
"Kenapa belum siap-siap? Kamu tidak ada jadwal kuliah hari ini?" tanya Tuan Felix saat pagi sudah menyapa.
"Papa juga tidak ke kantor kan hari ini?" tanya Rian.
"Papa sedang ada urusan. Lagi pula, kerjaan Papa masih bisa dikerjakan di rumah. Jangan malas! Ayo siap-siap sana," ucap Tuan Felix.
Rian jelas sekali melihat kebohongan Tuan Felix. Ia yakin jika Tuan Felix sengaja tidak masuk ke kantor untuk menyelesaikan urusannya dengan Maudi. Namun sayangnya Rian tidak berani untuk membahas semua ini.
"Aku juga bisa mengerjakan tugas-tugasku di rumah Pah," jawab Rian.
"Kamu harus tetap semangat. Apapun yang terjadi, cita-cita yang sudah kamu mimpikan harus kamu wujudkan. Papa ingin kamu berangkat kuliah pagi ini," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Rian menyelesaikan sarapannya dan segera bersiap untuk pergi ke kampus. Berat sebenarnya untuk Rian pergi ke kampus. Ia ingin menemani Tuan Felix. Saling menguatkan dan berbagi cerita, sebelum akhirnya ia benar-benar menikah dengan Maudi.
Rian yang sudah tidak sanggup menahan beban di hatinya, akhirnya terpaksa kembali membahas tentang kegelisahan hatinya.
"Pah, apa aku boleh minta saran Kak Mia? Siapa tahu Kak Mia bisa membantuku," ucap Rian.
"Jangan, jangan! Aku tidak mau Mia khawatir. Dia sedang fokus dengan pekerjaannya. Urusan ini, kita selesaikan berdua saja," ucap Tuan Felix.
"Tapi biasanya aku selalu menceritakan semuanya pada Kak Mia Pah," ucap Rian.
"Semakin banyak orang yang tahu, akan membuat masalah ini melebar. Papa yakin kita bisa menyelesaikan semuanya," ucap Tuan Felix.
"Tapi Papa percaya padaku, kan? Papa percaya kan kalau aku tidak mungkin melakukan semua itu?" tanya Rian.
"Ya, tentu Papa percaya padamu. Papa yakin kamu tidak akan membohongi Papa. Oh ya apa Mpus tahu masalah ini?" tanya Tuan Felix.
"Kenapa tiba-tiba Papa bahas Mpus?" tanya Rian.
"Aku berangkat Pah," ucap Rian.
"Hati-hati ya!" ucap Tuan Felix.
Rian mengangguk dan segera berangkat. Pagi ini Rian tidak menuju ke kampus. Ia pergi ke rumah sakit. Ia mencoba untuk meminta bantuan pada pihak rumah sakit. Namun sayangnya Rian tidak mendapat apa yang ia inginkan.
Rian menunduk pasrah. Ia menyerah. Ia yakin ini akhir dari semua mimpinya. Kakinya melangkah dengan gontai, menyusuri jalanan menuju ke kampus. Namun ia sudah tidak fokus. Tidak mungkin ia melanjutkan perjalanannya ke kampus. Rian menepi.
Aku harus bagaimana? Apa aku benar-benar sudah kalah? Tuhaaaaan, kenapa aku jadi begini? Dulu aku sangat berharap jika Maudi akan menjadi istriku. Tapi saat ini ketika Maudi memaksaku untuk menikahinya, aku tidak mau. Maudi bukan wanita yang tepat untukku. Dia sudah memberikan apa yang bukan haknya untuk pria lain. Dan aku yang harus bertanggung jawab? Malang sekali nasibku.
Rian menatapi nasibnya. Ia memukul setir berulang-ulang dan mengacak rambutnya. Mengusap kasar wajahnya yang memerah menahan amarah.
"Maudi?" ucap Rian terkejut.
Saat Rian meratapi nasibnya yang tidak berpihak padanya, Rian melihat mobil Maudi melewati mobilnya. Ia yakin mobil itu akan melaju menuju rumahnya.
"Papa. Aku tidak boleh membiarkan Papa sendiri," ucap Rian.
__ADS_1
Rian segera memacu mobilnya untuk kembali ke rumah. Tujuannya ke kampus sudah sirna. Ia hanya ingin mesmastikan Tuan Felix tetap baik-baik saja.
Memang tidak salah lagi. Maudi dan ayahnya menuju rumah Tuan Felix. Rian yang memacu mobil sangat cepat akhirny bisa menyusul mobil Maudi. Rian sampai hanya sesaat setelah Maudi sampai.
"Oh, rupanya kamu malah asyik keluyuran. Dimana tanggung jawab kamu? Aku menunggumu di rumah seharian kemarin. Nyatanya kamu justru menantangku ya!" ucap ayahnya Maudi.
"Tuan, aku tidak bersalah. Jadi aku tidak perlu bertanggung jawab," ucap Rian.
"Oh, jadi begini cara ayahmu mendidikmu? Miris sekali," ucap ayahnya Maudi dengan sangat sinis.
"Ada apa ini?" tanya Tuan Felix yang segera datang saat mendengar keributan.
"Apakah Anda ayah pria yang tidak bertanggung jawab ini?" tanya ayahnya Maudi.
"Oh, jadi Anda ayahnya wanita ular ini?" tanya Tuan Felix.
"Hey, jaga ucapan Anda!" teriak ayahnya Maudi.
Rian segera menghadang ayahnya Maudi yang siap menyerang Tuan Felix.
"Jangan membentak ayahku. Cukup Anda menghajarku saat itu. Tapi tidak dengan ayahku," ucap Rian sambil menahan emosi.
Tuan Felix menatap punggung Rian. Tingginya yang nyaris melebihi tingginya membuat ia begitu terharu. Anak yang sejak SMP ia rawat, kini sudah menjadi pria yang melindunginya. Anak yang bukan darah dagingnya namun begitu membelanya.
Rian, kamu anakku. Kamu anakku. Kamu anakku. Aku tidak akan membiarkanmu terjebak Rian. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Haruskah aku merampas kertas itu dan merobeknya? Percuma, mereka pasti akan memiliki arsipnya. Tuhaaaan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku hanya akan melihat Rian meratapi nasibnya?
"Tidak akan ada pernikahan. Aku tekankan sekali lagi, tidak akan ada pernikahan. Rian masih harus kuliah dan mengejar cita-citanya," ucap Tuan Felix.
"Tapi Rian masih bisa kuliah walaupun kami sudah menikah. Rian masih bisa menggapai semua mimpi-mimpinya," ucap Maudi.
"Mimpi Rian terlalu indah. Sedangkan kehadiranmu hanya mimpi buruk untuknya," ucap Tuan Felix.
"Kurang ajar!" teriak ayahny Maudi.
BLAAAAM
Sebuah pukulan mengenai wajah Rian hingga ia tersungkur.
"Rian, bangun! Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Tuan Felix.
Rasa khawatirnya pada Rian terlalu besar. Sampai-sampai ia mengesampingkan perasaan kesalnya pada ayahnya Maudi.
"Itu belum seberapa. Aku akan terus menghajarmu sebelum kamu mau bertanggung jawab pada Maudi," ucap ayahnya Maudi.
"Anakku tidak akan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain," ucap Tuan Felix dengan napas yang mulai tersenggal.
Sepertinya Tuan Felix sudah mulai tersulut emosi. Ia kesal saat Maudi dan ayahnya terus-terusan menuntut hal yang tidak seharusnya Rian lakukan.
"Kesalahan orang lain? Kamu pikir anakku wanita seperti apa?" tanya ayahnya Maudi dengan tangan yang sudah mengepal.
__ADS_1
"Tanya sendiri pada anakmu. Wanita seperti apa dia? Wanita yang melakukan kesalahan dengan orang lain tapi menuntut Rian untuk bertanggung jawab," ucap Tuan Felix.
Kepalan tangan itu sudah siap menghantam Tuan Felix. Namun kali ini Rian menangkap tangan yang sudah dua kali mengahajarnya itu.
"Cukup! Anda boleh mencaci dan menghinaku, Tuan. Tapi jangan harap Anda bisa melakukan itu pada ayahku. Aku bukan tidak mampu melawanmu. Aku hanya menghargai Anda sebagai orang yang lebih tua. Kalau aku mau, aku bisa mengahajar Anda lebih dari ini. Tapi sayangnya ayahku tidak mengajarkanku untuk melawan lawan yang tidak sepadan," ucap Rian.
"Jadi kamu menghinaku?" tanya ayahnya Maudi.
"Memang itu kenyataannya," jawab Rian.
"Rian cukup! Jangan memperkeruh suasana. Kamu tidak punya pilihan lain selain menikahiku. Sudahlah tidak perlu terjadi hal-hal seperti ini," ucap Maudi.
"Aku lebih baik mati dari pada menikahimu," ucap Rian.
"Rian, kamu keterlaluan. Kamu benar-benar merendahkanku!" teriak Maudi.
"Ada apa ini?" tanya Riri.
Semuanya melihat sumber suara. Rian sangat terkejut melihat kehadiran Riri.
Mpus, kenapa kamu datang di saat yang tidak tepat?
"Pah, wanita ini yang membuat Rian tidak mau bertanggung jawab padaku." Maudi menunjuk Riri.
Riri yang baru saja datang mengerutkan dahinya atas tuduhan Maudi.
"Kenapa aku dibawa-bawa?" tanya Riri.
"Jangan pura-pura polos. Kamu memang licik Riri!" teriak Maudi.
Tangan Maudi dengan cepat menjambak rambut Riri. Riri nampak meringis namun ia tidak memint bantuan siapapun. Ia hanya berusaha melepaskan tangan Maudi semampunya. Namun Rian segera menarik tangan Maudi dengan kasar, hingga Riri bisa lepas.
"Lepaskan Riri," ucap Rian.
"Ah, kamu kasar sekali Rian!" ucap Maudi.
"Urusanmu hanya denganku," ucap Rian.
"Tapi gara-gara wanita ini kan kamu tidak mau menikahiku? Padahal aku tahu betul kalau kamu sangat mencintaiku. Tapi kehadiran dia membuat kamu jadi menjauh dariku," ucap Maudi.
Menikahi? Riri yang awalnya kebingungan dengan apa yang terjadi di sana, kini mulai memahami arah pembicaraan mereka.
"Kalau Mas Rian menjauh dari Mba, itu bukan karena aku. Itu semua karena kesalahan Mba sendiri," ucap Riri.
"Hey, lihatlah anak ini! Ayah macam apa Anda? Tidak bisakah Anda mendidiknya menjadi lebih baik?" ejek ayahnya Maudi.
"Maaf Tuan, tapi Papa Felix sudah berhasil mendidik Mas Rian. Yang aku tahu justru Anda yang gagal mendidik Mba Maudi," ucap Riri.
"Gagal? Apa maksudmu?" tanya ayahnya Maudi geram.
__ADS_1