
Lama Dion terdiam untuk mencerna dan membayangkan apa yang tidak pernah terlintas di kepalanya itu. Sampai akhirnya lamunannya buyar saat mendengar dering ponsel di saku celananya.
"Mama," decak Dion.
"Angkat dong," ucap Tuan Wira.
"Pasti mau tanya jawaban ini. Males aku Pah," ucap Dion.
"Jangan begitu. Bisa-bisa nanti kamu disumpah jadi anak durhaka. Mau?" tanya Tuan Wira.
Dion menggeleng. Ia segera menjawab panggilan dari Nyonya Helen, karena memang benar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Nyonya Helen memang sering membahas tentang anak durhaka saat ada masalah dengannya. Sekecil apapun masalah itu.
"Katanya mereka hanya bertengkar biasa saja, Ma. Sudahlah biarkan saja. Nanti juga akur lagi," ucap Dion saat menjawab pertanyaan Nyonya Helen.
Ada rasa tidak puas saat mendengar jawaban Dion. Namun Dion terus meyakinkan Nyonya Helen kalau semuanya akan baik-baik saja. Dion tidak mau jika nanti Nyonya Helen akan sakit hanya karena memikirkan pacar-pacaran yang membuat Dion bergidik ngeri.
Setelah Nyonya Helen terus merengek meminta jawaban atas pertanyaannya, Dion menggunakan jurus pamungkasnya. Teman meeting sudah menunggu. Dengan sangat terpaksa, Nyonya Helen pun mengakhiri panggilannya.
"Aman," ucap Dion sambil mengusap dadanya.
"Bohong itu dosa. Apalagi bohongin ibu sendiri. Wah neraka pasti bagiannya," ucap Tuan Wira.
Wajah datar Tuan Wira membuat Dion mengerutkan dahinya. Bisa-bisanya ayahnya itu membahas tentang neraka tapi matanya fokus dengan layar laptopnya.
"Berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan," jawab Dion membela diri.
"Kebaikan mana yang dimaksud?" tanya Tuan Wira yang masih sibuk dengan laptopnya.
Merasa perdebatan ini akan alot, Dion segera pamit. Ia tidak mau membahas tentang neraka yang terlampau jauh. Kabur adalah jalan terbaik dibanding terus berdebat masalah neraka.
"Itu kan mobil Rian," ucap Dion saat ia sudah sampai ke parkiran.
Mobil Rian baru saja keluar dari parkiran kantor pada saat Dion baru masuk ke dalam mobil. Banyak pertanyaan yang membuat Dion tidak mengerti. Kenapa Rian pergi lagi? Atau dia tidak menemui Tuan Wira? Tapi kenapa? Atau justru itu bukan mobil Rian? Ia berniat untuk mengikuti mobik itu. Mencari tahu apakah itu Rian atau bukan.
Dion segera melaju. Berusaha mengikuti mobil yang ia curigai sebagai mobil Rian. Mobil itu sudah di depan mata. Ya, plat nomornya sama dengan mobil Rian.
"Aku harus cari tahu apa alasan Rian pergi lagi sebelum menemui Papa," gumam Dion.
Batu saja ia menginjak gas dengan kecepatan lebih, Mia meneleponnya dan mengabari jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Katanya penting," ucap Mia di balik sambungan telepon.
Mendengar kata penting, Dion mengurungkan niatnya untuk mengikuti mobil Rian. Ia berbelok dan kembali ke kantornya. Meskipun dengan perasaan dan kepala yang tidak tenang. Ada pertanyaan yang menuntut jawaban.
__ADS_1
Sementara di mobil itu, Rian justru tahu kalau Dion mengikutinya. Ia pun bingung alasan Dion berhenti mengikutinya. Tapi sudahlah. Yang penting sekarang Sindi sudah bersamanya. Mereka akan menemui Danu.
"Di depan belok kanan ya Ri," ucap Sindi.
"Iya," ucap Rian.
Dengan petunjuk dari Sindi, akhirnya mobil terparkir di pinggir jalan. Tapi ia sendiri belum tahu mana rumah Sindi. Karena mereka berhenti di samping sebuah warung.
"Ayo!" ajak Sindi.
"Iya Kak," jawab Rian.
Dengan penuh tanya, Rian hanya mengikuti Sindi kemanapun langkahnya pergi. Ia sudah merasa heran dengan Sindi yang membawanya ke daerah yang tidak bisa masuk mobil. Hanya beberapa motor yang lewat ke sana.
"Cape, Ri?" tanya Sindi.
"Tidak," jawab Rian yang baru tersadar dari kebingungannya.
"Tidak jauh kok. Di depan satu belokan lagi," ucap Sindi.
Di depan satu belokan lagi? Bahkan Rian sudah lupa menghitung berapa belokan yang sudah ia lewati. Namun karena tidak ingin melihat Sindi tersinggung, Rian hanya tersenyum dan terus mengikuti langkah Sindi.
Mata Rian menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sindi mengajaknya masuk tepat di depan rumah sederhana yang sangat jauh sekali dengan keadaan rumahnya dulu. Meskipun rumah itu memang paling mewah jika dibanding dengan rumah yang ada di sekitarnya.
"Kamu kenapa bawa Rian ke sini?" tanya Danu saat Sindi sedang membuat minum untuk Rian.
"Aku bertemu dengannya di kantor Papa. Maafkan aku Mas. Tapi aku harus menjelaskan semua ini pada Rian. Aku tidak mau Mia dan keluarganya salah paham. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sindi penuh harap.
"Terserah kamu saja," ucap Danu.
Jawaban yang jarang sekali keluar dari mulut Danu. Selama ini ia selalu tegas dengan jawabannya. Jika iya, iya. Kalaupun tidak, tidak. Tapi kali inia jawabannya abu-abu. Tentu karena bagaimanapun sumber masalah di sini adalah Nyonya Nathalie, ibu kandungnya sendiri. Tapi di sisi lain Danu juga merasa tidak nyaman dengan ketertekanan istrinya.
Sindi menentukan jawabannya sendiri. Ia pun menjelaskan semuanya pada Rian. Keadaan ekonomi yang berbeda dengan keadaannya dulu. Nyonya Nathalie tidak mau Nyonya Helen tahu keadaannya. Gengsinya terlalu tinggi untuk menyikapi keadaannya.
"Aku minta kamu jelaskan ini pada Mia ya!" ucap Sindi mengakhiri penuturannya.
"Lalu Mama? Kak Sindi tidak merindukan Mama?" tanya Rian.
"Belum saatnya. Aku tidak mau kalau sampai Mama Nathalie tahu. Urusannya akan terlalu rumit. Biarkan Mia yang menjelaskan semuanya pada Mama. Aku yakin Mama bisa menerima penjelasan Mia," jawab Sindi.
Beruntung Rian sudah cukup dewasa saat menyikapi masalah seperti ini. Ia hanya mengiyakan dan mencoba mengerti. Memposisikan diri seperti Sindi membuatnya menggelengkan kepala. Ia berada di tengah-tengah ranjau. Sulit sekali bergerak. Bergerak ke arah manapun hanya akan membuatnya terluka.
"Ya sudah aku pulang ya!" ucap Rian.
__ADS_1
Meskipun Danu tidak ikut menemani Sindi saat menceritakan masalah yang terjadi sebenarnya, tapi Danu bersikap sangat ramah saat Rian pamit. Ia bahkan menanyakan kabar Naura dan Narendra. Danu juga sedikit membahas tentang kantor baru milik Rian.
"Kamu hebat," ucap Danu.
"Aku hanya beruntung saja, Kak." Rian tersenyum dan menunduk hormat.
"Seandainya aku seberuntung kamu," ucap Danu.
"Kakak jauh lebih beruntung dariku," ucap Rian.
Danu diam. Untuk saat ini ia memang tidak seberuntung Rian. Namun saat Rian mengingatkannya tentang keluarganya, Danu tersenyum. Benar apa kata Rian. Sejauh apapun ia melangkah, ada keluarga yang selalu di sampingnya.
"Kalau menikah, jangan lupa undang aku ya!" ucap Danu sesaat sebelum Rian pergi.
Rian hanya mengangguk dan tersenyum malu. Ia selalu salah tingkah saat membahas tentang pernikahan. Bahkan setelah pulang dari rumah Sindi pun, ia beberapa kali tersenyum saat mengingat kata pernikahan.
Bayangan Riri selalu saja terlihat jelas dengan gaun menjuntai berwarna putih. Sentuhan make up tentu akan menambah kecantikan Riri. Ah, Rian mengusap wajahnya saat bayangan Riri terus menari di pelupuk matanya.
"Sabar Rian!" gumamnya.
Rian kembali ke kantor. Ia terkejut dengan kehadiran Dion dan Mia di kantornya.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Rian bingung.
"Jelaskan padaku kenapa kamu dan Sindi bertemu tanpa mengajakku?" Mia balik bertanya.
Rian menatap Mia dan Dion bergantian. Keduanya sedang menunggu jawaban Rian penuh harap. Tidak ada alasan untuk Rian menutupi semuanya. Sindi hanya tidak mau jika Mia bertemu dengan Danu. Bagaimanapun Danu adalah mantan suami Mia. Ia takut Dion salah paham.
Mia sempat menangis mendengar cerita Rian. Hatinya sakit saat sahabat yang dulu begitu dekat dengannya kini hidup susah. Padahal sekarang, Mia memiliki perusahaan sendiri. Ingin rasanya ia membawa Sindi dan menjamin hidup sahabatnya itu. Tapi ia tahu kalau itu adalah sebuah ketidakmungkinan.
"Kak Sindi hanya bilang kalau tidak mungkin melupakan sahabat sebaik Kakak," ucap Rian.
Tangis Mia semakin deras. Hal itu membuat Dion mendekat dan mengusap punggung istrinya.
"Apa kamu mau bertemu dengan Sindi?" tanya Dion.
Mia tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan penuh harap. Tapi ia sadar diri jika di rumah itu ada Danu. Tidak mungkin Dion mengizinkannya.
"Aku antar kamu ke sana nanti ya!" ucap Dion.
Jantung Mia berdebar begitu keras. Ia tidak menyangka jika jawaban itu yang ia dengar saat ini. Mimpi yang benar-benar terwujud. Mia segera memeluk Dion. Ia menangis di pelukan Dion.
"Terima kasih ya, A." Mia menangis terisak hingga membasahi kemeja suaminya.
__ADS_1
Meskipun hatinya berat saat mengucapkan kalimat itu untuk Mia, tapi terbayar dengan ekspresi Mia yang sangat bahagia. Bayaran yang setimpal untuk rasa kesal di hatinya. Masalah Danu, biar ia atasi nanti. Ada Rian, mungkin Rian juga tidak akan membiarkan Mia bertemu dengan mantan suaminya itu.