Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Apa Mama dan Oma marahan?


__ADS_3

Rian hanya pamit sebentar, tapi kenyataannya ia harus menemani Tuan Wira yang menceritakan semua kekecewaannya pada istrinya.


Baru setelah makan siang, Rian bisa benar-benar pamit. Paling tidak ia sudah memastikan jika Tuan Wira tidak lagi menyimpan rasa kesalnya. Ia berharap saat pulang nanti semua keadaan di rumah sudah baik-baik saja.


"Pak, maaf ya aku lama. Ternyata urusannya lumayan rumit," ucap Rian.


Saat itu mereka bertemu di ruangan Danu. Manto segera berdiri dan mempersilahkan Rian untuk duduk di kursi. Ia dan Danu juga tidak mempernasalahkan Rian yang baru saja pulang. Meskipun mereka tidak tahu apia yang sebenarnya terjadi, namun mereka yakin Rian tidak akan meninggalkan kantor jika bukan urusan penting.


"Semua laporan selesai, Pak. Ini juga ada tawaran kerja sama lagi dari perusahaan yang cukup besar. Bagaimana, Pak?" tanya Manto sambil memberikan laporan dan permintaan kerja sama.


"Benarkah?" tanya Rian antusias.


Rasa lelahnya terobati dengan apa yang ia terima saat ini. Ia menyambar apa yang diberikan Manto dan segera membacanya. Bibirnya tersenyum lebar melihat semua itu.


"Terima kasih y Pak, Kak. Kalian memang benar-benar luar biasa," ucap Rian penuh bangga.


Sebenarnya semua saling menguntungkan. Nama perusahaan Rian yang tidak lepas dari bayang-bayang nama Tuan Felix, serta kinerja mereka bertiga yang sangat luar biasa.


"Terima kasih juga sudah memberi kesempatan untuk ikut bergabung di perusahaan ini," ucap Danu.


"Kakak memang pantas mendapat kesempatan terbaik. Ah, Papa pasti senang melihat perkembangan perusahaan ini." Rian menggenggam laporan itu dengan erat.


Mereka kembali bekerja dan pulang setelah waktunya. Saat Danu dan Manto pulang ke rumah mereka masing-masing, Rian memilih untuk mengunjungi rumah Mia sebelum ia ke rumah Nyonya Helen.


"Om," teriak Naura sambil memeluk Rian.


Rian merasa Naura memang sakit. Tubuh Naura terasa panas saat berada dalam pelukannya.


"Jangan lupa diminum ya obatnya," ucap Rian.


Baru saja mereka ngobrol sebentar, Mia dan Dion sudah datang. Ia mengantar Naura untuk istirahat di kamar. Meskipun agak lama karena Naura masih ingin bersama Rian, akhirnya ia bisa meninggalkan Naura di kamarnya.


"Kamu sengaja ke sini?" tanya Mia.


"Iya Kak. Aku tidak tahu kalau Kakak menjemput si kembar kemarin sore," ucap Rian.


"Iya, Ri. Kamu pasti sudah tahu kan alasannya seperti apa?" tanya Mia.


"Aku harap Kakak tidak salah paham. Apa yang Mama dan Papa lakukan sebenarnya hanya tentang kekhawatirannya saja," ucap Rian.


"Kamu benar Ri. Aku juga yakin Mama hanya takut melihat Naura yang sudah mulai menyukai lawan jenis. Sedangkan Papa tidak suka dengan kekhawatiran Mama yang berlebih," ucap Dion.


"Tapi kan Mama juga tidak seharusnya berlebihan seperti itu," ucap Mia.


"Kak, yang namanya sayang itu kadang muncul rasa memiliki. Itu yang dirasakan Nyonya Helen pada Naura. Mama takut kalau nanti dia akan kehilangan Naura yang manja lagi. Itu saja," ucap Rian.


"Tapi tidak harus pilih kasih begitu," ucap Mia.

__ADS_1


"Pilih kasih?" tanya Rian.


Rian mulai khawatir. Apa mungkin Tuan Wira menceritakan detil semua yang terjadi di ruang makan itu? Ternyata tidak. Itu hanya pengaduan Narendra yang merasa tersisihkan.


"Mi, sudahlah. Jangan membuat masalah semakin panjang dan rumit. Kasihan Mama," ucap Dion.


"Aa selalu saja membela Mama," ucap Mia.


Dengan wajah kesal Mia pergi tanpa pamit. Rian yang menyaksikan itu menjadi kikuk. Ia merasa melihat itu bukan Mia. Tidak seperti Mia yang ia kenal sebelumnya.


"Kamu pasti terkejut dengan perubahan Mia, kan?" tanya Dion.


"I-iya. Maaf ya Kak," ucap Rian gugup.


"Tidak masalah. Aku justru yang harus minta maaf karena tingkah Mia pasti kamu jadi tidak enak, kan?" tanya Dion.


"Tidak apa-apa Kak," jawab Rian.


Meskipun ia tidak suka dengan tuduhan Mia pada ibunya, namun Dion tidak ingin penilaian Rian menjadi tentang Mia. Ia segera menceritakan alasan Mia menjadi seperti itu.


"Hal itu wajar sebenarnya. Mia lelah dengan pekerjaannya. Itu membuat rasa sensitifnya lebih besar. Seorang ibu tentu tidak akan senang melihat anaknya bersedih. Mia menangis saat Rendra mengadu tentang apa yang Mama lakukan," ucap Dion.


Mengadu? Ya, kini Rian paham. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah Dion menjelaskan semuanya, ia pergi ke kamar Narendra. Menemui anak yang seolah merasa jadi korban atas ketidakmerataan kasih sayang Nyonya Helen.


"Om," ucap Narendra saat baru keluar dari kamar mandi.


"Iya, Om tidak apa-apa." Narendra duduk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih.


"Boleh om bicara?" tanya Rian.


Narendra terlihat malas. Sepertinya ia tahu apa yang akan dibahas Rian saat ini. Namun meskioun begitu, ia nampak menganggukkan kepalanya. Memberikan waktu pada Rian untuk membicarakan apa yang sebenarnya tidak ingin ia dengar sama sekali.


"Om yakin kamu sayang sekali sama Mama dan Papa. Iya kan?" tanya Rian memulai ceritanya.


"Memangnya kenapa?" Narendra balik bertanya.


"Mama dan Papa sangat menyayangi kamu, Ren. Apa yang kamu sampaikan, tentu akan sangat membuat mereka terluka. Kamu mengerti maksud Om?" Rian memastikan kalimat yang ia sampaikan bisa diterima oleh Rian.


"Om, apa aku salah karena mengadu sama Mama?" tanya Narendra.


"Tidak, tidak salah sama sekali. Om tahu kamu butuh teman untuk bercerita. Dan tempat bercerita terbaik memang seorang ibu. Seandainya Mama Om juga masih ada, mungkin Om akan bercerita sama Mama." Rian mencoba berada di pihak Narendra.


Setelah mood Narendra sudah membaik, ia mulai menjelaskan bahwa tidak setiap yang ia alami harus diceritakan kepada siapapun. Apalagi anak laki-laki. Bagi Rian, laki-laki itu justru harus mampu menahan beban bukan berbagi beban.


Rian juga menjelaskan bagaimana sakitnya orang tua saat melihat anaknya sakit. Ia hanya mengingatkan jangan sampai rasa sakit orang tua membuat ia ikut membenci penyebab rasa sakit itu.


"Apa Mama dan Oma marahan?" tanya Narendra.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja. Dan akan lebih baik kalau Rendra tidak seperti ini lagi ya!" ucap Rian.


Narendra memang begitu kesal dengan Nyonya Helen. Tapi apa yang sudah disampaikan Rian tentu membuatnya sangat merasa bersalah.


"Malam ini aku nginep di rumah Oma ya!" ucap Narendra.


"Jangan!" ucap Rian.


"Kenapa?" tanya Narendra.


"Naura sedang sakit. Lebih baik kamu temani dia ya!" ucap Rian.


Itu alasan yang Rian berikan untuk Narendra. Padahal kenyataannya ia tentu tidak mau Narendra ke sana di saat ia belum memastikan keadaan Nyonya Helen. Takut jika Nyonya Helen masih dengan pikiran buruknya. Hal itu tentu akan membuat hubungan mereka menjadi jauh lebih buruk.


Narendra diam. Entah kecewa atau sedang memikirkan alasan agar ia bisa ikut ke rumah Nyonya Helen.


"Nanti kalau Naura sudah sembuh, om jemput kalian buat menginap lagi di rumah Oma ya!" ucap Rian.


"Iya," jawab Narendra pelan.


"Jangan begitu, Mama pasti sedih kalau kamu sedih. Mama akan merasakan apa yang kamu rasakan dengan jauh lebih besar. Apapun itu," ucap Rian.


Narendra paham. Rasa sakitnya akan jauh terasa sakit oleh ibunya. Begitupun rasa sedihnya. Jika ia bersedih, tentu Mia akan jauh lebih sedih.


"Om hati-hati ya! Salam buat Oma dan Opa," ucap Narendra.


Sebelum pulang, Rian bicara kembali dengan Mia. Meyakinkan Mia jika Nyonya Helen tidak seperti yang ada di kepalanya. Sementara Dion yang menyaksikan semua itu hanya bisa tersenyum senang. Mia sudah kembali membuka hati dan pikirannya. Emosinya sudah kembali stabil. Dan itu semua karena Rian.


Lagi-lagi Rian yang sudah membantu keluargaku.


Mia dan Dion mengantar Rian sampai ke pintu utama. Sudah memintanya untuk menginap di rumah mereka, tapi Rian menolak. Rian memaksa pulang meskipun waktu sudah jam sembilan malam.


Mobil tiba di rumah Nyonya Helen. Keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah pulang dan beristirahat. Rian tidak mencarinya. Ia langsung ke kamar dan beriatirahat.


Rutinitas sebelum tidur adalah mengabari semua kegiatannya hari ini pada Riri. Tidak lama Riri merespon pesannya. Sepertinya Riri sedang sibuk. Terbukti dari sebuah voicenote yang diterima oleh Rian. Jika sedang bersantai, biasanya Riri selalu menghubunginya saat tahu kalau Rian sedang tidak baik.


"Waktu bergerak begitu lama," ucap Rian sambil menatap foto Riri di layar ponsel.


Rian sudah tidak sabar menanti hari yang bahagia itu. Hari dimana antara dirinya dengan Riri tidak lagi saling berprasangka buruk, karena mereka akan bertemu setiap hari.


Berpikiran buruk? Tentu sumber semua itu adalah Hiro dan Maudi. Rian baru menyadari kalau Maudi sudah lama tidak mengganggunya. Lama ia tidak berjumpa dengan mantan kekasihnya itu.


Apa dia sakit ya? Eh apa peduliku? Harusnya aku senang. Akhirnya hidupku bebas. Aku merdeka tanpa diganggu oleh wanita itu lagi.


Rian mandi dan tidur. Ia mempersiapkan tubuhnya untuk menghadapi hari esok dengan segudang agenda yang menumpuk. Sebuah guling ia peluk. Dengan mata yang terpejam ia tersenyum karena membayangkan guling itu adalah Riri. Wanita cantik yang selalu membuatnya rindu setiap waktu.


"Selamat tidur cantik," ucap Rian sambil mengecup guling itu.

__ADS_1


__ADS_2