan penuh kebingungan. Rasa bersalahnya semakin besar saat melihat Riri begitu tulus. Begitu mudah Riri memafkan semua kesalahannya.
"Oh ya Mba Maudi apa kabar?" tanya Riri.
Pertanyaan yang membuat Hiro merasa sangat tertampar. Riri benar-benar berhati lembut dan tulus. Padahal sekarang Riri sudah menjadi seorang yang bisa melakukan segalanya. Bukan hal sulit jika ia ingin membalas semua kejahatan Hiro padanya.
"Kak Maudi baik," jawab Hiro pelan.
Merasa masih banyak waktu, Hiro memberanikan diri untuk bertanya tentang perasaan Riri pada Rian. Dan jawabannya sangat membuatnya sesak.
"Sebesar apapun rasa yang aku simpan untuk seseorang, sudah tidak ada hak lagi untuk ku memperjuangkannya. Aku hanya harus bahagia saat melihat Mas Rian bahagia. Dengan siapapun itu," ucap Riri.
"Kalau aku tidak jahat, mungkin kamu yang akan menikah dengan Rian. Maaf," ucap Hiro.
"Ah tidak. Bukan kamu. Ada hal yang memang membuat aku dan Mas Rian tidak bisa bersama. Jangan merasa bersalah seperti itu," ucap Riri.
Hiro memang tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua. Yang ia tahu adalah rasa itu masih ada untuk Rian. Seandainya bisa, ia ingin memperjuangkan Riri untuk Rian. Tapi apa kabar Shelin? Ah itu urusan nanti. Masih banyak PR yang harus ia tuntaskan.
Setelah selesai semua urusan dengan Riri, Hiro kembali ke Indonesia. Yang ia temui bukan Shelin. Tapi ia menemui Rian. Ia tahu Rian akan menghantamnya. Ia siap dan pasrah, karena memang banyak kesalahan yang sudah ia perbuat.
Sama halnya dengan Riri, Rian terbuka dan amu bertemu dengannya. Bahkan Rian meminta Manto untuk keluar dulu dari ruangannya. Tinggal mereka berdua yang ada di sana.
Hiro mulai bicara. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah pengakuan hubungannya dengan Maudi. Hiro tidak meminta maaf karena yakin Rian tidak akan memaafkannya.
"Aku sudah tahu itu," ucap Rian.
__ADS_1
Reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Hiro. Tidak ada kemarahan sama sekali.
"Lalu?" tanya Hiro.
"Lalu apa?" Rian balik bertanya.
"Kenapa kamu tidak menghajarku sekarang?" tanya Hiro.
"Untuk apa?" tanya Rian.
Hiro diam. Ia sama sekali tidak punya muka di hadapan Rian. Hingga akhirnya ia bertanya tentang hal yang sama pada Rian.
"Apa kamu masih mencintai Riri?" tanya Hiro.
Rian menatap Hiro dengan tajam. Lalu menunduk seolah tengah menahan gejolak dalam dadanya.
"Shelin sudah mengisi ruang hatiku. Kami akan segera menikah," jawab Rian.
"Aku tahu Shelin wanita yang sangat baik. Kamu pantas untuk memperjuangkannya. Aku turut bahagia. Tapi apakah aku boleh menggantikan posisimu untuk Riri?" tanya Hiro.
Tatapan Rian penuh kebencian saat mendengar pertanyaan Hiro.
"Aku hanya ingin Riri merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang kamu rasakan. Boleh?" tanya Hiro lagi.
Tidak menjawab, Rian justru membuang muka dan meminta Hiro untuk keluar dari ruangannya. Hiro tersenyum karena akhirnya ia sudah tahu rasa yang tersimpan dalam hati Rian untuk Riri.
"Laki-laki itu harus tegas. Kamu harus menentukan pilihan. Jika Shelin adalah wanita yang akan menemanimu seumur hidup, maka Riri berhak bahagia. Dan biarkan aku yang membahagiakannya," ucap Hiro.
"Keluar!" pinta Rian.
"Kalau begitu, mari bersaing untuk mendapatkan Riri lagi." Hiro menantang Rian.
"Ah tidak! Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin meyakinkanmu untuk mengakui bahwa kamu sudah benar-benar melepaskan Riri," ucap Hiro.
Hanya dalam hitungan detik, Rian berhasil menghantam wajah Hiro hingga tersungkur. Darah segar keluar. Tapi Hiro tidak bergeming Ia segera bangun dan kembali mendekat pada Rian.
"Jadi kamu sudah yakin untuk melepas Riri? Undang dia untuk datang ke pernikahan kalian. Biar aku yang akan mendampinginya nanti," ucap Rian.
Hantaman kedua kembali mengenai wajah Hiro. Rian benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia terbakar api cemburu saat Hiro semakin meyakinkannya jika Riri sudah bukan siapa-siapanya lagi.
"Keluar dari ruanganku!" ucap Rian sambil menunduk.
Keyakinannya untuk Shelin tiba-tiba runtuh hanya karena Hiro. Padahal sudah cukup lama ia membangun rasa untuk Shelin. Hanya karena kedatangan Hiro, semua jadi berantakan lagi.
"Asal kamu tahu, Riri masih mencintaimu. Ia masih sendiri. Tanpa menunggu kamu kembali, ia hanya berusaha mengobati luka yang tak kunjung sembuh. Jangan egois!" ucap Hiro sambil mengusap darah segar itu.
"Keluar kataku!" teriak Rian.
"Kalau kamu sudah bahagia, relakan Riri menemukan kebahagiaannya juga. Saat bukan tanganmu yang mengusap air matanya, maka aku siap untuk mengusap air mata itu. Aku rasa itu tidak salah sama sekali. Iya kan?" ucap Hiro.
Rupanya Hiro masih terus memancing Rian agar yakin dengan perasaannya. Bukan untuk kepentingannya, tapi justru karena ia ingin Rian yakin untuk memilih kebahagiaannya.
Jika Rian masih mencintai Riri, seharusnya Rian mengejar Riri. Yang terluka hanya Shelin. Sedangkan jika Rian mempertahankan Shelin saat hatinya masih untuk Riri, maka akan ada dua hati yang terluka. Rian dan Riri. Sementara Shelin mungkin akan bahagia. Tapi saat tahu perasaam Rian yang sebenarnya maka rasa bahagia itu akan terganti dengan kekecewaan.
"Masih ada waktu untuk berpikir. Perjuangkan apa yang memang ingin kamu perjuangkan. Pernikahan itu sekali untuk seumur hidupmu. Jangan sampai kamu menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Permisi," ucap Hiro.
__ADS_1
Manto segera masuk ke ruangan itu saat melihat Hiro keluar dengan wajah memar.
"Apa Bapak baik-baik,"
PRAAAANG.
Belum selesai Manto bertanya, Rian sudah melempar gelas hingga menghantam tembok. Serpihan kaca berantakan dan membuat Manto mengatupkan mulutnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia tidak bisa menenangkan Rian begitu saja. Takut jika ucapannya justru menambah kekesalan Rian.
"Saya permisi," ucap Manto.
Dengan cepat Manto segera keluar dari ruangan itu. Ia kembali ke ruangan Danu dengan tubuh yang gemetar.
"Bapak kenapa?" tanya Danu bingung.
Manto masih belum bisa menjawab pertanyaan Danu. Ia masih terkejut dengan sikap Rian. Tidak pernah ia melihat Rian semarah itu.
"Apa ada hubungannya dengan Pak Rian?" tanya Danu.
Manto masih tetap bungkam. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Danu segera pergi ke ruangan Rian. Namun tangannya tertahan oleh cengkraman Manto.
"Jangan Pak, jangan! Biarkan Pak Rian sendiri dulu," ucap Manto.
"Memangnya kenapa?" tanya Danu bingung.
Danu pun menceritakan apa yang ia lihat saat masuk ke ruangannya. Danu justru semakin khawatir dan segera pergi ke ruangan Rian. Manto yang khawatir ikut menyusul Danu dan memastikan semuanya sudah baik-baik saja.
"Pak Rian," panggil Danu.
Tidak ada jawaban.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Danu.
Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Danu masuk dan mencari Rian ke kamar mandi saat ia tidak menemukan Rian di sana. Tapi Rian memang tidak ada di ruangan itu.
"Pak Riannya mana?" tanya Danu pada Manto.
"Tadi di sini," jawab Manto.
Rian memang sudah pergi dari ruangan itu. Ia hanya meninggalkan ruangan yang berantakan. Bukan hanya pecahan gelas yang berserakan di lantai. Sebagian berkas juga sudah berhamburan. Hal itu membuat Danu sangat khawatir.
"Mau kemana Pak?" tanya Manto.
"Cari Pak Rian!" jawab Danu sambil berlari.
Manto ikut berlari mengejar Danu. Mereka berdua mengedarkan pandangan di sekitar parkiran. Tapi mobil Rian sudah tidak ada di sana.
"Kita kejar Pak?" tanya Manto.
"Kemana?" tanya Danu.
Manto hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri tidak akan mencari Rian kemana.
"Kemana Pak?" tanya Manto saat melihat Danu kembali ke kantor.
"Kerja," jawab Danu.
__ADS_1
Manto mengerutkan dahinya saat melihat Danu yang sudah semakin jauh meninggalkannya.
"Pak tunggu Pak!" teriak Manto sambil mengejar Danu.