
Malam ini Tuan Wira asyik bercerita dengan Rian. Sementara Nyonya Helen mengamati keduanya dari dalam rumah. Lewat jendela besar, senyum Nyonya Helen melebar. Rasa syukur ia panjatkan saat melihat Tuan Wira sudah mengalami banyak sekali perubahan.
"Terima kasih Rian," gumam Nyonya Helen.
Menyebut nama Rian, Nyonya Helen tiba-tiba ingat kedua cucu kembarnya. Mereka berpesan agar Rian pulang dan tidak menginap di rumahnya. Ia tidak mau jika Naura dan Narendra akan kecewa.
"Ri, sudah malam. Lebih baik kamu pulang ke rumah Dion. Naura dan Rendra pasti menunggumu," ucap Nyonya Helen.
Rian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah malam, apa mungkin Naura dan Narendra masih menunggunya? Padahal ia juga masih asyik bercerita dengan Tuan Wira.
"Kamu pulang saja," ucap Tuan Wira.
"Papa tidak akan rindu padaku?" goda Rian.
"Sama sekali tidak," jawab Tuan Wira sambil tertawa.
Bohong. Karena sebenarnya Tuan Wira masih sangat merindukan anak angkatnya itu. Bagaimanapun, Rian bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Namun ia juga tidak mau kedua cucu kembarnya kecewa saat menunggu Rian yang tak kunjung pulang.
"Ya sudah aku pulang. Besok pagi mungkin Papa Felix yang akan ke sini," ucap Rian.
"Untuk apa dia ke sini? Tidak perlu. Besok aku mau istirahat," ucap Tuan Felix.
"Pah, jangan begitu. Walau bagaimanapun, Papa Felix adalah teman Papa. Besan Papa juga," ucap Rian.
"Aku tidak mau Ri." Tuan Wira menolak kehadiran Tuan Felix.
"Ya sudah. Biar aku katakan untuk jangan ke sini. Papa jangan khawatir ya!" ucap Rian.
Tuan Wira mengangguk. Ia melambaikan tangan saat melihat Rian pamit dan meninggalkan rumahnya. Setelah Rian benar-benar pergi, Nyonya Helen membawa Tuan Wira kembali ke kamar.
"Ma, terima kasih ya!" ucap Tuan Wira sambil menggenggam tangan Nyonya Helen.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Nyonya Helen sambil menatap lekat wajah pria yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Terima kasih karena Mama selalu ada di samping Papa. Menerima dan mengurus Papa meskipun Papa sudah tidak berguna seperti ini," ucap Tuan Wira.
"Pah, jangan bicara begitu. Mama kan sayang Papa. Jadi sudah kewajiban Mama melakukan semua ini," ucap Nyonya Helen sambil memeluk Tuan Wira.
Rasa tenang semakin membuat Tuan Wira bersemangat dan yakin kalau ia akan sembuh kembali. Ia meminta untuk dijadwalkan terapi lagi. Nyonya Helen terlihat menangis haru saat melihat Tuan Wira yang begitu bersemangat.
"Pah, terima kasih." Nyonya Helen kembali memeluk Tuan Wira.
"Karena Papa mau berobat dan semangat lagi?" tanya Tuan Wira.
Nyonya Helen mengangguk dalam dekapan Tuan Wira.
Semua karena Rian, Ma. Anak itu yang membuat semangat Papa bangkit lagi. Rian memang anak baik. Kita beruntung bisa mengenalnya.
"Sudah malam Pah. Istirahat ya!" ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Tuan Wira.
Nyonya Helen meminta bantuan untuk memindahkan Tuan Wira agar bisa tidur di atas ranjangnya. Ia juga menyelimuti dan mengecup dahi suaminya dan mengucapkan selamat malam.
"Oh ya Mama tahu siapa Mpus itu?" tanya Tuan Wira.
"Tidak. Rian belum bercerita. Mama juga terkejut saat mendengar ceritanya. Sepertinya Rian lebih percaya dan nyaman saat bercerita dengan Papa. Makanya Rian tidak cerita pada Mama," ucap Nyonya Helen tanpa membuka matanya.
"Kamu sudah sangat mengantuk ya?" tanya Tuan Wira sambil tersenyum kecil.
Nyonya Helen hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Tuan Wira.
"Tidurlah!" ucap Tuan Wira.
Tuan Wira masih menatap langit-langit kamarnya. Ia benar-benar senang saat tahu lebih dulu dari pada Nyonya Helen tentang cerita Rian. Bayangan Rian semakin memenuhi ruang kepalanya sampai-sampai ia tidak tahu jam berapa ia benar-benar pulas.
Sementara di waktu yang sama, Rian tengah mengusap kepala kedua keponakan kembarnya. Rasa bersalahnya membuatnya tidak bisa tidur. Bagaimana tidak, saat Rian pulang, kedua keponakannya sudah tidur di kursi karena menunggunya pulang.
__ADS_1
"Maafkan om ya sayang. Om janji besok Om yang akan mengantar kalian pergi ke sekolah," ucap Rian.
Kini kepalanya tidak lagi memikirkan Naura dan Narendra, melainkan memikirkan Tuan Wira. Bayangan ayah angkatnya itu tiba-tiba memenuhi ruang kepalanya. Sakit rasanya saat melihat Tuan Wira yang begitu gagah dan produktif tiba-tiba harus berteman dengan kursi roda seperti itu.
Mengingat Tuan Wira, tiba-tiba perasaan Rian tidak enak. Rasanya ada yang mengganjal. Tapi apa ya? Rian mencoba mengingat apa yang membuatnya tidak enak hati.
"Astaga, Mpus." Rian segera keluar dari kamar kepomakam kembarnya itu.
Rian mencoba menghubungi Riri. Namun belum ada jawaban. Ia berusaha berpikiran positif. Berharap jika Riri benar-benar sibuk dengan pekerjaan di rumahnya atau justru sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Pus, maaf ya! Tadi aku sedang bersama Papa Wira. Dia adalah ayah angkatku juga," tulis Rian dalam pesannya untuk Riri.
Tidak lupa Rian menceritakan tentang siapa Tuan Wira dan bagaimana kondisina. Tidak lupa ia juga membela diri atas alasannya yang tidak menjawab panggilan dari Riri.
Setelah merasa lelah dengan hari ini, Rian merebahkan tubuhnya. Berharap segera tidur karena besok ia harus bangun lebih pagi. Tidak lupa ia mengatur alarm di ponselnya, agar bisa bangun tepat waktu dan bisa mengantarkan keponakan kembarnya ke sekolah.
Tidur terlalu larut membuat Rian bangun lebih siang dari rencananya. Alarm yang berdumber dari ponselnya sama sekali tidak membuatnya terganggu. Setelah ia cari tahu alasannya, karena ponselnya tertindih bantal. Jadi suaranya terdengar sangat kecil.
"Astaga, aku kesiangan." Rian segera bangun saat melihat waktu sudah siang.
Rian segera mandi dan keluar untuk menemui kedua keponakan kembarnya. Namun sayangnya mereka sudah berangkat ke sekolah.
"Yah, gagal deh." Rian duduk lemas dan mengambil segelas air lalu meneguknya hingga kandas.
"Memangnya ada apa? Apanya yang gagal?" tanya Tuan Felix.
"Aku mau mengantarkan Naura dan Rendra Pah," jawab Rian.
"Nanti kamu jemput saja. Mereka pasti senang," jawab Dion.
"Iya Kak. Nanti aku pasti jemput mereka. Sama Papa juga ya!" ajak Rian.
Tuan Felix menolak karena ia ingin pergi ke rumah Tuan Wira. Dengan ragu, Rian menjelaskan apa yang terjadi tadi malam. Dion terus melihat Tuan Felix. Ia takut jika hal ini akan membuat hubungan mereka menjadi tidak enak. Namun beruntunglah karena Tuan Felix sangat mengerti keadaan besannya itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu Papa juga ikut kamu saja," ucap Tuan Wira.
"Ok Pah," ucap Rian.