
Pagi-pagi sekali Manto sudah bersiap dan berangkat ke kantor. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Rian. Ia khawatir Rian kembali sakit karena sudah bekerja lembur sendirian. Apalagi yang ia tahu Rian belum benar-benar sehat.
"Pagi, Pak." Rian menyapa dengan ramah.
Manto yang baru masuk ke dalam ruangan nyaris terjatuh saat terkejut dengan sapaan Rian.
"Pak Rian?" tanya Manto sambil memegang dadanya.
"Iya Pak. Ini saya," jawab Rian sambil tertawa.
Rian yang baru keluar dari WC membuat Manto terkejut. Apalagi saat Rian datang jauh lebih pagi dari biasanya. Bahkan hari ini Rian datang lebih dulu dibanding Manto.
"Pak Rian sehat?" tanya Manto.
Seperti yang Manto lihat, Rian memang baik-baik saja. Terlihat segar dan begitu bersemangat. Rupanya sakit yang dialami Rian selama ini hanya karena fokusnya yang tidak tepat. Meratapi kisah cintanya hingga membuat Rian merasa hidupnya nyaris berakhir.
Semangat hidup itu kini bangkit kembali. Ia merasa semua orang yang mengelilinginya akan sedih saat ia terus-terusan terpuruk. Hidup memang butuh cinta. Tapi bukan berarti putus cinta harus membuat hidupnya berantakan.
Apakah Riri sudah dilupakan? Jawabannya tidak. Rian hanya berusaha menyibukkan diri dengan hal yang jauh lebih bermanfaat. Lantas apakah Rian akan menunggu Riri sampai tahun depan? Jawabannya hanya tentang waktu.
Rian tidak munafik jika ia akan menemukan pengganti Riri saat penantian panjang itu. Karena menurutnya Riri pun punya kesempatan yang sama dengannya.
"Pagi Pak," ucap Danu yang berdiri di ambang pintu ruangan.
Rian dan Manto yang tengah mengobrol mengalihkan pandangannya. Danu mengabarkan kalau siang ini tidak ada kiriman makan siang.
"Kak Sindi sakit?" tanya Rian.
"Tidak, Pak. Pekerjanya sedang tidak masuk. Restaurantnya sedang tutup Pak," ucap Danu.
"Ah, syukurlah." Rian mengusap dadanya.
"Hah? Kok syukur Pak?" tanya Manto.
"Eh, bukan. Bukan itu maksudnya. Maksudku syukurlah kalau Kak Sindi baik-baik saja. Masalah restaurant kan bisa buka besok lagi," jawab Rian.
"Iya Pak. Besok sudah buka lagi. Kiriman makan siang untuk besok saya pastikan akan datang tepat waktu," ucap Danu.
"Kak, ini bukan soal kiriman makan siang. Aku hanya khawatir Kak Sindi kenapa-kenapa. Bagaimanapun dia adalah Kakakku," ucap Rian.
"Terima kasih sudah membuat Sindi merasa berarti Pak," ucap Danu.
Pengakuan Rian memang sangat berarti bagi Sindi. Saat Rian sudah jaya ia masih menganggap Sindi sebagai Kakaknya. Padahal saat itu Sindi tidak sedang baik-baik saja secara finansial.
Kedatangan Rian juga mengubah keadaan ekonominya. Perlu diakui, Sindi bisa mewujudkan impiannya atas campur tangan Rian juga. Walaupun Rian selalu menolak saat Sindi atau Danu menganggapnya sangat berjasa.
__ADS_1
Karena siang ini tidak ada kiriman makan siang, Rian dan Manto keluar untuk makan siang. Tidak makan di kantin kantor, Rian justru mengajak Manto dan Danu untuk ke cafe luar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor.
Danu menolak dengan alasan banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Manto juga nyaris menolak, namun daat tahu Danu tidak bisa ia merasa tidak enak.
Sebenarnya Manto bisa makan siang di kantin. Harganya lebih terjangkau dan akan lebih mengefisienkan waktu. Tapi ia tidak mungkin mengabaikam ajakan Rian.
Sebuah cafe yang harganya melambung tinggi sudah di depan mata. Ia tahu kalau makan siang kali ini akan dibayar oleh Rian. Tapi ia malu sendiri karena tidak pernah diberi kesempatan untuk membayar makanannya sendiri.
"Di sana ya Pak," tunjuk Rian.
Meja di pojok yang Rian pilih. Manto hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Rian. Obrolan ringan tentang keseharian Manto mewarnai makan siang kali ini.
"Hussst," Rian menempelkan telunjuk di bibirnya. Ia memberi kode mata pada Manto. Anggukan kepala Manto membuat Rian mengangkat ponsel dan menutupi wajahnya dengan masker.
Rasa penasaran, membuat Rian mengirim pesan pada Manto untuk pindah ke bangku yang ditunjuk oleh Rian. Tanpa mengerti apa yang terjadi, Manto pun mengikuti apa yang Rian inginkan.
Melihat Manto pindah meja, Rian pindah posisi. Ia membelakangi orang yang tengah dimata-matainya. Membiarkan Manto yang bekerja agar tidak dicurigai.
Tegukan demi tegukan es jeruk, membuatnya jauh lebih segar. Meskipun kepalanya masih semrawut dengan banyak pikran yang mengganggunya. Ia pulang saat mendapat pesan dari Manto yang mengabarkan bahwa semuanya sudah selesai.
Rian pulang dengan mengambil jalan lain dan bertemu dengan Manto di parkiran. Tanpa bamyak bicara, Rian segera meminta Manto untuk segera leluar dari cafe itu.
Keberuntungan berpihak pada Rian yang datang ke cafe itu menggunakan mobil Manto. Maudi dan Hiro tidak tahu bahwa di cafe itu ada Rian yang mencurigai kebersamaannya.
"Apa yang saya lihat dan saya dengar, mereka sangat hangat. Keluarga harmonis," jawab Manto.
"Hangat? Keluarga harmonis?" tanya Rian.
"Yang saya tangkap sih seperti itu. Tapi Bspak bisa menyimpulkan yang berbeda. Silahkan dicek Pak. Saya sudah kirim videonya," ucap Manto.
"Oh iya. Terima kasih banyak Pak," ucap Rian.
Dengan cepat Rian membuka pesan itu. Mengamati video yang diterimanya dari Manto. Rian merasa terkejut dengan isi rekaman itu. Ia yang mengira Maudi berpacaran dengan Hiro, ternyata salah besar.
"Jadi mereka saudara kandung?" tanya Rian tidak percaya.
"Memangnya Bapak mengenal mereka?" Manto balik bertanya.
"Ya. Tapi mulai saat ini aku tidak ingin mengenal mereka lagi," ucap Rian.
Tanpa ditanya, Rian menceritakan semuanya. Ia merasa kesal karena sudah ditipu selama ini. Ia menepuk dahinya sendiri saat menyadari kebodohannya.
Rian berusaha menyingkirkan apa yang terjadi siang ini. Namun Manto sangat menyadari kegelisahan sikap Rian. Manto hanya bisa berharap Rian bisa kembali menguasai dirinya.
"Pak, sudah jam pulang." Rian mengingatkan Manto yang masih membuka lembaran laporan di mejanya.
__ADS_1
"Bapak pulang lebih dulu saja. ada pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini," ucap Manto.
Berbeda dengan hari kemarin, Rian pulang meskipun Manto masih sibuk dengan pekerjaannya. Manto sangat mengerti jika Rian memang butuh waktu.
Sebuah pesan Rian kirim pada Tuan Wira. Ia mengabarkan kalau malam ini tidak pulang karena ada urusan penting. Meskipun Tuan Wira khawatir, namun izin itu sudah dikantongi Rian.
Berbohong sedikit mungkin lebih baik dari pada harus membawa masalah ke rumah Tuan Wira. Ia tidak mau Nyonya Helen semakin khawatir dengan keadaannya.
Malam ini Rian menyewa sebuah hotel. Ia ingin sendiri. Melepas semua pekerjaan kantornya sebentar. Ia menangis saat mengingat perjalanan hidupnya.
Senadainya Mama masih ada. Aku tidak sendiri Ma.
Sendiri? Tidak. Rian tidak sendiri. Banyak sekali yang peduli padanya. Namun ia tidak mau jika membuat orang lain khawatir padanya. Ia berusaha menghadapi semuanya sendirian.
Di sebuah hotel bintang lima, Rian duduk sedirian di tepi ranjang. Ia kembali membuka video yang dikirim Manto tadi siang. Kini bukan lagi tangisan. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Merasa dibodohi oleh Hiro selama ini.
"Kenapa aku tidak menyadari semua ini? Kenapa aku tidak sadar kalau Hiro adalah adik Maudi? Kenapa aku bodoh? Mereka pasti senang melihatku begini," ucap Rian geram.
Hiro sudah tidak kuliah lagi di Jerman. Ia bahkan rela kuliah di Jerman hanya untuk membalaskan dendamnya pada Rian. Hiro pulang karena tahu kalau Riri sudah tidak lagi berhubungan dengan Rian. Riri yang sudah tidak ada di Jerman membuat Hiro memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
"Aku harus kembali bersama Riri. Kalau mereka tahu aku sudah putus, mereka pasti akan sangat senang. Ini yang mereka inginkan," gumam Rian.
Dengan cepat Rian menekan nomor Riri di ponselnya. Namun ia terhenti saat mengingat keputusan Riri untuk tetap di sana satu tahun lagi. Rian mengurungkan niatnya untuk menelepon Riri.
Sempat terpikir untuk berlari ke jalan yang membuatnya tenang seketika. Tapi ia kembali berpikir dampak yang akan ia rasakan setelah ketenangan sesaat itu. Akhirnya Rian memutuskan untuk mengurung diri di kamar hotel.
Pikirannya semakin berkeliaran. Ia masih tidak percaya dengan rencana balas dendam Maudi yang menurutnya berlebihan. Namun semuanya sudah terjadi dan tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
Pada kenyataannya, Rian sudah menganggap Riri masa lalu. Sekalipun rasa itu masih ada, tapi ia tidak yakin dengan semua harapan indahnya dengan Riri. Ia tidak ingin merasakan sakit yang lebih dalam hingga memutuskan untuk mengakhiri semuanya lebih awal.
Malam ini ia tidak bisa tidur. Semangat kerjanya sempat drop lagi karena rahasia Maudi dan Hiro terbongkar. Ia benar-benar merasa dunianya sudah semakin berantakan.
Dering ponsel membuat Rian tersadar jika masih ada orang yang sangat menyayanginya dengan tulus. Orang yang selalu mendambakan kebahagiaan Rian. Orang yang saat ini sedang begitu hangat mengungkapkan rasa rindunya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Felix.
Ingin rasanya Rian menceritakan semua tentang Maudi dan Hiro pada Tuan Felix. Namun ia sadar, jika apa yang akan ia sampaikan hanya akan menjadi boomerang. Tuan Felix akan membela Mia dan meminta Rian untuk kembali menghubunginya. Dan itu bukan keinginannnya.
Rian selalu tampak baik di depan Tuan Felix. Ia tidak mau terlihat ragu apalagi menyesal dengan keputusannya. Meskipun keputusan yang Rian ambil membuat Tuan Felix kecewa.
Sebagai seorang ayah, Tuan Felix ingin tang terbaik untuk Rian. Ia jelas sangat meyakini Riri lah wanita terbaik yang pantas mendampingi Rian. Tapi dengan keadaan sekarang, ia juga tidak bisa memaksakan apa yang ia inginkan. Ia hanya ingin melihat Rian bahagia. Itu saja.
"Bagaimana perusahaan?" tanya Tuan Felix.
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat keduanya tampak serius. Saling mengerti satu sama lain adalah cara mereka dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi. Apalagi jarak yang memisahkan keduanya. Hal itu tentu membuat mereka tidak seintens biasanya.
Tuan Felix senang saat Rian menceritakan perkembangan perusahaan. Begitu cepat kesuksesan yang diraih Rian dengan perusahaan itu. Hanya saja, sayangnya kisah cinta Rian tidak seberuntung di dalam karirnya.
__ADS_1