
Mia dan Dion pamit dari kantor Mia. Mereka akan ke rumah Sindi sore ini. Nyonya Helen tidak akan curiga karena Mia dan Dion tinggal di rumahnya. Rian yang pulang terlambat akan beralasan untuk lembur bersama Manto.
Sesuai dengan waktu yang sudah disepakati, pulang dari kantor, Mia dan Dion bertemu di simpangan menuju rumah Sindi. Dion sempat tidak yakin saat mobil terparkir di pinggir jalan. Tidk lama Rian datang dan mengajaknya menapaki jalan gang yang hanya masuk sepeda motor saja.
"Kamu serius?" tanya Dion.
"Apanya?" tanya Rian.
"Ini jalan ke rumah Sindi?" tanya Mia mempertegas pertanyaan Dion.
"Iya," jawab Rian.
Masih penuh tanya, Dion dan Mia mengikuti langkah Rian, sampai akhirnya Mia menutup mulutnya saat melihat Sindi sedang duduk di teras rumah.
"Mia," ucap Sindi gemetar.
Wajahnya pucat. Sindi benar-benar terkejut dengan kedatangan Mia dan Dion. Sempat kesal karena Rian sudah membawa Mia ke rumahnya. Tapi pelukan Mia membuat Sindi berterima kasih pada Rian.
Akhirnya kerinduan pada Mia pecah. Mereka saling mengeratkan pelukan dan membasahi bahu dengan air matanya. Bahagia saat setelah lama mereka bisa kumpul lagi, meskipun keadaannya berbeda.
Bukan soal ekonomi, karen menurut Sindi keadaannya sekarang biasa saja. Sindi yang memang sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana, tidak merasa ada sesuatu yang berubah dengan hidupnya. Namun sikap Nyonya Nathalie yang berhasil menekannya seolah-olah mereka benar-benar berubah.
"Aku sangat menrindukanmu," ucap Sindi.
"Mia juga," balas Mia.
Danu baru saja melangkah keluar untuk menemui Dandi dan Sindi. Namun ia segera berbalik saat menyadari kehadiran Mia. Rian yang menyadari sikap Danu segera menemuinya. Berbicara dengan baik maksud kedatangannya.
"Tidak masalah," ucap Danu.
"Aku berharap Kak Danu dan Kak Dion bisa berteman baik," ucap Rian ragu.
"Aku dan Dion juga tidak bermusuhan. Kami hanya saling menjaga satu sama lain. Itu saja," ucap Danu.
Dion yang mendengar ucapan itu hanya menelan salivanya. Ia tahu Danu itu memang hanya masa lalu bagi Mia. Tapi rasa takut kehilangan Mia selalu membuatnya Danu adalah monster yang akan memisahkan mereka berdua.
"Apa aku terlalu egois?" gumam Dion.
__ADS_1
Dion memang bukan anak remaja lagi, tapi cinta membuatnya kadang tidak sadar dengan usia. Masih saja ada rasa cemburu saat Mia harus berhubungan dengan masa lalunya.
"Mas Dion mau minum apa?" tanya Sindi.
"Tidak usah, terima kasih. Aku tidak lama kok," jawab Dion.
Mia yang mengerti maksud Dion segera pamit setelah ia puas mendengar cerita yang sebenarnya. Ia juga memeluk Danu. Anak yang sudah sangat lama tidak ia temui. Usianya hanya berbeda satu tahu lebih dengan anak kembarnya.
"Lain kali kita main bareng ya sama si kembar!" ajak Mia.
"Iya Tante," ucap Dandi.
Mia melambaikan tangannya saat benar-benar akan pergi meninggalkan Sindi dan Dandi. Sementara Danu tetap berada di dalam rumah tanpa menampakkan batang hidungnya.
"Kamu senang?" tanya Dion saat melihat Mia beberapa kali mengukir senyum di bibir merahnya.
"Iya A. Terima kasih banyak ya," ucap Mia sambil bergelayun manja di tangan Dion.
Dion mengangguk dan tersenyum. Bibirnya mencium hangat kepala Mia yang bersandar di bahunya.
Keromantisan Mia dan Dion selalu membuat Rian iri. Ia inginsegera menjalani kehidupan yang begitu romantis seperti mereka. Tapi kapan? Sabar, tidak lama lagi.
"Hahahah, aku pikir bayangan aja yang ngikutin kita di belakang." Dion tertawa puas dengan ucapannya sendiri.
"Mia sangat mencintai Aa," ucap Mia sambil kembali memeluk Dion mesra.
Rian hanya menelan salivanya saat melihat tingkah keduanya yang memang sengaja memanas-manasinya.
"Kenapa?" tanya Dion sambil melihat ke belakang.
Rian yang sedang menunduk segera mengangkat wajahnya dan menggeleng.
"Tidak," jawab Rian.
Mia dan Dion hanya tertawa melihat sikap Rian.
"Makanya cepat dinikahin tuh anak orang," ucap Mia.
__ADS_1
"Iya, nanti pasti di nikahin kok." Rian begitu percaya diri.
"Baguslah," ucap Mia.
Ucapan Mia menutup obrolan saat itu. Mia dan Dion pamit untuk pulang ke rumahnya, sementara Rian kembali ke rumah Tuan Wira. Sepanjang perjalanan, Rian menyiapkan rangkaian jawaban bohong yang akan ia berikan nanti.
"Aduh, tapi Mama bisa tahu kalau aku bohong. Bahaya ini," ucap Rian.
Rian melihat pergelangan tangannya. Ia menepi dan memainkan gadgetnya sebentar. Berharap waktu celat berlalu agar ia bisa kembali ke rumah saat semua orang rumah tidur nyenyak.
Sayangnya Rian bukan anak Jakarta yang gaul. Ia tidak memiliki banyak teman yang bisa dijadikan teman saat ia seperti itu. Hanya bisa pasrah. Menunggu waktu hingga semakin larut.
Semua harapan tidak terwujud. Setelah perjuangan Rian menepi di jalan beberapa lama, Nyonya Helen ternyata masih menunggunya. Pertanyaan yang memang sudah ia duga akhirnya memaksanya untuk berbohong.
Setelah masuk ke kamar, ada penyesalan tersendiri. Ia merasa sangat bersalah saat membohongi Nyonya Helen. Masih sangat jelas bagaimana khawatirnya Nyonya Helen saat menyambutnya. Pertanyaan itu bukan karena ibu angkatnya itu curiga. Semua lebih ke khawatir seorang ibu pada anaknya yang pulang terlalu larut.
Apa aku cerita saja sama Mama ya?
Batin Rian bergelut. Ia tidak bisa membohongi Nyonya Helen seperti ini. Ada hal yang harus ia ungkapkan. Ia tidak mau berlarut-larut menyimpan kebohongan ini terlalu lama.
Setelah akhirnya ia mencari jawaban atas kegelisahanng, Rian bangun dari ranjangnya. ia berniat untuk menceritakan semuanya pada Nyonya Helen. Namun langkahnya terhenti saat menyadari kalau malam sudah semakin larut.
Ia kembali ke ranjangnya dan tersenyum lebar saat mendapat telepon dari Riri. Karena merasa butuh teman, Rian mencoba untuk berbagi kegelisahannya pada calon istrinya.
Riri memang pendengar yang baik. Ia benar-benar menyimak dan mencoba memberi sedikit solusi dan berusaha menempatkan diri sebagai Rian. Menurutnya, ia memang harus menceritakan tentang Sindi pada Nyonya Helen.
"Mama Helen berhak tahu. Ada kebahagiaan yang akan ia rasakan. Masa Mas tega sih menghalangi kebahagiaan itu?" ucap Riri.
"Tapi aku takut jadi masalah baru," jawab Rian.
Yang Rian takutkan adalah saat Nyonya Nathalie mengetahui semua itu dan tidak bisa menerima kenyataan. Kenyataan kalau memang keluarga Mia sudah tahu apa yang sebenarmya terjadi pada keluaga Nyonya Nathalie.
"Itu urusan belakangan. Yang penting sekarang Mama Helen berhak bahagia," ucap Riri.
Selesai menelepon dengan Riri, Rian memejamkan matanya. Ia tidak benar-benar tidur. Ia hanya berusaha memikirkan saran dari Riri. Tapi ia malah semakin pusing. Entah jam berapa ia mulai terlelap.
Rian membuka mata saat alarm terus berdering. Ia bangun dan menguap. Tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Ia segera ke kamar mandi. Di bawah guyuran air, Rian kembali teringat saran Riri tadi malam. Ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1