
Tuan Felix tersenyum senang setelah mengakhiri panggilannya dengan Rian. Akhirnya Rian sudah kembali menjadi Rian yang ia kenal. Meskipun sebenarnya ia masih berharap Riri adalah perempuan yang akan mendampingi Rian.
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Apapun dan bersama siapapun, Papa hanya ingin kalian bahagia. Papa sayang kalian," ucap Tuan Felix.
Tanpa disengaja, Tuan Felix kembali dipertemukan dengan Riri dalam sebuah acara. Tidak malu dengan informasi miring yang beredar antara dirinya dengan Tuan Felix, Riri menghampiri Tuan Felix dan mencium pungung tangannya.
Layaknya seorang anak pada ayah, Riri memperlakukan Tuan Felix dengan penuh hormat. Ia tidak menghiraukan ucapan orang yang berkomentar ini dan itu tentangnya. Ia hanya tidak ingin menjadi anak yang lupa ada ayahnya.
Bagaimanapun, kini yang ia punya hanya Tuan Felix. Mr. Aric sudah meninggalkannya. Ia sempat merasa sendiri, namun Tuan Felix meyakinkannya jika ada seorang ayah yang selalu menyayangi anaknya.
Riri sempat menghindar setelah hubungannya dengan Rian berakhir. Namun ternyata Tuan Felix kembali merangkulnya. Ia senang karena meskipun Rian sudah mengakhiri semuanya, ada hubungan yang tidak akan berakhir.
Tuan Felix sudah menganggapnya anak. Riri sangat bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan Tuan Felix. Namun hari ini ada yang berbeda. Dadanya menahan sesak saat mendengar Rian akan menikah.
"Kamu masih tetap menganggap aku Papa kan?" tanya Tuan Felix.
"Pacar ada bekasnya. Tapi seorang ayah tidak akan pernah berbekas sampai kapanpun," jawab Riri sambil tersenyum.
Tidak bisa dipungkiri, Riri terlihat menahan sakit yang begitu luar biasa. Namun Tuan Felix salut karena Riri bisa menahan rasa sakit itu.
"Maafkan Papa karena harus menyampaikan ini sekarang," ucap Tuan Felix.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Riri.
Bohong! Riri sedang tidak baik-baik saja. Ia menyimpan luka yang teramat dalam Seandainya bisa, ia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Meluapkan semua sakit yang ia rasakan.
Tuan Felix yang tidak bisa seintens dulu, memanfaatkan waktu yang ada untuk menceritakan semua pada Riri. Meskipun sakit, tapi Riri berhak tahu.
"Kamu sudah punya calon?" tanya Tuan Felix.
"Aku masih fokus dengan perusahaan ini Pah. Aku juga akan memulai lagi kuliah, sesuai dengan bidang yang aku tekuni sekarang. Urusan jodoh nanti juga ada waktunya," jawab Riri.
"Apa kamu masih mencintai Rian?" tanya Tuan Felix.
Riri tidak menjawab. Ia hanya menunduk, berusaha menjatuhkan air matanya tanpa harus membasahi pipinya. Tuan Felix segera meminta maaf dan berusaha mengalihkan bahasan mereka. Ia tidak tahu kalau Riri akan sesakit itu dengan pertanyaannya.
"Mas Rian sebentar lagi jadi suami orang. Sangat tidak pantas jika aku harus mencintainya lagi," jawab Riri.
Tuan Felix menunduk. Kini giliran ia yang sakit dengan jawaban Riri. Padahal ia masih berharap jika Riri masih mencintai Rian dan akan memperjuangkannya. Tapi rupanya harapannya terlalu tinggi. Tidak seharusnya ia berharap hal yang tidak mungkin terjadi.
"Papa kenapa? Apa ada jawabanku yang salah?" tanya Riri saat melihat Tuan Felix masih menunduk.
"Tidak. Papa tidak apa-apa," jawab Tuan Felix.
"Pah, kalau Mas Rian sudah menikah artinya anak Papa sudah nambah lagi. Tapi Papa masih mau kan anggap aku anak Papa?" tanya Riri.
"Pertanyaan macam apa itu? Sampai kapanpun kamu itu anak Papa, Pus. Maafkan Papa yang tidak bisa membahagiakanmu," jawab Tuan Felix.
"Papa tidak salah apa-apa. Seharusnya aku yang terbuka. Tapi aku ingin menjaga pesan Mr. Aric," ucap Riri.
__ADS_1
"Apa kamu menyesal?" tanya Tuan Felix.
Riri menarik napas panjang. Sempat ada penyesalan karena ia tidak bisa jujur pada Rian, sampai akhirnya pria yang ia cintai itu memilih wanita lain karena sebuah kesalahpahaman. Tapi di sisi lain, ia bersyukur karena bisa menjaga amanat Mr. Aric hingga istirahat dengan tenang untuk selamanya.
Kini Riri menyadari jika semua sudah menjadi jalan hidupnya. Kalau saja Rian jodohnya, apapun alasannya maka mereka akan tetap bersama. Jika kini kenyataannya berbeda, maka Tuhan sudah menjawab semuanya. Rian bukan jodohnya.
"Seandainya Rian sedikit bersabar. Kejadiannyan tidak akan begini," ucap Tuan Felix.
"Jangan berandai-andai Pah. Semua yang terjadi adalah yang terbaik. Kalau kami berjodoh, Papa tidak akan nambah anak lagi. Seharusnya Papa bersyukur," ucap Riri.
Tuan Felix semakin kagum dengan Riri. Begitu dewasa Riri menyikapi semua masalah ini. Masalah yang menurutnya sangat besar dan bertubi-tubi.
Bagaimana tidak? Baru saja lulus kuliah, Riri harus melupakan semua mimpi indahnya untuk menikah muda dengan pria yang sangat ia cintai. Ia memilih untuk membalas budi dulu dibanding dengan mementingkan kebahagiaannya sendiri. Setelah itu kini orang yang begitu peduli padanya sudah meninggalkannya.
Banyak sekali harta yang ditinggalkan untuk Riri. Tapi Riri masih sangat muda untuk bertanggung jawab atas semua ini. Ia bahkan harus melupakan cita-citanya karena justru harus bekerja di bidang yang bukan basicnya.
Bahkan sekarang Riri akan memulai lagi kuliahnya. Tanpa penyemangat, ia berusaha bangkit diatas keterpurukannya. Ia mencoba tetap waras dibalik setiap hal yang tidak sesuai dengan harapannya.
Selesai acara, Riri berpamitan pada Tuan Felix. Ia melenggang pergi dengan dua pengawal yang selalu menjaganya. Penampailan Riri juga sekarang berubah. Ia jauh lebih berkelas.
"Papa yakin anak hebat sepertimu akan menjadi orang sukses," gumam Tuan Felix.
Setelah sampai ke rumah, Tuan Felix merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu. Sama sekali tidak pernah berpikir jika ia akan kehilangan Riri.
Kehilangan? Ya, Tuan Felix akan kehilangan Riri. Riri yang sedang semangat berjuang untuk masa depannya, berbanding terbalik dengan ia yang justru akan meninggalkan negara tempat ia lahir dan dibesarkan.
Dering ponsel membuat Tuan Felix menghentikan pikiran buruknya itu. Ia segera menjawab panggilan dari Rian. Seperti ada kontak batin, tiba-tiba Rian menanyakan Riri.
"Pah, apa pernikahanku nanti akan menyakiti Mpus?" tanya Rian.
"Husst, kamu ini sudah mau menikah kok masih bahas Mpus sih," jawab Tuan Felix.
"Ya aku hanya bertanya saja. Aku ingin pernikahanku bisa membahagiakan semua orang yang mendengarnya," ucap Rian.
"Jangan sekalipun berharap jika semua orang akan suka dengan kita. Tugas kita adalah bahagia dengan cara kita sendiri tanpa merugikan orang lain," ucap Tuan Felix.
Rian diam. Entah mengapa tiba-tiba ia menelepon Tuan Felix untuk menanyakan hal yang tidak seharusnya ia tanyakan. Mungkin karena Riri juga tengah mengingat Rian.
Keduanya sama-sama sedang saling merindu masa lalu. Masa yang begitu indah namun tidak mungkin terulang. Jalan yang mereka pilih sudah berbeda. Maka cara mereka bahagia juga berbeda.
Riri yang sibuk kuliah untuk mengembangkan perusahaan Mr. Aric, sedangkan Rian yang sibuk mengurus persiapan pernikahannya. Keduanya seolah bahagia dengan kesibukannya masing-masing, namun masih menyimpan sebuah harapan yang sama.
Ingin bersama seperti apa yang sudah mereka impikan saat itu. Namun Tuhan tidak mengiyakan. Jalan itu sudah tidak sama lagi, padahal mimpi itu masih belum lenyap sepenuhnya.
Tuan Felix juga mengingatkan Rian agar tidak terus-terusan mengingat Riri, karena ada rasa yang harus ia jaga. Ada Shelin yang begitu tulus. Wanita kuat yang berusaha dewasa dan tenang dalam menyikapi setiap masalah yang menerpanya.
Setiap informasi yang sampai ke telinganya, tidak pernah ia dengar. Ia masih sangat percaya pada Rian dibanding dengan orang yang selalu menjadi duri dalam hubungannya.
Maudi si duri yang tak kunjung mendapat darah atas luka yang Shelin rasakan seolah terbakar sendiri. Ia kesal saat Shelin selalu bersikap tenang. Begitu banyak informasi yang sampai ke telinganya, sebanyak itu pula ia meredamnya.
__ADS_1
Memilih untuk tidak mau tahu masa lalu Rian adalah tekad yang sudah sangat bulat. Ia sama sekali tidak pernah mengadu padanya. Awalnya ia sempat mempertanyakan semua itu, namun saat Rian menjawab dan meyakinkannya maka tidak ada alasan untuk termakan berita apapun.
"Sudahlah Kak, jangan begini!" Hiro nampak memeluk Maudi dengan sangat khawatir.
Sempat menghilang dari kehidupan Rian, bukan karena ia sudah tidak peduli lagi. Tapi karena ia tenang saat Rian dan Riri semakin menjauh. Maudi kembali berapi-api saat tahu kabar pertunangan itu. Apalagi saat mendapat kabar kalau Rian akan segera menikah.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya," ucap Maudi geram.
Hiro berusaha memberikan obat agar Maudi lebih tenang. setelah sebutir obat masuk ke dalam perut Maudi, perlahan Hiro bisa mengontrol semuanya. Maudi terlelap hingga membuat Hiro bisa bernapas lebih lega.
Rasa sayang Hiro pada Maudi, membuatnya tidak bisa membedakan balas dendamnya. Ia hanya akan menyingkirkan setiap wanita yang dekat dengan Rian. Karena hanya itu yang membuat Maudi tenang dan senang.
"Kakak tidur ya! Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu!" ucap Hiro sambil merapikan rambut Maudi.
Hiro keluar dari kamar Maudi dan membiarkan Kakaknya beristirahat. Tiba-tiba ayahnya menegur Hiro. Ayahnya tidak ingin Hiro selalu memanjakan Maudi. Menurut ayahnya Maudi sudah dewasa dan harus bisa menerima kenyataan hidupnya.
Tidak satu kata pun yang keluar dari mulut Hiro. Ia sangat menghormati ayahnya saat mengingatkannya tentang apapun itu. Tapi ia tidak bisa menbiarkan Maudi stres karena ulah Rian.
Hiro mencari informasi tentang wanita yang akan menjadi istri Rian beberapa bulan ke depan. Dengan sangat cepat ia menemui Shelin di tempat kerjanya.
"Selamat siang bu guru," sapa Hiro saat melihat Shelin sudah keluar dari sekolah.
"Siang," jawab Shelin dengan ramah.
Tanpa berpikiran buruk, Shelin berpikir jika pria yang menyapanya adalah salah satu keluarga dari anak didiknya di sekolah itu.
"Ibu mau pulang ya?" tanya Hiro basa basi.
"Iya. Bapak mau jemput siapa?" tanya Shelin.
Shelin nampak bingung saat menyadari bahwa sudah tidak ada anak di sekolah. Mereka semua sudah pulang.
"Aku tidak menjemput siapapun. Aku hanya ingin bertemu dengan bu guru," jawab Hiro.
"Bertemu denganku?" tanya Shelin semakin bingung.
Shelin sama sekali tidak mengenal pria itu. Bahkan ia baru bertemu hari ini. Apa yang akan pria itu bahas dengannya?
"Ada hal penting yang ingin aku bahas. Sebentar saja," ucap Hiro.
Shelin merasa penasaran dengan apa yang akan dibahas pria itu. Mereka duduk sebentar di sebuah bebangkuan. Masih di lingkungan sekolah. Shelin juga tidak hanya berdoa karena masih ada pak satpam di pos jaga.
"Ibu ini cantik dan sangat baik. Rasanya saya sangat menyayangkan kalau ibu harus menikah dengan pria itu," ucap Hiro.
"Maksudnya? Bapak mengenal calon suami saya?" tanya Shelin.
Hiro yang menyamar menjadi bapak-bapak menceritakan tentang Hiro yang suka mempermainkan perasaan wanita. Menurut Hiro l, Rian adalah pria yang sempat kabur dan tidak bertanggung jawab setelah menghamili seorang wanita. Tanpa belas kasihan ia meninggalkannya dan memilih wanita lain untuk menjadi korban selanjutnya.
"Setelah ia bosan dengan wanita itu ia tinggalkan begitu saja karena ia menginginkan ibu. Padahal mereka sudah bertunangan dan batal begitu saja. Aku hanya ingin ibu berhati-hati. Jangan sampai nanti ibu jadi korban selanjutnya," ucap Hiro.
__ADS_1