Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mas cape?


__ADS_3

"Om dari mana?" tanya Naura kesal.


Rian bingung saat disambut oleh Naura dengan wajah cemberut. Ia mengingat janji apa yang sudah ia abaikan pada Naura.


"Jam berapa ini?" tanya Naura lagi.


Rian baru menyadari kesalahan terbesarnya adalah pulang telat dan tidak mengabari Naura. Diantara yang lain, Naura adalah orang yang paling protektif padanya. Meskipun masih kecil, tapi kadang Rian merasa sikap Naura adalah kekhawatiran seorang ibu pada anak.


"Om kan kerja," jawab Rian sambil mengusap kepala anak kecil itu.


"Mama dan Papa sudah pulang lebih dulu," ucap Naura sambil menolak tangan Rian yang menyentuh kepalanya.


"Naura, om minta maaf ya. Tapi om usahakan besok pulangnya lebih cepat. Oh ya gimana tadi pesta ulang tahunnya?" tanya Rian yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tidak perlu kepo," jawab Naura sambil berlari menuju kamarnya.


Sikap Naura yang membanting pintu kamar dengan keras mencuri perhatian orang-orang rumah. Tidak terkecuali Mia.


"Naura," panggil Mia.


"Kak, jangan!" ucap Rian menarik tangan Mia sambil menggelengkan kepalanya.


Mia tidak suka dengan sikap Naura yang menurutnya keterlaluan. Rian juga menjelaskan kalau apa yang Naura lakukan hanya karena ia belum terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Kamu jangan terlalu memanjakan Naura," ucap Dion yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Iya nih. Rian memang selalu membuat Naura selalu nomor satu. Makanya saat dia dinomorduakan merasa heboh sendiri," timpal Mia.


Rian tidak mengelak. Ia hanya meminta maaf karena memang semua yang dituduhkan Dion dan Mia benar adanya.


"Kamu istirahat saja. Biar Mia aku yang urus," ucap Dion.

__ADS_1


Rian mengangguk dan pamit. Ia masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya yang lengket. Mengguyur kepalanya dan berusaha menenangkan dirinya.


Belum terbiasa dengan kondisi baru, bukan hanya Naura bahkan ia sendiri merasa perubahan yang sangat drastis. Seperti hari ini, ia bahkan tidak menghubungi Riri. Padahal biasanya setiap jam ia mengecek ponselnya untuk melihat balasan dari Riri.


Mendengar dering ponsel yang cukup keras, Rian segera menyudahi mandinya. Ia berpikir itu Riri. Tentu akan membuatnya kecewa jika tidak menjawab pesannya.


"Yaaaah, telat." Tangan Rian meraih ponselnya di atas nakas, sementara tangan lain menggosok kepalanya dengan handuk.


Rian mengernyitkan dahinya saat melihat panggilan itu ternyata bukan dari Riri. Tuan Felix, ayah angkatnya yang kini sedang berada di Jerman. Untuk memastikan apa yang akan disampaikan Tuan Felix, Rian menelepon balik Tuan Felix.


"Dari mana saja Anda, Tuan Rian?" tanya Tuan Felix.


"Mohon maaf Tuan. Saya sedang sangat sibuk karena harus mengimbangi orang suruhan Anda yang luar biasa itu," jawab Rian.


Jawaban Rian membuat Tuan Felix terkekeh. Ia sudah tahu kalimat ini akan ia dengar dari mulut Rian. Namun ia juga meyakinkan Rian kalau Hermanto adalah orang yang paling tepat ada di kantornya.


"Iya, iya. Pilihan Papa memang tidak salah. Aku yang salah karena mengira akulah orang yng paling cekatan," ucap Rian.


Baru satu menit panggilan dengan Tuan Felix berakhir, panggilan lain kembali masuk ke dalam ponselnya. Nama Riri membuat Rian tersenyum lebar.


"Mas cape ya?" tanya Riri tiba-tiba.


"Cape?" Rian balik bertanya.


"Hari ini Mas mulai kerja kan? Semangat ya Mas. Aku yakin Mas akan cepat sukses," ucap Riri.


Kerja? Riri tahu kalau ini hari pertamanya kerja. Padahal ia sendiri tidak memberi tahu Riri perih ini. Antara penasaran siapa informan itu dan merasa bersalah karena tidak mengabari Riri, Rian hanya diam. Ia bingung dengan jawaban yang harus diucapkan untuk Riri.


"Iya. Ma-maaf ya hari ini aku tidak mengabarimu," ucap Rian gugup.


"Tidak apa-apa Mas, santai saja. Papa sudah menceritakan semuanya. Tuan Hermanto gimana?" tanya Riri.

__ADS_1


"Hah?" tanya Rian bingung.


Ya, jelas ia bingung karena Riri mengaku mendapat informasi itu dari Papa. Bahkan ia tahu tentang Manto, rekan kerjanya itu. Bagaimana bisa Tuan Felix menceritakan semuanya pada Riri, sementara Tuan Felix saja tidak punya nomor Riri.


"Papa menemuiku di kampus," ucap Riri.


Rian semakin terkejut mendengar pengakuan Riri. Menemui Riri di kampus? Tuan Felix? Untuk apa?


"Maaf ya kalau apa yang Papa lakukan membuatmu tidak nyaman. Aku sama sekali tidak tahu Papa menemuimu di kampus. Beneran," ucap Rian.


Riri tertawa mendengar kekhawatiran Rian. Ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan kedatangan Tuan Felix. Ia justru senang karena akhirnya bisa tahu keadaan Rian tanpa menduga-duga yang tidak jelas.


Rian bersyukur saat Riri tidak terganggu dan nyaman-nyaman saja dengan kehadiran Tuan Felix ke kampus untuk menemuinya. Sebenarnya Tuan Felix juga sengaja menemui Riri di kampus karena ingin Hiro melihatnya.


Tuan Felix berharap jika Hiro akan menjauhinya. Kedatangannya ke kampus untuk menemui Riri tentu akan menguatkan hubungan antara Riri dengan Rian. Namun Hiro tetaplah Hiro. Pembalas dendam yang sebenarny tidak tahu apa-apa.


Sayangnya, kesalahpahaman Hiro dimanfaatkan oleh Maudi. Akhir-akhir ini Maudi sering sekali mengadu tentang hal yang tidak Rian lakukan sama sekali. Tujuannya hanya untuk membuat Hiro semakin mendekati Riri agar hubungnnya dengan Rian segera kandas.


Seperti halnya pertemuan Rian dengan Shelin pagi ini. Maudi yang terus mengintai Rian, berhasil menangkap gambar yang tentunya bisa membuat Riri salah paham. Beruntung hari ini Tuan Felix menemuinya. Riri yang tidak sengaja bercerita pada Tuan Felix, mendapat penjelasan panjang lebar.


Ya, kini Riri sadar kalau ada orang yang memang sengaja memantau mereka berdua. Laliu berusaha mengadukannya. Tujuannya tentu agar pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi dan membuat hubungan itu bubar secepatnya.


Riri kini berusaha mengikuti apa yang Tuan Felix katakan. Ia hanya akan bungkam dan menghapus pesan dari nomor baru yang sering masuk ke ponselnya. Kecurigaan mereka sama. Mengarah pada Hiro. Tidak mungkin ada orang yang tahu nomor Riri begitu saja.


"Apakah kemungkinannya hanya Hiro?" tanya Riri.


Meskipun semua bukti mengarah pada Hiro, tapi Riri melihat sisi baik Hiro. Ada sedikit saja harapannya yang membuktikan kalau bukam Hiro orangnya.


"Dia memang nampak baik. Tapi bagai dua sisi mata uang yang berbeda, Hiro punya sisi yang tidak bisa kita tebak." Ucapan itu yang membuat Riri mengangguk setuju.


Selama ini laki-laki yang mendekatinya hanyalah Hiro. Memang tidak pernah bersikap kurang ajar atau membuatnya curiga, tapi jika bukan dia ya siapa lagi. Tidak ada orang lain yang bisa dicurigai oleh Riri dan Tuan Felix.

__ADS_1


Baik Riri ataupun Rian hanya berusaha untuk menahan diri atas kecurigaan yang selalu membuatnya kesal dan marah. Rasa cemburu Riri membara saat foto-foto Rian bersama wanita lain masuk ke dalam ponselnya. Begitupun sebaliknya. Namun keduanya berusaha untuk tidak membahas itu agar tidak memicu perdebatan.


__ADS_2