Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Salah paham


__ADS_3

"Iya Ma, sebentar!" teriak Rian saat memastikan tidak ada air mata di pipi Riri.


"Mas, cepat buka pintunya. Nanti Mama pikir kita ada apa-apa," bisik Riri sambil mendorong tubuh Rian.


"Iya," ucap Rian.


Rian segera membuka pintu kamarnya. Wajah gugup Rian terlihat jelas oleh Nyonya Helen, hingga membuat wanita yang duduk di kursi roda itu mengerutkan dahinya. Kepalanya sedikit menengok ke dalam kamar saat Riri tdiak ikut membuka pintu.


"Mpus ada di dalam Ma. Masuk saja," ucap Rian sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


Sepertinya Rian sudah paham maksud Nyonya Helen. Ia membiarkan ibunya masuk ke kamar. Mempersilahkannya untuk bertemu dengan Riri. Meskipun hatinya masih berdebar. Apa yang sebenarnya akan dibahas oleh Nyonya Helen sampai membawanya harus datang ke kamar?


"Pus, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Helen.


"Baik Ma. Aku baik-baik saja," jawab Riri sambil tersenyum.


Mata Nyonya Helen jelas mengedar. Mencari jawaban atas ketidakpercyaannya atas jawaban Riri. Jawaban baik-baik saja memang sudah ia dengar dari menantu barunya. Namun ia tidak melihat Riri baik-baik saja.


Air mata memang sudah tidak mengalir di pipi Riri. Namun mata Riri yang masih merah dan sembab menjadi bukti atas kebohongannya. Riri menggulung ujung dasternya saat mata Nyonya Helen melihat kasur mereka yang terlihat berantakan.


Sebelum kejadian menyedihkan itu, mereka sedang bergumul di atas ranjang. Kedatangan Nyonya Helen yang tiba-tiba membuat mereka belum sempat membereskan ranjangnya yang masih berantakan.


"Anak kurang ajar. Kamu apakan menantuku?" tanya Nyonya Helen.


Sebuah bantal berhasil menghantam wajah Rian. Rian yang belum bersiap nyaris tersungkur saat bantal itu tidak dapat ia tahan. Sementara Riri hanya bisa membuka bola matanya lebar-lebar tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia sama sekali tidak tahu maksud kemarahan Nyonya Helen.


"Apa salahku Ma? Aku kenapa lagi?" tanya Rian sambil mengambil bantal itu dan menyimpannya di atas ranjang.


"Apa salahku, apa salahku. Rian, dengarkan Mama ya. Mama tahu kalian ini pengantin baru. Tapi kamu harus tahu waktu dan tahu diri. Kamu sampai membuat Mpus menangis begini. Kamu memang keterlaluan," ucap Nyonya Helen sambil memukul Rian.


Rian hanya meringis saat Nyonya Helen memukulnya. Meskipun duduk di kursi roda, namun tenaganya masih cukup kuat. Berkali-kali Nyonya Helen memukul Rian agar kapok.


"Ma, aku tidak ngapa-ngapain Mpus. Mama salah paham," ucap Rian membela diri.


"Salah paham apanya? Ranjang yang berantakan dan mata Mpus jelas menjawab semuanya. Kamu itu harus tahu aturan. Pertama melakukan itu membuat adanya robekan. Kalau kamu tidak menjedanya, nanti jadi luka yang serius. Kamu mau Mama bawa Mpus ke dokter? Biar semua orang tahu kalau kamu sudah melakukan semua ini sama istri kamu sendiri?" ucap Nyonya Helen.


Panjang lebar Nyonya Helen marah-marah atas apa yang ia duga. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan Rian belum sekalipun melewati area perboden itu. Tapi bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya pada Nyonya Helen. Sementara Nyonya Helen tidak memberikan kesempatan pada Rian untuk menjelaskan apapun.

__ADS_1


Riri berkali-kali mencoba menenangkan Nyonya Helen. Ia berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini. Namun semuanya sia-sia. Nyonya Helen terus menyudutkan Rian.


"Ma, sudah Ma." Riri mencoba menenangkan.


"Dia memang suami kamu, Pus. Tapi kalau dia keterlaluan, kamu jangan diam saja. Jangan terlalu pasrah. Coba berikan penjelasan. Kalau dia masih memaksa, katakan sama Mama. Biar Mama euhhh," ucap Nyonya Helen gemas sendiri.


"Tapi Ma, aku tidak apa-apa. Mama salah paham. Biar aku jelaskan ya!" ucap Riri.


"Apanya yang tidak apa-apa? Mama tahu kamu mencintai dia. Tapi bukan berarti kamu harus diam saja," ucap Nyonya Helen.


Rian senang saat melihat Riri begitu berusaha dengan keras untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sementara ia sendiri hanya diam. Membiarkan Nyonya Helen mengungkapkan kekesalannya sampai puas. Karena percuma ia menjelaskan jika Nyonya Helen belum mau mendengarkan alasannya. Rian hanya akan lelah sendiri.


"Ma, aku mau bicara sama Mama berdua. Bisa?" tanya Riri.


Ucapan Riri seketika berhasil membuat Nyonya Helen lebih tenang. Ia menatap tajam ke arah Rian yang sejak tadi hanya diam.


"Kamu tidak dengar apa yang Mpus katakan?" tanya Nyonya Helen.


"Apa sih Ma?" ucap Rian.


"Mpus bilang hanya ingin bicara berdua sama Mama," ucap Nyonya Helen.


"Hanya berdua Rian. Berdua," ucap Nyonya Helen.


"Iya Mas. Katanya kalau orang berdua-duaan biasanya yang ketiganya itu...," ucap Riri sambil tersenyum.


"Setan? Iya? Kualat kamu ya sama suami sendiri ngatain setan," ucap Rian.


"Kamu yang berani sama orang tua. Sudah tahu mau ngobrol berdua. Ini masih aja di sini. Sana keluar!" ucap Nyonya Helen sambil kembali melempar Rian dengan bantal.


"Iya Ma, iya. Aduh," ucap Rian.


Mas, maaf ya. Padahal maksudku ingin mengajak Mama keluar dari kamar. Aku mau salah paham ini berakhir. Eh kok jadi Mama yang minta kamu keluar sih? Maaf ya Mas.


Riri menunjukkan rasa bersalahnya. Tanganya memberi kode atas permintaan maafnya. Meskipun masih ada rasa kecewanya, namun ia bisa mengerti. Akhirnya ia keluarga dan menunggu di ruang tv.


Beberapa saat, Rian merasa tenggorokannya haus. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil segelas air penuh. Beberapa cemilan di atas meja menemaninya di saat sendiri.

__ADS_1


"Duh, kok kebelet pipis ya." Rian merasa tidak nyaman.


Saat melihat pintu kamarnya, masih tertutup rapat. Tidak mungkin Rian masuk ke kamarnya hanya untuk buang air kecil. Bisa-bisa Nyonya Helen marah besar padanya.


Rian segera pergi ke dapur. Menggunakan kamar mandi kecil di dapur yang biasanya dipakai oleh asisten rumah tangga. Namun naasnya setelah selesai buang air kecil, Rian lupa menutup kembali resleting celananya.


"Duh, maaf Mas Rian. Itu resleting celananya masih terbuka. Kalau sudah ituan jangan terburu-buru Mas," ucap salah satu asisten rumah tangga.


Sementara asisten rumah tangga yang lain hanya menunduk menahan tawanya saat melihat Rian gelagapan menaikkan resleting celananya. Mereka berdua jadi salah tingkah saat Rian menatap mereka dengan tajam.


"Ituan, ituan. Apa? Saya sudah pipis. Namanya orang lupa ya wajar," ucap Rian sambil berlalu meninggalkan kedua orang itu.


"Sudah biasa dibuka sekarang ya," bisik salah satu asisten rumah tangga ke temannya.


Rian sendiri kembali ke ruangan tv. Ia menonton acara yang menurutnya tidak menarik sama sekali. Berkali-kali tangannya memindahkan chanel tv. Namun tidak ada satu acara pun yang menarik untuknya.


Kalau saja ada ponsel, kejadiannya tidak akan seperti ini. Ia bisa menggunakan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya. Namun sayangnya ponsel Rian tertinggal di kamar.


Selama Nyonya Helen belum keluar dari kamar Rian, selama itu juga Rian tidak mungkin berani masuk ke kamar. Ia lebih memilih tiduran di atas sofa sambil memindahkan acara tv secara acak. Berharap ada acara yang bisa ia tonton agar tidak jenuh.


Harapan itu tidak berpihak pada Rian. Karena tidak ada yang bisa lihat seperti yang ia mau, akhirnya Rian memejamkan matanya. Hanya mendengarkan ocehan tv dengan mata tertutup. Akhirnya Rian ketiduran dengan remot tv yang masih ia genggam di tangannya.


"Ri, Ri," panggil Tuan Wira sambil mengguncang pelan bahu Rian.


Rian bangun. Matanya merah, wajahnya terlihat pucat karena bangun terperanjat dan langsung duduk. Ia memijat kepalanya yang sakit.


"Kamu sakit?" tanya Tuan Wira sambil duduk di samping Rian.


"Tidak Pah. Hanya sedikit pusing," jawab Rian yang masih memijat kepalanya.


"Mau Papa panggilkan dokter?" tanya Tuan Wira.


"Tidak, tidak perlu. Aku hanya pusing karena mungkin salah posisi tidur," jawab Rian.


Mendengar jawaban Rian tentang posisi tidur, tiba-tiba Tuan Wira ingat bahwa anaknya adalah pengantin baru. Ia menduga bahwa pusing yang dialami Rian bukan karena salah posisi tidur. Tapi karena kurang tidur.


"Yang salah bulan posisi tidur, jadwal tidurnya. Papa tahu kamu ini pengantin baru. Tapi ya atur waktu. Jangan sampai terlalu larut. Malam ya sewajarnya. Kalian kan harus tetap istirahat," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


Mata Rian menatap Tuan Wira yang begitu percaya diri dengan dugaannya.


Suami dan istri sama saja. Sama-sama kotor pikirannya. Ke sana terus pikirannya. Heran deh. Hadeeuh...


__ADS_2