Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
LDR?


__ADS_3

Sejak pulang dari kampus Rian belum keluar dari kamar. Bahkan saat Tuan Felix pulang pun, ia masih tetap di kamar.


"Ri," panggil Tuan Felix.


Pintu yang memang tidak tertutup rapat didorong oleh Tuan Felix. Nampak Rian tengah tiduran di atas ranjangnya dengan tangan yang asyik memainkan ponsel.


"Pah," ucap Rian.


Rian segera menyimpan ponselnya dan segera menghampiri Tuan Felix.


"Kita bicara di taman belakang ya!" ucap Tuan Felix.


Rian pun mengikuti Tuan Felix. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan ayahnya.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Tuan Felix mengawali pembicaraannya.


"Baik. Aku baik-baik saja Pah," jawab Rian.


"Kalau kamu ada apa-apa, kamu cerita. Papa hanya tidak ingin hal ini berimbas dengan kuliahmu. Tidak sampai satu tahun lagi kamu akan lulus. Apakah ada masalah dengan kuliahmu?" tanya Tuan Felix.


"Tidak Pah. Semuanya berjalan baik. Aku juga sedang menyelesaikan tugas akhirku. Papa tenang saja," jawab Rian.


"Lalu apa ada hubungannya dengan Mpus?" tanya Tuan Felix.


"Tidak Pah. Aku baik-baik saja," jawab Rian yang berusaha menutupi kenyataan yang ada.


"Jangan bohong Rian. Katakan!" pinta Tuan Felix.


Rian memberanikan diri untuk menceritakan jawaban Riri yang seolah menolak karena tidak setuju dengan nikah di usia muda. Bahkan Rian tidak sungkan menunjukkan rasa kecewanya di hadapan Tuan Felix.


"Memangnya kamu sudah siap?" tanya Tuan Felix.


Rian terdiam. Ia jelas merasa sudah sangat siap untuk menjadi pendamping Riri. Namun sepertinya ia tidak menyadari kalau banyak sekali yang harus ia persiapkan untuk tahap menikah.


Tuan Felix tersenyum. Ia mulai menjelaskan apa yang harus Rian siapkan saat akan menjadi seorang suami. Rian pun mulai menyadari kalau apa yang menguasai keinginannya saat ini hanya sebuah keegoisan saja. Rasa takut kehilangan Riri yang terlalu besar membuatnya terlalu berambisi.


"Papa hanya tidak ingin kamu gagal," lanjut Tuan Felix.


Ternyata Tuan Felix setuju saat Rian menikah setelah Riri sudah lulus kuliah. Bagaimanapun ada tanggung jawab Riri yang harus ia tuntaskan dulu.


Sebagai seorang ayah, Tuan Felix juga mengingatkan Rian bahwa Riri punya keluarga. Tentu mereka juga akan menjadi keluarga baru untuk Rian. Bagaimana mungkin Rian menikahi Riri, sementara Rian tidak tahu orang tua Riri.


"Aku mengerti Pah," ucap Rian.


"Masalah orang ketiga tidak akan terjadi jika keduanya saling percaya dan menjaga. Jangan sampai Mpus merasa tidak nyaman karena rasa cemburumu," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


Entah mengapa, sepertinya Rian memang sudah mempunyai firasat buruk tentang Hiro. Rasa takutnya tentu berasalasan saat melihat bagaimana Hiro bersikap pada mereka berdua. Padahal Rey juga teman Riri, tapi ia tidak merasa cemburu yang berlebihan pada sahabatnya itu.


Berita lamaran Rian akhirnya terdengar oleh Mia. Rian terkejut saat Mia meneleponnya hnya untuk memarahinya. Mengungkapkan semua kekesalannya karena tidak memberitahu perihal lamaran itu.


"Iya, iya, maaf." Rian tidak bisa berkutik saat Mia menodongnya dengan ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa kesalnya.


"Kamu ini memang benar-benar ya!" ucap Mia.


Mia baru saja diberi tahu siang ini oleh Tuan Felix. Ia segera menghubungi Rian untuk meminta penjelasan Rian. Padahal sebenarnya Mia sudah tahu alasan lamaran itu tidak meriah dan terlalu formal.


"Tapi nanti kalau aku nikah, Kakak adalahorang pertama yang akan aku beri tahu. Janji," ucap Rian.


"Pasti karena butuh donatur ya?" ejek Mia.


Bukan hanya Mia, Rian juga ikut tertawa saat apa yang ada di kepalanya bisa ditebak oleh Rian. Panggilan berakhir setelah hampir satu jam mereka saling bicara.


Setelah acara lamaran itu, Rian selalu berusaha menjadi pria dewasa. Menyembunyikan setiap rasa cemburunya saat melihah Hiro yang lebih gencar mendekati Riri.


Rasa takut itu muncul kembali setelah Rian sudah menghadapi hari wisuda. Tidak lama lagi, hanya seminggu. Rian akan menjadi alumni di kampus itu. Meninggalkan Riri dan Hiro yang masih menjadi mahasiswa di sana.


"Nanti malam aku ajak jalan, bisa?" tanya Rian.


"Maaf Mas, tapi aku tidak berani meminta izin pada Mr. Aric," ucap Riri.


"Aku ingin bicara serius denganmu" ucap Rian.


"Hubungan kita," jawab Rian.


"Kenapa dengan hubungan kita? Apa ada yang salah?" tanya Riri panik.


Hampir satu tahun setelah dilamar oleh Rian malam itu, Riri merasa semakin yakin kalau Rian adalah jodohnya. Satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaannya. Tidak terlintas sama sekali saat harus kehilangan pria sebaik itu.


"Tidak. Aku hanya berharap jika kita bisa bicara di tempat lain," jawab Rian.


"Kenapa tidak d sini saja?" tanya Riri.


"Tempat ini memang sangat bersejarah untuk kita. Tapi aku ingin tempat yang lebih nyaman saja. Aku ingin membahas masa depan kita," jawab Rian.


"Masa depan?" tanya Riri.


Wajah Riri mulai berseri. Namun saat ia mengingat pernikahan, tiba-tiba kecemasan menghampirinya. Ia takut jika tiba-tiba Rian kembali mengajaknya menikah. Sementara ia masih punya satu tahun lagi untuk menyelesaikan kuliahnya.


"Kamu masih mencintaiku, kan?" tanya Rian.


"Mas, pertanyaan macam apa itu? Aku tidak suka saat diberi pertanyaan yang jawabannya tidak akan pernah berubah," jawab Riri.

__ADS_1


"Lalu jawaban tentang kesiapan menikah juga masih tidak berubah kan?" tanya Rian.


"Aku rasa Mas pasti tahu dan mengerti akan jawabanku," ucap Riri.


"Aku mengerti. Sangat mengerti. Meskipun kadang aku berpikir kamu tidak mengerti perasaanku," jawab Rian.


"Mas," ucap Riri dengan sedih.


"Ah sudahlah. Lupakan saja," ucap Rian.


Riri tidak ingin melanjutkan semua pembicaraannya dengan Rian. Ia takut akan timbul masalah baru dalam hubungannya.


"Nanti kalau Mr. Aric sedang tidak di rumah, aku pasti ke rumah Mas. Kita bisa bicara baik-baik," ucap Riri.


"Memangnya cara bicaraku tidak baik ya?" tanya Rian.


Setelah hampir satu tahun Rian terlihat begitu sabar dan dewasa, Riri kini harus melihat kembali sikap Rian yang seperti dulu. Saat cemburu dan egois membungkus pria yang sangat ia cintai.


"Aku hanya takut kehilangan kamu," ucap Rian mengakhiri perdebatan kali itu.


Selama satu minggu menjelang hari wisuda Rian, Riri menyempatkan untuk datang ke rumah Rian. Ia meminta izin kepada Mr. Aric. Meskipun sempat tidak diberi izin, Riri akhirnya bisa menemui Rian malam itu.


"Mas," panggil Riri saat pintu rumah Rian sudah terbuka.


"Pus, ini kamu?" tanya Rian dengan bingung.


Wajar jika Rian terkejut dengan kedatangan Riri. Pasalnya tidak ada kabar dari Riri hari itu. Bahkan seharian Riri tidak menghubunginya sama sekali. Rian pikir ini cara Riri membuat kejutan untuk hari besok. Nyatanya, kejutan itu ia dapatkan malam ini.


"Aku tidak disuruh masuk, Mas?" tanya Riri.


"Ya ampun aku sampai lupa. Ayo masuk!" ajak Rian.


"Siapa?" tanya Tuan Felix saat mendengar suara wanita dari ruang tamu. "Mpussss," teriak Tuan Felix.


Rupanya bukan hanya Rian, Tuan Felix juga ternyata merindukan Riri. Wanita cantik itu memang selalu membuat ayah dan anak itu merindukannya.


"Papa," sapa Riri sambil mencium tangan Tuan Felix.


"Kejutan luar biasa ini," ucap Tuan Felix.


"Ah Papa bisa saja," ucap Riri malu-malu.


"Ayo duduk!" ucap Tuan Felix.


Setelah obrolan basa basi, akhirnya Riri menyampaikan apa tujuannya ke rumah itu. Seperti yang sudah Rian utarakan, rencananya untuk menunggu Riri satu tahun di Jerman gagal. Perusahaan Tuan Felix sudah kembali membaik sehingga ia harus segera pulang ke Indonesia untuk memulai bisnis barunya.

__ADS_1


Jadi kita LDR? Ah, tidak bisa. Aku takut Hiro bersikap semakin kurang ajar. Tapi aku juga tidak bisa memaksa Mpus untuk ikut denganku ke Indonesia. Kenapa semuanya bisa begini, Tuhan?


__ADS_2