Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ketiduran


__ADS_3

Hari ini Rian dan Tuan Felix absen untuk ikut bersama Dion dan Mia. Karena mereka berdua akan melihat perkembangan kantor Rian yang sebentar lagi akan segera selesai. Mereka berdua juga akan menjemput Naura dan Narendra.


"Ri, memangnya bagaimana keadaan Wira?" tanya Tuan Felix.


"Sudah jauh lebih baik. Namun masih di kursi roda. Itu yang membuat Papa Wira drop," jawab Rian.


"Papa ingin sekali melihatnya. Tapi kalau dia tidak boleh ya apa boleh buat," ucap Tuan Felix kecewa.


"Aku yakin Papa pasti mengerti keadan psikis Papa Wira. Ia masih belum siap dengan kenyataan ini. Tapi aku yakin Papa pasti akan segera sembuh. Jangan khawatir," ucap Rian.


"Baguslah. Papa percaya kalau kamu bisa menumbuhkan kembali rasa percaya dirinya. Papa jadi ingat saat Papa kecelakaan dulu. Kamu merawat Papa dan selalu memotivasi Papa. Sampai akhirnya Papa bisa sembuh lagi," ucap Tuan Felix.


"Ah, Papa suka membuatku melayang begini," ucap Rian.


"Itu memang kenyataan Ri. Kamu ini memang anak baik dan pembawa berkah untuk siapapun," ucap Tuan Felix.


"Papa jangan berlebihan. Aku jadi malu sendiri," ucap Rian.


"Papa serius Ri. Papa merasa semua delalu baik-baik saja saat kamu ada di dekat Papa," ucap Tuan Felix.


Ini bukan kali pertama Tuan Felix mengatakan hal seperti ini. Namun sampai saat ini Rian hanya menganggap kalau semua itu hanya pujian berlebihan dan jangan sampai membuatnya terlena.


Rian selalu menyadari siapa dirinya. Bagaimana masa lalunya. Hingga tidak pernah sekalipun Rian merasa dirinya berarti bagi keluarga Mia. Ia bukan siapa-siapa jika tidak bertemu dengan Mia. Justru baginya Mia adalah orang yang membawa berkah untuknya.


Tidak terasa obrolan mereka terasa begitu asyik, sampai tidak terasa mobil sudah terparkir di depan gedung mewah yang hampir selesai itu. Rian dan Tuan Felix segera turun dan memasuki bangunan itu.


Sudah banyak sekali perubahan. Tuan Felix berharap gedung itu dibuka sebelum ia kembali lagi ke Jerman. Meskipun harapannya kecil. Karena bangunan itu diperkirakan akan selesai sehari setelah ia kembali ke Jerman.


"Ri, Papa sudah memberikan semua konsep tentang kantor ini pada Dion. Biar dia yang menyelesaikan semuanya. Kamu fokus belajar saja tentang program kerjanya," ucap Tuan Felix.


"Pah, jujur saja aku tidak tahu apa yang harus k lakukan. Ini benar-benar seperti mimpi. Aku bahkan tidak yakin jika aku bisa memimpin sebuah perusahaan baru," ucap Rian.


"Jangan begitu. Bagaimana semua bisa berjalan dengan baik jika kamu saja tidak yakin dengan dirimu sendiri. Papa percaya padamu. Masa kamu tidak percaya diri?" tanya Tuan Felix.


"Entahlah Pah. Aku hanya takut," keluh Rian.


"Hey, apa yang kamu takutkan?" tanya Tuan Felix.


"Aku takut mengecewakan Papa," jawab Rian.


"Selama ini kmau tidak pernah mengecewakan Papa. Dan tidak akan pernah mengecewakan Papa. Ingat itu," ucap Tuan Felix.


Rian tersenyum. Ia senang saat melihat Tuan Felix begitu percaya padanya. Namun di sisi lain, Rian juga merasa ada beban besar di pundaknya. Ia memiliki tanggung jawab untuk tidak mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya.


"Tapi Papa tidak akan membiarkanku sendiri, kan?" tanya Rian meyakinkan.


Tuan Felix tertawa dan menepuk bahu Rian. Rupanya Rian sudah tahu kalau ia akan menempatkan orang kepercayannya di kantor itu. Bukan tidak percaya, ia hanya ingin Rian belajar lebih banyak lagi.


"Sudah siang. Ayo kita jemput Naura dan Rendra," ajak Tuan Felix.


"Masih satu jam lagi Pah. Lagi pula jarak dari sini ke sekolah tidak sampai satu jam," ucap Rian.


"Kita akan ke tempat mainan dulu. Memberikan mainan kesukaan mereka agar mereka tidak sedih lagi," ucap Tuan Felix.


"Oke Pah. Aku lupa kalau mereka masih marah padaku," ucap Rian.


"Mereka hanya belum mengerti saja. Nanti kalau kamu sudah menjelaskan semuanya mereka pasti akan mengerti. Jangan khawatir," ucap Tuan Felix.


Rian mengangguk dan segera pergi meninggalkan kantor. Ia membawa ayahnya menuju pusat perbelanjaan mainan. Beberapa mainan dipilihkan ayahnya untuk Naura. Sedangkan ia sendiri memilihkan beberapa alat gambar untuk Narendra.


"Sudah selesai?" tanya Tuan Felix.


"Sudah Pah. Ayo kita bayar!" ucap Rian.


Setelah semua rapi masuk ke dalam tas, Rian segera menjemput Naura dan Narendra ke sekolahnya. Sekolah masih sepi, belum nampak anak berkeliaran di luar kelas. Sepertinya mereka masih belajar.


"Kok belum pulang ya?" tanya Rian sambil melihat pergelangan tangannya.


"Sabar. Mungkin sebentar lagi. Ayo kita tunggu di sana saja!" Tuan Felix menuju sebuah bebangkuan.


Tidak lama, hanya sekitar lima menit anak sekolah mulai berhamburan. Termasuk Naura dan Narendra. Keduanya nampak lesu, tidak bahagia seperti biasanya.


"Naura, Rendra," panggil Rian sambil mengangkat kantong belanjaannya.


"Om," ucap Naura dengan lemas.


"Masih marah ya sama Om?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Naura sambil menggeleng.

__ADS_1


"Nih om bawakan ini buat kalian," ucap Rian sambil memberikan kantong mainan itu pada Naura dan Narendra.


"Om nyogok kita ya?" tanya Narendra.


"Oh ya Tuhan. Mana ada om nyogok kamu. Ini hanya hadiah saja. Anggap ini permintaan maaf om karena om pulangnya kemalaman dan bangunnya kesiangan. Tapi om janji tidak akan mengulangi hal yang sama," ucap Rian.


"Janji?" ucap Naura sambil mengangkat kelingkingnya.


"Iya, janji." Rian pun mengangkat kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking mungil milik Naura.


"Kalau sampai bohong, permintaan maafnya harus lebih banyak dari ini ya!" ucap Narendra.


"Wah, rupanya ada yang diam-diam senang nih." Rian mengalungkan tangannya dpada leher Narendra. "Iya Om janji. Tenang saja," lanjutnya.


Mereka pun pulang setelah saling memaafkan. Rian pun melihat Naura dan Narendra yang ia kenal lagi. Mereka nampak ceria dengan hadiah yang diberikan oleh om dan kakeknya.


"Semalam om bertemu dengan Opa Wira tidak?" tanya Naura.


Rian diam sebentar. Ia berusaha menghilangkan perasaan gugupnya. Bagaimanapun, Naura tidak boleh tahu keadaan Tuan Wira.


"Tidak, opa sedang di luar kota. Sibuk," jawab Rian dengan bohong.


"Sudah lama kita tidak pernah bertemu dengan opa. Menelepon pun tidak pernah," ucap Narendra.


"Nanti kalau opa sudah tidak sibuk pasti opa main ke rumah. Kalian kan sudah besar. Om yakin kalian pasti mengerti keadaan Opa," ucap Rian.


Keduanya diam. Wajar jika hal ini terjadi. Pasalnya selama ini, Tuan Wira tidak pernah lost kontak dengan kedua cucu kembarnya. Tuan Wira selalu menyempatkan untuk memberi kabar meskipun hanya sekedar video call. Tapi saat ini, tidak ada kabar sama sekali.


Naura dan Narendra hanya tahu kalau Tuan Wira sibuk. Awalnya mereka percaya kalau Tuan Wira sibuk. Tapi lama kelamaan mereka curiga. Meskipun semua orang berusaha meyakinkan, namun hati kecil mereka merasa ada yang aneh.


"Sudah sampai. Ayo turun! Jangan manyun terus. Nanti seperti bebek. Mau?" ucap Rian menakut-nakuti.


"Haha, tidak lucu om." Naura turun dan mengabaikan Rian.


Ya, Rian lupa kalau kedua keponakannya bukan lagi anak kecil yang bisa ia takut-takuti.


"Mereka sudah SD Ri," ucap Tuan Felix sambil menahan tawa.


Rian hanya menghela napas panjang dan mengikuti mereka ke dalam rumah. Membiarkan Naura dan Narendra berganti pakaian dan menunggunya di ruang makan.


"Mau kemana?" tanya Rian saat melihat ART membawa menu makanan pergi dari dapur.


"Mereka mau makan di kamar," jawab ART itu.


"Biar saya saja," ucap ART itu yang berusaha menahan nampannya.


"Tidak apa-apa. Saya saja," ucap Rian.


Setelah sedikit berdebat, akhirnya Rian yang membawa makanan itu ke kamar. Menemui kedua keponakan kembarnya yang masih marah padanya.


"Boleh Om masuk?" tanya Rian.


Naura dan Narendra saling menatap sebelum akhirnya mengiyakan. Rian pun masuk dan berusaha meminta maaf kembali pada Naura dan Narendra. Meskipun Rian kembali berbohong, namun akhirnya ia bisa membuat Naura dan Narendra percaya dengan kebohongannya.


"Sekarang ayo makan!" ucap Rian.


"Om tidak makan?" tanya Narendra.


"Nanti saja," jawab Rian.


"Kalau begitu aku suapin ya!" ucap Narendra.


Naura dan Narendra menyuapi Rian bergantian. Tuan Felix memperhatikan perjuangan Rian yang begitu luar biasa. Ia bisa melihat sendiri bagaimana akhirnya kedua anak itu luluh dan memaafkan Rian.


"Kamu memang laki-laki hebat Rian. Papa yakin kamu akan menjadi ayah luar biasa untuk anak-anakmu nanti," gumam Tuan Felix.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, Rian menghabiskan hari ini dengan kedua keponakan kembarnya. Ia mengabaikan ponselnya dan tidak tahu kalau Nyonya Helen menghubunginya berkali-kali.


"Bagaimana Ma? Sudah diangkat?" tanya Tuan Wira penuh harap.


"Belum," jawab Nyonya Helen sambil menggeleng.


Ada raut kecewa pada wajah Tuan Wira. Nonya Helen mencoba memberi pengertian jika Rian sedang sibuk. Entah itu pekerjaan atau sedang sibuk dengan Naura dan Narendra. Atau bahkan juga sibuk dengan keduanya.


"Ya sudah Papa ma tidur saja," ucap Tuan Wira.


"Mama tunggu di luar ya!" ucap Nyonya Helen setelah menyelimuti Tuan Wira.


Tidak ada jawaban. Nyonya Helen tahu kalau suaminya sangat kecewa. Ia mengecup dahi Tuan Wira dan meninggalkannya sendirian. Tuan Wira memang butuh waktu untuk sendiri.

__ADS_1


Saat pintu kamarnya tertutup, Nyonya Helen segera mengirim pesan untuk Rian. Ia minta Rian untuk menyempatkan datang menemui Tuan Wira.


Sementara di rumah Mia dan Dion, Rian masih terlihat asyik dengan kedua keponakannya. Mereka saling bercerita dan melepas rindu satu sama lain. Rian juga membantu mereka mengerjakan PR. Setelah selesai, Rian mengingatkan mereka untuk tidur siang.


"Nanti kita main lagi ya! Kalian harus istirahat," ucap Rian.


"Oke Om," ucap Naura.


Tidak sulit meminta mereka untuk tidur. Karena sampai saat ini, Mia menerapkan kebiasaan tidur siang pada kedua anak kembarnya. Ia tahu kalau kegiatan sekolah membuat mereka lelah, sehingga istirhat sangat dibutuhkan oleh anak kembarnya.


"Ri, mereka sudah tidak marah?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah keluar dari kamarnya.


"Tidak pah. Sekarang mereka sedang tidur," jawab Rian.


"Baguslah," ucap Tuan Felix.


Rian duduk di samping Tuan Felix dan memainkan ponselnya. Ia terkejut saat melihat beberapa panggilan dari Nyonya Helen.


"Mama?" ucap Rian terkejut.


"Kenapa Mama?" tanya Tian Felix yang ikut terkejut.


"Mama meneleponku berkali-kali," jawan Rian.


"Ada apa?" tanya Tuan Felix.


"Tidak tahu," jawab Rian.


Ia semakin terkejut setelah membaca pesan yang dikirim Nyonya Helen.


"Pah, aku mau ke rumah Mama Helen dulu ya!" ucap Rian.


"Papa ikut," ucap Tuan Felix.


Meskipun Rian tidak memberi tahu alasan ia harus pergi ke rumah Nyonya Helen, namun sepertinya Tuan Felix merasa ada yang tidak beres. Melihat ekspresi Rian yang begitu panik, Tuan Felix juga ikut panik dengan apa yang tidak ia tahu dengan jelas.


"Jangan Pah! Tunggu di sini saja," ucap Rian.


"Rian, aku ini besan Wira. Aku berhak tahu bagaimana keadaan besanku," ucap Tuan Felix.


Rian tidak mau berdebat semakin lama. Yang ia butuhkan saat ini adalah secepatnya sampai di rumah Nyonya Helen dan melihat keadaan ayah angkatnya itu.


"Ya sudah ayo Pah!" ajak Rian.


Sepanjang perjalanan, Rian tidak bicara dengan Tuan Felix. Berpura-pura fokus dengan jalanan, padahal kepalanya tengah sibuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Tuan Wira saat melihat kedatangan Tuan Felix ke rumahnya.


"Ri, masih jauh?" tanya Tuan Felix.


"Memangnya Papa lupa jalan ke rumah Papa Wira?" tanya Rian.


"Bukannya lupa. Tapi kamu lama sekali nyetirnya," jawab Tuan Felix.


Rian melajukan mobilnya lebih cepat setelah mendapat protes dari Tuan Felix. Ia melupakan sejenak jawaban yang harus disiapkannya. Sampai akhirnya mobil benar-benar sampai di rumah Nyonya Helen.


"Rian," panggil Nyonya Helen yang sudah menunggunya.


Bibirnya yang tersenyum lebar itu tiba-tiba berubah saat melihat Tuan Felix keluar dari mobil yang sama. Ia mulai panik saat Tuan Felix semakin mendekat menuju rumahnya.


"Dimana Wira?" tanya Tuan Felix dengan suara khasnya.


"Rian," ucap Nyonya Helen.


Rian mengerti arti tatapan Nyonya Helen untuknya. Ia mencoba menjelaskan meskipun Nyonya Helen beberapa kali tetap menolak kehadiran Tuan Felix.


"Sudahlah Ma. Ini bukan waktunya berdebat. Biarkan Papa Felix melihat keadaan Papa Wira diam-diam," ucap Rian.


"Ya sudah," jawab Nyonya Helen.


Tuan Felix mengikutinya dari belakang meskipun hatinya tidak setuju dengan ucapan Rian. Ia tidak mau kalau hanya melihat keadaan Tuan Wira tanpa sepengetahuannya. Padahal.ia ingin sekali bercerita banyak hal dengan Tuan Wira. Ia pun ingin seperti Rian yang menguatkan besannya itu.


"Pah, tunggu di sini saja." Rian menahan Tuan Felix saat melihat ayahnya itu terus mengikutinya.


"Iya, iya." Tuan Felix menggerutu dan duduk di sofa ruang tengah.


Untuk apa aku ke sini? Hanya mengantar Rian? Jangankan bertemu dengan Wira, sekedar mendengarkan pembicaran mereka pun tidak. Ah, lebih baik aku tidur saja.


Tuan Felix berbaring di sofa. Merebahkan tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang kacau. Secepat kilat ia tidur. Sampai saat Rian pamit untuk pulang, ia menahan tawa melihat ayahnya sedang tertidur pulas di sofa.


"Ri, sampaikan maaf yang sebesar-besarnya untuk Tuan Felix. Mama belum siap kalau Papa sampai drop lagi. Terima kasih juga karena sudah membuat Papa tertawa bahagia lagi," ucap Nyonya Helen.

__ADS_1


"Mama tidak usah banyak pikiran. Papa Felix pasti akan mengerti. Soal Papa, Mama juga jangan khawatir. Selama aku bisa, aku akan selalu menemani dan menyemangati Papa." Rian menggenggam tangan Nyonya Helen.


Matanya mulai berlinang. Rasa syukur tiada henti dengan kehadiran Rian dalam hidupnya.


__ADS_2