Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Rahasia besar


__ADS_3

"Kamu tidak kerja?" tanya Sindi.


"Iya nanti saja," jawab Rian.


"Gara-gara aku datang kerjaan kamu terganggu ya?" tanya Sindi yang merasa bersalah.


Rian menggeleng. Ia menjelaskan jika saat ini konsentrasinya memang sedang buyar. Dari sana, Rian mulai terpancing untuk bercerita. Meskipun di sana asa Manto, Rian tidak menutupi apapun. Ia mencurahkan semua rasa kecewanya terhadap keputusan Riri.


"Kamu sakit? Kecewa?" tanya Sindi.


Rian sama sekali tidak menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya dan menatap lekat Sindi. Mencari tahu maksud pertanyaan yang menurutnya Sindi sudah tahu jelas jawabannya apa.


"Kamu harus yakin kalau semua akan ada jalan keluarnya. Kamu harus yakin setiap rasa sakit akan diganti dengan rasa bahagia. Rasa kecewa akan berakhir dengan rasa yang indah saat kamu bisa mengendalikan diri," lanjut Sindi saat Rian belum sempat menjawab apapun.


Mendengar penjelasan Sindi, Rian hanya membuang muka. Ia merasa jawaban Riri adalah kalimat basi yang hanya digunakan untuk menguatkan orang-orang yang lemah.


Sindi tidak mau Rian terus merasa dirinya paling menderita. Ia kembali mengingatkan Rian tentang jodoh. Menurut Sindi, jodoh itu cerminan diri. Yang harus Rian lakukan saat ini adalah memperbaiki diri agar mendapat jodoh yang baik pula.


"Jadi menurut Kakak aku masih kurang baik? Tidak cocok sama Mpus?" tanya Rian.


Mendengar nama Mpus, Manto yang hanya mengenal nama Riri menahan tawa dan menatap Rian sebentar. Saat mata Rian menatap dirinya, ia segera meminta maaf dan kembali fokus dengan laptopnya.


"Bukan begitu. Tidak ada salahnya kan kalau kamu memperbaiki diri selama menunggu Riri kembali?" ucap Sindi.


Menunggu? Kata yang janggal di telinga dan hatinya. Kurang sabar apa saat Rian sudah berhasil menunggu Riri selama satu tahun. Dan sekarang ia kembali harus menunggu dengan waktu yang sama? Satu tahun? Itu bukan waktu yang sebentar. Rian tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Tapi bukankah menunggu itu harusnya dilakukan oleh perempuan? Bukankah laki-laki itu mencari?" tanya Rian.


Sindi menelan salivanya. Itu adalah kalimat yang sempat terucap dari mulutnya beberapa tahun yang lalu. Ia terkejut saat Rian masih mengingatnya. Kala itu, Rian baru saja mengalami patah hati terhebat dengan Maudi. Cara Sindi mengobati luka hati Rian adalah meyakinkan Rian kalau mencari penggantinya adalah cara yang paling tepat.


Rian mengikuti saran Sindi hingga ia berhasil menemukan Riri. Ia memang keluar dari masalahnya. Rasa sakit dan kecewa itu perlahan menjauh dan sirna. Semua berkat Riri, wanita pengganti yang mengobati luka hatinya.


Haruskah semua itu terulang? Apakah cara yang sama bisa Rian gunakan untuk menghilangkan rasa kecewanya saat ini? Sindi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak menginginkan itu semua. Namun sayangnya keyakinan itu menyelinap di dalam diri Rian.

__ADS_1


"Aku bisa mendapatkan penggantinya dengan cepat," ucap Rian.


"Jangan terburu-buru," ucap Sindi mengingatkan.


"Mpus harus tahu kalau aku tidak bisa diperlakukan seperti ini," ucap Rian.


"Ri, mencari pasangan itu untuk menciptakan kebahagiaan. Kalau niatnya hanya untuk melihat Riri sakit, kebahagiaan itu tidak akan kamu dapatkan." Sindi masih berusaha mengubah keputusan Rian.


Namun sepertinya Rian bersikukuh untuk mencari wanita lain yang bisa menyembuhkan lukanya. Apalagi saat Rian merasa jika keadaannya sekarang akan membuatnya lebih mudah untuk mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan.


"Ri, jangan sampai rasa kecewamu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri," ucap Sindi.


Rian diam. Ia melihat Sindi dengan lekat. kembali mencerna kalimat peringatan dari Sindi. Namun tiba-tiba keyakinannya itu muncul lagi saat bayangan Riri menari dalam ingatannya. Rasa sakit dan kecewa itu memicu Rian untuk keluar dengan cepat dari zona itu.


Merasa Rian semakin tidak bisa diarahkan, Sindi mengakhiri obrolannya. Semakin Sindi meyakinkan Rian dengan keputusannya untuk sabar menunggu, semakin Rian yakin untuk pergi dan mencari pengganti.


Menu makan siang yang datang membuat Rian teralihkan. Merasa tidak mau mengganggu, Manto izin untuk izin keluar kantor saat jam makan siang. Tanpa ingin menyakiti Sindi yang sudah mengirim kotak makan siang, Manto turut membawa menu itu keluar.


"Nanti saya makan di luar," jawab Manto sambil membawa kotak itu.


"Enak kan?" tanya Sindi saat mencoba memecah keheningan.


Rian hanya mengangkat jempolnya dan kembali lahap dengan makan siangnya. Rupanya Rian lapar dan lelah setelah meluapkan semua unek-unek yang selama ini simpan sendiri.


Sendiri? Tentu. Saat ini Rian hanya menyimpan masalahnya sendiri. Ia tidak berani cerita kepada siapapun. Bukan karena tidak percaya, tapi ia merasa semua orang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak mau menambahkan beban dirinya pada orang lain sekalipun itu Tuan Felix dan Mia.


Beruntung Sindi datang di saat yang tepat. Hingga Rian meluapkan semua yang menjadi beban itu padanya. Rasa sesak itu berangsur membaik meskipun sama sekali tidak membuatnya sembuh.


Sindi pamit pulang setelah makan siang. Ada Dandi yang pasti akan menunggunya di rumah. Sebenarnya itu hanya alasan Sindi saja, karena alasan sebenarnya Sindi ingin segera menghubungi Tuan Felix. Ia benar-benar tidak nyaman dengan pemikiran Rian yang diluar dugaan.


Saat Sindi pulang, ia segera menghubungi Tuan Felix. Menjelaskan apa yang menjadi kecemasannya. Namun sayangnya Tuan Felix merespon dingin kecemasannya itu.


"Kalau memang keputusan Rian seperti itu, ya sudah biarkan saja." Tuan Felix terdengar menarik napas panjang.

__ADS_1


Biarkan saja? Hal yang sama sekali tidak diprediksi oleh Sindi akan keluar dari mulut Tuan Felix. Apakah Tuan Felix marah? Ternyata kalimat itu memang sempat Tuan Felix terima dari Riri.


Riri memang tidak mengatakan hal serupa pada Rian. Tapi dengan jelas ia katakan ada Tuan Felix. Jika seandainya Rian tidak bisa menunggunya selama satu tahun, lebih baik Rian mencari penggantinya saja di Indonesia. Apa yang Riri sampaikan sepertinya sudah dapat Rian rasakan.


Riri yang memberinya waktu satu tahun lagi untuk menunggu, tahu kalau Rian akan begitu marah dan kecewa. Tapi saat ini Riri juga tidak punya pilihan lain. Ia hanya mengikuti keinginan Mr. Aric.


Apakah Riri tidak sakit? Tidak kecewa? Jawabannya tentu Riri jauh lebih sakit dan kecewa dibanding dengan Rian. Namun apalah dayanya yang tidak bisa menolak permintaan Mr. Aric.


Selain orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya, Mr. Aric saat ini sedang sakit. Mr. Aric meminta Riri menemani pengobatannya di negara lain. Sengaja menghindar agar tidak ada satu orang pun yang tahu.


Hanya Riri satu-satunya orang yang tahu sakit yang dialami Mr. Aric. Ia hanya berusaha menjadi orang yang tahu diri dan belajar membalas budi. Meskipun Mr. Aric tidak mengharuskannya tapi Riri cukup punya hati saat mendengar permintaan itu.


Meskipun berat, Riri segera mengiyakan. Bagaimanapun pria yang tengah sakit itu sudah mengubah hidupnya. Menumbuhkan semangat baru dalan hidup Riri yang sempat hilang saat itu. Lalu sekarang saat semangat hidup itu nyaris hilang dari Mr. Aric, mana mungkin ia membiarkannya begitu saja.


Jika saat ini Rian tengah memikirkan untuk mencari pengganti, hal yang berbeda tengah dipikirkan Riri. Saat ini hanya berusaha untuk menumbuhkan semangat hidup untuk Mr. Aric. Hari-harinya ia lewati dengan penuh beban.


Suatu malam, Riri melihat Mr. Aric terlelap dengan selang infus yang terpasang di kedua tangan Mr. Aric. Ia memastikan bahwa raga tua itu masih bernapas.


"Mr. Aric harus tetap bertahan. Aku belum sempat memberikan apapun untuknya," ucap Riri sambil mengusap sudut matanya.


Riri menjauh. Membiarkan Mr. Aric beristirahat. Ia duduk termenung di depang jendela. Menatap luas ke arah luar. Melihat dunia yang begitu indah. Bahkan ia merasa hanya dirinya yang menderita. Tapi tidak. Ia segera menggelengkan kepalanya.


Tenang Riri. Masih banyak yang jauh kurang beruntung darimu. Banyak-banyak bersyukur. Tentang Rian, Tuhan tahu jawabannya. Jika Rian sudah menemukan yang terbaik, maka Tuhan juga akan menyiapkan yang terbaik untukku.


Riri berusaha menenangkan dirinya sendiri. Meskipun pada kenyataannya ia tidak bisa tenang. Namun setiap kali dirinya ingin memaksakan diri untuk bertemu dengan Rian, ia menatap sosok berjasa yang sudah tak berdaya itu.


Ingin rasanya ia menjelaskan kalau kepergiannya demi nyawa seseorang. Tapi Mr. Aric memintanya untuk bungkam. Ia tidak ingin satupun orang tahu tentang keadaanya. Ia ingat betul saat Mr. Aric dengan napas tersenggal meminta Riri merahasiakan semuanya. Riri baru boleh mengatakan keadaan yang sebenarnya saat Mr. Aric benar-benar sudah pergi dari dunia ini.


Mendengar itu saja membuat hati Riri ketar ketir. Semuanya membuat Riri serba salah. Tapi saat ini, jujur saja kalau priorotasnya adalah Mr. Aric. Bukan menomorduakan Rian, tapi Riri yakin tentang takdir. Ia hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membahagiakan Mr. Aric di sisa usianya.


Seandainya Rian tahu tentang rahasia besar ini, mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu. Tapi Riri tidak bisa. Ia hanya bisa menangis tertekan saat Mr. Aric tertidur. Hal berbeda akan terjadi saat Mr. Aric terbangun. Riri akan menjadi gadis ceria yang terlihat tanpa beban.


Kebahagiaan Riri menjadi salah satu alasan Mr. Aric ikut bahagia. Cara Riri merawat Mr. Aric membuat pria tua itu yakin jika masih ada yang benar-benar peduli padanya. Selama ini yang ia tahu semua yang mendekatinya hanya karena uang yang ia miliki.

__ADS_1


Bagi Mr. Aric, hanya Riri yang tulus menyayanginya meskipun mereka berbeda negara dan tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Riri segera memburu Mr. Aric saat mendengar rintihan dari pria itu. Ia memijat kaki sebelah kanannya, karena kaki sebelah kiri sudah tidak bisa digerakkan sama sekali.


__ADS_2