
Rian masih berdiri di tempat itu, melihat Riri yang meninggalkannya. Semakin lama semakin menjauh sampai matanya tak lagi melihat sosok yang paling ia cintai itu.
"Aku tahu saat itu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Tapi apakah tidak ada kesempatan kedua untukku? Apakah sebegitu fatalnya kesalahanku Pus?" tanya Rian lirih.
Rian duduk dan menunduk. Rasanya sakit saat melihat Riri mundur begitu menyiksa batinnya. Ia tidak bisa berjuang sendirian. Lalu untuk apa ia di Jerman? Sudah tidak ada lagi harapan yang bisa ia perjuangkan.
Rian hendak pulang. Ia segera mengemudi mobilnya tanpa berpikir panjang. Bahkan ia menyadari jika Riri belum pulang. Ia tengah memperhatikan Rian yang pergi meninggalkan kampus. Tempat pertama mereka bertemu. Dan mungkin akan menjadi tempat terakhir juga mereka bertemu.
"Maaf Mas," ucap Riri lirih.
Riri pulang setelah melihat Rian sudah tidak ada di tempat itu. Ia memburu kasurnya dan menangis sejadi-jadinya. Membenamkan wajahnya agar tidak ada yang mendengar tangisan itu. Ia benar-benar meluapkan semua rasa sakitnya pada tempat ternyamannya.
"Kamu jahat Mas. Kamu jahat," ucap Riri di sela isak tangisnya
Riri sudah berusaha menerima semua kenyataan hidupnya. Ia belajar meyakinkan dirinya jika Rian bukan untuknya. Namun setelah kehadiran Rian dan brusaha mengungkit kembali rasa itu, ia merasakan sakit itu lebih dari sebelumnya.
Semalaman Riri tidak bisa tidur. Ia terus berguling mencoba menenangkan hatinya yang tak kunjung tenang. Kegelisahan menyelimuti hatinya. Sampai akhirnya ia terbangun dan melihat wajahnya di cermin.
"Astaga, make up ku belum dibersihkan." Riri meraba wajahnya.
Riri segera pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia sampai lupa kalau hari ini belum mandi. Ah, jangankan mandi, bahkan ia lupa kalau seharian ini belum sempat makan. Tapi tidak ada rasa lapar sama sekali. Yang ia rasakan saat ini adalah erang batin antara logika dan perasaan.
Seandainya ia boleh memilih, ia ingin memilih untuk menikah dengan Rian. Tidak peduli dengan apa yang terjadi selain kebahagiaan mereka berdua. Tapi ia sadar pasti akan ada hati yang terluka. Bukan hanya satu orang, tapi banyak orang. Bukan hanya rasa sakit, tapi rasa malu yang luar biasa.
Lantas apakah ia siap dengan semua kenyataan itu? Tidak. Riri menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia bahkan menutup telinganya seolah banyak sekali bisikan yang membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan diri.
"Hiro," ucap Riri.
Saat ini memang hanya Hiro yang bisa ia hubungi. Satu-satunya orang yang sudah terlanjur tahu perasaannya. Dengan sesenggukan Riri menelepon Hiro. Namun ia kesal saat suara Hiro terdengat sangat kecil, seperti hanya sedang berbisik.
"Sebentar ya!" ucap Hiro.
Hanya hitungan detik, panggilannya sudah terputus. Karena kesal, Riri sampai melempar ponselnya ke atas ranjang. Ia kembali merasa sendiri. Namun tidak lama, ponselnya berdering.
"Pasti dari orang kantor," ucap Riri kesal.
Sempat tidak ingin menjawab panggilan itu, Riri mengabaikan ponselnya hingga dering itu sudah tidak lagi terdengar. Selang beberapa detik, ponselnya kembali berdering.
"Kenapa sih mereka tidak mengerti keadaanku?" ucap Riri kesal.
Walaupun kesal, ia berusaha menjawab panggilan itu. Ia mengusap pipinya yang basah. Kekesalannya berubah saat tahu panggilan itu dari Hiro. Dengan cepat Riri menjawab panggilan itu.
Pertama kali yang Riri lakukan adalah memaki Hiro. Melampiaskan rasa kesalnya karena panggilannya sudah diakhiri begitu saja oleh Hiro. Namun Hiro tidak berubah, ia selalu santai dalam menanggapi setiap apa yang Riri lakukan padanya.
"Sudah puas marah-marahnya?" tanya Hiro.
"Tahu ah," jawab Riri ketus.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua." Hiro mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Riri tidak menjawab ucapan Hiro. Ia sedang tidak mood untuk bercanda receh seperti yang Hiro lakukan. Akhirnya Hiro kembali meminta maaf dan menanyakan alasan Riri meneleponnya. Hiro merasa cukup bingung dengan panggilan Riri, karena sebelumnya Riri tidak pernah melakukan hal ini padanya.
"Jangan bilang kalau kamu sedang merindukanku," ucap Hiro.
"Tidak ada yang merindukanmu sama sekali," ucap Riri.
Akhirnya ia mulai terpancing saat nyaris lupa apa tujuannya menelepon Hiro. Kembali berderai air mata, Hiro menceritakan kejadian hari ini.
"Jadi kamu tidak rela kalau Rian menikah dengan Shelin?" tanya Hiro.
"Bukan begitu," jawab Riri bingung.
"Terus kenapa nangis?" tanya Hiro.
Tangisan itu bukan semata-mata karena ketidakrelaannya dengan pernikahan Rian dan Shelin. Tapi ia kesal saat Rian datang dan justru mengungkit masa lalu mereka. Di satu sisi ia justru merasa kalau Rian sudah merendahkannya.
"Ya kalau tidak mau kenapa harus menangis? Kamu tinggal bilang tidak. Cukup," ucap Hiro.
"Tapi jauh di dalam hati ini, rasa itu memang masih tersimpan dengan indah. Aku masih mencintai Mas Rian," ucap Riri.
"Lalu kenapa kamu tidak mengiyakan dan berjuang bersama? Selesai, kan?" tanya Hiro.
"Tidak semudah itu Hiro. Ada hati yang akan tersakiti," jawab Riri.
"Shelin?" tanya Hiro.
"Siapapun itu," jawab Rian.
"Jika aku yang terluka, hanya aku sendiri yang merasakannya. Tapi kalau pernikahan itu batal, akan banyak sekali hati yang terluka. Bahkan rasa malu juga akan dirasakan oleh kedua keluarga besar itu. Apalagi media akan sangat cepat meliput dan menyebar berita seperti itu," ucap Riri.
"Kamu masih sempat memikirkan perasaan orang lain di saat seperti ini? Dimana kamu sembunyikan sayapmu?" tanya Rian.
"Hah? Sayap apa?" tanya Riri.
"Aku rasa kamu bukan manusia. Tapi malaikat yang sedang menyamar," jawab Hiro.
"Hadeuh, ada-ada saja kamu ini. Aku sedang serius," ucap Riri.
"Memangnya aku becanda ya? Aku serius loh. Seharusnya kamu senang dan berjuang bersama kalau sudah tahu Rian datang ke sana untuk menemuimu," ucap Hiro.
"Kamu pikir aku ini batu apa. Aku ini punya hati. Aku ini hanya masa lalu untuk Mas Rian, sedangkan dia adalah masa depannya. Mana mungkin aku bisa merebut kebahagiaan dari orang yang tidak tahu apa-apa," ucap Riri.
Ya, Shelin memang tidak tahu apa-apa. Rasanya tidak adil kalau Riri merebut kebahagiaan Shelin. Ia memang tdiam mengenal Shelin, tapi ia yakin kalau Shelin adalah wanita yang sangat baik. Tidak mungkin Rian yakin pada Shelin dengan waktu yang menurutnya sangat singkat.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Hiro.
"Aku mau melupakan Mas Rian," jawab Riri sambil sesenggukan.
"Yakin?" tanya Hiro.
__ADS_1
"Kamu kok nanya begitu sih?" tanya Riri.
"Ya kali aja mau minta aku untuk memperjuangkan cinta kalian," jawab Hiro.
"Ah, kamu gak bisa diajak serius." Riri mengakhiri panggilan itu tanpa pamit.
Hiro hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya ia tahu kemana Rian menghilang selama ini. Ia akan menemui Shelin lagi dan menyampaikan keberadaan Rian.
Merek yang di Indonesia tidak tahu keberadaan Rian setelah tiba-tiba menghilang. Ah, Hiro tidak yakin mereka semua tidak tahu. Mungkin ada sebagian yang tahu namun mereka memilih bungkam karena tidak ingin masalah menjadi semakin runyam. Namun Hiro sendiri sama sekali tidak menyangka jika Rian akan pergi ke Jerman dan memperjuangkan cintanya untuk Riri.
Hiro tersenyum miris saat tahu Rian dicintai dua wanita setulus itu, sementara dirinya? Tidak satu pun wanita yang dekat dengannya. Entah memang tidak mau padanya, atau karena Hiro sendiri yang menutup diri.
Selama ini yang ia pikirkan hanya balas dendam untuk kakaknya. Sayangnya ia selama ini dibohongi oleh orang yang sangat ia sayangi. Tidak ada kebencian untuk Maudi, namun rasa kecewa itu masih belum bisa ia enyahkan.
Pagi menyapa. Hiro yang tinggal sendiri bangun saat alarm berdering. Ia segera mandi dan bersiap. Setelah tinggal sendiri, ia lebih mengatur jadwalnya. Ia mulai mengarahkan dan menata hidupnya agar lebih baik lagi.
Pagi ini Hiro akan kuliah jam pagi sampai siang. Pulangnya ia akan menemui Shelin dan membahas tentang keberadaan Rian saat ini. Ia tidak yakin akan membahas apa yang sudah ia bahas dengan Riri atau tidak. Semua tergantung situasi Shelin nanti.
Hiro mengikuti mata kuliah pagi ini dengan sangat serius. Ia ingin mengejar ketertinggalannya selama ini. Banyak orang yang menertawakan perubahan dirinya. Namun ia tidak menggubris itu sama sekali.
Selesai mata kuliah pagi ini, Hiro segera pergi ke sekolah tempat Shelin mengajar. Dari kejauhan Hiro memperhatikan Shelin yang sedang mengobrol dengan beberapa anak didiknya. Hiro tersenyum melihat kehangatan yang ditunjukkan Shelin pada anak-anak yang berpamitan pulang itu.
"Benar kata kamu, Ri. Dia wanita yang baik," ucap Hiro pelan.
Hiro baru menghampiri Shelin saat semua murid sudah pulang. Ia memanggil Shelin dan mengobrol dengannya. Shelin memang sangat ramah hingga sangat mudah bergaul dengan siapapun. Bahkan dengannya saja baru bertemu satu kali. Saat kedua kalinya menemui Shelin, wanita itu terlihat begitu hangat menyambutnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Shelin.
"Bertemu denganmu," jawab Hiro.
"Ada apa?" tanya Shelin bingung.
Shelin memang tidak membatasi siapapun untuk menemuinya. Tapi baru kemarin Hiro menemuinya. Shelin yang tidak tahu apa-apa merasa heran dengan kedatangan Hiro. Sebegai seorang perempuan yang sebentar lagi akan menikah, Shelin ingin menjaga perasaan Rian. Meskipun ia tidak tahu Rian dimana saat ini.
"Rian di Jerman," jawab Hiro.
"Jerman?" tanya Shelin.
Hiro mengangguk. Matanya menatap Shelin yang tengah menatapnya juga. Lama-lama mata Shelin berlinang.
"Kamu menangis?" tanya Hiro saat melihat Shelin memalingkan wajahnya.
Hiro menepis tangan Hiro yang menggenggam tangannya. Ia segera menyapu pipinya yang sudah mulai basah.
"Aku mau pulang," ucap Shelin.
"Hey, apa salahku? Aku hanya menyampaikan informasi yang kamu tunggu. Kenapa jadi marah padaku? Katanya kita berteman," ucap Hiro.
"Jangan pura-pura tidak tahu Hiro. Tolong mengertilah! Aku ingin sendiri," ucap Shelin.
__ADS_1
"Oke, oke. Tapi kamu jangan menangis begitu. Aku minta maaf kalau aku salah ya! Aku antar kamu pulang," ucap Hiro.