Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Menangislah


__ADS_3

Setelah menghabiskan malam dengan sangat menyenangkan, Rian dan Riri nyaris kesiangan. Alarm yang mereka atur tidak terdengar sama sekali. Mereka terlalu nyenyak. Kalau saja bukan karena tangisan Raazi, mereka tidak akan bangun pagi ini.


"Ya ampun Nak. Mama bangun, Nak. Sebentar ya!" teriak Riri.


Riri segera bangun dan membuka pintu kamar. Ia segera menggendong Raazi dan menyusuinya. Rian baru menggeliat saat kaki Raazi menendang-nendangnya.


"Eh anak Papa udah ganteng," ucap Rian sambil mencium Raazi.


"Mas, awas. Aku sedang menyusui Raazi," ucap Riri.


"Kamu jangan pilih kasih dong. Semenjak ada Raazi, aku jadi tersisihkan." Rian cemberut.


"Kamu sudah sering Mas," ucap Riri.


"Mau lagi," ucap Rian manja.


"Nanti ya kalau Raazi sudah bobo," ucap Riri.


Rian mengangguk semangat. Matanya menatap bingung ke dinding kamar.


"Itu jam tujuh sayang?" tanya Rian panik.


"Baru jam enam sayang," jawab Riri.


"Itu," ucap Rian menunjuk jam di dinding kamarnya.


"Jamnya mati. Habis batu," jawab Riri.


"Astaga Pus, beli lah. Jangan mempermalukan suamimu," ucap Rian.


"Hahahah, uangnya habis untuk beli popok." Riri mengolok-olok Rian.


"Berapa harga baru jamnya? Biar ku beli sama pabriknya," ucap Rian.

__ADS_1


Riri hanya tertawa melihat tingkah Rian. Ya, Riri memang lupa mengganti batu jam yang sudah mati sejak kemarin malam. Dengan cepat Riri meminta pekerjanya agar jam di kamarnya segera diperbaiki.


Seperti rutinitas Rian biasanya. Ia akan datang ke kantor lalu sibuk dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Ia tidak punya waktu untuk sekedar chatting atau menelepon dengan orang-orang yang tidak penting. Apalagi bertemu di luar jam kerja atau hanya sekedar menerima tamu di kantornya.


Hal itu membuat Riri begitu tenang. Ia yakin jika Rian adalah pria yang setia dan hanya akan perhatian padanya. Meskipun sebagai seorang wanita, sesekali Riri tetap merasa was-was saat Rian sedang tidak bersama dirinya.


Pesona Rian sangat menggoda. Wajahnya yang tampan dan posisinya sebagai pemilik perusahaan membuat banyak wanita yang tergoda. Bahkan sekali dua kali Riri pernah mendapati ponsel Rian diganggu oleh wanita genit. Entah dari siapa nomor Rian bocor. Namun setiap kali dirinya merasa terganggu maka ia akan mengganti nomor ponselnya.


"Siang Mas," sapa Riri dalam sambungan teleponnya.


"Ada apa? Tumben kamu meneleponku? Raazi rewel?" tanya Rian.


"Tidak Mas. Memangnya aku harus menelepon Mas hanya saat Raazi rewel?" tanya Riri kesal.


"Ngambek. Gitu aja ngambek? Terus ada apa kalau bukan karena Raazi rewel? Apa jangan-jangan pabrik batu jam itu bersedia pabriknya aku beli?" goda Rian.


"Ah Mas ini ada-ada saja. Aku hanya ingin meminta izin. Siang ini aku keluar ya! Mau ke butik," ucap Riri.


"Tidak, tidak. Hari ini ada produsen bahan baku yang mampir ke toko. Mereka meminta aku yang memilih langsung bahan bakunya. Boleh?" pinta Riri.


"Boleh sayang, tapi sama sopir ya! Jangan bawa Raazi. Biar Mama yang mengasuh Raazi di rumah," ucap Rian.


"Siap komandan," ucap Riri.


Tanpa menunggu lama, Riri segera pergi setelah sambungan telepon itu terputus. Ia tidak punya waktu banyak. Ada Raazi yang selalu menunggunya di rumah.


Seperti yang sudah direncanakan, Riri datang ke butik dan menunggu produsen bahan baku. Cukup lama dan sempat membuat Riri kesal. Namun setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya produsen itu datang.


Tanpa basa-basi Riri segera mengungkapkan kekecewaannya pada produsen bahan baku itu. Namun karena sikap ramah dan sangat sopan dari produsen bahan baku, Riri pun akhirnya mengerti. Ia segera menyelesaikan urusannya dengan cepat.


Biasanya Riri orang yang humble dan sangat menyenangkan. Tapi Riri bukan orang yang bertele-tele dalam pekerjaan. Karena dari pihak produsen terlambat, Riri meminta maaf karena terburu-buru. Ia tidak sempat basa-basi banyak hal.


"Maaf, ada anak yang sudah menunggu saya di rumah. Saya pamit sekarang! Urusan pembayaran, semua akan diatur oleh pengelola butik. Silahkan hubungi Ibu Maya," ucap Riri.

__ADS_1


Maya pun mengambil alih obrolan itu. Awalnya Maya merasa tidak enak dengan sikap Riri ada produsen bahan baku itu. Namun beruntung orang itu sangat mengerti bahkan mengapresiasi sikap Riri. Menurutnya Riri adalah wanita yang sangat bertanggung jawab. Meskipun ia harus bekerja, namun anak tetap menjadi prioritasnya.


Rara yang mendengar penuturan orang itu duduk dengan berlinang air mata. Ia merasa sangat jauh berbeda dengan adiknya. Bahkan sampai saat ini pun ia tidak punya anak. Mantan suaminya malah sudah menikah lagi dan mempunyai anak.


"Apa aku mandul?" gumam Rara.


Saat mendengar langkah Maya, Rara segera memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia pun menarik napas panjang agar terlihat lebih tenang. Ada rasa tidak nyaman saat membahas tentang anak dan tanggung jawab.


"Ra, itu ada customer." Maya berlalu lagi setelah memberi tahu Rara.


Setelah selesai urusannya dengan produsen bahan baku, Maya segera menghampiri Rara. Ternyata Maya sadar apa yang terjadi dengan Rara.


"Aku tidak kenapa-kenapa," jawab Rara saat ditanya oleh Maya.


Maya segera memeluk Rara yang berusaha menyibukkan diri sendiri dengan beberapa pakaian di toko. Setelah mendapat pelukan Maya, Rara pun menangis dalam pelukan Maya.


"Menangislah sepuasmu. Lepaskan semua beban dalam hatimu. Setelah itu kembali menjadi Rara yang baik-baik saja," ucap Maya.


Rara tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menangis dan mengeratkan pelukannya. Maya mengusap-usap punggung Rara. Berusaha menenangkan Rara meskipun ia tidak tahu sampai kapan Rara akan kembali tenang.


Belum reda tangis Rara, ada customer yang datang. Maya meminta Rara untuk istirahat dan tidak menemui customer dalam keadaan tidak baik.


"Terima kasih ya," ucap Rara saat Maya sudah kembali.


Hari sudah semakin sore. Bahkan butik sudah hampir tutup. Maya duduk di samping Rara dan membawa segelas air. Rara meneguk air di gelas itu hingga kandas.


"Ra, setiap orang itu diuji dengan ujian yang berbeda. Jangan bandingkan dirimu dengan siapapun. Kamu baik dengan versimu sendiri," ucap Maya.


Rara menatap Maya dengan lekat. Ia tidak menyangka jika rekan yang sudah ia anggap saudara itu ternyata paham perasaannya. Bahkan ia belum pernah sekalipun menceritakan semuanya pada Maya. Tapi Maya benar-benar mengerti apa yang ia rasakan saat ini.


Berkat Maya, Rara sudah kembali tenang. Ia sudah menerima kenyataan tentang hidupnya. Mencoba menjalani kembali semuanya. Melupakan semua masa lalunya yang begitu kelam.


"Ayo pulang!" ajak Maya setelah toko tutup.

__ADS_1


__ADS_2