
Rian dan Tuan Felix sudah meninggalkan rumahnya. Beberapa kali Rian melihat ke arah Tuan Felix, bibirnya tersenyum. Meskipun Rian tidak bicara sepatah katapun, namun sepertinya Tuan Felix tahu apa yang ada di kepala Rian.
"Berhenti mengejekku, Rian." Suara bariton Tuan Felix membuat Rian mengangguk.
Perjalanan jalan menuju rumah Riri sangat sepi. Keduanya diam seperti orang tak saling kenal. Bahkan Tuan Felix juga tidak mau ada suara musik yang dimainkan saat itu. Tuan Felix tidak ingin Rian bernyanyi kecil mengikuti lagu yang sedang diputar.
"Kalian janjian?" tanya Tuan Felix saat mobil berhenti di mobil depan rumah Riri.
Rian menatap Tuan Felix tidak mengerti.
"Bukankah Papa tahu kalau aku dan Mpus memang janjian untuk makan bersama Papa?" tanya Rian bingung.
"Ada apa ini?" tanya Riri saat masuk ke dalam mobil.
"Rian memintamu untuk memakai baju biru, kan?" Tuan Felix balik bertanya pada Riri.
Riri dan Rian melihat pakaiannya lalu saling bertatapan. Mereka menggeleng. Menolak tuduhan Tuan Felix yang dilayangkan pada mereka berdua. Bahkan mereka baru menyadari kalau mereka mengenakan pakaian dengan warna senada.
"Ah, Papa benar-benar jadi nyamuk." Tuan Felix kembali menatap ke arah depan. "Ayo jalan!" lanjutnya.
Rian kembali mengemudi menuju tempat yang memang sudah direncanakan. Seperti biasa, cafe teman Tuan Felix yang akan menjadi tempat spesial saat mereka bersama.
"Di tempat biasa ya!" ucap Tuan Felix.
Rian pun mengangguk dan mengikuti Tuan Felix yang berjalan lebih dulu.
"Kamu duluan Pus," ucap Rian.
"Terima kasih, Mas." Riri berjalan melewati Rian.
Sebuah meja yang memang mereka pesan seperti biasa. Namun Rian melihat ada perubahan.
"Jadi lebih indah ya Pah tempatnya. Dulu waktu aku ke sini tidak spesial seperti ini," ucap Rian.
"Tapi hanya meja ini yang spesial, Mas. Meja yang lain masih terlihat biasa saja," ucap Riri.
Rian pun segera mengedarkan pandangannya. Sampai akhirnya ia menyadari memang hanya meja itu yang berbeda.
"Kok bisa begini ya Pah?" tanya Rian.
Ada rasa curiga saat melihat Tuan Felix tidak terkejut sama sekali. Rian mulai menyelidik tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix saat menyadari tatapan tajam dari Rian.
"Papa yang membuat meja ini spesial, kan?" tuduh Rian.
"Tentu saja," jawab Tuan Felix.
__ADS_1
Rian terkejut saat mendapati pengakuan Tuan Felix. Awalnya ia berpikir jika ayahnya akan mengelak.
"Untuk apa?" tanya Rian terkejut.
"Karena ada wanita spesial seperti aku. Iya kan Pah?" tanya Riri sambil tertawa lebar.
Rian menatap Riri dengan bingung. Sementara Tuan Felix malah mengiyakan yang akhirnya diikuti gelak tawa dari Riri dan ayahnya. Rian semakin dibuat bingung dengan sikap keduanya.
"Kalian ini kenapa, sih?" tanya Rian.
"Kamu yang kenapa? Sudahlah Ri. Lihat Mpus. Ia sangat menikmati makan malam ini. Tidak perlu bingung ini dan itu," jawab Tuan Felix.
Rian melihat Riri yang memang tidak bingung sama sekali. Tanpa Rian tahu kalau Riri juga sebenarnya tidak mengerti sama sekali dengan kejadian hari ini. Namun ia tidak ingin membuat malam ini kacau dengan segala pikirannya.
Tidak lama makanan datang. Mereka makan dengan lahap. Tidak ada obrolan sama sekali selama makan malam berlangsung. Obrolan baru dimulai setelah selesai makan. Bahkan Rian sampai batuk saat melihat Tuan Felix mengeluarkan kotak perhiasan untuk Riri.
"Kamu mau kan menjadi menantuku?" tanya Tuan Felix.
Apa? Papa melamar Riri untukku? Sekarang? Di sini? Tanpa sepengetahuanku?
"A-aku, Pus.." Rian tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Gugup dan tidak tahu apa yang harus ia jelaskan pada Riri.
"Waaah, cincinnya bagus sekali." Riri dengan santai membuka kotak merah itu.
"Akan lebih bagus jika cincin itu kamu pakai di jari manismu," ucap Tuan Felix.
"Tentu. Cobalah!" jawab Tuan Felix.
Riri mengangguk dan segera memakai cincin itu. Ia mengangkat tangannya dan melihat cincin berlian itu berkilap di jemarinya.
"Ini bagus sekali, Pah. Terima kasih," ucap Riri.
"Sama-sama. Untuk tanggal pernikahan sepertinya tidak perlu kita bicarakan sekarang. Masih terlalu jauh ya!" ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku masih harus berjuang dua tahun lagi," ucap Riri.
Tuan Felix dan Riri asyik bercerita tanpa menghiraukan wajah bingung Rian. Sampai akhirnya Riri menyadari kebingungan Rian.
"Mas kenapa?" tanya Riri.
"Ti-tidak," jawab Rian gugup.
"Apa kamu tidak setuju dengan lamaran ini?" tanya Tuan Felix.
"Bu-bukan seperti itu," jawab Rian yang semakin gugup.
Rian takut Riri salah paham dengan pertanyaan Tuan Felix. Ia tidak mau jika seandainya Riri menganggap ini adalah lelucon. Ia benar-benar bahagia namun tidak bisa mengekspresikan rasa bahagianya. Sehingga ia hanya bisa bersikap gugup tidak jelas.
__ADS_1
"Jadi aku serius di lamar?" tanya Riri dengan senyum lebar.
"Tentu. Kamu senang?" Tuan Felix balik bertanya.
"Tapi cincin ini sepertinya terlalu mahal untuk aku yang hanya seorang pembantu," ucap Riri.
"No, ini pantas untukmu. Aku melamarmu untuk menjadi menantuku. Tidak peduli pekerjaanmu apa untuk saat ini. Karena nanti pun kamu akan mengerjakan hal yang sama untuk Rian," ucap Tuan Felix.
"Hah?" tanya Riri.
Riri merasa hatinya tidak enak saat Tuan Felix bicara begitu serius dengannya.
"Maksud Papa?" tanya Riri.
"Apa? Jangan bilang kalau kamu menganggap ini hanya sebuah lelucon, Pus. Papa sudah menyiapkan ini semua untuk kalian," ucap Tuan Felix.
Riri baru tersadar jika lamaran ini benar-benar serius. Awalnya ia hanya berpikir bahwa cincin itu hanyalah sebuah hadiah ulang tahunnya yang bertepatan dengan hari itu.
"Mas," ucap Riri pelan meminta penjelasan Rian.
Rian menarik napas panjang. Ia tidak mau kalau usaha ayahnya menjadi sia-sia hanya karena kesalahannya.
"Sejujurnya aku tidak terlibat sama sekali dengan persiapan ini. Tapi apa yang Papa lakukan untukku karena Papa tahu betapa berartinya kamu untukku. Betapa takutnya aku kehilangan kamu, Pus. Apapun jawabanmu, aku terima. Tapi aku tidak memaksamu sama sekali. Jawab sesuai apa yang kamu rasakan," ucap Rian panjang lebar.
Riri hanya bisa menelan salivanya. Matanya mulai berlinang. Dadanya sesak. Sesayang inikah Tuan Felix padanya? Rasa yang sudah tidak pernah ia dapat dari orang tuanya.
"Ini hadiah ulang tahunku yang paling indah. Aku mau menjadi menantu Papa. Aku mau menjadi istri Mas. Meskipun mungkin terlalu cepat karena pernikahan itu masih sangat jauh," ucap Riri sambil mengusap sudut matanya.
"Kamu ulang tahun hari ini?" tanya Rian dan Tuan Felix bersamaan.
"Iya," jawab Riri sambil tersenyum.
Sementara Rian dan Tuan Felix saling menatap saat menyadari kekompakan mereka yang masih terjaga.
"Masalah pernikahan, bagiku terserah kalian saja. Aku pribadi tidak melarang jika kalian siap nikah muda," ucap Tuan Felix.
Nikah muda? Riri dan Rian beradu pandang. Kepala mereka penuh dengan bayang-bayang indah saat mereka bisa menghabiskan waktu bersama setiap hari. Tuan Felix ikut membayangkan hari bahagia itu. Meskipun sebenarnya masih ada rasa takut akan kesepian yang bisa saja menemaninya.
Saat Rian mengajak pulang, Tuan Felix menahannya. Rian sempat khawatir dengan kemarahan Mr. Aric jika Riri pulang terlalu malam. Namun ternyata sebuah kue ulang tahun sederhana datang.
"Jadi Papa menyiapkan ini semua setelah tahu aku berulang tahun?" tanya Riri.
"Tidak begitu bagus. Tapi nanti kita akan kembali merayakan hari bahagia ini dengan kue yang jauh lebih besar dan bagus," ucap Tuan Felix.
"Ini lebih dari cukup Pah. Terima kasih," ucap Riri.
Tidak lama, Tuan Felix mengajak Rian dan Riri untuk pulang. Waktu yang singkat untuk hal penting dan membahagiakan ini tidak akan pernah Riri lupakan. Bahkan di dalam mobil, Riri terus menggenggam jemarinya yang sudah terisi dengan cincin berlian yang sangat cantik.
__ADS_1
Ma, Pah, aku dilamar. Aku akan pulang membawa calon menantu yang akan menyayangiku dan juga kalian. Mas Rian adalah anggota baru di keluarga kita. Aku merindukan kalian. Aku pasti akan menemui kalian di waktu yang tepat.