
Rian memang masih berbaur dengan yang lain. Membicarakan banyak hal yang membuat bibirnya sesekali ikut tersenyum lebar. Bahkan mungkin ada tawa lepas yang terdengar dari mulutnya. Tapi tidak ada yang tahu kalau ia menyimpan kegelisahan yang teramat besar.
Mpus marah tidak ya padaku?
Pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya. Belum jelas jawabannya seperti apa. Meskipun harapannya Riri tidak marah, namun rasa takut itu masih menghantuinya.
Saat Rian sudah bisa masuk ke dalam kamarnya, ia segera mengecek ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan dari Riri. Ia bingung mengartikan diamnya Riri. Apakah riri marah? Atau ia diam karena memang semuanya baik-baik saja.
Saat Rian akan menghubungi Riri, panggilan dari Dion membuatnya mengurungkan niat. Ia segera menjawab panggilan dari Dion.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi hari ini?" tanya Dion.
Ya, Dion memang tidak ada di rumah saat Tuan Wira memberikan kejutan untuk mereka semua. Mia sudah memberi tahu kejutan itu, namun ia butuh penguatan. Bagaimanapun juga itu adalah harapan terbesar Dion. Harapan seorang anak yang sangat menginginkan ayahnya sembuh. Namun sayangnya ia takut jika berita itu berujung menyakitinya.
Dion bernapas lega dan sangat senang saat Rian meyakinkannya kalau Tuan Wira memang sudah bisa berjalan. Ia juga menceritakan semangat Tuan Wira yang begitu besar. Dion mengakhiri panggilannya dan akan segera pulang.
Rian kembali ke pikiran semula. Masih tentang wanita yang sangat ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Riri. Perlahan tangannya kembali menghubungi Riri. Namun nomornya tidak aktif.
Dadanya berdebar keras. Rasa takut itu kian membesar. Rasa yakin atas kemarahan Riri semakin besar. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Bernapas berat dan segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Menutup wajahnya dengan bantal dan berusaha menenangkan dirinya.
Mengapa semua terasa begitu sulit, Tuhan? Aku baru saja senang dengan kesembuhan Papa Wira. Tapi kenapa sekarang Riri membuatku harus sedih lagi? Ah, seberat inikah hubungan yang akan aku jalani satu tahun ke depan? Apakah aku sanggup? Rian, ayolah. Jangan menyerah!
Rian bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mulai mengatur napasnya dan berpikir panjang untuk masa depannya. Tidak hanya Riri, ada perusahaan yang tentu harus ia prioritaskan juga.
Suara ketukan pintu dan nyaringnya panggilan Naura membuat fokus Riri teralihkan. Ia segera membuka pintu dan menyambut Naura dengan senang.
"Om, memangnya om mau menikah ya?" tanya Naura tiba-tiba.
"Anak kecil tidak usah kepo," jawab Rian.
"Naura bukan anak kecil lagi," ucap Naura.
"Oh ya? Kata siapa?" tanya Rian.
"Om, Naura tidak suka." Naura menyilangkan tangan di dadanya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bibir Naura yang mengerucut dan tatapan tidak suka membuat Rian harus menahan tawanya.
"Om jangan tertawa," ucap Naura dengan nada ancaman.
"Iya. Om tidak tertawa," ucap Rian.
"Jawab!" ucap Naura tegas.
"Apanya yang harus dijawab?" tanya Rian pura-pura tidak mengerti.
"Om katanya pintar. Tapi ternyata tidak sepintar yang orang pikir. Oke, Naura ulang pertanyaannya. Apakah benar om akan menikah?" tanya Naura.
Rian menahan tawa saat melihat tingkah Naura yang sangat menggemaskan. Anak kecil itu tampak seperti seorang polisi yang tengah mengintrogasi penjahat.
"Iya. Nanti kalau sudah waktunya Om pasti akan menikah," jawab Rian.
"Kapan waktunya?" tanya Naura.
"Ya om tidak tahu. Yang pasti om minta agar semuanya lancar. Itu saja," jawab Rian.
"Om tidak tahu karena jodoh kan di tangan Tuhan. Ya kalau masalah lancar sih apa saja yang penting lancar. Artinya tdiak ada kendala," jawab Rian.
"Ah, jawaban om berbelit-belit. Membuat Naura pusing. Lebih baik Naura tanya Mama saja biar jelas jawabannya," ucap Naura.
Rian dibuat bengong dengan tingkah Naura yang pergi begitu saja. Apalagi saat mendengar kalau Naura pusing dengan jawabannya yang berbelit-belit. Rian hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Om ingin kamu segera dewasa dan mengerti perasaan Om. Mungkin nanti Om bisa curhat padamu. Menceritakan semua perasaan Om saat tidak menentu seperti ini," gumam Rian.
Rian kembali ke luar kamar setelah jadwal makan malam. Pemandangan haru ia saksikan saat Dion memeluk erat Tuan Wira. Tetesan air mata yang membasahi pipi Dion adalah bukti nyata cinta seorang anak kepada ayahnya.
"Sudah lepaskan. Malu sama Rian," ucap Tuan Wira.
Dion melepaskan pelukannya dan duduk di samping Tuan Wira. Memberikan nasi dan lauk di piring ayahnya.
"Papa makan yang banyak biar sehat. Nanti kita ke kantor lagi ya!" ucap Dion.
__ADS_1
"Aku ikut ya!" ucap Rian.
"Kamu kan punya kantor baru nanti," ucap Tuan Wira.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Pengalamanku sangat minim. Tapi tiba-tiba saja harus memimpin perusahaan," keluh Rian.
Entah keluhan atau hanya sebuah ucapan yang merendah. Karena kinerja Rian tidak perlu diragukan lagi. Ia bahkan menjadi penguat saat Tuan Felix hampir menyerah dengan perusahaannya.
Rian adalah orang yang berdiri paling depan. Berjuang sangat gigih. Pengalamannya sudah banyak. Namun karena saat itu ia bergerak di balik nama Tuan Felix, jadi ia tetap merasa tidak percaya diri.
"Nanti Dion akan terus memantau kantor barumu. Jangan khawatir," ucap Tuan Wira.
"Papa Felix juga akan mengirim satu orang kepercayannya di kantor barumu," ucap Mia yang ikut menenangkan Rian.
Rian tesenyum saat mendapat dukungan oenuh dari semuanya. Ia juga tidak tahu kalau saat ini Riri sedang memberinya semangat. Ternyata Tuan Felix sudah memberi tahu tentang kantor Rian.
Senyum lebar Rian menghiasi wajahnya saat pesan itu sudah ia terima. Bahkan ia segera menelepon Riri saat tahu ia akan ke Indonesia akhir-akhir ini.
"Kamu serius?" tanya Rian.
"Hanya sebentar. Aku ke Indonesia juga untuk menemani Mr. Aric. Jadi aku tidak bisa memastikan kalau kita akan bertemu," jawab Riri.
"Tidak masalah. Kamh beri tahu saja alamatmu nanti. Aku akan menemuimu," ucap Rian.
"Tapi kita belum tentu bisa mengobrol," ucap Riri.
"Aku tahu ke sini untuk kerja. Tapi sekedar melihatmu saja aku sudah senang. Aku hanya ingin melihat senyum manismu secara langsung," ucap Rian.
"Gombalnya semakin lancar ya," goda Riri.
Suasana kembali mencair. Rian benar-benar mengatur pertanyaan dan bahasannya. Ia tidak mau kalau ujung-ujungnya mereka kembali bertengkar karena membahas Hiro atau Maudi.
Satu jam Rian dan Riri menghabiskan waktu melepas rindu via telepon. Wajah dan suara Riri dari layar ponselnya membuat Rian sedikit mengobati perasaan rindunya. Berkali-kali ia memuji kecantikan Riri dan mengungkapkan rasa cintanya.
"Sudah ah Mas. Aku jadi malu," ucap Riri.
__ADS_1
Wajah putih mulus itu sesekali memerah saat pujian dan ungkapan itu tertuju padanya. Riri memang pantas untuk dikagumi dan dipuji oleh Rian. Kecantikan dan sikap santunnya membuat dirinya menjadi paket komplit yang nyaris sempurna.