
Rey kembali membahas tentang kedatangan orang tuanya. Namun Rian menyikut Rey untuk mengingatkannya. Rey pun diam dan segera menyadari perubahan Riri.
"Kalian tidak perlu menghiburku seperti itu. Aku ikut senang dengan kebahagiaan kalian bersama dengan orang tua ataupun keluarga yang lain," ucap Riri.
"Pus, kamu yang bilang kalau kita adalah satu. Kita semua teman. Jadi, orang tua dan keluarga kita juga orang tua dan keluarga kamu. Iya kan, Rey?" tanya Rian.
"Iya. Kamu jangan sedih gitu dong. Cantiknya jadi hilang nanti," ucap Rey.
Cantik? Rian menatap Rey tidak suka dengan ucapan Rey.
"Kenapa? Riri memang cantik, kan?" tanya Rey.
"Ayo ah makan!" ajak Rian.
Rian mungkin orang yang lebih dulu mengagumi kecantikan Riri, namun ia tidak berani mengungkapkan semua itu terang-terangan. Berbeda dengan Rey yang bisa dengan mudah dan gamblang mengungkapkan semua tentang Riri.
Rey hanya menggeleng dan mengikuti Rian dan Riri ke kantin. Memesan makan dan menikmati pesanan mereka tanpa bicara banyak hal. Sampai akhirnya mereka harus berpisah dengan Riri karena sudah masuk jam kuliah.
"Kamu besok tidak ada rencana untuk mengajak Riri kencan?" tanya Rey sambil mengedipkan matanya.
Rian bergidik melihat tingkah Rey.
"Jangan sampai aku tikung ya!" ucap Rey lagi.
"Aku tidak peduli, Rey. Aku yakin kalau jodoh di tangan Tuhan," ucap Rian.
"Jodoh memang di tangan Tuhan. Tapi kamu harus usaha. Mana ada WC mencari orang yang kebelet?" tanya Rey.
"Lah, kok WC dibawa-bawa?" Rian balik bertanya.
"Kesal aku Ri. Kamu itu jadi laki-laki kok tidak ada usahanya sih?" ucap Rey.
Rey meninggalkan Rian yang malah termenung memikirkan ucapan Rey. Tidak ada usahanya? Bukannya Rian tidak ada usahanya, tapi ia tidak melihat sinyal dari Riri. Bagaimanapun Rian tidak mau hubungan pertemanannya dengan Riri harus pupus, hanya karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Ayo!" teriak Rey saat mereka terpisah terlalu jauh.
Lamunan Rian seketika buyar. Ia segera berlari mengejar Rey untuk masuk ke kelas. Dalam kelas, mereka sejenak melupakan masalah tentang perasaan dan perjuangan. Fokus mereka saat di kelas hanya belajar. Keduanya berusaha membuktikan jika mereka bisa lulus dengan tepat dan nilai memuaskan.
"Langsung pulang?" tanya Rey saat pelajaran sudah usai.
"Iya," jawab Rian.
"Aku pikir ke kantor dulu," ucap Rey.
"Tidak Rey. Papa sudah menungguku di rumah," jawab Rian.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju parkiran. Mereka melihat Riri yang masih menunggu jemputan. Rey menarik tangan Rian dan menghampiri Riri.
"Ri, katanya Rian mau bicara sesuatu nih." Rey mendorong Rian agar lebih dekat dengan Riri.
"Hah?" ucap Rian gugup.
Rian menenangkan dirinya sendiri. Ia kesal pada Rey yang membuatnya begitu gugup di depan Riri. Ia sendiri bingung apa yang harus ia sampaikan pada Riri.
"Ayo ngomong!" ucap Rey.
"Aku, aku," ucap Rian semakin gugup.
"Kenapa Mas? Ada apa?" tanya Riri.
"Aku, ini emmmm." Lidah Rian kelu.
Rian tidak tahu harus bicara apa pada Riri. Dan hal itu tentu membuat Rey menggeleng kesal.
"Dia mau ngajak kamu kencan besok. Kamu bisa, kan?" tanya Rey.
"Kencan?" tanya Riri.
"Ah bukan, bukan. Bukan seperti itu," ucap Rian gelagapan.
"Aku sudah ada yang jemput. Duluan ya Mas," ucap Riri.
"Kenapa?" tanya Rian kesal.
"Makanya kalau bicara itu ti the point dong. Kamu sih kelamaan. Jadi Riri pulang duluan kan?" ucap Rey.
"Tahu ah. Kamu sih bikin gara-gara. Aku kan tidak mau ngajak Riri kencan," ucap Rian.
"Kalau aku yang ngajak kencan dia gimana? Boleh kan?" tanya Rey.
Rian menatap Rey tidak suka.
"Terserah," jawab Rian sambil berlalu meninggalkan Rey.
Rian bahkan membanting pintu mobil cukup keras. Tanda bahwa ia sangat tidak menyukai ucapan Rey. Sementara Rey hanya menggelengkan kepala melihat semua tingkah Rian.
"Dengan seperti itu, semakin jelas kalau kamu menginginkan Riri. Tapi kenapa kamu begitu takut Ri?" gumam Rey.
Tanpa Rey sadari, Rian sedang memendam kemarahannya. Di dalam perjalanan, Rian berkali-kali memukul kemudi. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kamu itu sebenarnya suka sama Mpus, kan? Kenapa kamu terus memaksaku mendekati Mpus kalau pada akhirnya kamu juga menginginkannya?" teriak Rian.
__ADS_1
Kemarahan Rian tak kunjung usai sampai tiba di rumah. Bayangan Rey yang tengah kencan dengan Riri membuat pikirannya kacau.
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian pulang dengan wajah kesal.
"Tidak Pah. Aku hanya lelah," jawab Rian.
Rian pamit ke kamar. Ia tidak ingin membuat Tuan Felix semakin banyak bertanya tentang keadaannya yang sedang tidak baik. Sementara Tuan Felix hanya mengernyitkan dahinya saat melihat Rian bertingkah aneh.
Lelah? Selama ini, banyaknya pekerjaan dan padatnya jadwal kuliah tidak pernah membuat Rian seperti ini. Tuan Felix yakin jika anaknya sedang menghadapi masalah.
Seperti biasa, saat Rian seperti ini Tuan Felix akan memberikan waktu untuk sendiri. Ia harus membiarkan Rian menenangkan dirinya dulu. Setelah cukup waktu, ia akan menemui Rian dengan membawa secangkir teh hangat.
"Ri," panggil Tuan Felix sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan. Perlahan Tuan Felix memeganh handle pintu dan memeriksa kamar Rian. Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun suara gemericik air menjawab pertanyaannya.
Secangkir teh hangat Tuan Felix simpan di atas meja. Tidak lupa sebuah kertas ia simpan di samping cangkir teh itu. Kemudian ia kembali keluar dan menutup pintu kamar Rian.
Saat Rian sudah selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk putih. Belum selesai ia mengeringkan rambutnya, ia melihat secangkir teh yang masih mengepul. Sepucuk surat mencuri perhatiannya.
Handuk putih itu ia simpan bahu kanannya. Rambutnya masih ia biarkan mnegeluarkan tetes air sisa keramas yang belum sempat tuntas dikeringkan. Tangannya segera meraih surat itu dan membacanya.
'Apapun masalahmu, Papa yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya. Kamu yang selalu bilang bahwa jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kita pasti akan berhasil. Dan Papa yakin itu berlaku untuk semua permasalahan yang kita hadapi. Minumlah dulu, tenangkan dirimu. Semua akan kembali baik-baik saja.'
Bibir Rian perlahan mengembang. Ia mendapat perlakuan manis lagi dari ayahnya. Rian duduk dan meneguk teh hangat yang dibuatkan Tuan Felix khusus untuknya.
"Terima kasih Pah. Papa memang tahu apa yang aku butuhkan," gumam Rian.
Setelah Rian merasa dirinya sudah cukup tenang, kini Rian yang beranjak menemui Tun Felix. Ia mencari ayahnya di beberapa ruangan yang biasa ayahnya tempati di jam ini. Namun Rian tidak menemukannya.
Rian perlahan mengetuk pintu kamar Tuan Felix. Seperti yang dilakukan oleh Tuan Felix ke kamar Rian, ia membuka perlahan pintu kamarnya. Teh hangat yang ia bawa untuk ayahnya akhirnya ia simpan di atas nakas.
Tuan Felix sudah tidur. Suara dengkurannya membuat Rian yakin kalau Tuan Felix sudah menghabiskan hari ini dengan penuh kelelahan.
"Papa pasti cape. Istirahat ya Pah. Terima kasih sudah menjadi sosom terbaik untukku. Maafkan aku yang belum bisa memberikan apapun untuk Papa," ucap Rian pelan.
Rian menyimpan sebuah kertas di samping cangkir teh. Hal yang sama ia lakukan seperti perlakuan Tuan Felix untuknya. Perhatian kecil seperti itu tentu membuat mereka semakin dekat satu sama lain.
Tuan Felix berhasil memberi contoh yang baik. Rian bahkan melakukan semua yang dilakukan Tuan Felix. Ia yakin jika itu membuatnya senang, maka Tuan Felix pun akan senang saat diperlakukan seperti itu.
"Hoaaaam," pagi-pagi Tuan Felix menggeliat.
Dengan mata yang masih terasa berat, Tuan Felix melihat secangkir teh dan kertas putih di atas nakasnya. Ia merasa ini seperti dejavu. Apa yang dilakukannya semalam untuk Rian, kini ia alami sendiri.
Tangannya meraih kertas itu dan mulai membacanya. Sebuah ucapan manis membuat hari libur ini terasa sangat indah untuknya.
__ADS_1
'Pah, maafkan aku sempat tertawa mendengar dengakuran Papa. Papa pasti lelah. Tapi aku yakin malam tadi Papa tidur begitu nyenyak. Bahkan sampai Papa tidak menyadari jika aku masuk dan membawakan secangkir teh hangat untuk Papa. Mungkin sekarang tehnya sudah dingin bahkan basi. Tapi perasaanku selalu hangat untuk Papa. Aku sayang Papa.'
"Kamu selalu tahu apa yang membuat Papa senang, Ri." Tuan Felix tersenyum senang.